Category Archives: Review

Sony World Photography Awards

Di tengah ramainya suasana di Tokyo pada bulan Juni lalu, perusahaan alat elektronik bermerek Sony mengadakan pameran fotografi berjudul “Sony World Photography Awards 2019”. Pameran ini diadakan di Ginza Sony Park, Ginza, Kota Tokyo pada tanggal 1 Juni sampai dengan tanggal 23 Juni 2019. Lokasi pameran yang strategis dan berada di daerah Ginza pun sangat mendukung keberjalanan acara ini karena Ginza merupakan salah satu pusat keramaian di Kota Tokyo. Menariknya, ruangan pameran berada di basement sebuah taman publik sehingga membuat para wisatawan dan masyarakat Tokyo penasaran dengan pameran ini.

   

Source: https://www.ginzasonypark.jp/e/program/014/
Source:https://www.ginzasonypark.jp/e/program/014/   

Pada pameran ini, Sony menampilkan beberapa karya fotografi yang berhasil memenangi award dari submisi terbuka yang diadakan sebelumnya. Submisi yang diadakan Sony ini merupakan salah satu kompetisi fotografi yang terbesar di dunia. Karya-karya yang masuk ke submisi berasal dari fotografer-fotografer berbagai penjuru dunia. Menurut deskripsi pameran , submisi yang masuk berjumlah 326.997 karya dan pada akhirnya dipilih 250 karya untuk dipamerkan. Karya yang berhasil terpilih selanjutnya dibagi menjadi beberapa kategori tema foto, mulai dari fotografi arsitektur, landscape, motion, culture, portrait, travel, dan lainnya.

Credit: David Salvatori, Italy, Shortlist, Open, Natural World & Wildlife, 2019 Sony World Photography Awards
Credit: Daniel Portch, United Kingdom, Shortlist, Open, Architecture (Open competition), 2019 Sony World Photography Awards

Pameran ini memakai 3 lantai basement untuk mendisplay karya-karyanya karena foto yang dipamerkan sangat banyak. Saat masuk ke tempat pameran, pengunjung dapat bebas melihat karya tanpa berurutan karena karya yang dipamerkan dibagi sesuai temanya masing-masing. Karya pun dipajang dengan segmentasi 1 tema foto di 1 panel kayu sehingga foto-foto dengan tema seragam didisplay di 1 panel kayu yang sama. Foto yang dipajang juga memiliki variasi ukuran yang berbeda. Karya yang memenangkan juara 1 memiliki ukuran yang paling besar dibandingkan juara yang lainnya. Beberapa karya juga ada yang didisplay khusus tanpa menggunakan segmentasi 1 tema di 1 panelkayu, seperti misalnya untuk karya dengan tema photo series sehingga setiap 1 photo series dipajang di 1 panel kayu yang sama. Instalasi yang dipakai untuk mendisplay karyanya pun cukup sederhana dan juga memudahkan pengunjung untuk menikmati foto dan juga membaca deskripsinya.

 

Hal yang paling menarik dari pameran ini adalah profesionalitas dari para kurator dan juga para pembuat karya; terlihat dari tingginya kualitas dari foto-foto yang dipamerkan dan juga deskripsi tiap fotonya. Hal ini tentu sangat penting sebab kompetisi yang diadakan pun merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Mungkin, hal ini adalah poin yang harus dicontoh pada setiap penyelenggaraan pameran, yaitu dengan menunjukkan profesionalisme dalam mengadakan pameran, terutama dari segi kurator dan juga pembuat karyanya dalam proses kurasi, pembuatan karya, dan juga eksekusi finishing dari karyanya.

Penulis: Fakhrell Saqfan Izzan

Earth Manual Project

Bencana kapan datang saja tanpa memandang siapa dia. Tentu dalam mengatasi atau menghadapi hal tersebut perlu tindakan yang tepat sehingga kita tidak selamanya larut dalam kesedihan. Earth Manual Project, sebuah pameran tentang bagaimana menghadapi bencana yang diedukasikan untuk masyarakat Jepang. Kini pamerannya sudah berada di negara yang sering terjadi bencana seperti Indonesia, Thailand, dan Filipina.Pameran ini bertempat di Dia.Lo.Gue, Kemang dengan mengusung tema “Disaster and Design: For Saving Lives” yang berarti acara ini memamerkan berbagai rancangan kreatif untuk menyelamatkan diri yang bisa diterapkan masyarakat ketika terjadi bencana. Dari tanggal 2-26 Mei 2019, sepertinya pameran ini tidak sepi pengunjung. Apresiasi besar untuk Design and Creative Center Kobe karena telah menyelenggarakan pameran edukatif!

Pertama kali masuk ke area pameran, pengunjung langsung disajikan barang-barang yang dapat digunakan pasca bencana seperti terigu. Lalu ada buku-buku yang digantung. Bukunya bukan sembarang buku, buku tersebut merupakan guide yang harus dilakukan setelah bencana menyerang. Tidak hanya digantung, buku tersebut di letakkan di dalam lemari kaca dan kondisi bukunya di buka sehingga pengunjung mengetahui apa isi masing-masing buku.

 
Pameran ini diputar lagu santai bervolume kecil agar pengunjung masih bisa menyerap pesan yang disampaikan oleh Earth Manual Project. Yang unik dari pameran ini yaitu semua surface dilapisi oleh kardus tebal sebagai pertanda bahwa ketika Jepang dilanda bencana, semua barang bisa dijadikan untuk tempat berlindung contoh kardus itu tadi.

