Category Archives: Review

Raw Exhibition: Open Art and Cinema

Disclaimer: seluruh review ini merupakan pendapat pribadi penulis

Pameran memiliki banyak jenis dan bentuk, tergantung dari tujuan diadakannya pameran tersebut. Secara umum, pameran menjadi proses terakhir dalam proses panjang berkarya. Karya yang sudah sempurna, dipamerkan dalam suatu pameran sebagai bentuk publikasi dan apresiasi. Namun, pameran Open Art and Cinema justru menjadi proses awal bagi para seniman dalam membuat karya.

Pameran Open Art and Cinema yang berlokasi di Orbital Dago, Bandung pada tanggal 17-20 Oktober 2021 ini merupakan sebuah bentuk presentasi publik ini menampilkan karya-karya akhir yang interaktif dan yang masih dalam proses dan desain (Raw Exhibition) yang mengangkat tiga tema besar yaitu “Abstrak, Heritage, dan Lingkungan Hidup”. Pameran ini dirintis oleh mahasiswa Film dan TV Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung bersama Uniwersytet Artystyczny im Magdaleny Abakanowicz w Poznaniu (UAP)  di Polandia. Mahasiswa dari kedua negara mendiskusikan berbagai kemungkinan topik kerja kolaboratif secara online. Hasil dari kegiatan ini akan dipamerkan secara langsung di dua negara.

Saat pertama memasuki pameran, Anda akan disuguhi Program Guide yang dapat diakses melalui QR code dan disambut oleh masing-masing seniman yang akan menceritakan karyanya.  Layout disusun dengan ruang yang ada dengan 8 instalasi karya yg memiliki tempat masing masing. Pengunjung dapat berinteraksi melalui karya-karya interaktif yang disajikan seperti menuliskan surat untuk masa depan, curhatan ide dan respon terhadap karya seniman, menggambar pada objek yang disediakan, dan bentuk interaksi-interaksi lainnya sesuai dengan karya yang ditampilkan. Dengan adanya karya-karya seperti ini para pengunjung dapat melihat, merasakan, dan meluapkan emosi yang sama dengan apa yang dicurahkan oleh para pengkarya. Pengunjung dapat teredukasi dengan ragam bentuk seni pada pameran ini. Peran seniman yang turut hadir menceritakan karyanya sendiri menjadi poin unggul dimana pengunjung dapat berdiskusi dan mengapresiasi secara langsung. Selain pameran, kegiatan Live Performance dan screening film juga menjadi kegiatan yang tidak boleh dilewatkan mengingat tidak ada reka ulang.

Open Art and Cinema telah berhasil menyampaikan intensi para seniman dengan baik dan interaktif. pameran ini bukanlah hanya sekedar hasil kreasi dari para artis, tetapi juga melibatkan interaksi, emosi, dan energi dari penikmat seni untuk menyempurnakan mahakaryanya. Pameran ini menginspirasi saya untuk mengeksplorasi lebih jauh bentuk, jenis, dan tujuan pameran dihadirkan.

Stories in Light: Four Modern Photographers in Singapore

Di zaman yang sudah canggih ini, teknologi dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia salah satunya untuk mengedukasi. Pengetahuan bisa didapatkan dimana dan darimana saya selama ada akses internet. . Selain itu, orang-orang semakin sering untuk mengeksplorasi berbagai macam hal yang tidak bisa diwujudkan secara nyata ke dalam bentuk online. Salah satunya adalah Pameran Stories in Light. Di pameran ini, kita akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan mengenai fotografi secara daring.

Pameran Stories in Light: Four Modern Photographers in Singapore diselenggarakan oleh National Gallery Singapore pada bulan September 2021 melalui laman website https://storiesinlight.nationalgallery.sg/. Selain memamerkan beberapa karya foto dari empat fotografer Singapura, National Gallery Singapore ingin kita dapat melihat perkembangan Singapura dari sisi fotografi.

Saat mengakses pameran tersebut, Anda akan disuguhi sebuah visual dari ruangan pameran dan juga audio berbahasa Inggris dari seorang wanita yang berperan sebagai tour guidenya. Hal pertama yang saya pikirkan adalah pameran ini sederhana, alias tidak banyak interaksi yang ada untuk pengunjungnya. Namun, konsep sederhana ini menurut saya adalah poin plus dari pameran Stories in Light karena menjadi terfokus untuk menyampaikan tujuan dari pameran tersebut dibantu dengan audio yang ada. Sederhana namun tidak melupakan detail-detail yang ada, seperti memainkan bayangan dan cahaya dari berbagai sudut untuk menambah kesan realistis. Selain itu, perpaduan warna yang ada pada pameran tersebut juga tidak membosankan walaupun hanya menggunakan beberapa warna saja. Penyelenggara juga membuat seakan-akan kita berada di ruangan pameran tersebut dengan mengatur jarak pandang pengunjung terhadap karya-karyanya.

Pengunjung dapat mendekat apabila ingin melihat karya yang membuatnya tertarik layaknya berada pada pameran yang nyata/offline. Dari segi UI/UX, pameran ini menerapkan salah satu prinsip UI/UX, yaitu tidak membiarkan fitur audio ter-play secara otomatis. Pengunjung dapat leluasa untuk menyalakan atau mematikan fitur tersebut sehingga memberikan kenyamanan tersendiri. Susunan fotografer dan karyanya pun disusun sedemikian rupa agar pengunjung memahami perkembangan dari fotografi serta pemandangan maupun suasana Singapura dari waktu ke waktu.

Namun, ada yang sedikit mengganggu saya selama mengunjungi pameran Stories in Light ini. Pada bagian catatan kuratorial, Anda akan merasakan bagian tersebut zoom-in dan zoom-out secara perlahan. Mungkin hal ini minor bagi sebagian orang, akan tetapi fokus untuk memahami kalimat menjadi hilang dan seakan-akan mengalami motion sickness.

