Europe on Screen

Sensasi angin Eropa bertandang ke negeri ini? Itu lah yang terasa di acara Europe on Screen 2018. Europe on Screen sendiri merupakan festival film yang menampilkan karya dari negara-negara Uni Eropa, berbagai macam genre nya! Pada tahun ini, penyelanggaraan Europe on Screen mengambil tempat pemutaran utamanya di Kota Jakarta, dengan berbagai multivenue sekundernya tersebar di berbagai kota seperti, Banddung, Medan, Denpasar, Surabaya, dan Yogyakarta.

Europe on Screen 2018 diselanggarakan pada tanggal 3-12 Mei 2018, dengan pemutaran di Kota Bandung terselenggara pada tanggal 6-8 Mei 2018. Pada penyelenggaraannya di Kota Bandung, mengambil tempat pemutaran di Institut Français d’Indonésie (IFI). Acara berlangsung cukup baik dengan semua jadwal/timeline pemutaran di setiap kota tercantum di website http://europeonscreen.org/.

Pada kesempatan berkunjung di pemutaran Bandung, tempat pemutaran cukup luas dengan tempat duduk berundak yang membuat pengalaman menonton lebih menyenangkan dan nyaman. Tiket dan booklet yang diberi pun terkesan bagus dan menarik. Di dalam booklet juga diberikan informasi-informasi yang mampu menarik para visitor untuk dating ke pemutaran selanjutnya dan engage lebih dalam.Walaupun terkesan sederhana tanpa dekorasi yang menonjol, pelaksanaan Europe on Screen di Bandung cukup tertata rapi dengan alur/flow yang tidak membingungkan.

Semua konten film ‘profesional’ (dibuat oleh sutradara-sutradara dari negara Uni Eropa) ditambah pemutarannya yang free entry cukup menjadi daya pikat festival film ini. Di hari pertama pemutaran di Bandung, dilakukan pemutaran film Eternal Summer dan Frech Waves. Di hari kedua, dilakukan pemutaran film Freightened dan My Grandmother Fanny Kaplan. Di sini dapat terlihat bahwa festival film ini menghadirkan film-film yang sangat beragam dari genre maupun ‘sifat’ nya. Freightened yang merupakan film documenter tentang sisi lain kehidupan lalu lintas logistic di laut sangat berbeda tujuan dan sifatnya dibanding My Grandmother Fanny Kaplan yang merupakan film drama berlatarkan sejarah dan semi documenter. Di hari ketiga, dilakukan pemutaran The Girl Without Hands dan Irish Animation ditutup pula dengan diskusi/talkshow film bersama Deidre Barry selaku produser film Irish Animation. Variasi film ini juga menambah dalamnya nilai yang ingin disampaikan festival Europe on Screen ini.

Secara umum, keberjalanan acara sangat dapat dinikmati walaupun dekorasi acara yang kurang. Namun dari sini dapat dirasakan bahwa tujuan festival ini adalah konten film-filmnya itu sendiri, terfokus pada satu titik tersebut. Pengalaman di Europe on Screen 2018 (lebih spesifiknya dari pemutaran di Bandung) sudah mampu membuka mata sineas maupun komunitas film di belahan dunia lainnya mengintip industri perfilman di Benua Eropa.

Oleh: Ariobimo Prima Raharjo

Related Posts