Pameran Kultursinema #5: Gelora Purnaraga

Agustus lalu, saya berkesempatan untuk datang ke ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2018. ARKIPEL ini memiliki beberapa rangkaian acara yang salah satunya adalah pameran yang berjudul Gelora Purnaraga. Jika pemutaran dan diskusi dilakukan di Goethe Institute Jakarta, pameran ini diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki. Tema dari pameran ini tentunya masih berkesinambungan dengan bahasan atau tema yang dibawa oleh Arkipel itu sendiri, yaitu homoludens. Dalam pamerannya tahun ini, tim penyelenggara membawa bahasan mengenai Ganefo yang diselenggarakan di Indonesia tahun 1963. Keterkaitannya adalah tim penyelenggara mencoba melihat Ganefo ini dalam dua bagian yaitu tubuh-tubuh sosial dan gestur-gestur ragawi. Tubuh-tubuh sosial ini merupakan interaksi sosial yang terjadi dalam Ganefo, luar maupun dalam pertandingan. Sementara gestur-gestur ragawi adalah gestur-gestur jasmaniah olahragawan yang terjadi di dalam maupun luar pertandingan. Konten-konten yang disajikan dalam pameran ini merupakan hasil simpanan sejarah, baik diambil dari ANRI (Arsip Nasional RI) ataupun berbagai narasumber yang tim penyelenggara dapatkan.
Pameran ini terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu bagian depan, bagian tengah, dan lantai atas. Bagian depan ini merupakan main entrance dari pameran dan terdapat arsip dokumentasi Ganefo dari ANRI berupa video yang ditayangkan menggunakan proyektor dan ditampilkan langsung ke dinding. Ketika masuk ke dalam pemeran, pengunjung disuguhkan dengan foto yang mewakili cabang-cabang olahraga dengan media cetaknya adalah menggunakan kain. Di bagian depan ini pun terdapat bagian transisi berupa pilar-pilar kain yang menggambarkan kegiatan olahraga dari Ganefo itu sendiri.


Berpindah dari bagian depan melewati pilar-pilar tersebut, tim penyelenggara menggunakan pula kain putih sebagai sekat antar ruang. Jika di bagian depan hanya terdapat satu film dokumenter yang ditampilkan dengan ukuran besar, di ruang tengah ini video-video dokumenter ditampilkan secara acak dan dengan berbagai warna ke langit-langit ataupun dinding ruangan dengan menggunakan proyektor, serta terdapat monitor yang ditayangkan di lantai ruangan. Dengan pemakaian kain putih, bayangan-bayangan pengunjung yang terdapat di dalam ruangan tersebut menjadi terlihat yang merupakan efek dari penayangan secara acak dan penuh warna ini.

Berpindah ke lantai atas, di bagian atas tangga terdapat video dokumentasi pembangunan serta aktivitas-aktivitas warga seperti pembuatan mural di gang-gang rumah sebagai respon terhadap Asian Games 2018 yang ditayangkan menggunakan proyektor. Dengan kondisi ruangan bagian atas dan bagian tengah yang gelap dan hanya memanfaatkan penerangan lewat adanya pemakaian proyektor, banyak pengunjung memanfaatkan spot ini menjadi tempat untuk befoto ria.

Di bagian atas ruangan, terdapat tiga display benda yang cukup interaktif bagi pengunjung. Tidak hanya memainkan visual saja, pengunjung dibuat bermain dengan menggerakan benda-benda yang didisplay di ruangan ini yaitu seperti pemutar music yang salah satu dari ketiga lagunya ini adalah Hymne Ganefo.

Kalimat “Sejarah adalah tonggak bangsa” seringkali diucap apalagi dalam kelas Sejarah ketika kita menempuh sekolah formal. Lalu, kita mungkin dapat mengetahui sejarah tersebut jika kita membaca, mungkin karena tertarik atau mungkin karena tuntutan sekolah yang mengharuskan kita lulus dalam mata pelajaran tersebut. Media pembelajaran sejarah sangat perlu dieksplor, dan menurut saya salah satunya adalah dengan adanya wahana interaktif seperti pameran. Pameran Gelora Purnaraga ini menurut saya sukses dalam membuat pameran “sejarah” itu mengasyikkan dan interaktif. Dengan penggunaan proyektor-proyektor dan lampu yang ada dalam wahana sehingga pengunjung dapat bermain bayangan serta alat pemutar musik yang tidak hanya dapat didengar, tetapi dapat pengunjung mainkan cukup membuat para penikmat pameran tersebut puas. Pemakaian beragam warna dalam bagian tengah pun menurut saya dapat mengartikan bahwa dalam Ganefo ini sangat banyak warna, sangat banyak kontributor, sangat banyak lapisan masyarakat yang ikut serta dalam menyemarakkan Ganefo. Tidak hanya sukses dalam mengolah pameran “sejarah”, tim penyelenggara juga sukses mengolah display-display arsip ini menjadi eye-catchy. Adanya display foto-foto pembangunan Asian Games 2018 pun juga mengingatkan kita kembali bahwa Indonesia pun juga pernah menjadi tuan rumah Asian Games 1962 dan pernah menyelenggarakan Ganefo yang juga memiliki dampak pembangunan yang sangat besar, sama pula seperti Asian Games 2018 ini.

Oleh: Aristina Marzaningrum