Selain etalase, pengunjung dapat menonton cuplikan video yang tidak jauh dari menanggulangi bencana ala Jepang. Selain ruang pemutaran, pameran ini juga menampilkan maket lanskap kondisi perkotaan setelah bencana. Pameran ini sangat menarik untuk dihadiri. Walaupun ukuran tulisan sebagai keterangan tambahan kecil, hal itu tidak menjadi masalah karena bagaimanapun objek yang ditampilkan sudah cukup menjelaskan.


Pameran Earth Manual Project patut diacungi jempol karena berhasil menyampaikan pesan bahwa sebuah bencana bukanlah akhir dari segalanya. Bencana tetap harus kita hadapi namun bukanlah alasan kreativitas kita mati karenanya. Negara Jepang mempunyai cara mereka untuk menanggulangi bencana, tertuang dari buku-buku dan video yang ditampilkan.

Indonesia, sebagai negara yang rawan bencana, sepertinya harus meniru tindakan yang dilakukan Jepang dalam menanggulangi bencana, terutama untuk masyarakatnya karena akan sangat efektif untuk bisa pulih ke kondisi normal setelah porak poranda menyelimuti.

Penulis: Frida Caturima

Cahaya

Semakin menjamurnya instalasi seni yang unik dan menarik di berbagai titik di ibu kota memberi ruang bagi para penikmat seni untuk mendapatkan inspirasi atau sekedar cuci mata. Salah satunya dapat ditemukan di Senayan City Mall Level 1. Collaborative Experience Space bertajuk CAHAYA ini menyuguhkan instalasi-instalasi futuristik dan inspiratif yang layak untuk dikunjungi. Dibuka untuk umum, pameran yang diselenggarakan hingga 25 Mei 2019 ini menghadirkan kolaborasi fotografi, lighting technology, desain interior, juga untaian kristal Swarovski nan ciamik. Ide-ide tersebut pun tidak luput dari tangan-tangan kreatif para lintas profesional: Axioo Photography, Infico Interior Indonesia, V2 Indonesia, Royal Design, dan Yogie Pratama.

Mengulas lebih dalam, pameran yang mengangkat tema cahaya ini terdiri atas beberapa sub-ruangan yang terisi dengan instalasi yang berbeda. Semua ornamen ditata sedemikian rupa, ditambah lagi kristal-kristal Swarovski berbagai rupa dan warna menambah kesan mewah pameran ini. Salah satu instalasi yang paling menarik perhatian saya adalah “Hutan Cahaya“. Hutan futuristik yang memanfaatkan teknologi fiber optic berhasil membuat pengunjung seolah berada di ruang antariksa dengan gemerlap cahaya warna-warni nan indah.

Tak kalah menarik, ada pula suatu dark room yang konsepnya diadaptasi dari cetak foto analog. Ruangan ini diisi dengan berbagai macam fotografi, mulai dari portrait hingga street photography dengan layouting memenuhi setiap sisi ruangan. Warna hitam yang mendominasi pun membuat instalasi ini terasa begitu berbeda dengan yang lainnya. Sungguh indah untuk diabadikan atau sekedar dinikmati saja.

Ada dark room dengan nuansa hitamnya, ada pula instalasi “Listen with Your Eyes“ yang khas dengan nuansa putih. Nuansa menenangkan ini dilengkapi dengan elemen musik yang sangat cocok bagi pengunjung yang ingin menjernihkan pikiran.

Tak ketinggalan desain baju oleh desainer ternama, Yogie Pratama, bertajuk “Imaginaire” yang dilengkapi dengan lantai dansa yang akan menyala jika para pengunjung menapakkan kaki dan headset untuk dicoba para pengunjung. Dibuat seunik mungkin dengan konsep gemerlap tahun 80-an, karya ini berhasil membuat tiap pengunjung serasa berada di dunianya sendiri.

Salah satu instalasi yang paling sederhana yaitu “The Vow“. Tidak memakai banyak teknologi, tetapi berhasil mencuri perhatian pengunjung untuk membaca tulisan-tulisan pada setiap kainnya.

Mengangkat tema cahaya, kolaborasi para profesional ini berhasil menampilkan makna cahaya yang akan membawa harapan sebab cahaya sekecil apapun dapat menerangi kegelapan. Bagaimana setiap instalasi menceritakan kisahnya masing-masing, tetapi juga secara bersamaan mengaitkan satu sama lain dengan intimasi yang dalam.

Penulis: Nadya Safitri

EVERYTHING IN BETWEEN: THE EXHIBITION

“Did you ever cycle from The Netherlands to Indonesia?
No, not yet?
Awesome!
Because we did that for you.”

TENTANG EVERYTHING IN BETWEEN

Everything in Between adalah cerita perjalanan Marlies dan Diego, pasangan petualang yang b`ersepeda dari Belanda ke Indonesia selama sebelas bulan –wah, hampir satu tahun! Berawal dari kecintaan mereka bersepeda, mereka berhasil melintasi 23 negara, melintasi sejauh 12.000 kilometer.

