Category Archives: Review

Pameran Ellipsis

Sebuah karya, dalam bentuk apapun itu pasti memiliki tujuan dan makna tersendiri namun satu hal yang sama adalah setiap pembuat karya/seniman pasti ingin karyanya menceritakan atau menyampaikan sesuatu kepada penikmatnya. Pameran “Ellipsis” memiliki tujuan sebagai media untuk mengeksplor pribadi masing-masing desainer dalam merefleksikan hasil kontemplasi personal menjadi suatu karya dengan tentunya gaya khas dalam setiap aspeknya. Kontemplasi dipilih sebagi tema karena kaitannya dengan hal sehari-hari yang dilakukan manusia. Kontemplasi menjadi dorongan untuk berkarya yang bersifat lebih eksploratif dan mencerminkan identitas desainer sebagai pembuat karya. Jauh dari kebisingan kota, experimental exhibition ini hadir di Galeri Yuliansyah Akbar serta diselenggarakan pada tanggal 1-2 Februari 2020. Dibuka untuk umum dan gartis, pameran ini diwujudkan oleh Mahasiswa DKV ITB.

Sebagai seorang awam yang jauh dari kata seni, mengunjungi pameran ini memberikan pengalamn yang cukup menggugah serta menyenangkan. Seni nampaknya bagi segelintir orang seperti saya, cukup sulit dipahami dan karena betapa sulitnya, banyak orang malah jadi bosan. Para pembuat karya dalam pameran ini betul-betul berusaha agar karya bisa seinteraktif mungkin dan sebisa mungkin melibatkan penikmatnya, yaitu pengunjung. Meski, memang beberapa karya tetap sulit dipahami maknanya tapi setiap karya memiliki daya tariknya masing-masing. Tak sedikit pengunjung yang bertahan pada satu karya dalam waktu yang cukup lama. Cara penyampaiannya tak monoton sama sekali. Contohnya, sebuah karya yang dibalut dalam sebuah kuis atraktif berjudul “The Most Accurate Personality Test Ever”. Belum lagi, karya “Lay Down Look Up” yang hanya bisa dilihat bila kita membaringkan tubuh kita di atas kasur yang telah disediakan.

Lebih dari pada penyampaian dan kemasan yang menarik, para desainer tak lupa menyampaikan kisahnya, hasil eksplorasi dari kontemplasi mereka. Setiap karya pada akhirnya memberikan kesan yang betul-betul berbeda dan dapat tersalurkan. Setiap komponen yang ada di dalam karya pun sebisa mungkin dapat memaksimalkan proses penyampaian pesan sang desainer seperti penambahan audio dan lighting. Di setiap karya pun tersedia QR Code yang menjelaskan latar belakang pembuatan karya tersebut.

Salah satu instalasi menarik nan menyentuh berjudul “The Indestructible Feeling of Being Destructible” adalah sebuah instalasi tentang insekuritas diri yang menggabungkan media digital projection, audio serta teknik refleksi cermin. Awalnya, instalasi ini terlihat cukup sederhana namun ternyata video yang diproyeksikan ke layar adalah hasil pantulan dari dua cermin. Cermin tersebut tak semata-mata menjadi alat untuk menambahkan kesan ‘rumit’, malah menjadi salah satu elemen dari karya ini untuk mengartikulasikan pesan sang desainer.

Penempatan atau layouting juga sesuai dengan karya. Karya yang lebih butuh pencahayaan yang tinggi berada pada lantai atas sedangkan karya yang lmembutuhkan pencahayaan yang minim serta high level of intimacy berada di lantai bawah.

Mengunjungi pameran ini adalah betul sebuah pengalaman yang lagi-lagi menggungah dan menyenangkan. Dalam ruang yang minim, pameran ini dapat menyuguhkan atraksi-atraksi yang serat rasa. Terlebih lagi, pameran ini memberikan banyak insight akan pameran yang atraktif dan penuh makna

Pameran Retrospektif Xu Bing: Thought and Method

Seni rupa kontemporer tampaknya akan selalu menjadi perbincangan hangat di khalayak ramai. Semakin maraknya instalasi seni di kota-kota besar di Indonesia sungguh menarik perhatian para perupa seni atau bahkan masyarakat awam. Museum Macan menjadi salah satu medium bagi para seniman nasional dan internasional untuk mempresentasikan karya mereka pada audiens global.

 

Setelah sukses menarik massa pada Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow, Museum Macan kembali hadir dengan karya perupa mancanegara kenamaan asal Tiongkok, Xu Bing. Pameran retrospektif bertajuk “Thought and Method” ini menampilkan lebih dari 60 karya dan proyek penting yang dibuat selama empat dekade.