Menurut saya, pameran Stories in Light: Four Modern Photographers in Singapore sangat mengedukasi pengunjungnya dari segi proses berkarya fotografi dengan memanfaatkan objek yang ada di sekitar maupun teknik yang digunakan oleh keempat fotografer pada pameran tersebut. Selain itu, tujuan dari pameran ini tersampaikan dengan jelas karena dieksekusi dengan rapih dan terstruktur. Pameran Stories in Light: Four Modern Photographers in Singapore menjadi salah satu pameran yang sangat sayang untuk dilewatkan selama masa pandemi ini versi saya. 👍

-Rifasya Ayuna (kru’19)

Woka Voka

Pandemik saat ini mengharuskan setiap individu untuk beradaptasi akan sekitar. Kegiatan yang banyak dilakukan dibalik layar dan teknologi menjadikan alternatif dalam berkarya salah satunya adalah pameran online. Sudah banyak para pegiat seni yang membuat pameran nya menjadi pameran online dikala ini. Begitu pula dengan mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB) FSRD 2020, mereka merupakan angkatan pertama di FSRD ITB yang memulai perjalanannya di perguruan tinggi tanpa bertemu langsung. Dibatasi oleh jarak dan waktu, TPB FSRD 2020 tetap memanfaatkan sebaik mungkin kreativitas mereka melalui kegiatan-kegiatan adaptif yang dipindahkan ke dalam dunia maya.

Pameran Woka Voka merupakan sebuah aksi angkatan berupa kampanye sosial untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni. Woka Voka diadakan pada tanggal 10 hingga 30 Juni 2021 dilaman situs https://wokavoka.com/ dan juga instagram @wokavoka. Pameran ini menampilkan foto hasil karya gambaran dari mahasiswa TPB FSRD 2020 selama 2 semester kemarin.

Woka Voka merangkai pameran dalam 5 bagian yang bersesuaian dengan 5 jurusan yang ada pada Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Setiap bagian digambarkan dengan bangunan yang terbagi menjadi 5 dengan setiap warna yang berbeda pada warna animasi bangunan yang melingkar. Salah satu bagian yang kami kunjungi pertama yaitu Ozzira yang merupakan bagian kumpulan karya dari mahasiswa Seni Rupa. Tampilan pertama ketika membuka bagian Ozzira ini terdapat 23 foto mahasiswa. Dari foto yang terpampang kita dapat mengeksplorasi karya seni berupa gambar bentuk, rupa dasar 2D, dan juga karya bebas dari mahasiswa tersebut.Tidak lupa dengan nuansa website yang sesuai dengan warna dasar dari bangunan masing-masing dari 5 bangunan jurusan. Untuk Ozzira sendiri warna yang digunakan adalah warna kuning. 

Bagian kedua yaitu Dyotte, yang menampilkan hasil karya dari mahasiswa Desain Interior. Dengan latar berwarna biru dan tampilan yang tidak jauh berbeda dengan Ozzira. Bagian lainnya yang kami kunjungi yaitu Edvata dari mahasiswa Desain Komunikasi Visual dengan latar background website pameran berwarna oranye, lalu Kirazzo dari mahasiswa Kriya dengan latar background berwarna gradasi ungu dan biru, yang terakhir ada Poddit dari Desain Produk dengan latar background berwarna hijau. Selain karya, ditiap bagian juga terdapat profile mahasiswa yang memuat foto dan media sosial mahasiswa tersebut. Hal menarik dimana dibagian bawah website terdapat kolom “post comment” yang dapat digunakan para pengunjung untuk meninggalkan komentar baik dari apresiasi hingga kritik saran.

Woka Voka memiliki website pameran dengan warna yang cukup modern dan beragam. Home page website dibuka dengan sound yang membuat kita seperti dalam dunia video game dengan background warna biru dan memperlihatkan desain bangunan tower. Hingga pada dasar tower terdapat tombol pop up “Enter The Exhibition” dibawah logo pameran ini. Tampilan bangunan yang menjadi pemisah untuk mengunjungi karya dari berbagai jurusan juga sangat menarik mata setiap pengunjung. 

Selain isi dari pameran ini, website juga menampilkan beragam rangkaian acara yang diadakan oleh Woka Voka, Yang pertama ada pre-event, berisikan rangkaian acara seperti propaganda di platform youtube, webinar dan workshop. Workshop dengan judul: Anything Can Be Anything, From Scratch to Hatch! bertujuan untuk memperoleh perspektif baru bahwa apapun dapat menjadi sebuah karya yang berharga hal ini diambil dari filosofi midas hand.Selain itu, adapun webinar dengan judul: Creative Thinking on Daily Basis yang bertujuan untuk memecahkan masalah sehari-hari dengan cara yang kreatif bersama dengan Bu Tita Larasati (Dosen Desain Produk ITB). Yang kedua yaitu, main event yang terdiri dari tiga events yang diadakan pada platform instagram lewat IGTV dan juga live instagram. Yang terakhir, terdapat post event yang berbentuk acara amal berjudul Charity : Kabayan, Karya Bantu Budaya Sawangan. Acara amal yang dilakukan pada rentang waktu 14-21 Juni 2021. Komunitas Taman Sawangan Ukulele merupakan komunitas belajar ukulele di daerah Sawangan, Depok. Taman. Pengumpulan dana dilakukan melalui donasi pada https://kitabisa.com/campaign/kabayan serta commission order melalui instagram @kaki__kanan.

Secara keseluruhan, Woka Voka merupakan sebuah rangkaian acara yang salah satunya adalah pameran karya mahasiswa TPB FSRD 2020. Acara ini bertujuan sebagai sarana kreativitas bagi mahasiswa meskipun terbatas oleh keadaan pandemik saat ini, mereka juga memberi dampak nyata dengan membuat acara amal yang tentunya berguna untuk keadaan seperti ini. Woka Voka memiliki daya ketertarikan yang kuat dari segi visual nya, bahkan akun instagram nya pun dapat membuat anda betah untuk berlama-lama scroll laman profile mereka. Pameran ini pun mudah diakses dimana saja dan dari berbagai jenis gadget tidak terbatas hanya melalui PC atau laptop saja. 

