Tentang Laut Kita

Ada apa dengan Laut Kita?

Sejauh Mata Memandang. Sungguh menarik bukan, untuk sebuah nama clothing line? Label tekstil yang berdiri di bawah naungan Chitra Subyakto dan Arya Dipa ini sudah berdiri sejak tahun 2014. Berawal dari keprihatinan Chitra akan kain tradisional yang masih dipandang sebelah mata oleh anak muda, hingga terbesitlah ide untuk membuat kain dengan motif modern yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Indonesia. Karena cintanya terhadap Indonesia, isu mengenai limbah sampah plastik yang mencemari laut-laut Indonesia pun membawanya pada “Laut Kita”.

Mei ini, saya berkesempatan mengunjungi pameran yang diselenggarakan Sejauh Mata Memandang yang bertajuk “Laut Kita”. Pameran yang mengusung tema sampah plastik ini diselenggarakan di Plaza Indonesia, Level 2 Utara dari 22 April – 16 Juni 2019. Semakin maraknya berita kerugian karena sampah plastik pun menjadi tuntutan tersendiri bagi sang penyelenggara untuk mencoba menyadarkan masyarakat betapa bahayanya sampah plastik. Mulai dari sampah botol plastik hingga sampah plastik ‘kresek’ dapat ditemukan dalam setiap segmen pada pameran tersebut. Tak hanya kumpulan sampah plastik yang dipamerkan, ada pula video, audio, dan karya-karya fotografi dari berbagai sumber. Pengunjung pun terlihat sangat antusias dengan memposting di Instagram, tak lupa diramaikan dengan tagar sejauhmanakamupeduli.

Memasuki entrance gate, pengunjung disambut oleh rumbai-rumbai botol plastik yang diremukkan dan diikatkan pada kain putih panjang. Ditambah pencahayaan putih dan pemanis bunga-bunga dari kain khas Sejauh Mata Memandang yang membuatnya semakin apik untuk diabadikan atau untuk sekedar dilihat saja. Masuk lebih jauh, pengunjung akan disambut beberapa karya fotografi bertema laut dan sebuah video dengan Putri Marino di dalamnya, dan tentunya, masih bertema laut kita. Foto-foto dipajang di dinding namun diselingi dengan kanvas kosong dengan layout yang rapi dan spasi yang cukup untuk setiap foto. Tak lupa dicantumkan fotografer pada setiap fotonya. Salah satu yang menangkap perhatian saya adalah tone biru yang dihasilkan dari keseluruhan foto-foto tersebut. Sangat cantik dan menenangkan.

Tibalah pada segmen ruangan yang cukup menarik mata maupun hati saya, yaitu, dimana botol-botol bekas yang disatukan dan diikat lalu ditumpuk sehingga menutupi dinding, pencahayaannya pun dibuat gelap biru tua seperti di laut dalam dan ditambah riak-riak air dari proyektor. Ada pula sampah-sampah yang dikumpulkan di dalam box-box yang ditumpuk untuk menyambut pengunjung ketika memasuki segmen tersebut. Instalasi yang dinamakan “Polusi Plastik” ini, juga menyajikan beberapa fakta penting yang diketik di atas karton, ditambah lagi dengan audio yang diputar, pengunjung akan merasa seolah-olah ditampar dengan keadaan laut kita sekarang ini.

Segmen-segmen lainnya pun tidak kalah menarik dan powerful seperti pada segmen-segmen sebelumnya. Isinya pun masih tetap tentang plastik-plastik yang tidak sadar kita gunakan dan berakhir di laut, menjadi ancaman bagi seluruh makhluk hidup.

“Laut Kita” sukses membuat pengunjung terpukau dan takjub. Berhasil mengumpulkan sedikit dari limpahan limbah ini adalah sebuah prestasi yang dapat dicontoh oleh segala kaum, dari yang muda hingga yang tua. Tidak perlu turun langsung, siapapun dapat menjaga kelestarian laut kita, dimulai dari hal kecil seperti membawa tas belanja sendiri atau mengurangi penggunaan sedotan plastik. Karena sekecil apapun langkah yang diambil, dapat membawa perubahan yang besar.

Oleh: Nadya Safitri

Related Posts