 

Berbicara tentang seni rupa kontemporer di kancah Asia, sosok Xu Bing sangat menonjol karena pendekatan khas dalam karyanya. Pria kelahiran Chongqing tersebut mengawali kariernya dengan mengeksplorasi dimensi budaya, bahasa, dan sistem pengetahuan tradisional. Hal ini merupakan pondasi perjalanan Bing menjadi perupa. Sesuai dengan tema yang dibawakannya, ekshibisi ini memang menampilkan perjalanan karier dan metode serta motivasi di balik kacamata Bing.

 

Karya-karya yang mencakup beragam medium, termasuk film, instalasi, seni grafis, dan materi arsip membuat ekshibisi ini salah satu yang sayang untuk dilewatkan. Dari puluhan karyanya, saya mengambil contoh-contoh fenomenal yang berhasil menyita perhatian audiens melalui metode-metode yang spektakular.

 

Karya pertama ini salah satu yang tidak akan pernah bosan dibicarakan. Instalasi “Book from the Sky” (1987-1991) yang dibentuk dari gulungan kertas berisi aksara Tionghoa yang seakan menjuntai turun dari langit ini seperti menyihir siapapun yang melihatnya. Uniknya lagi, jika dilihat lebih dekat, aksara Tionghoa ini tidak memiliki makna yang memang bertujuan untuk menantang sistem pengetahuan umum. Dipandang dari foto saja cantik dan megah sekali, bagaimana berhadapan langsung? Jatuh cinta saya pada pandangan pertama dengan setiap detil yang disajikan, terlebih lagi aksara-aksara ini murni buatan Bing yang semakin menunjukkan kecerdasannya dalam menuangkan ekspresinya dalam berkarya.

 

Nah, ini dia yang tak kalah menarik dan wajib dicicipi. ‘Perkawinan’ aksara Tionghoa dan bahasa Inggris menghasilkan karya berbasis pembelajaran di kelas, “Square Word Calligraphy” (1994-2019). Siapapun —saya jamin—akan betah berlama-lama di dalamnya. Tecermin dari suasana kelas yang begitu tenang dan damai, dilengkapi dengan visual secara keseluruhan yang tidak kalah cantiknya. Bergerak lebih dalam, teknik melukis aksara ‘Tionghoa’ yang diajarkan juga sangat mendasar sehingga pemula pun akan merasa lebih mudah ‘belajar’. Ada-ada saja memang metode yang diperkenalkan Bing ini. Bermula dari kebutaannya terhadap bahasa Inggris ketika pertama kali datang ke New York, membuat Ia melahirkan ide cemerlang untuk mempermudah masyarakat Tionghoa atau bahkan mancanegara untuk mahir bahasa global tersebut.

Tidak berhenti diperbincangkan, apa sih ledakan ide yang Bing lagi-lagi ciptakan? Pernahkah kamu memikirkan rokok sebagai seni? Seni macam apa yang dapat terbentuk dari rokok? Pada umumnya, rokok dianggap buruk dan seni dianggap baik, tetapi, manusia membutuhkan keduanya. Begitu Bing menanggapi pewarta di Museum Macan yang menanyainya. Dengan menyatukan keduanya, kita akan menciptakan kekuatan yang baru. Maka, lahirlah karya yang unik, “Honor and Splendor” (2004). Karya yang tergabung dalam seri Tobacco Project ini memang terdiri dari 660.000 batang rokok. Keunikannya tidak berhenti disitu! Jika diperhatikan dengan seksama, deretan rokok tersebut membentuk loreng harimau berwarna emas putih. Karya ini sukses membuat pengunjung terpukau, mengingat materialnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Jika sebelumnya terdapat instalasi “Book from the Sky” (1987-1991), maka Bing pun punya “Book from the Ground” (2003-kini). Dengan mengumpulkan simbol-simbol yang Ia ambil dari ruang publik dan menulis dengan tanda-tanda ini, Bing berhasil menyalurkan keresahan orang-orang dengan keterbatasan bahasa untuk berkomunikasi. Dengan demikian, para pembaca, terlepas dari latar belakang pendidikan atau budaya, dapat membacanya sehingga tidak perlu melewati proses translasi. Tidak kalah pentingnya, instalasi berbasis studio ini mengajarkan siklus berproses yang tidak akan pernah berakhir. Belajar tentang bahasa emoji, hal yang paling saya sukai adalah bagaimana Bing mengenalkan metode yang sangat memudahkan saya—juga orang lain—dalam berkomunikasi singkat maupun panjang, dan tentunya dengan penyampaian yang menarik.