Penulis : Shakeela Wulandari (Kru 20) dan Zikrina Firdausyah (Kru 20)

DUWOW : Kolaborasi di Tengah Pandemi

Pandemi tidak menghambat komunitas seni untuk melakukan kolaborasi. Hal ini dibuktikan dengan terciptanya kolaborasi antara dua kelompok seni. Pameran seni rupa “DuWow” digelar pada tanggal 1-25 Agustus 2020 di Jogja Gallery, Yogyakarta. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara dua kelompok seni “Tenggara” dan “Liquid Color”. Pameran yang dilaksanakan saat new normal ini juga turut menandai Jogja Bergerak Kembali dengan bentuk kegiatan seni rupa. 

Pada pelaksanaan yang berlangsung saat pandemi ini, lokasi yang luas dan penggunaan partisi yang minim membuat terciptanya ruang yang cukup luas sehingga mendukung menerapkan social distancing. Hal ini juga membuat pameran hanya memiliki 1 alur sehingga meminimalisir pengunjung untuk melewatkan suatu karya. Alur dan panduan informasi  diinfokan melalui sosial media @jogja_gallery ini sangat membantu untuk mengetahui kondisi di venue. Ditambah, adanya batas maksimum jumlah orang per sesi yang ditentukan panitia membuat pameran ini nyaman untuk dikunjungi. 

Instagram : @jogja_gallery

Pameran “DuWOW”  mencoba mempertemukan dan menyorot perkembangan, kecenderungan, dan karakter kedua komunitas dalam persilangan representasi kontekstual. Melalui karya-karya yang dipamerkan, kolaborasi ini mencoba untuk menunjukkan persilangan antara berbagai konteks masalah dan manifestasi nilai-nilai estetika. Karya-karya yang disajikan berupa karya lukis dan karya instalasi. Banyak dari karya yang dipamerkan menggunakan media akrilik dalam kanvas. Tidak hanya karya lukisan, tetapi juga terdapat instalasi-instalasi yang tersebar di beberapa titik. Beberapa instalasi diletakkan sesuai dengan alur yang tersedia, namun terdapat beberapa yang diletakkan di tengah ruangan. Baiknya, instalasi diletakkan sesuai dengan alur sehingga pengunjung dapat menikmati semua karya tanpa terlewat.

Seperti salah satu karya instalasi oleh Luddy Astaghis dengan judul “Sangkar Biru.” Karya ini menggambarkan representasi boneka yang berada dalam lampion merefleksikan kondisi manusia di tengah pandemi yang terkurung di suatu tempat. Karya dengan media plastik, mika, kertas, lakban, dan cat ini merupakan salah satu bentuk keresahan masyarakat yang diramu menjadi suatu karya.

Ia juga membuat karya dengan judul “Kita Ikuti Alurnya”, karya dengan media akrilik diatas papan ini memberikan pesan-pesan untuk kita yang sedang ditempa pandemi dengan permainan warna yang diciptakan. 

Tidak hanya keresahan akan pandemi, beberapa karya juga ‘berbicara’ mengenai keresahan sosial yang terjadi, salah satunya adalah keresahan terhadap media sosial. Karya “Panen Hari Ini” oleh Saftari menjadi salah satu contohnya. Karya ini merupakan suara atas keresahan mengenai kebebasan berbicara di media sosial yang semakin memprihatinkan.

Melalui karya yang dipamerkan, para penikmat seni dan pengunjung dapat merasakan dan melihat suatu keresahan-keresahan seniman mengenai permasalahan sosial dari sudut pandang dan simbol yang berbeda. Bagi saya, mengunjungi pameran merupakan salah satu hal yang menarik dan menenangkan. Menarik karena dibuat penasaran akan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah karya. Menenangkan karena estetika yang diciptakan dapat memanjakan mata dengan santun.

Penulis : Shintia Nurulita H A

Sinapsis

Rasa penasaran yang semakin tergugah untuk mulai menikmati karya seni. Karya yang membuat terus berpikir dan mendalami setiap keresahan yang selama ini dirasakan namun tak dapat diungkapkan.

Pameran “SINAPSIS” adalah pameran virtual karya empat seniman yaitu Reza Amalia,Zaizafun Alya G., Andina F. Zahra dan Gevanny F. Putri , dengan medium karya berupa seni instalasi yang interaktif, dan performatif. Keempat seniman ini menuangkan perasaan suntuk atas keadaan dirinya dan keadaan sekitar melalui pameran ini. Para seniman membahas relasi antara individu dan elemen-elemen sosial seperti literatur, media, percakapan sehari-hari, pikiran yang biasanya tidak terungkapkan, dan kejenuhan yang termanifestasi karena keadaan itu sendiri. Di pameran ini pengunjung dibuat untuk berpikir , mengungkap dan bertanya-tanya serta dapat ikut berpartisipasi dalam karya-karya yang dipamerkan.

Pameran “SINAPSIS”  ini awalnya direncanakan sebagai pameran yang berbentuk instalasi. Akan tetapi adanya wabah COVID-19 membuat para seniman sangat kecewa tidak dapat menunjukkan  karyanya. Hal ini  tidak menghentikan mereka. Dengan berbekal kreativitas, keempat seniman itu mengubah rencananya menjadi menggunakan media web yang sekarang hasilnya dapat dinikmati tanpa kehilangan esensi dari sebuah pameran. Pada pameran ini terdapat 3 bagian yang dapat dikunjungi yaitu artworks , visual journey, dan artist talk.

