Pameran 50 Jahre Goethe-Institut Bandung

Sudah 50 tahun Goethe-Institut Bandung berdiri dan sudah 50 tahun pula institut ini menjadi saksi sejarah. Tanggal 23 Maret 2019 yang lalu, dalam merayakan ulangtahunnya yang ke-50, Goethe menyelenggarakan 50 Jahre Goethe-Institut Bandung. Acara ini berlangsung dari sore hingga malam hari di Goethe-Institut di Jl. R.E.Martadinata dan dimeriahkan beberapa mata acara. Dalam acara tersebut terdapat 2 pameran terpisah yang diselenggarakan oleh Vincent Rumahloine, Indonesian Photography Archive Bandung, dan Goethe itu sendiri. Ada pula Art Performance oleh Tisna Sanjaya,mural oleh Mata Merah Comix dan music performance oleh Bandung Phillharmonic dan Goodnight Electric.

Menilik lebih lanjut mengenai pameran yang dilaksanakan, pameran pertama yang akan saya bahas berjudul Mini Museum. Pameran ini berisi arsip yang dimiliki oleh Goethe-Institute dan dikurasi oleh Vincent Rumahloine bekerjasama dengan Sanggar Seni Rupa Kontemporer. Penyelenggara pameran ini menekankan bagaimana ruang privat (Goethe) dapat dijadikan ruang terbuka untuk umum. Pameran ini diadakan di dalam sebuah ruangan kecil tertutup yang hanya bisa dilihat oleh 5 pengunjung dalam satu waktu. Ruangan dibuat gelap dan penerangan yang berupa lampu berwarna kuning hanya diberikan kepada karya yang disajikan sehingga seluruhh perhatian terfokus menuju karya tersebut. Cara karya disajikan berhasil membawa suasana hangat dan intim seolah-olah pengunjung mengalami kegiatan yang terjadi pada foto. Di dalam ruangan tersebut, ada 4 dinding yang berisi hal berbeda. Ketika memasuki ruang, mulai dari sisi pertama yang terdapat sebuah cetakan LJK yang dibuat pada zaman dahulu yang menunjukkan bahwa Goethe Institute sudah melewati berbagai masa,dimulai dari saat ujian masih berbasis kertas hingga berbasis komputer seperti sekarang. Beralih ke sisi kedua terdapat arsip yang berisi foto kegiatan di Goethe selama 50 tahun ke belakang. Menjadi menarik foto yang ditampilkan dengan dicetak ulang memakai template polaroid yang sebenarnya foto tersebut bukan merupakan hasil polaroid. Hal ini dilakukan karena kondisi arsip yang kurang baik dan ekshibitor mencoba untuk dapat mengikuti tren saat ini. Di sisi selanjutnya terdapat arsip yang disajikan dalam wadah (album foto) aslinya untuk mempertahankan orisinalitasnya. Setelah itu, di sisi paling akhir, ditampilkan slideshow yang berisi kumpulan foto ditemani alunan lagu dan disediakan satu buah kursi. Menjadi menarik, dengan diletakkan kursi di depan slide show tersebut, penonton seakan-akan diajak untuk benar-benar melihat Goethe tempo dulu.

Selain mini museum Goethe, terdapat pameran kedua yang merupakan pameran foto pula. Tanpa dicetak, pengunjung acara ulang tahun Goethe ini berhasil dibuat  penasaran dengan teknologi Augmented Reality yang digunakan untuk mendisplay foto-foto arsip Goethe. Pameran ini menggunakan sebuah aplikasi dan pengunjung dengan mudahnya memindai barcode yang tersebar pada saat pameran tersebut. Pameran Foto dengan menggunakan Augmented Reality ini masih berlangsung hingga tanggal 21 Desember 2019. Dan terakhir yang berada dalam perpustakaan goethe. Arsip yang ada dibungkus dalam sebuah kotak transparan dan  disajikan dengan cara digantung di sebuah sudut perpustakaan tersebut. Dengan bentukan yang seperti itu, seolah arsip yang dipamerkan sangat rapuh tetapi memiliki nilai yang sangat penting khususnya untuk Goethe sendiri. Tetapi sayangnya dengan penyajian seperti tersebut, pengunjung tidak dapat melihat arsip satu per satu.

Acara ini bisa dibilang sebagai cara yang unik dalam merayakan ulang tahun suatu institusi. Menyuguhkan berbagai acara di satu tempat memang bisa terkesan terlalu heboh sehingga setiap mata acara tidak mendapat perhatian yang sama besar. Akan tetapi, Goethe Institute berhasil membuat semua mata acara mendapat atensi yang sesuai proporsinya masing-masing dan menyebarkan 50 tahun perjalanannya kepada pengunjung.

Oleh: Kiara Qinthara

Related Posts