 

 

Sejak 2015, klip dari kamera pengawas di Tiongkok dapat diakses bebas oleh masyarakat. Bing menggabungkan cuplikan-cuplikan video tersebut dari berbagai tempat dan sudut yang pada akhirnya melahirkan “Dragonfly Eyes” (2017). Tidak adanya agen manusia yang mengoperasikannya membuat hal-hal di luar nalar banyak terekam. Tidak jarang privasi pun ikut masuk bersamanya. Lewat ini, Bing berhasil menyatukan fragmen-fragmen video tidak berkorelasi ini menjadi cerita utuh yang menggambarkan realitas kehidupan manusia. Sepertinya, Bing bermaksud menyampaikan pesan “Hati-hati di Dunia Nyata”.

 

 

Pameran yang digarap oleh perupa Tiongkok ini rupanya mendapat apresiasi tidak terduga dari para audiens, khususnya di Museum Macan. Selain karena karya-karyanya yang sangat relevan dengan kehidupan manusia, pameran ini cocok untuk yang ingin belajar atau sekedar refreshing. Lewat pameran ini, Bing berhasil membuat rekam jejak fenomenal dari setiap gagasan-gagasan kreatifnya yang disuguhkan dalam sebuah pameran tanpa adanya batasan yang menjembatani antara audiens dan karya-karyanya.

Ditulis oleh Nadya Safitri

Teater IMAX Keong Mas

Pernahkah Anda menonton film dengan layar raksasa berukuran 21,5 meter x 29,3 meter? Apabila belum, maka Anda harus mencobanya di Teater IMAX Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah. Gedung teater yang diresmikan pada tanggal 20 april 1984 ini dibangun atas prakarsa serta gagasan Almarhumah Ibu Hj. Tien Soeharto dan merupakan teater IMAX pertama di Indonesia.

Sebagian besar siswa Indonesia pernah masuk Teater Keong Emas saat berdarma wisata bersama sekolah. Film yang ditayangkan biasanya menonjolkan keanekaragaman budaya Indonesia. Selain film keanekaragaman Indonesia, berapa film box office dunia juga pernah ditayangkan. Namun, tidak sembarang film bisa di tanyangkan di teater Keong Emas . Menonton film di teater ini, sama halnya seperti anda menonton di bioskop biasa, hanya saja kursinya didesain membuat kita menegadah, karena layarnya tidak berbentuk persegi empat datar seperti bioskop biasa, melainkan berbentuk lingkaran cembung karena layarnya adalah tempurung dari gedung Keong Mas itu sendiri. Penonton serasa ikut berada di dalamnya dan ikut pula berperan sebagai pemain yang didukung dengan gambar full HD 4K yang semuanya terasa nyata seperti film 3D. Dengan layar berukuran 21,5 meter x 29,3 meter dan proyektor dengan teknologi IMAX EXPERIENCE 70 mm yang biasa digunakan untuk pemutaran film action seperti Harry potter, Spiderman, dan Transformers yang membuat penonton akan lebih merasakan ketegangannya. IMAX sendiri merupakan singkatan dari Image Maximum, sebuah proyeksi film yang memiliki kemampuan menampilkan gambar dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar dari film konvensional lainnya. Dalam hal suara, berbagai sarana dan panil penyerap suara (akustik) ditempatkan secara strategis pada lokasi tertentu di sekitar teater, sehingga diperoleh pantulan suara yang jelas dan sempurna.

Selain kualitas proyektor yang lebih bagus dan audio yang mendukung, kehadiran panggung multifungsi memungkinkan Teater Keong Mas memanfaatkan fungsi lain dari sebuah gedung teater bagi masyarakat atau pihak swasta, di antaranya yaitu sebagai tempat peluncuran produk, iklan, kegiatan komunitas, acara keagamaan, wisuda, gathering, hingga sosialisasi program.

 

Namun sayangnya masih terdapat kekurangan yang sebenarnya bisa diatasi seperti bangunan yang terkesan kuno dan kurang terawat, film-film yang temanya itu itu saja dan jadwal pemutaran yang tidak sama setiap hari membuat pengunjung kurang tertarik dengan pemutaran film di teater IMAX Keong Emas ini. Dengan kualitas media audiovisual yang melebihi kualitas bioskop pada umumnya, penulis menilai bahwa tidak ada ruginya anda menonton disini juga penulis berharap semoga kualitas pelayanannya dapat ditingkatkan dan film-film yang diputar dapat lebih menarik pengunjung.