Bagian artworks berisikan karya-karya dari 4 seniman di atas. Karya pertama yang saya lihat adalah Peranti karya Reza Amalia. Peranti disajikan dengan dua cara yang berbeda. Pertama dengan gambar tiga dimensi yang dapat membuat orang bertanya-tanya. Bagian ini bagi saya memiliki banyak arti di dalamnya yang selama ini tidak pernah diungkapkan dalam perasaan kita. Gambar tiga dimensi ini berupa kain yang bertuliskan kalimat dan terdapat lukisan didalamnya. Untuk menikmati karyanya dan melihat lebih detail bagaimana tulisan dan lukisannya diberikan fitur zoom yang nantinya membawa ke display gambar yang berbeda. Fitur zoom ini berbeda dengan zoom pada umumnya. Saat mengklik zoom otomatis scroll ke bagian bawah tiap karyanya. Di dalam karya ini juga dilengkapi suara-suara yang mendukung karyanya. Suara ini membuat karya nya lebih real, membuat bertanya – tanya, dan terasa misterius. Setelah itu ada kolom submit “Apa yang ada di benakmu saat atau setelah melihat, mendengar, dan merasakan visualisasi Peranti ?”. Dengan disediakannya kolom ini seniman bisa mengetahui apakah pengunjung bisa mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh seniman itu sendiri, dan apakah pesan yang tersirat juga dapat diketahui oleh pengunjung. 

“Sebuah karya yang mengangkat bagaimana manusia yang selalu mengkomposisikan kata-kata, tidak hanya sebatas menggambarkan siapa dirinya, melainkan ada sesuatu di balik semua itu”

Cara untuk menikmati Peranti yang kedua, Rompyok, berbentuk buku yang berisikan kata kata dan gambar yang membuat kita terus bertanya-tanya. Menurut saya dengan cara pertama,karya tiga dimensi, lebih menarik daripada rompyo karena di karya tiga dimensi saya bisa lebih merasakan feel nya dengan tambahan musik atau suara yang mendukung dan  berbagai  display yang berbeda membuat lebih menarik. Sedangkan di Rompyok ini hanya disajikan dengan buku yang berisi kata kata dan gambar yang membuat saya cukup jenuh untuk menikmatinya sampai halaman terakhir.

Karya selanjutnya adalah Tea Party karya Zaizafun Alya G. yang disajikan dengan banyak sekali kejutan yang tidak pernah terbayangkan dan mengajak kita untuk berpetualang di dalam instalasi karyanya. Untuk melihat semua karya nya banyak sekali klik dan scroll yang membuat lelah dan lumayan jenuh, tetapi di sisi lain kita juga diajak berpetualang sehingga karya ini terkesan seru. Alya mengungkit unsur humanisme dan kesadaran individualisme sifat manusia yang dikelilingi oleh budaya, perilaku, dan tradisi. Di bagian akhir karya ini ada beberapa tea pot yang saat dilewati didalamnya ada kalimat, bagi saya itu bisa membuat saya lebih paham dengan karya nya.

Selanjutnya, ada karya Andina F. Zahra yang membahas masalah feminisme dan perempuan dijelaskan dengan cara interaktif . Karyanya ini membuat pengunjung merasa ada pada bagian karya nya. Walaupun lebih dominan tulisan di dalamnya, tetapi  Andina membuat kalimat dengan sangat ringkas dan sangat interaktif yang dapat membuat pengunjung bisa ada pada bagian karyanya. Karya ini juga disajikan dalam bentuk podcast yang disertai dengan transcript dalam bahasa inggris.

Terakhir, karya Gevanny F. Putri dengan cat akrilik diatas kanvas menunjukan usaha yang akhirnya menghasilkan suatu hal yang indah. Karyanya di jelaskan dengan banyak sudut pandang yang berbeda. Karya milik Gevanny ini merupakan usaha yang ditunjukkan melalui banyak persepsi dan membuat saya dapat mengetahui sebenarnya dibalik usaha ada banyak yang dipikirkan dan tidak mudah untuk mencapai hasil yang indah tanpa usaha. 

Setelah karya-karya seniman pada bagian ada bagian Artworks, ada bagian Artist Talk yang disajikan untuk pengunjung yang ingin mendengar lebih dalam tentang pameran melalui Spotify, Soundcloud, dan Youtube. Di pameran ini juga pengunjung diberi kesempatan untuk bertanya tentang karya-karya di SINAPSIS melalui laman submit.

Selanjutnya pada bagian Visual Journey, mereka menceritakan bagaimana proses membuat Artwork dari plan awan instalasi offline hingga adanya wabah yang mengharuskan mereka merevisi semua ke plan pameran virtual.

Salah satu karya Gevanny F.Putri 

“Puzzle adalah gambaran bagaimana cara pikir sang seniman bekerja – selalu ingin menyempurnakan”

Salah satu bentuk usaha untuk kembali berkarya dan kilas balik setiap percobaan yang tertulis di  Visual Journey menunjukkan bahwa dengan usaha kita bisa mendapatkan hasil yang indah dan dapat dinikmati.

Menghasilkan suatu karya yang bisa membuat penikmat merasa ada di bagian karya itu tidaklah mudah, membuat berpikir dan bertanya akan suatu karya bukan lah hal mudah. Apalagi dengan keadaan yang benar benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Keempat seniman ini berhasil membuat pengunjung berpikir, bertanya, dan menjadi bagian dari karya nya dengan usaha dan kreativitas.

Ditulis oleh Maria Evelyn

EPILOGUE: Fase/Siklus

Pameran online menjadi suatu tren baru bagi penggiat karya seni di masa pandemi yang melanda saat ini. Berbagai cara kreatif dibuat melalui berbagai media digital yang ada. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan akan ruang pameran tidak dapat tergantikan. Di satu sisi, eksplorasi media digital menghasilkan berbagai pengalaman baru bagi penikmat karya seni  yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Salah satu buktinya ialah pameran EPILOGUE : Fase / Siklus. 