Mungkin akan timbul banyak pertanyaan-pertanyaan seperti: Kok bisa ya? Atau Kenapa mereka mau melakukan itu? Selain karena mencintai hobi mereka, mereka memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada kita semua. Nama ‘Everything in Between’ sendiri timbul dari cerita selama di perjalanan dari Belanda ke Indonesia, yang tentu banyak pelajaran yang didapat dari perjalanan mereka dan ingin disampaikan ke kita semua.

For people, animals and trees’ menjadi tagline mereka, dan menjadi tiga isu utama yang mereka bawakan. Dengan adanya perjalanan ini, mereka bertemu banyak orang dari berbagai negara dan dengan berbagai bahasa, namun mereka tetap saling membantu satu sama lain. Orang-orang tersebut bahkan me-welcome mereka untuk singgah sebentar di rumahnya, dibuatkan makanan dan minuman, dan pada akhirnya mereka saling bercerita tentang hidupnya.

Bermalam di tenda di tempat yang tidak diketahui juga tidak kalah serunya untuk mereka. Bangun ditengah-tengah sekumpulan binatang menjadi suatu cerita yang menarik untuk mereka. Belajar untuk hidup di alam, menghargai apa yang ada di sekitar, dan tidak mengganggu keberlangsungan hidup hewan-hewan tersebut, begitu pula hewan-hewan tersebut juga tidak terganggu dengan keberadaan mereka.

Bersepeda juga mengusung isu lingkungan, dimana tidak ada emisi karbon yang dikeluarkan selama perjalanan ini. Perjalanan yang eco-friendly menjadi isu yang ingin mereka sampaikan, bahwa sebetulnya kita bisa, kok, mencintai lingkungan, bahkan berawal dari hobi sekalipun.

Tiga isu utama ini membuat ktia sadar akan sebetulnya apa peran manusia yang sesungguhnya, Bahwa berbuat baik kepada sesama manusia, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, dan pada akhirnya berbuat baik kepada alam. Everything in Between juga berhasil membuat kita sadar bahwa di dunia ini juga dipenuhi banyak orang baik yang peduli akan apa yang kita lakukan, walaupun berasal dari negara yang berbeda dan berbicara bahasa yang berbeda. Everything in Between mengajarkan kita untuk menjadi ‘manusia’.

TENTANG PAMERAN
Pameran Everything in Between bertempat di Kopi Kalyan, Barito, Jakarta Selatan. Bertempat di lantai dua dari Kopi Kalyan, pameran ini dapat terbilang tidak terlalu besar dan digarap secara sederhana. Pameran ini cukup ramai saat kami kunjungi (24 Maret 2019), dipenuhi dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari anak kecil, mahasiswa, orang tua, dan beberapa public figure. Diego dan Marlies pun juga turut hadir di pameran ini, terbuka untuk diskusi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung.

Memasuki pameran ini, pengunjung disuguhi logo Everything in Between dan kata pengantar. Instalasinya dibuat dari kardus, salah satu material yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.

Selanjutnya, terdapat pameran foto yang instalasinya dibuat dari pagar besi wiremesh dan ada juga yang langsung ditempel di dinding. Foto-foto yang dipamerkan menampilkan foto mereka sedang bersepeda, foto panorama alam, serta foto-foto human interest dari berbagai negara. Di sini, terdapat beberapa caption foto yang menurut saya cukup menyentil, baik foto yang terkait dengan alam maupun foto yang menggambarkan mereka yang sedang dilanda homesick.

Merasa Muram
Serbia
Sulit bagi kami untuk merindukan rumah kami, zona nyaman kami, untuk waktu yang lama. Setiap hari diisi dengan tempat baru, orang baru, kebiasan baru. Tapi terkadang kami bisa merasakan sedikit rasa rumah ketika kami bisa tinggal di rumah seseorang. Dan itu adalah perasaan yang menyenangkan, karena hal tersebut memberikan kami ilusi bahwa kami cocok berada disitu. Bahkan jika sementara.

Sayangnya, Kamu Tidak Harus Takut
Indonesia
Kami suka sebuah plang tanda di kaki gunung api aktif tertinggi di Asia Tenggara. “Jangan ambil apapun, kecuali foto. Jangan membunuh apapun, kecuali waktu. Jangan meninggalkan apapun, kecuali rasa hormat.” Dan mengapa kamu tidak harus takut saat berkemah disini? Karena meskipun daerah ini merupakan habitat alami Harimau Sumatra, cukup sulit menemui mereka di habitat alami mereka saat ini. Spesies langka ini lebih takut kepada manusia daripada sebaliknya.

Selanjutnya, terdapat instalasi akan gambaran bagaimana mereka bermalam di tenda selama mereka bersepeda

.“Iya, kami benar-benar menggunakan tenda ini”
Karena banyak yang bertanya
Ini adalah kamar tidur kami setahun belakangan. Mungkin kamu berpikir, romantis sekali untuk tidur bersama di tenda ini, tapi sebenarnya sebagian besar waktu rasanya panas, lembap, dan bau. Dan agak terlalu kecil. Sekarang kamu hanya bisa melihat matras dan tas tidur kami di dalam, tapi dalam kehidupan nyata kami juga harus meletakkan hampir semua tas kami di dalam tenda. (…)

Di samping instalasi tenda, terdapat peta dunia yang menunjukkan rute mereka saat bersepeda, diikuti dengan foto-foto yang juga ditempel di peta tersebut. Di samping dinding ini juga terdapat foto-foto dan narasi dari hasil donasi yang telah terkumpul, untuk mereka serahkan ke beberapa lembaga.

