Pameran Foto: Kisah-Kisah Tanah Manusia

Pameran foto “Kisah-Kisah Tanah Manusia” merupakan pameran foto hasil rangkaian lokakarya visual dari kolaborasi antara WRI Indonesia dan Arkademy Project di 4 kota: Pekanbaru, Palembang, Manokwari, dan Jakarta dengan tema Tentang Tanah yang menjelajahi relasi manusia dengan tanah. Sekilas tentang lokakarya fotografi ini, bertujuan untuk menangkap kisah – kisah yang menggali lebih dalam makna dari interaksi manusia dengan lahan, tentang hubungan manusia dengan tanah, sekaligus memahami berbagai kompleksitas yang menyertainya. Dari lokakarya ini terpilihlah 14 cerita yang diangkat tentang keberagaman perspektif terhadap lahan serta pentingnya tanah dan lahan bagi kehidupan manusia.

Mengunjungi pameran ini memberikan pengalaman yang amat dekat dengan keseharian saya sebagai mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota. Selama ini saya hanya memahami isu-isu terkait lahan berupa data dan angka dari materi-materi kuliah dan berita. Tidak hanya saya sebagai mahasiswa namun masyarakat awam lain merasa jauh akan isu lahan, dibuktikan dengan anggukan seragam dari pengunjung pameran yang hadir ketika Mba Rara memberikan pernyataan bahwa seringkali kita kurang memahami isu lahan yang terjadi di sekitar kita. Padahal kebutuhan akan lahan semakin bertambah namun luaasan lahan tidak akan bertambah. Kita sendiri sebagai manusia masih hidup dan beraktivitas di atas lahan dan sangat tergantung padanya.

Saya berkesempatan untuk mengunjungi pameran ini dan mengikuti exhibition tour yang dipandu langsung oleh mentor-mentor Arkademy Project yaitu Rara Sekar, Ben Laksana, Yoppi Pieter, dan Kurniadi Widodo. Dalam tur pameran ini para pengunjung dibawa berkeliling melihat karya terpilih dari enam tema: eksploitasi, lanskap baru, kerentanan, lahan dan kematian, siasat, dan harapan dan berkesempatan untuk bertanya berdialog langsung dengan fotografer terkait. Karya fotografi di masing-masing tema pameran ini memunculkan narasi visual yang begitu kuat. Di pameran ini fotografi hadir sebagai bahasa penyampaian alternatif untuk menjembatani isu-isu lahan ke publik yang lebih luas. This exhibition goes beyond the news and lecturer. Data dan statistik berubah menjadi emosi. Kompleksitas wacana besar diselami melalui narasi-narasi kecil yang dialami banyak orang.

Narasi karya-karya fotografi di pameran ini juga didukung dengan teknis pameran yang baik. Ruang pameran luas dan memiliki rangka dinding melingkar yang dimanfaatkan dengan adanya instalasi yang dibuat mengikuti bentuk dinding. Setiap tema dibedakan dengan warna panel yang berbeda. Pemilihan ukuran foto serta frame yang digunakan juga sangat diperhatikan mengikuti narasi yang dibawa pada karya fotografi terkait. Di salah satu karya pada tema kerentanan tidak memiliki frame melainkan dipasang dengan cara dipaku, dengan memakunya karya foto akan rentan untung lepas, sejalan dengan tema kerentanan. Karya foto lain di tema siasat menarasikan kehidupan warga sebuah rumah susun di Jakarta yang tetap dapat bertahan hidup dan beraktivitas di lahan yang sangat sempit. Instalasi untuk karya ini merekonstruksikan salah satu sudut rumah. Foto-foto dipajang dengan frame yang beraneka warna dan jenis frame. Terdapat pula sapu dan pajangan cermin beserta sisir yang menggantung di cermin. Layouting foto juga dibuat sangat menarik. Ada karya foto yang dipasang sejajar karena ternyata memiliki kesamaan horizon. Atau foto – foto yang dipasang sejajar sehingga menghasilkan sebuah konstruksi visual baru. Hal menarik lain dari pameran ini adalah tidak semua karya foto yang dipamerkan adalah hasil karya fotografer professional. Banyak karya yang dihasilkan oleh warga sekitar yang bisa dibilang masih awam dengan fotografi. Dan baru memulai hands on fotografi dan berkarya foto saat mengikuti workshop ini.

Sejujurnya mengunjungi pameran foto ini membuat saya berefleksi tentang apa yang saya pelajari selama kuliah dan relevansinya terhadap masyarakat terdampak. Ada aspek-aspek sosial yang luput tatkala selama ini lahan hanya diibaratkan sebagai entitas yang hanya memiliki nilai jual beli. Pameran ini juga sangat membuka pandangan tentang permasalahan lahan yang tidak hanya melulu tentang penggusuran dan relokasi lahan. Harapannya para pengunjung pameran bisa mulai membicarakan permasalahan lahan dalam dialog-dialog lanjutan dan semakin mampu memaknai relasi manusia dengan tanah dan dinamika yang menyertainya.

Oleh: Gabriella Mayang Larasati (Kru LFM ITB 2016)