EPILOGUE : Fase / Siklus adalah pameran Tugas Akhir mahasiswa sarjana jurusan Arsitektur ITB yang dipersembahkan oleh Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadarma ITB (IMA-G ITB). Diadakan mulai tanggal 8 juni hingga 8 juli 2020 di laman situs www.epilogueitb.com. Pameran yang mengangkat tema fase/siklus ini menampilkan foto gambar sketsa-sketsa tangan, beragam hasil rendering dan visualisasi 3D, serta foto-foto wisudawan di akhir perjalanan studi di ITB yang seolah mengisahkan bahwa dalam setiap desain arsitektur yang dibuat, terdapat proses panjang dalam perjalanan studi seorang arsitek. 

EPILOGUE merangkai pameran dalam 3 fase. Fase Satu:Benih mengisahkan awal perjalanan desain/arsitek yang berawal dari gagasan lalu ditorehkan dengan pensil di atas kertas. Pada fase ini kita dibawa mengikuti alur sebuah proses yang diibaratkan tumbuhan bermula dari benih. Kata demi kata, kemudian foto-foto sketsa awal yang dapat dipindah, diputar, ditumpuk seakan mengajak pengunjung bermain dengan foto-foto diatas meja. Kemudian diakhiri dengan cuplikan video bentuk pameran dalam bentuk 3D. 

 

Fase Dua:Mekar menampilkan hasil akhir sebuah desain yang siap diuji atau dinilai. Puisi dan karya persembahan wisudawan ditampilkan dan diakhiri kembali dengan cuplikan video lanjutan. Karya-karya yang ditampilkan dapat dipilih lalu terbuka laman baru tentang karya tersebut. Namun dengan adanya fitur ini, pengunjung dapat dengan mudah melewatkan karya yang ditampilkan. 

Fase Tiga:Siklus mereka ulang jejak saat-saat terakhir menyelesaikan pendidikan melalui foto-foto yang menjadi saksi bisu perjalanan studi yang telah mereka tempuh. Foto-foto seakan menceritakan arti siklus yang berbeda-beda bagi setiap orang. Pengunjung juga diajak untuk menceritakan arti siklusnya masing-masing menggunakan kolom yang disajikan. Fase ini diakhiri dengan video kelanjutan dari fase sebelumnya.

 Tampilan laman web terkesan minimalis dan modern dengan layar hitam dan putih membuat saya terfokus pada gambar dan tulisan-tulisan yang disajikan. Kalimat kalimat muncul dengan jeda sesaat ketika memasuki halaman web membuat saya seakan-akan dituntun untuk mengikuti kalimat demi kalimat. Penggunaan bahasa Indonesia yang puitis tetapi mudah dipahami ditambah interaksi lewat foto-foto dan animasi membuat pesan yang ingin disampaikan diterima oleh pengunjung. Dengan penyampaian materi pameran yang mudah dipahami, pameran ini berhasil membuat saya memahami proses perjalanan desain dan lebih mengapresiasi karya arsitektur.

Tak hanya lewat penampilan laman web, EPILOGUE juga memberikan 2 mode ekstensi tambahan, yaitu The Prologue dan The Extended Space. Bila diibaratkan suatu naskah atau kisah, The Prologue merupakan bagian pengantar atau kilas balik dari kisah fase dan siklus yang terdapat dari pameran ini.

Kemudian The Extended Space adalah mode tambahan  yang memberikan anda pengalaman ruang visual 3D seakan-akan anda berada di ruangan pameran. Mode ini merupakan gabungan dari cuplikan-cuplikan video yang ditampilkan di akhir setiap fase. Anda akan dibawa menelusuri ruangan pameran yang sudah didesain khusus melewati kolam lalu memasuki terowongan bawah tanah. Menelusuri ruangan sembari melihat tulisan, dan karya-karya yang sama dengan yang terdapat pada laman web. Kemudian berjalan di bawah bulan purnama hingga menemukan jalan buntu di tengah kolam menghadap ke arah bulan yang mengisyaratkan bahwa perjalanan virtual anda telah berakhir disini. Saya sendiri merasa lebih tertarik dengan mode The Extended Space dibandingkan dengan mode laman web biasa karena gambaran ruang virtual ini memberikan kesan “ruang” lebih yang membuat saya seperti sedang berada di sebuah pameran fisik.

Tak hanya tampilan visual, EPILOGUE juga menghadirkan playlist musik yang dapat diputar lewat aplikasi Spotify berjudul MONOLOGUE. Memang tak lengkap rasanya apabila sebuah pameran tidak diiringi musik yang sesuai. Sebuah perpaduan yang pas apabila anda mengunjungi pameran ini seraya mendengarkan lagu-lagu pilihan yang semakin meningkatkan vibe pameran dan bagi anda yang hanya ingin fokus pada isi pameran dapat memilih untuk tidak memutar musik. Tentunya pilihan ini tidak ada dalam pameran fisik. 

 EPILOGUE juga menghadirkan filter Instagram yang dapat di unduh pada aplikasi Instagram. Filter menarik ini seakan-akan menjadi ‘buah tangan’ yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Sebuah langkah inovatif yang mungkin tidak terpikirkan pada pameran fisik dan secara tidak langsung menjadi publikasi yang kreatif/out of the box

 Secara keseluruhan, pameran ini sangat menarik secara visual ataupun dari segi materi, dan mudah diakses di mana saja dan kapan saja. Fitur-fitur tambahan seperti playlist musik, filter Instagram, dan The Extended Space juga menambah pengalaman berinteraksi dengan ruang pameran. Dengan tema dan pesan yang dibawa juga mengajarkan kita untuk lebih mengapresiasi proses. Pameran ini juga membuktikan bahwa pameran online tidak kalah menarik dari pameran fisik dan memiliki banyak inovasi baru yang sebelumnya tidak terdapat di pameran fisik.