Barang-barang yang selalu mereka bawa saat bersepeda juga turut dipamerkan. Mulai dari kompas, water filter, alat masak, sarung tangan, sunblock, serta gantungan kunci dengan foto orang tersayang.

Pameran Everything in Between ini sebelumnya tidak terlintas dari pikiran Diego dan Marlies. Namun dengan dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat, mereka akhirnya turut membuat pameran ini dan juga berbagi cerita serta menyampaikan pesan kepada para pengunjung. Mereka menyajikannya secara jujur, menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan dan menunjukkan apa yang sebenarnya mereka lakukan. Pameran ini juga kembali kepada slogan mereka, ‘for people, animals and trees’.

Pameran ini cukup insightful dan membuka mata akan kehidupan. Namun hal yang disayangkan adalah flow pameran yang sempat tersendat beberapa kali karena terlalu ramainya pengunjung pada satu tempat yang cukup kecil.

Memang saat kita lihat pameran Everything in Between ini, hanya terdapat foto-foto serta berbagai instalasi. Namun, Everything in Between berhasil membuat pameran ini tidak berhenti sampai disini, namun turut “dipamerkan” lewat podcast, music video, serta cerita mereka yang terdapat di berbagai platform. Pameran ini hanya menjadi salah satu wadah mereka untuk berbagi ke masyarakat. Untuk mendengarkan cerita mereka lebih lanjut, kita dapat mendengar cerita mereka di:

Semoga kita juga dapat turut menginspirasi masyarakat dan turut mencintai lingkungan, serta berbuat baik kepada sesama manusia, hewan, dan tumbuhan!

Penulis:  Irvi Syauqi Selendra

Tentang Laut Kita

Ada apa dengan Laut Kita?

Sejauh Mata Memandang. Sungguh menarik bukan, untuk sebuah nama clothing line? Label tekstil yang berdiri di bawah naungan Chitra Subyakto dan Arya Dipa ini sudah berdiri sejak tahun 2014. Berawal dari keprihatinan Chitra akan kain tradisional yang masih dipandang sebelah mata oleh anak muda, hingga terbesitlah ide untuk membuat kain dengan motif modern yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Indonesia. Karena cintanya terhadap Indonesia, isu mengenai limbah sampah plastik yang mencemari laut-laut Indonesia pun membawanya pada “Laut Kita”.

Mei ini, saya berkesempatan mengunjungi pameran yang diselenggarakan Sejauh Mata Memandang yang bertajuk “Laut Kita”. Pameran yang mengusung tema sampah plastik ini diselenggarakan di Plaza Indonesia, Level 2 Utara dari 22 April – 16 Juni 2019. Semakin maraknya berita kerugian karena sampah plastik pun menjadi tuntutan tersendiri bagi sang penyelenggara untuk mencoba menyadarkan masyarakat betapa bahayanya sampah plastik. Mulai dari sampah botol plastik hingga sampah plastik ‘kresek’ dapat ditemukan dalam setiap segmen pada pameran tersebut. Tak hanya kumpulan sampah plastik yang dipamerkan, ada pula video, audio, dan karya-karya fotografi dari berbagai sumber. Pengunjung pun terlihat sangat antusias dengan memposting di Instagram, tak lupa diramaikan dengan tagar sejauhmanakamupeduli.

Memasuki entrance gate, pengunjung disambut oleh rumbai-rumbai botol plastik yang diremukkan dan diikatkan pada kain putih panjang. Ditambah pencahayaan putih dan pemanis bunga-bunga dari kain khas Sejauh Mata Memandang yang membuatnya semakin apik untuk diabadikan atau untuk sekedar dilihat saja. Masuk lebih jauh, pengunjung akan disambut beberapa karya fotografi bertema laut dan sebuah video dengan Putri Marino di dalamnya, dan tentunya, masih bertema laut kita. Foto-foto dipajang di dinding namun diselingi dengan kanvas kosong dengan layout yang rapi dan spasi yang cukup untuk setiap foto. Tak lupa dicantumkan fotografer pada setiap fotonya. Salah satu yang menangkap perhatian saya adalah tone biru yang dihasilkan dari keseluruhan foto-foto tersebut. Sangat cantik dan menenangkan.

Tibalah pada segmen ruangan yang cukup menarik mata maupun hati saya, yaitu, dimana botol-botol bekas yang disatukan dan diikat lalu ditumpuk sehingga menutupi dinding, pencahayaannya pun dibuat gelap biru tua seperti di laut dalam dan ditambah riak-riak air dari proyektor. Ada pula sampah-sampah yang dikumpulkan di dalam box-box yang ditumpuk untuk menyambut pengunjung ketika memasuki segmen tersebut. Instalasi yang dinamakan “Polusi Plastik” ini, juga menyajikan beberapa fakta penting yang diketik di atas karton, ditambah lagi dengan audio yang diputar, pengunjung akan merasa seolah-olah ditampar dengan keadaan laut kita sekarang ini.

Segmen-segmen lainnya pun tidak kalah menarik dan powerful seperti pada segmen-segmen sebelumnya. Isinya pun masih tetap tentang plastik-plastik yang tidak sadar kita gunakan dan berakhir di laut, menjadi ancaman bagi seluruh makhluk hidup.

