Film Dokumenter : Global Migration Film Festival (GMFF)

Global Migration Film Festival (GMFF) adalah sebuah pemutaran film pendek dokumenter mengenai fenomena migrasi yang terjadi di beberapa negara di seluruh dunia. Festival ini diprakarsai oleh International Organization for Migration (IOM), Badan Migrasi PBB. Acara ini berlangsung pada 8 Desember 2018, 14.00 WIB. Pemutaran dilakukan di berbagai tempat dan bermacam-macam, mulai dari bioskop hingga pemutaran sederhana di berbagai daerah di ratusan negara, “More than 30 films in over 100 countries”.  Di Indonesia sendiri pemutaran ditangani oleh IOM Jakarta (@iomjakarta) yang dilakukan di beberapa kota, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Kupang, Makassar, Medan, dan Tanjung pinang. Di kota bandung, IOM Jakarta bekerja sama dengan INSTITUT FRANÇAIS D’INDONÉSIE – IFI Bandung sebagai penyedia tempat pemutaran film.

Menurut IOM sendiri, program acara ini dibuat sebagai media untuk memberi informasi, menghibur, mendidik, dan memancing debat melalui media film kepada masyarakat luas mengenai fenomena migrasi di zaman ini. Tujuan dari GMFF sendiri adalah menggunakan film sebagai alat Pendidikan yang memengaruhi presepsi dan sikap terhadap para migran, denan membawa perhatian pada masalah/isu sosial dan menciptakan ruang aman untuk berdebat dan berinteraksi yang saling menghormati. Terdapat lebih dari 30 film yang terkurasi, mulai dari film dari sineas amatir hingga sineas professional, bahkan banyak juga film yang berasal dari pelaku imigran sendiri. Terdapat 4 film yang diputarkan dalam program ini, cerita yang dibawa oleh setiap film memiliki ciri khas yang berbeda-beda, seperti penderitaan mereka, tantangan yang dihadapi, apa yang mereka lakukan untuk negara baru mereka, dan bagaimana hubungan dengan keluarga dan teman mereka. Apabila ditarik benang pada semua film yang diputarkan dapat disumpulkan bahwa yang ingin sineas-sineas tersebut bawakan adalah “Why do we have to migrate?”.

Pemutaran yang dilakukan di IFI Bandung ini cukup sederhana, tidak ada kepanitiaan khusus yang menanganinnya. Seluruh kegiatan mulai dari pembukaan, pemutaran, MC, operator, dan sebagainya hanya dilakukan oleh satu orang, yang turun langsung dari pihak IOM Jakarta dan sedikit bantuan dari dua orang pihak IFI Bandung. Ruangan yang digunakan dalam pemutaran ini berupa aula seperti panggung pentas seni yang dilengkapi dengan tempat duduk dan Air Conditioner. Layar yang digunakan cukup lebar, hingga memenuhi latar belakang panggung, dan didukung dengan sound sistem yang baik dan merata. Pengunjung yang hadir sangatlah bervariatif, seperti mahasiswa, masyarakat umum, orang tua, institusi pemerintahan, orang asing (bule), anak-anak, dan sineas. Setelah pemutaran terdapat sesi diskusi mengenai badan IOM sendiri, migrasi yang berhubungan dengan film, bahkan sampai kepolitik dunia. Sesi diskusi sangatlah menarik, pengunjung sangatlah antusias dalam bertanya, berkomentar dan menyatakan pendapatnya mengenai hal-hal tersebut.

Festival ini merupakan ide yang sangat kreatif dan inovatif sebagai media untuk memberikan cerita atau dongen mengenai migrasi kepada masyarakat luas agar mereka dapat bertukar pendapat dan menyampaikan perasaan masing-masing mengenai masalah/isu sosial yang berkembang di zaman ini. Hal tersebut membuktikan bahwa film bukan hanya sebagai media hiburan semata, melainkan dapat digunakan sebagai media untuk berteriak kepada dunia luas, untuk menunjukkan jati diri sebuah komunitas, menyampaikan kebobrokan suatu pemerintahan, hingga penyampaian perasaan seorang sineas. Dan tidak ada pembungkaman dalam dunia perfilman.

Oleh : Juniar Chandra Ananda