Ditulis oleh M Faizin Fitriansyah M

Pameran Ellipsis

Sebuah karya, dalam bentuk apapun itu pasti memiliki tujuan dan makna tersendiri namun satu hal yang sama adalah setiap pembuat karya/seniman pasti ingin karyanya menceritakan atau menyampaikan sesuatu kepada penikmatnya. Pameran “Ellipsis” memiliki tujuan sebagai media untuk mengeksplor pribadi masing-masing desainer dalam merefleksikan hasil kontemplasi personal menjadi suatu karya dengan tentunya gaya khas dalam setiap aspeknya. Kontemplasi dipilih sebagi tema karena kaitannya dengan hal sehari-hari yang dilakukan manusia. Kontemplasi menjadi dorongan untuk berkarya yang bersifat lebih eksploratif dan mencerminkan identitas desainer sebagai pembuat karya. Jauh dari kebisingan kota, experimental exhibition ini hadir di Galeri Yuliansyah Akbar serta diselenggarakan pada tanggal 1-2 Februari 2020. Dibuka untuk umum dan gartis, pameran ini diwujudkan oleh Mahasiswa DKV ITB.

Sebagai seorang awam yang jauh dari kata seni, mengunjungi pameran ini memberikan pengalamn yang cukup menggugah serta menyenangkan. Seni nampaknya bagi segelintir orang seperti saya, cukup sulit dipahami dan karena betapa sulitnya, banyak orang malah jadi bosan. Para pembuat karya dalam pameran ini betul-betul berusaha agar karya bisa seinteraktif mungkin dan sebisa mungkin melibatkan penikmatnya, yaitu pengunjung. Meski, memang beberapa karya tetap sulit dipahami maknanya tapi setiap karya memiliki daya tariknya masing-masing. Tak sedikit pengunjung yang bertahan pada satu karya dalam waktu yang cukup lama. Cara penyampaiannya tak monoton sama sekali. Contohnya, sebuah karya yang dibalut dalam sebuah kuis atraktif berjudul “The Most Accurate Personality Test Ever”. Belum lagi, karya “Lay Down Look Up” yang hanya bisa dilihat bila kita membaringkan tubuh kita di atas kasur yang telah disediakan.

Lebih dari pada penyampaian dan kemasan yang menarik, para desainer tak lupa menyampaikan kisahnya, hasil eksplorasi dari kontemplasi mereka. Setiap karya pada akhirnya memberikan kesan yang betul-betul berbeda dan dapat tersalurkan. Setiap komponen yang ada di dalam karya pun sebisa mungkin dapat memaksimalkan proses penyampaian pesan sang desainer seperti penambahan audio dan lighting. Di setiap karya pun tersedia QR Code yang menjelaskan latar belakang pembuatan karya tersebut.

Salah satu instalasi menarik nan menyentuh berjudul “The Indestructible Feeling of Being Destructible” adalah sebuah instalasi tentang insekuritas diri yang menggabungkan media digital projection, audio serta teknik refleksi cermin. Awalnya, instalasi ini terlihat cukup sederhana namun ternyata video yang diproyeksikan ke layar adalah hasil pantulan dari dua cermin. Cermin tersebut tak semata-mata menjadi alat untuk menambahkan kesan ‘rumit’, malah menjadi salah satu elemen dari karya ini untuk mengartikulasikan pesan sang desainer.

Penempatan atau layouting juga sesuai dengan karya. Karya yang lebih butuh pencahayaan yang tinggi berada pada lantai atas sedangkan karya yang lmembutuhkan pencahayaan yang minim serta high level of intimacy berada di lantai bawah.

Mengunjungi pameran ini adalah betul sebuah pengalaman yang lagi-lagi menggungah dan menyenangkan. Dalam ruang yang minim, pameran ini dapat menyuguhkan atraksi-atraksi yang serat rasa. Terlebih lagi, pameran ini memberikan banyak insight akan pameran yang atraktif dan penuh makna

Pameran Retrospektif Xu Bing: Thought and Method

Seni rupa kontemporer tampaknya akan selalu menjadi perbincangan hangat di khalayak ramai. Semakin maraknya instalasi seni di kota-kota besar di Indonesia sungguh menarik perhatian para perupa seni atau bahkan masyarakat awam. Museum Macan menjadi salah satu medium bagi para seniman nasional dan internasional untuk mempresentasikan karya mereka pada audiens global.

 

Setelah sukses menarik massa pada Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow, Museum Macan kembali hadir dengan karya perupa mancanegara kenamaan asal Tiongkok, Xu Bing. Pameran retrospektif bertajuk “Thought and Method” ini menampilkan lebih dari 60 karya dan proyek penting yang dibuat selama empat dekade.

 

Berbicara tentang seni rupa kontemporer di kancah Asia, sosok Xu Bing sangat menonjol karena pendekatan khas dalam karyanya. Pria kelahiran Chongqing tersebut mengawali kariernya dengan mengeksplorasi dimensi budaya, bahasa, dan sistem pengetahuan tradisional. Hal ini merupakan pondasi perjalanan Bing menjadi perupa. Sesuai dengan tema yang dibawakannya, ekshibisi ini memang menampilkan perjalanan karier dan metode serta motivasi di balik kacamata Bing.

 

Karya-karya yang mencakup beragam medium, termasuk film, instalasi, seni grafis, dan materi arsip membuat ekshibisi ini salah satu yang sayang untuk dilewatkan. Dari puluhan karyanya, saya mengambil contoh-contoh fenomenal yang berhasil menyita perhatian audiens melalui metode-metode yang spektakular.

 

Karya pertama ini salah satu yang tidak akan pernah bosan dibicarakan. Instalasi “Book from the Sky” (1987-1991) yang dibentuk dari gulungan kertas berisi aksara Tionghoa yang seakan menjuntai turun dari langit ini seperti menyihir siapapun yang melihatnya. Uniknya lagi, jika dilihat lebih dekat, aksara Tionghoa ini tidak memiliki makna yang memang bertujuan untuk menantang sistem pengetahuan umum. Dipandang dari foto saja cantik dan megah sekali, bagaimana berhadapan langsung? Jatuh cinta saya pada pandangan pertama dengan setiap detil yang disajikan, terlebih lagi aksara-aksara ini murni buatan Bing yang semakin menunjukkan kecerdasannya dalam menuangkan ekspresinya dalam berkarya.