“Laut Kita” sukses membuat pengunjung terpukau dan takjub. Berhasil mengumpulkan sedikit dari limpahan limbah ini adalah sebuah prestasi yang dapat dicontoh oleh segala kaum, dari yang muda hingga yang tua. Tidak perlu turun langsung, siapapun dapat menjaga kelestarian laut kita, dimulai dari hal kecil seperti membawa tas belanja sendiri atau mengurangi penggunaan sedotan plastik. Karena sekecil apapun langkah yang diambil, dapat membawa perubahan yang besar.

Oleh: Nadya Safitri

Pameran 50 Jahre Goethe-Institut Bandung

Sudah 50 tahun Goethe-Institut Bandung berdiri dan sudah 50 tahun pula institut ini menjadi saksi sejarah. Tanggal 23 Maret 2019 yang lalu, dalam merayakan ulangtahunnya yang ke-50, Goethe menyelenggarakan 50 Jahre Goethe-Institut Bandung. Acara ini berlangsung dari sore hingga malam hari di Goethe-Institut di Jl. R.E.Martadinata dan dimeriahkan beberapa mata acara. Dalam acara tersebut terdapat 2 pameran terpisah yang diselenggarakan oleh Vincent Rumahloine, Indonesian Photography Archive Bandung, dan Goethe itu sendiri. Ada pula Art Performance oleh Tisna Sanjaya,mural oleh Mata Merah Comix dan music performance oleh Bandung Phillharmonic dan Goodnight Electric.

Menilik lebih lanjut mengenai pameran yang dilaksanakan, pameran pertama yang akan saya bahas berjudul Mini Museum. Pameran ini berisi arsip yang dimiliki oleh Goethe-Institute dan dikurasi oleh Vincent Rumahloine bekerjasama dengan Sanggar Seni Rupa Kontemporer. Penyelenggara pameran ini menekankan bagaimana ruang privat (Goethe) dapat dijadikan ruang terbuka untuk umum. Pameran ini diadakan di dalam sebuah ruangan kecil tertutup yang hanya bisa dilihat oleh 5 pengunjung dalam satu waktu. Ruangan dibuat gelap dan penerangan yang berupa lampu berwarna kuning hanya diberikan kepada karya yang disajikan sehingga seluruhh perhatian terfokus menuju karya tersebut. Cara karya disajikan berhasil membawa suasana hangat dan intim seolah-olah pengunjung mengalami kegiatan yang terjadi pada foto. Di dalam ruangan tersebut, ada 4 dinding yang berisi hal berbeda. Ketika memasuki ruang, mulai dari sisi pertama yang terdapat sebuah cetakan LJK yang dibuat pada zaman dahulu yang menunjukkan bahwa Goethe Institute sudah melewati berbagai masa,dimulai dari saat ujian masih berbasis kertas hingga berbasis komputer seperti sekarang. Beralih ke sisi kedua terdapat arsip yang berisi foto kegiatan di Goethe selama 50 tahun ke belakang. Menjadi menarik foto yang ditampilkan dengan dicetak ulang memakai template polaroid yang sebenarnya foto tersebut bukan merupakan hasil polaroid. Hal ini dilakukan karena kondisi arsip yang kurang baik dan ekshibitor mencoba untuk dapat mengikuti tren saat ini. Di sisi selanjutnya terdapat arsip yang disajikan dalam wadah (album foto) aslinya untuk mempertahankan orisinalitasnya. Setelah itu, di sisi paling akhir, ditampilkan slideshow yang berisi kumpulan foto ditemani alunan lagu dan disediakan satu buah kursi. Menjadi menarik, dengan diletakkan kursi di depan slide show tersebut, penonton seakan-akan diajak untuk benar-benar melihat Goethe tempo dulu.

Selain mini museum Goethe, terdapat pameran kedua yang merupakan pameran foto pula. Tanpa dicetak, pengunjung acara ulang tahun Goethe ini berhasil dibuat  penasaran dengan teknologi Augmented Reality yang digunakan untuk mendisplay foto-foto arsip Goethe. Pameran ini menggunakan sebuah aplikasi dan pengunjung dengan mudahnya memindai barcode yang tersebar pada saat pameran tersebut. Pameran Foto dengan menggunakan Augmented Reality ini masih berlangsung hingga tanggal 21 Desember 2019. Dan terakhir yang berada dalam perpustakaan goethe. Arsip yang ada dibungkus dalam sebuah kotak transparan dan  disajikan dengan cara digantung di sebuah sudut perpustakaan tersebut. Dengan bentukan yang seperti itu, seolah arsip yang dipamerkan sangat rapuh tetapi memiliki nilai yang sangat penting khususnya untuk Goethe sendiri. Tetapi sayangnya dengan penyajian seperti tersebut, pengunjung tidak dapat melihat arsip satu per satu.

Acara ini bisa dibilang sebagai cara yang unik dalam merayakan ulang tahun suatu institusi. Menyuguhkan berbagai acara di satu tempat memang bisa terkesan terlalu heboh sehingga setiap mata acara tidak mendapat perhatian yang sama besar. Akan tetapi, Goethe Institute berhasil membuat semua mata acara mendapat atensi yang sesuai proporsinya masing-masing dan menyebarkan 50 tahun perjalanannya kepada pengunjung.

