Pameran Retrospektif Xu Bing: Thought and Method

Seni rupa kontemporer tampaknya akan selalu menjadi perbincangan hangat di khalayak ramai. Semakin maraknya instalasi seni di kota-kota besar di Indonesia sungguh menarik perhatian para perupa seni atau bahkan masyarakat awam. Museum Macan menjadi salah satu medium bagi para seniman nasional dan internasional untuk mempresentasikan karya mereka pada audiens global.

 

Setelah sukses menarik massa pada Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow, Museum Macan kembali hadir dengan karya perupa mancanegara kenamaan asal Tiongkok, Xu Bing. Pameran retrospektif bertajuk “Thought and Method” ini menampilkan lebih dari 60 karya dan proyek penting yang dibuat selama empat dekade.

 

Berbicara tentang seni rupa kontemporer di kancah Asia, sosok Xu Bing sangat menonjol karena pendekatan khas dalam karyanya. Pria kelahiran Chongqing tersebut mengawali kariernya dengan mengeksplorasi dimensi budaya, bahasa, dan sistem pengetahuan tradisional. Hal ini merupakan pondasi perjalanan Bing menjadi perupa. Sesuai dengan tema yang dibawakannya, ekshibisi ini memang menampilkan perjalanan karier dan metode serta motivasi di balik kacamata Bing.

 

Karya-karya yang mencakup beragam medium, termasuk film, instalasi, seni grafis, dan materi arsip membuat ekshibisi ini salah satu yang sayang untuk dilewatkan. Dari puluhan karyanya, saya mengambil contoh-contoh fenomenal yang berhasil menyita perhatian audiens melalui metode-metode yang spektakular.

 

Karya pertama ini salah satu yang tidak akan pernah bosan dibicarakan. Instalasi “Book from the Sky” (1987-1991) yang dibentuk dari gulungan kertas berisi aksara Tionghoa yang seakan menjuntai turun dari langit ini seperti menyihir siapapun yang melihatnya. Uniknya lagi, jika dilihat lebih dekat, aksara Tionghoa ini tidak memiliki makna yang memang bertujuan untuk menantang sistem pengetahuan umum. Dipandang dari foto saja cantik dan megah sekali, bagaimana berhadapan langsung? Jatuh cinta saya pada pandangan pertama dengan setiap detil yang disajikan, terlebih lagi aksara-aksara ini murni buatan Bing yang semakin menunjukkan kecerdasannya dalam menuangkan ekspresinya dalam berkarya.

 

Nah, ini dia yang tak kalah menarik dan wajib dicicipi. ‘Perkawinan’ aksara Tionghoa dan bahasa Inggris menghasilkan karya berbasis pembelajaran di kelas, “Square Word Calligraphy” (1994-2019). Siapapun —saya jamin—akan betah berlama-lama di dalamnya. Tecermin dari suasana kelas yang begitu tenang dan damai, dilengkapi dengan visual secara keseluruhan yang tidak kalah cantiknya. Bergerak lebih dalam, teknik melukis aksara ‘Tionghoa’ yang diajarkan juga sangat mendasar sehingga pemula pun akan merasa lebih mudah ‘belajar’. Ada-ada saja memang metode yang diperkenalkan Bing ini. Bermula dari kebutaannya terhadap bahasa Inggris ketika pertama kali datang ke New York, membuat Ia melahirkan ide cemerlang untuk mempermudah masyarakat Tionghoa atau bahkan mancanegara untuk mahir bahasa global tersebut.

Tidak berhenti diperbincangkan, apa sih ledakan ide yang Bing lagi-lagi ciptakan? Pernahkah kamu memikirkan rokok sebagai seni? Seni macam apa yang dapat terbentuk dari rokok? Pada umumnya, rokok dianggap buruk dan seni dianggap baik, tetapi, manusia membutuhkan keduanya. Begitu Bing menanggapi pewarta di Museum Macan yang menanyainya. Dengan menyatukan keduanya, kita akan menciptakan kekuatan yang baru. Maka, lahirlah karya yang unik, “Honor and Splendor” (2004). Karya yang tergabung dalam seri Tobacco Project ini memang terdiri dari 660.000 batang rokok. Keunikannya tidak berhenti disitu! Jika diperhatikan dengan seksama, deretan rokok tersebut membentuk loreng harimau berwarna emas putih. Karya ini sukses membuat pengunjung terpukau, mengingat materialnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Jika sebelumnya terdapat instalasi “Book from the Sky” (1987-1991), maka Bing pun punya “Book from the Ground” (2003-kini). Dengan mengumpulkan simbol-simbol yang Ia ambil dari ruang publik dan menulis dengan tanda-tanda ini, Bing berhasil menyalurkan keresahan orang-orang dengan keterbatasan bahasa untuk berkomunikasi. Dengan demikian, para pembaca, terlepas dari latar belakang pendidikan atau budaya, dapat membacanya sehingga tidak perlu melewati proses translasi. Tidak kalah pentingnya, instalasi berbasis studio ini mengajarkan siklus berproses yang tidak akan pernah berakhir. Belajar tentang bahasa emoji, hal yang paling saya sukai adalah bagaimana Bing mengenalkan metode yang sangat memudahkan saya—juga orang lain—dalam berkomunikasi singkat maupun panjang, dan tentunya dengan penyampaian yang menarik.

 

 

Sejak 2015, klip dari kamera pengawas di Tiongkok dapat diakses bebas oleh masyarakat. Bing menggabungkan cuplikan-cuplikan video tersebut dari berbagai tempat dan sudut yang pada akhirnya melahirkan “Dragonfly Eyes” (2017). Tidak adanya agen manusia yang mengoperasikannya membuat hal-hal di luar nalar banyak terekam. Tidak jarang privasi pun ikut masuk bersamanya. Lewat ini, Bing berhasil menyatukan fragmen-fragmen video tidak berkorelasi ini menjadi cerita utuh yang menggambarkan realitas kehidupan manusia. Sepertinya, Bing bermaksud menyampaikan pesan “Hati-hati di Dunia Nyata”.

 

 

Pameran yang digarap oleh perupa Tiongkok ini rupanya mendapat apresiasi tidak terduga dari para audiens, khususnya di Museum Macan. Selain karena karya-karyanya yang sangat relevan dengan kehidupan manusia, pameran ini cocok untuk yang ingin belajar atau sekedar refreshing. Lewat pameran ini, Bing berhasil membuat rekam jejak fenomenal dari setiap gagasan-gagasan kreatifnya yang disuguhkan dalam sebuah pameran tanpa adanya batasan yang menjembatani antara audiens dan karya-karyanya.

Ditulis oleh Nadya Safitri

Related Posts