 

Nah, ini dia yang tak kalah menarik dan wajib dicicipi. ‘Perkawinan’ aksara Tionghoa dan bahasa Inggris menghasilkan karya berbasis pembelajaran di kelas, “Square Word Calligraphy” (1994-2019). Siapapun —saya jamin—akan betah berlama-lama di dalamnya. Tecermin dari suasana kelas yang begitu tenang dan damai, dilengkapi dengan visual secara keseluruhan yang tidak kalah cantiknya. Bergerak lebih dalam, teknik melukis aksara ‘Tionghoa’ yang diajarkan juga sangat mendasar sehingga pemula pun akan merasa lebih mudah ‘belajar’. Ada-ada saja memang metode yang diperkenalkan Bing ini. Bermula dari kebutaannya terhadap bahasa Inggris ketika pertama kali datang ke New York, membuat Ia melahirkan ide cemerlang untuk mempermudah masyarakat Tionghoa atau bahkan mancanegara untuk mahir bahasa global tersebut.

Tidak berhenti diperbincangkan, apa sih ledakan ide yang Bing lagi-lagi ciptakan? Pernahkah kamu memikirkan rokok sebagai seni? Seni macam apa yang dapat terbentuk dari rokok? Pada umumnya, rokok dianggap buruk dan seni dianggap baik, tetapi, manusia membutuhkan keduanya. Begitu Bing menanggapi pewarta di Museum Macan yang menanyainya. Dengan menyatukan keduanya, kita akan menciptakan kekuatan yang baru. Maka, lahirlah karya yang unik, “Honor and Splendor” (2004). Karya yang tergabung dalam seri Tobacco Project ini memang terdiri dari 660.000 batang rokok. Keunikannya tidak berhenti disitu! Jika diperhatikan dengan seksama, deretan rokok tersebut membentuk loreng harimau berwarna emas putih. Karya ini sukses membuat pengunjung terpukau, mengingat materialnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Jika sebelumnya terdapat instalasi “Book from the Sky” (1987-1991), maka Bing pun punya “Book from the Ground” (2003-kini). Dengan mengumpulkan simbol-simbol yang Ia ambil dari ruang publik dan menulis dengan tanda-tanda ini, Bing berhasil menyalurkan keresahan orang-orang dengan keterbatasan bahasa untuk berkomunikasi. Dengan demikian, para pembaca, terlepas dari latar belakang pendidikan atau budaya, dapat membacanya sehingga tidak perlu melewati proses translasi. Tidak kalah pentingnya, instalasi berbasis studio ini mengajarkan siklus berproses yang tidak akan pernah berakhir. Belajar tentang bahasa emoji, hal yang paling saya sukai adalah bagaimana Bing mengenalkan metode yang sangat memudahkan saya—juga orang lain—dalam berkomunikasi singkat maupun panjang, dan tentunya dengan penyampaian yang menarik.

 

 

Sejak 2015, klip dari kamera pengawas di Tiongkok dapat diakses bebas oleh masyarakat. Bing menggabungkan cuplikan-cuplikan video tersebut dari berbagai tempat dan sudut yang pada akhirnya melahirkan “Dragonfly Eyes” (2017). Tidak adanya agen manusia yang mengoperasikannya membuat hal-hal di luar nalar banyak terekam. Tidak jarang privasi pun ikut masuk bersamanya. Lewat ini, Bing berhasil menyatukan fragmen-fragmen video tidak berkorelasi ini menjadi cerita utuh yang menggambarkan realitas kehidupan manusia. Sepertinya, Bing bermaksud menyampaikan pesan “Hati-hati di Dunia Nyata”.

 

 

Pameran yang digarap oleh perupa Tiongkok ini rupanya mendapat apresiasi tidak terduga dari para audiens, khususnya di Museum Macan. Selain karena karya-karyanya yang sangat relevan dengan kehidupan manusia, pameran ini cocok untuk yang ingin belajar atau sekedar refreshing. Lewat pameran ini, Bing berhasil membuat rekam jejak fenomenal dari setiap gagasan-gagasan kreatifnya yang disuguhkan dalam sebuah pameran tanpa adanya batasan yang menjembatani antara audiens dan karya-karyanya.

Ditulis oleh Nadya Safitri

Teater IMAX Keong Mas

Pernahkah Anda menonton film dengan layar raksasa berukuran 21,5 meter x 29,3 meter? Apabila belum, maka Anda harus mencobanya di Teater IMAX Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah. Gedung teater yang diresmikan pada tanggal 20 april 1984 ini dibangun atas prakarsa serta gagasan Almarhumah Ibu Hj. Tien Soeharto dan merupakan teater IMAX pertama di Indonesia.

Sebagian besar siswa Indonesia pernah masuk Teater Keong Emas saat berdarma wisata bersama sekolah. Film yang ditayangkan biasanya menonjolkan keanekaragaman budaya Indonesia. Selain film keanekaragaman Indonesia, berapa film box office dunia juga pernah ditayangkan. Namun, tidak sembarang film bisa di tanyangkan di teater Keong Emas . Menonton film di teater ini, sama halnya seperti anda menonton di bioskop biasa, hanya saja kursinya didesain membuat kita menegadah, karena layarnya tidak berbentuk persegi empat datar seperti bioskop biasa, melainkan berbentuk lingkaran cembung karena layarnya adalah tempurung dari gedung Keong Mas itu sendiri. Penonton serasa ikut berada di dalamnya dan ikut pula berperan sebagai pemain yang didukung dengan gambar full HD 4K yang semuanya terasa nyata seperti film 3D. Dengan layar berukuran 21,5 meter x 29,3 meter dan proyektor dengan teknologi IMAX EXPERIENCE 70 mm yang biasa digunakan untuk pemutaran film action seperti Harry potter, Spiderman, dan Transformers yang membuat penonton akan lebih merasakan ketegangannya. IMAX sendiri merupakan singkatan dari Image Maximum, sebuah proyeksi film yang memiliki kemampuan menampilkan gambar dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar dari film konvensional lainnya. Dalam hal suara, berbagai sarana dan panil penyerap suara (akustik) ditempatkan secara strategis pada lokasi tertentu di sekitar teater, sehingga diperoleh pantulan suara yang jelas dan sempurna.