Oleh: Kiara Qinthara

Elegi Pelosok Negeri

“Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri”. Pepatah inilah yang akan terlintas pertama kali di pikiran pengunjung ketika memasuki pameran ini. Elegi Pelosok Negeri adalah nama dari pameran nan elok ini. Pameran Elegi Pelosok negeri ini diadakan oleh Pelita Muda ITB bertempat di 107 Garage Room, Ciumbeleuit pada tanggal 14 – 16 September 2018. Pameran ini bertujuan untuk berbagi cerita serta pengalaman tentang segala perjalanan dan kegiatan yang Pelita Muda laukan. Untuk mendorong pemuda agar lebih mengenal negerinya sendiri dan memiliki kesadaran akan potensi negerinya sendiri. Dengan harapan agar para pemuda mendapat gambaran tentang apa yang bisa dilakukan untuk negeri kita tercinta.

Di awal pintu masuk pengunjung akan melihat timeline-roadmap tentang  segenap kegiatan yang telah dilakukan Pelita Muda selama setahun dari 2017 hingga 2018. Sebelah kiri pintu masuk, kita akan disambut oleh foto foto portraiture penduduk desa Sukaluyu dengan berbagai aktivitas penduduknya. Foto foto dipajang di dinding dengan frame hitam dan putih berselang seling dengan layout yang rapi dan spasi yang cukup lebar antar foto. Foto disertai dengan caption berisi kata – kata oleh subjek yang ada di dalam foto tersebut. Melihatnya seakan-akan kita merasakan langsung kegiatan dan tuturan langsung dari tokoh yang ada di foto foto tersebut.

Selain foto juga terdapat poster dan majalah berisi cerita tentang desa Sukaluyu dan juga terdapat coretan karya anak anak desa setempat yang menjadikan ruang kecil tersebut seakan – akan bercerita secara langsung suasana yang ada di desa tersebut.

Beralih ke lantai dua kita disambut dengan portret hitam putih anak anak pedesaan dengan pose mereka masing masing sembari tersenyum, ditampilkan dengan digantung di atap tangga menuju lantai dua. Di lantai dua pengunjung akan disuguhkan dengan foto foto dan skema perjalanan warga pelita muda ke berbagai penjuru Indonesia. Menariknya lagi ruangan ini dipenuhi dengan kerajinan tangan dan juga peralatan peralatan yang digunakan oleh masyarakat desa yang dikunjungi untuk mencari nafkah sehari – hari. Dinding dinding dipenuhi dengan foto – foto suasana berbagai desa di pelosok Indonesia.

Salah satu segmen ruangan yang menarik perhatian pertama kali adalah peta pulau jawa yang diberi benang yang saling berhubungan satu sama lain disertai foto – foto yang menggambarkan suasana berbagai desa. Pengunjung akan merasa seolah – olah ikut mengikuti serangkaian perjalanan yang di tempuh oleh tim pelita muda dalam ekspedisi mereka ke berbagai tempat di pelosok pulau jawa. Berbagai cerita menarik juga disampaikan oleh guider tim pelita muda yang ramah kepada pengunjung sehingga pengunjung dapat memahami alur perjalanan mereka secara runtut.

Pada segmen yang lainnya terdapat peta Indonesia dengan goresan garis garis ke berbagai penjuru dan juga poster yang berisikan penjelasan tentangnya. Di sini pengunjung dibawa lebih jauh lagi mengenal negerinya, tidak hanya di pulau jawa saja.

Pameran ini sukses membuat pengunjung takjub dan terkesima memandangi keelokan negeri, negeri kita Indonesia, begitu banyaknya potensi yang ada di sekitar kita. Bahwa negeri kita, Indonesia tercinta, butuh pemuda pemuda yang luhur untuk turun ke masyarakat dan mengembangkan potensi yang ada. Karna tanpa adanya penggerak perubahan, potensi hanyalah potensi semata.

 

Oleh

Naufal Akhthariyan

Kembali ke Masa-masa 1991 : Dilan

Pada hari Minggu, 24 Februari 2019 dinobatkan sebagai Hari Dilan di Bandung. Seluruh bioskop di Bandung memutarkan premiere film Dilan 1991 pada setiap jam di seluruh studio, dengan harga tiket hanya Rp 10.000,-. Sedangkan film Dilan 1991 baru akan rilis tanggal 28 Februari 2019. Kebetulan LFM mendapat 2 undangan nonton premiere film Dilan 1991 di XXI Cihampelas Walk pukul 19.00. Kami mendapatkan kesempatan untuk mewakilkan LFM.

Selama perjalanan ke Ciwalk, suasana Hari Dilan sungguh terasa. Di sepanjang pinggir jalan terpasang umbul-umbul Dilan 1991. Selain itu, bisa dilihat dari instagram @dilanku ataupun pemain film Dilan 1991, mereka melakukan roadshow keliling Bandung. Mereka keliling Bandung menggunakan motor jadul, menyerupai Dilan sebagai panglima tempur geng motor pada film. Mereka menggunakan kaos yang seragam, ada yang bertuliskan Dilan ataupun Sari Roti sebagai salah satu sponsor film Dilan 1991. Selain menggunakan motor, para pemain juga keliling-keliling menggunakan Bandros Bandung. Terdapat mata acara peletakan batu pertama Sudut Film Dilan di kawasan Lapangan Saparua, yang dihadiri oleh Bapak Arief Yahya (Menteri Pariwisata), Bapak Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), dan Gabriela Patricia Mandolang (Putri Pariwisata 2018). Bapak Ridwan Kamil sendiri merupakan salah satu pemain di film Dilan 1990 dan Dilan 1991, sebagai kepala sekolah.

