SINGAPORE ART SCENE : NOW

Karya seni Indonesia menurut “Singapura” (baca: pemerhati seni, penyuka seni, atau kolektor di Singapura) memiliki gaya yang Post-colonialism, violent, politik, dan eksotis. Sementara itu, Singapura tidak memiliki identitas budaya yang khas dan kuat. Nilai seni dari sejarah Singapura pun semakin luntur karena tidak dipertahankannya bangunan-bangunan bersejarah demi mencapai gelar first world country.

Berikut merupakan beberapa contoh seniman dari Singapura.

Josef Ng : “Brother Cane”, 1994, performance.

Josef Ng (kiri) dan artikel terkenal mengenai performancenya pada tahun 1994 berjudul“The Brother Cane” (Photo:Pearl Lam Galleries/Ben Loong)

Karya ini merupakan bentuk protes Josef Ng terhadap kurangnya sorotan media terhadap operasi anti-gaydi Tanjong Rhu. Penampilan yang dilakukan Josef Ng diantaranya yaitu mencambuk tahu yang diletakkan dibawah tinta merah menggunak
an rotan. Setelah penampilan ini disorot media, Josef Ng harus mendekam di penjara dan dilarang untuk melakukan art performance. Selain itu, The National Arts Council juga mengumumkan aturan

no-fundinguntuk unscripted art performance.

 

Seri foto dari video karya Ray Langenbach mengenai penampilan Josef Ng, Brother Cane (Photos:Ray Langenbach, Asia Art Archive)

Jason Wee : “Self Portrait (No More Tears Mr.Lee)”, 2009, shampoo bottle caps.

 

 

Lim Tzay-Chuen : “Mike”, 2005, digital print.

Karya ini merupakan karya yang dipamerkan Lim Tzay-Chuen pada 51stVenice Biennale pada tahun 2005. Sebenarnya, Lim Tzay-Chuen telah memberikan proposal kepada pemerintah Singapura untuk memindahkan seluruh Patung Merlion untuk dipamerkan pada acara tersebut. Namun, tentu saja proposal tersebut ditolak pemerintah, dan sebagai gantinya, Lim Tzay-Chuen memamerkan karya tersebut.

kk

Jeremy Sharma : “Terra Sensa series”, 2014, high density polystyrene foam.

Shubigi Rao : “A Tree of Lies”, 2014.

Dawn Ng : “Perfect Stranger”, 2018, Archival giclee, acid free, 320gsm

                               

                               

“Perfect Stranger” adalah koleksi 61 teks hasil dari percakapan Dawn Ng ketika mengandung anak pertamanya, dengan seorang psikolog anak. Psikolog asal Israel ini adalah seorang yang asing bagi Dawn Ng. Setiap hari selama setahun, psikolog tersebut akan menanyakan sebuah pertanyaan. Respon-respon dari Dawn Ng kemudian dikemas menjadi karya yang memadukan puisi, warna, dan desain yang indah ini. (sumber: http://www.dawn-ng.com/perfect-stranger/

 

4th Generation Artist :

Luke Heng : “After Asphodel”, 2017-2018, exhibition.

 

 

 

 

 

 

Fyerool Darma : “The Most Mild Mannered Man”, 2016, Plaster and marble, appropriated replica bust and plinths. “Moyang”, 2016, series.

Portrait No. 10 (The Boy Who Saved An Island In The Arms Of His Mother) (Of Moyang Series), 2016. Acrylic On Linen And Burned Wood, 78 X 64 X 5 Cm

Portrait No. 9 (Si Mata Pena) (Of Moyang Series), 2016. Acrylic On Linen And Charcoal Wood, 36 X 60 X 10 Cm

 

Instalasi “The Most Mild Mannered Men” terdiri dari dua individual yang berperan penting dalam demarkasi Singapura, yaitu Hussein Muazzam Shah dan Thomas Stamford Raffles. Kedua bust tersebut diletakkan berhadap-hadapan seakan-akan sedang berdialog, dengan jarak diantara mereka.

There are multiple layers of reading the work, despite the simplicity of the installation itself. To me, the bust, the plinths and the plaque with the names are markers of a dialogue. The nuances of this conversation were lost in its translation and recording. Complimentary – or in contrast – to the historiography of that narrative, the work was also to show the ambivalence of recording itself. It is a dialogue between stillness and interaction. The gap in between the two figures represents an interruption, which visitors traverses. That interruption is a metaphor for time, movements and progress.”- Fyerool (sumber: https://www.cobosocial.com/dossiers/interview-with-fyerool-darma/)

Sementara itu, series Moyang membahas mengenai sosok sejarah yang dilupakan.

In the literary world in Singapore they consider the period before colonialism as amnesia, because it was constructed that Singapore didn’t exist before that. Historians proved that before Raffles Singapore wasn’t a sleepy village, otherwise why the British would even bother coming all the way here? Singapore is a very small island and we have had so many neighbours that we were reliant on until today. Back then we had a whole connection with the Malay Kingdom, and these are the few aspects that we have failed to recognize because of our collective consciousness. There is to much alteration going on.

That is why it is important to look further to find artists like Raden Saleh. I feel a connection with these individuals based on the history of Malays. We are all island nomads and in what was called the Nusantara region. “ – Fyerool (sumber: https://www.cobosocial.com/dossiers/interview-with-fyerool-darma/)

Khairullah Rahim : “The Incredible Frolic”, 2018.

Divaagar : “The Soul Lounge”, 2018, installation of performance venue.

The Soul Lounge merupakan instalasi yang dibuat untuk kaum minoritas di Singapura, browndan queer. Instalasi ini hanya bisa dinikmati oleh kaum minoritas tersebut………

Norah Lea : “In Love”, 2017, photograph series.

Dari diskusi ini banyak banget informasi yang didapatkan. Bagusnya lagi, perspektif tersebut di dapet dari dua sisi yaitu kurator dan seniman. Belum lagi, emang gue buta sama persenian di Singapur jadi saat pulang dari sana banyak banget ilmu dan hal baru yang gue dapatkan! Selama keberjalanan acara, gue rasa cukup baik. Hal ini dikarenakan peserta diskusi yang dari jumlah tidak terlalu banyak dan saat presentasi banyak diberikan referensi-referensi. Ditambah lagi dengan bantuan Azi, Ayas dan kawan-kawan lainnya, gue berkesempatan untuk ngobrol lebih banyak dengan pembicaranya.

Oleh : Eca

 

 

Related Posts