Selain kualitas proyektor yang lebih bagus dan audio yang mendukung, kehadiran panggung multifungsi memungkinkan Teater Keong Mas memanfaatkan fungsi lain dari sebuah gedung teater bagi masyarakat atau pihak swasta, di antaranya yaitu sebagai tempat peluncuran produk, iklan, kegiatan komunitas, acara keagamaan, wisuda, gathering, hingga sosialisasi program.

 

Namun sayangnya masih terdapat kekurangan yang sebenarnya bisa diatasi seperti bangunan yang terkesan kuno dan kurang terawat, film-film yang temanya itu itu saja dan jadwal pemutaran yang tidak sama setiap hari membuat pengunjung kurang tertarik dengan pemutaran film di teater IMAX Keong Emas ini. Dengan kualitas media audiovisual yang melebihi kualitas bioskop pada umumnya, penulis menilai bahwa tidak ada ruginya anda menonton disini juga penulis berharap semoga kualitas pelayanannya dapat ditingkatkan dan film-film yang diputar dapat lebih menarik pengunjung.

Penulis: Muhammad Faizin Fitriansyah Musa

Mencoba ScreenX

Bioskop atau movie cinema adalah sebuah industri yang menaungi pemutaran film atau motion picture. Industri ini terus menerus bergerak seiring dengan kemajuan teknologi. Berawal pada tahun 1895 di Paris, bioskop pertama hadir dengan memutarkan film bisu hitam putih. Seiring berjalannya waktu, inovasi yang terjadi pada bioskop semakin beragam, dimulai dari bioskop yang tadinya hanya memutarkan 1 flm saja (1 layar) hingga tersedia banyak layar (Cineplex) seperti yang sering kita jumpai. Tak hanya dari segi jumlah layar, teknologi pada film tersebut pun semakin mumpuni dari tahun ke tahun. Diawali dengan film bisu hitam putih, disusul oleh film berwarna -yang memiliki suara- dengan kualitas teknis yang terus menerus membaik. Dipenuhi rasa ingin terus berkembang, inovasi tidak berhenti sampai di situ. Kini, bahkan jenis layarpun sangatlah beragam. Layar bioskop yang berukuran hingga 30,78 x 13,11 meter, layar yang menggunakan Samsung Cinema LED, dsb. Tak hanya itu, kini telah tersedia bioskop dengan beragam watching experience. Jenis bioskop drive in mungkin pernah digandrungi pada zamannya, tapi di abad 21 ini, banyak hal yang dulunya hanyalah khayalan sudah berubah menjadi kenyataan. Mau nonton secara 3 dimensi? bisa. Mau nonton serasa ada semburan angin dan ikut bergerak di dalam film? Bisa dicoba jenis bioskop 4DX. Mau meraskan berada di dalam film? Sudah tersedia bioskop dengan layar 270⁰ yang lebih dikenal dengan nama ScreenX.

Menelisik lebih jauh mengenai ScreenX, jenis layar seperti ini sudah hadir di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Di Indonesia sendiri baru terdapat satu bioskop yang menyediakan teknologi ScreenX yaitu CGV Grand Indonesia. Teknologi yang digunakan dalam ScreenX sebenarnya bisa dibilang menyerupai teknologi yang digunakan bioskop pada umumnya, yaitu menggunakan proyektor yang menembakkan sinar ke dinding/layar,hanya saja terdapat 2 tambahan layar di samping layar utama dan di atasnya terdapat proyektor yang menembakaan sinar ke arah layar di seberangnya. Dengan demikian, ScreenX jelas memberikan watching experience yang baru dan segar bagi para pengunjungnya karena dapat membuat seolah-olah penonton berada di tempat kejadian sesuai adegan dalam film yang mereka tonton. Dengan hadirnya tiga layar, penonton dapat melihat perspektif yang lebih luas terhadap keadaan di dalam film yang ditonton.

Berbekal rasa ingin tahu akan ScreenX ini, saya pun tergerak untuk mencobanya tanpa mempermasalahkan film yang saya tonton. Bad Boys for Life (2020) yang notabene bukanlah film yang “laku” untuk ditonton dalam ScreenX adalah film yang tersedia saat itu. Datang dengan ekspektasi yang tinggi, saya merasa cukup terkejut saat melihat layar samping yang wujudnya terlihat seperti dinding biasa berwarna putih. Seiring film berjalan, kedua layar di sisi tersebut pun akhirnya digunakan dan menunjukkan kehebatannya. Film yang ditonton terasa lebih megah karena luasnya pandangan yang diberikan. Akan tetapi, dibalik sebuah ciptaan pastilah ada kekurangannya. Begitu pula dengan ScreenX ini. ScreenX yang menjanjikan sensasi berada di dalam film dengan cara menonton 270⁰ tidak sepenuhnya terasa benar karena layar yang digunakan tidaklah mumpuni untuk membuat efek di dalam film serealistis itu. Masih terdapat jarak antar layar sehingga gambar tidak terasa menyatu dan juga dikarenakan layar yang tidak melengkung membuat pandangan terasa terbatas dan sulit untuk memperhatikan gambar pada layar di kiri & kanan. Jenis film yang diputar menggunakan layar ScreenX pun seharusnya tidak sembarangan. Scene yang cocok untuk menggunakan ScreenX adalah scene yang mengambil gambar dengan teknik long shot karena akan lebih terasa efek berada di dalam filmnya. Tentunya, dalam pengambilan gambar untuk sebuah film berbagai jenis teknik ikut andil di dalamnya. Maka dari itu, dalam penggunaan ScreenX pun tidak semua film dapat memaksimalkan ketiga layarnya secara terus menerus sepanjang film.

Image result for screenx
Sumber: id.bookmyshow.com

Penulis: Kiara Qinthara