Sesampainya di Ciwalk, terdapat panggung besar dan ada performance yang sedang menyanyikan lagu salah satu OST Dilan. Di XXI terdapat barisan meja yang disediakan untuk menukarkan undangan dengan tiket nonton. Ternyata kami tidak dapat memilih tempat duduk, karena langsung diberikan sesuai urutan mengambil tiket. Jadi semakin cepat menukar tiket, semakin atas tempat duduknya. Sayang sekali, kami datang agak mepet sehingga mendapat tempat duduk di barisan paling depan.

Ternyata jadwal pemutaran sesungguhnya adalah pukul 19.20. Sembari menunggu, kami melihat-lihat di sekitar XXI. Suasana di XXI sungguh menunjukkan hari itu adalah Hari Dilan. Seluruh poster yang dipasang di XXI adalah poster Dilan 1991. Beberapa sponsor menjual merch Dilan 1991, seperti Tango, Joyday, dan Sari Roti. Selain itu, ada properti foto Dilan dengan motornya dimana orang-orang bisa berfoto bersama.

Penonton yang hadir sangatlah bervariatif, mulai dari orang tua sampai anak-anak. Kami bertemu dengan beberapa orang yang kami kenal. Ternyata mereka menonton  Dilan 1991 karena mendapatkan undangan juga. Ada yang dari komunitas sepeda di Bandung, himpunan jurusan di salah satu kampus di Bandung, dan lain-lain. Sepertinya pihak film Dilan 1991 memang membagi-bagikan undangan ke komunitas-komunitas yang ada di Bandung. Namun hal ini cukup membingungkan, mengingat mereka membuka pre-order tiket Dilan 1991 pada tanggal 14 Februari 2019 dan langsung habis. Sepertinya ini merupakan trik mereka untuk membuat undangan tersebut terasa spesial karena langsung habis. Dapat dirasakan bahwa pihak film Dilan 1991 sangat menggencarkan marketing dan publikasi dari film Dilan 1991 itu sendiri.

Dari segi pemutaran, menurut kami cukup baik karena meskipun jam terbang tayangnya tinggi namun studio tetap bersih dan film diputar tepat waktu. Sayangnya, tidak ada meet and greet dengan pemain Dilan 1991 pada jadwal kami menonton. Jika melihat dari instagram @dilanku mereka berpindah-pindah melakukan meet and greet ke setiap mall di Bandung sehingga tidak mungkin mereka berada di setiap studio pada setiap jam pemutaran. Hal ini cukup cerdas, karena penonton tidak tahu kapan dan dimana para pemain akan berada sehingga mereka akan tetap datang menonton Dilan 1991 (siapa tahu ketemu).

Namun menurut kami, suasana bagi penonton yang tidak kebagian bertemu dengan pemain Dilan 1991 menjadi kurang terasa. Hanya sekedar datang, masuk, nonton, selesai lalu pulang. Mengingat Dilan 1991 ada beberapa pemain, mungkin pihak produksi film bisa membagi para pemain ke beberapa mall sehingga seluruh penonton tetap merasakan suasana nonton premiere disambut oleh pemain film Dilan 1991, meskipun mungkin tidak bertemu pemain utama (Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla).

Film Dilan 1991 sendiri merupakan lanjutan dari Dilan 1990. Film Dilan 1991 ini bukan film yang akan disukai oleh semua orang karena ada cukup banyak ucapan-ucapan sugar coating. Cukup bias mengingat beberapa sasaran pasar yang jelas ialah :

  1. Fans buku-buku Pidi Baiq
  2. Pembaca buku Dilan
  3. Fans Iqbaal Ramadhan
  4. Fans Vanesha Prescilla
  5. Orang yang ingin nostalgia tahun 90an

Bagi kalian yang tidak masuk ke sasaran pasar, sebaiknya persiapkan diri dulu sebelum menonton film yang berdurasi hingga 2 jam. Tapi bagi saya (Maudy) pribadi, film Dilan 1991 merupakan salah satu film Indonesia yang saya sukai. Film ini cukup berbeda dari Dilan 1990 yang lebih menonjolkan sisi manis dari Dilan, sedangkan  pada Dilan 1991 terdapat lebih banyak konflik. Secara keseluruhan, menurut saya film ini layak untuk ditonton.

Oleh:

Sari Kusumaningsih

Maudy Gabrielle

Film Dokumenter : Global Migration Film Festival (GMFF)

Global Migration Film Festival (GMFF) adalah sebuah pemutaran film pendek dokumenter mengenai fenomena migrasi yang terjadi di beberapa negara di seluruh dunia. Festival ini diprakarsai oleh International Organization for Migration (IOM), Badan Migrasi PBB. Acara ini berlangsung pada 8 Desember 2018, 14.00 WIB. Pemutaran dilakukan di berbagai tempat dan bermacam-macam, mulai dari bioskop hingga pemutaran sederhana di berbagai daerah di ratusan negara, “More than 30 films in over 100 countries”.  Di Indonesia sendiri pemutaran ditangani oleh IOM Jakarta (@iomjakarta) yang dilakukan di beberapa kota, antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Kupang, Makassar, Medan, dan Tanjung pinang. Di kota bandung, IOM Jakarta bekerja sama dengan INSTITUT FRANÇAIS D’INDONÉSIE – IFI Bandung sebagai penyedia tempat pemutaran film.

