Mencoba ScreenX

Bioskop atau movie cinema adalah sebuah industri yang menaungi pemutaran film atau motion picture. Industri ini terus menerus bergerak seiring dengan kemajuan teknologi. Berawal pada tahun 1895 di Paris, bioskop pertama hadir dengan memutarkan film bisu hitam putih. Seiring berjalannya waktu, inovasi yang terjadi pada bioskop semakin beragam, dimulai dari bioskop yang tadinya hanya memutarkan 1 flm saja (1 layar) hingga tersedia banyak layar (Cineplex) seperti yang sering kita jumpai. Tak hanya dari segi jumlah layar, teknologi pada film tersebut pun semakin mumpuni dari tahun ke tahun. Diawali dengan film bisu hitam putih, disusul oleh film berwarna -yang memiliki suara- dengan kualitas teknis yang terus menerus membaik. Dipenuhi rasa ingin terus berkembang, inovasi tidak berhenti sampai di situ. Kini, bahkan jenis layarpun sangatlah beragam. Layar bioskop yang berukuran hingga 30,78 x 13,11 meter, layar yang menggunakan Samsung Cinema LED, dsb. Tak hanya itu, kini telah tersedia bioskop dengan beragam watching experience. Jenis bioskop drive in mungkin pernah digandrungi pada zamannya, tapi di abad 21 ini, banyak hal yang dulunya hanyalah khayalan sudah berubah menjadi kenyataan. Mau nonton secara 3 dimensi? bisa. Mau nonton serasa ada semburan angin dan ikut bergerak di dalam film? Bisa dicoba jenis bioskop 4DX. Mau meraskan berada di dalam film? Sudah tersedia bioskop dengan layar 270⁰ yang lebih dikenal dengan nama ScreenX.

Menelisik lebih jauh mengenai ScreenX, jenis layar seperti ini sudah hadir di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Di Indonesia sendiri baru terdapat satu bioskop yang menyediakan teknologi ScreenX yaitu CGV Grand Indonesia. Teknologi yang digunakan dalam ScreenX sebenarnya bisa dibilang menyerupai teknologi yang digunakan bioskop pada umumnya, yaitu menggunakan proyektor yang menembakkan sinar ke dinding/layar,hanya saja terdapat 2 tambahan layar di samping layar utama dan di atasnya terdapat proyektor yang menembakaan sinar ke arah layar di seberangnya. Dengan demikian, ScreenX jelas memberikan watching experience yang baru dan segar bagi para pengunjungnya karena dapat membuat seolah-olah penonton berada di tempat kejadian sesuai adegan dalam film yang mereka tonton. Dengan hadirnya tiga layar, penonton dapat melihat perspektif yang lebih luas terhadap keadaan di dalam film yang ditonton.

Berbekal rasa ingin tahu akan ScreenX ini, saya pun tergerak untuk mencobanya tanpa mempermasalahkan film yang saya tonton. Bad Boys for Life (2020) yang notabene bukanlah film yang “laku” untuk ditonton dalam ScreenX adalah film yang tersedia saat itu. Datang dengan ekspektasi yang tinggi, saya merasa cukup terkejut saat melihat layar samping yang wujudnya terlihat seperti dinding biasa berwarna putih. Seiring film berjalan, kedua layar di sisi tersebut pun akhirnya digunakan dan menunjukkan kehebatannya. Film yang ditonton terasa lebih megah karena luasnya pandangan yang diberikan. Akan tetapi, dibalik sebuah ciptaan pastilah ada kekurangannya. Begitu pula dengan ScreenX ini. ScreenX yang menjanjikan sensasi berada di dalam film dengan cara menonton 270⁰ tidak sepenuhnya terasa benar karena layar yang digunakan tidaklah mumpuni untuk membuat efek di dalam film serealistis itu. Masih terdapat jarak antar layar sehingga gambar tidak terasa menyatu dan juga dikarenakan layar yang tidak melengkung membuat pandangan terasa terbatas dan sulit untuk memperhatikan gambar pada layar di kiri & kanan. Jenis film yang diputar menggunakan layar ScreenX pun seharusnya tidak sembarangan. Scene yang cocok untuk menggunakan ScreenX adalah scene yang mengambil gambar dengan teknik long shot karena akan lebih terasa efek berada di dalam filmnya. Tentunya, dalam pengambilan gambar untuk sebuah film berbagai jenis teknik ikut andil di dalamnya. Maka dari itu, dalam penggunaan ScreenX pun tidak semua film dapat memaksimalkan ketiga layarnya secara terus menerus sepanjang film.

Image result for screenx
Sumber: id.bookmyshow.com

Penulis: Kiara Qinthara

Related Posts