Pameran Ellipsis

Sebuah karya, dalam bentuk apapun itu pasti memiliki tujuan dan makna tersendiri namun satu hal yang sama adalah setiap pembuat karya/seniman pasti ingin karyanya menceritakan atau menyampaikan sesuatu kepada penikmatnya. Pameran “Ellipsis” memiliki tujuan sebagai media untuk mengeksplor pribadi masing-masing desainer dalam merefleksikan hasil kontemplasi personal menjadi suatu karya dengan tentunya gaya khas dalam setiap aspeknya. Kontemplasi dipilih sebagi tema karena kaitannya dengan hal sehari-hari yang dilakukan manusia. Kontemplasi menjadi dorongan untuk berkarya yang bersifat lebih eksploratif dan mencerminkan identitas desainer sebagai pembuat karya. Jauh dari kebisingan kota, experimental exhibition ini hadir di Galeri Yuliansyah Akbar serta diselenggarakan pada tanggal 1-2 Februari 2020. Dibuka untuk umum dan gartis, pameran ini diwujudkan oleh Mahasiswa DKV ITB.

Sebagai seorang awam yang jauh dari kata seni, mengunjungi pameran ini memberikan pengalamn yang cukup menggugah serta menyenangkan. Seni nampaknya bagi segelintir orang seperti saya, cukup sulit dipahami dan karena betapa sulitnya, banyak orang malah jadi bosan. Para pembuat karya dalam pameran ini betul-betul berusaha agar karya bisa seinteraktif mungkin dan sebisa mungkin melibatkan penikmatnya, yaitu pengunjung. Meski, memang beberapa karya tetap sulit dipahami maknanya tapi setiap karya memiliki daya tariknya masing-masing. Tak sedikit pengunjung yang bertahan pada satu karya dalam waktu yang cukup lama. Cara penyampaiannya tak monoton sama sekali. Contohnya, sebuah karya yang dibalut dalam sebuah kuis atraktif berjudul “The Most Accurate Personality Test Ever”. Belum lagi, karya “Lay Down Look Up” yang hanya bisa dilihat bila kita membaringkan tubuh kita di atas kasur yang telah disediakan.

Lebih dari pada penyampaian dan kemasan yang menarik, para desainer tak lupa menyampaikan kisahnya, hasil eksplorasi dari kontemplasi mereka. Setiap karya pada akhirnya memberikan kesan yang betul-betul berbeda dan dapat tersalurkan. Setiap komponen yang ada di dalam karya pun sebisa mungkin dapat memaksimalkan proses penyampaian pesan sang desainer seperti penambahan audio dan lighting. Di setiap karya pun tersedia QR Code yang menjelaskan latar belakang pembuatan karya tersebut.

Salah satu instalasi menarik nan menyentuh berjudul “The Indestructible Feeling of Being Destructible” adalah sebuah instalasi tentang insekuritas diri yang menggabungkan media digital projection, audio serta teknik refleksi cermin. Awalnya, instalasi ini terlihat cukup sederhana namun ternyata video yang diproyeksikan ke layar adalah hasil pantulan dari dua cermin. Cermin tersebut tak semata-mata menjadi alat untuk menambahkan kesan ‘rumit’, malah menjadi salah satu elemen dari karya ini untuk mengartikulasikan pesan sang desainer.

Penempatan atau layouting juga sesuai dengan karya. Karya yang lebih butuh pencahayaan yang tinggi berada pada lantai atas sedangkan karya yang lmembutuhkan pencahayaan yang minim serta high level of intimacy berada di lantai bawah.

Mengunjungi pameran ini adalah betul sebuah pengalaman yang lagi-lagi menggungah dan menyenangkan. Dalam ruang yang minim, pameran ini dapat menyuguhkan atraksi-atraksi yang serat rasa. Terlebih lagi, pameran ini memberikan banyak insight akan pameran yang atraktif dan penuh makna

Related Posts