Menurut IOM sendiri, program acara ini dibuat sebagai media untuk memberi informasi, menghibur, mendidik, dan memancing debat melalui media film kepada masyarakat luas mengenai fenomena migrasi di zaman ini. Tujuan dari GMFF sendiri adalah menggunakan film sebagai alat Pendidikan yang memengaruhi presepsi dan sikap terhadap para migran, denan membawa perhatian pada masalah/isu sosial dan menciptakan ruang aman untuk berdebat dan berinteraksi yang saling menghormati. Terdapat lebih dari 30 film yang terkurasi, mulai dari film dari sineas amatir hingga sineas professional, bahkan banyak juga film yang berasal dari pelaku imigran sendiri. Terdapat 4 film yang diputarkan dalam program ini, cerita yang dibawa oleh setiap film memiliki ciri khas yang berbeda-beda, seperti penderitaan mereka, tantangan yang dihadapi, apa yang mereka lakukan untuk negara baru mereka, dan bagaimana hubungan dengan keluarga dan teman mereka. Apabila ditarik benang pada semua film yang diputarkan dapat disumpulkan bahwa yang ingin sineas-sineas tersebut bawakan adalah “Why do we have to migrate?”.

Pemutaran yang dilakukan di IFI Bandung ini cukup sederhana, tidak ada kepanitiaan khusus yang menanganinnya. Seluruh kegiatan mulai dari pembukaan, pemutaran, MC, operator, dan sebagainya hanya dilakukan oleh satu orang, yang turun langsung dari pihak IOM Jakarta dan sedikit bantuan dari dua orang pihak IFI Bandung. Ruangan yang digunakan dalam pemutaran ini berupa aula seperti panggung pentas seni yang dilengkapi dengan tempat duduk dan Air Conditioner. Layar yang digunakan cukup lebar, hingga memenuhi latar belakang panggung, dan didukung dengan sound sistem yang baik dan merata. Pengunjung yang hadir sangatlah bervariatif, seperti mahasiswa, masyarakat umum, orang tua, institusi pemerintahan, orang asing (bule), anak-anak, dan sineas. Setelah pemutaran terdapat sesi diskusi mengenai badan IOM sendiri, migrasi yang berhubungan dengan film, bahkan sampai kepolitik dunia. Sesi diskusi sangatlah menarik, pengunjung sangatlah antusias dalam bertanya, berkomentar dan menyatakan pendapatnya mengenai hal-hal tersebut.

Festival ini merupakan ide yang sangat kreatif dan inovatif sebagai media untuk memberikan cerita atau dongen mengenai migrasi kepada masyarakat luas agar mereka dapat bertukar pendapat dan menyampaikan perasaan masing-masing mengenai masalah/isu sosial yang berkembang di zaman ini. Hal tersebut membuktikan bahwa film bukan hanya sebagai media hiburan semata, melainkan dapat digunakan sebagai media untuk berteriak kepada dunia luas, untuk menunjukkan jati diri sebuah komunitas, menyampaikan kebobrokan suatu pemerintahan, hingga penyampaian perasaan seorang sineas. Dan tidak ada pembungkaman dalam dunia perfilman.

Oleh : Juniar Chandra Ananda

Movie Night!

Pada tanggal 14 Agustus 2018, tepatnya di Northwood cafe yang letaknya tidak cukup jauh dari UPI, aku dateng ke pemutaran film yang diselenggarakan oleh Satu Layar UPI bernama Movie Night!. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kepada khalayak umum tentang dunia film alternatif dan juga menjadi cara Satu Layar UPI untuk berkenalan dan bercengkrama dengan komunitas film yang ada di Bandung.

Venue Northwood cukup sempit. Namun, disediakannya tempat duduk yang cukup banyak membuat para penonton bisa nyaman menikmati film yang diputar. Posisi Northwood Café yang berada di pinggir jalan membuat berisiknya jalanan cukup mengusik telinga sehingga membuat para penonton kehilangan fokusnya. Untungnya, speaker yang digunakan cukup besar, sehingga bisa mengcover bisingnya jalanan.

Tema yang diangkat dalam acara ini adalah “Hubungan antar Manusia”. tema ini diwakili oleh 6 film yaitu The Old Same Feel oleh Farrel Lukman, If I Fell oleh Sri Buan Mantinu, What’s Wrong With My Film oleh Roberto Rosendy, Galus Aryanti oleh Robi Nurdiansyah dan Senandung Kala Itu oleh Rayhan Renaldi. Setelah menonton semua filmnya, sesi tanya jawab/sharing dengan para movie maker membuat suasana cukup interaktif dengan para penonton. Dimulai dari cerita dibalik film, lalu apa saja kesulitannya. Cerita apa saja yang menarik saat pembuatan film, pesan apa yang ingin disampaikan oleh sineas, dan masih ada lagi.

Diadakannya acara ini membuat Satu Layar UPI jadi ajang yang baik untuk para komunitas bertemu . Memang, ada beberapa yang perlu dipertimbangkan kembali agar perngalaman menonton tidak terganggu oleh faktor lain. Patut diapresiasi karena acara tanya jawab/sharing nya berlangsung hangat dan penuh tawa.

Oleh: Ruziqu Tajri