Penulis: Muhammad Faizin Fitriansyah Musa

Mencoba ScreenX

Bioskop atau movie cinema adalah sebuah industri yang menaungi pemutaran film atau motion picture. Industri ini terus menerus bergerak seiring dengan kemajuan teknologi. Berawal pada tahun 1895 di Paris, bioskop pertama hadir dengan memutarkan film bisu hitam putih. Seiring berjalannya waktu, inovasi yang terjadi pada bioskop semakin beragam, dimulai dari bioskop yang tadinya hanya memutarkan 1 flm saja (1 layar) hingga tersedia banyak layar (Cineplex) seperti yang sering kita jumpai. Tak hanya dari segi jumlah layar, teknologi pada film tersebut pun semakin mumpuni dari tahun ke tahun. Diawali dengan film bisu hitam putih, disusul oleh film berwarna -yang memiliki suara- dengan kualitas teknis yang terus menerus membaik. Dipenuhi rasa ingin terus berkembang, inovasi tidak berhenti sampai di situ. Kini, bahkan jenis layarpun sangatlah beragam. Layar bioskop yang berukuran hingga 30,78 x 13,11 meter, layar yang menggunakan Samsung Cinema LED, dsb. Tak hanya itu, kini telah tersedia bioskop dengan beragam watching experience. Jenis bioskop drive in mungkin pernah digandrungi pada zamannya, tapi di abad 21 ini, banyak hal yang dulunya hanyalah khayalan sudah berubah menjadi kenyataan. Mau nonton secara 3 dimensi? bisa. Mau nonton serasa ada semburan angin dan ikut bergerak di dalam film? Bisa dicoba jenis bioskop 4DX. Mau meraskan berada di dalam film? Sudah tersedia bioskop dengan layar 270⁰ yang lebih dikenal dengan nama ScreenX.

Menelisik lebih jauh mengenai ScreenX, jenis layar seperti ini sudah hadir di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Di Indonesia sendiri baru terdapat satu bioskop yang menyediakan teknologi ScreenX yaitu CGV Grand Indonesia. Teknologi yang digunakan dalam ScreenX sebenarnya bisa dibilang menyerupai teknologi yang digunakan bioskop pada umumnya, yaitu menggunakan proyektor yang menembakkan sinar ke dinding/layar,hanya saja terdapat 2 tambahan layar di samping layar utama dan di atasnya terdapat proyektor yang menembakaan sinar ke arah layar di seberangnya. Dengan demikian, ScreenX jelas memberikan watching experience yang baru dan segar bagi para pengunjungnya karena dapat membuat seolah-olah penonton berada di tempat kejadian sesuai adegan dalam film yang mereka tonton. Dengan hadirnya tiga layar, penonton dapat melihat perspektif yang lebih luas terhadap keadaan di dalam film yang ditonton.

Berbekal rasa ingin tahu akan ScreenX ini, saya pun tergerak untuk mencobanya tanpa mempermasalahkan film yang saya tonton. Bad Boys for Life (2020) yang notabene bukanlah film yang “laku” untuk ditonton dalam ScreenX adalah film yang tersedia saat itu. Datang dengan ekspektasi yang tinggi, saya merasa cukup terkejut saat melihat layar samping yang wujudnya terlihat seperti dinding biasa berwarna putih. Seiring film berjalan, kedua layar di sisi tersebut pun akhirnya digunakan dan menunjukkan kehebatannya. Film yang ditonton terasa lebih megah karena luasnya pandangan yang diberikan. Akan tetapi, dibalik sebuah ciptaan pastilah ada kekurangannya. Begitu pula dengan ScreenX ini. ScreenX yang menjanjikan sensasi berada di dalam film dengan cara menonton 270⁰ tidak sepenuhnya terasa benar karena layar yang digunakan tidaklah mumpuni untuk membuat efek di dalam film serealistis itu. Masih terdapat jarak antar layar sehingga gambar tidak terasa menyatu dan juga dikarenakan layar yang tidak melengkung membuat pandangan terasa terbatas dan sulit untuk memperhatikan gambar pada layar di kiri & kanan. Jenis film yang diputar menggunakan layar ScreenX pun seharusnya tidak sembarangan. Scene yang cocok untuk menggunakan ScreenX adalah scene yang mengambil gambar dengan teknik long shot karena akan lebih terasa efek berada di dalam filmnya. Tentunya, dalam pengambilan gambar untuk sebuah film berbagai jenis teknik ikut andil di dalamnya. Maka dari itu, dalam penggunaan ScreenX pun tidak semua film dapat memaksimalkan ketiga layarnya secara terus menerus sepanjang film.

Image result for screenx
Sumber: id.bookmyshow.com

Penulis: Kiara Qinthara

Kita ke Pameran: PRIHAL oleh andramatin

Pameran yang menampilkan lebih dari 800 karya studio arsitektur bertajuk “PRIHAL: arsitektur andramatin” ini digagas oleh seorang arsitektur ternama kontemporer di Indonesia Isandra Matin Ahmad atau biasa disapa Andra Matin. Pameran ini bertempat di Galeri Nasional Indonesia dan memamerkan perjalanan karya-karya perancangan studio selama dua decade sejak tahun 1998. Penasaran dengan isinya? Yuk simak video Bersama Tsaniya dan Marza di bawah ini!

Pameran Foto: Kisah-Kisah Tanah Manusia

Pameran foto “Kisah-Kisah Tanah Manusia” merupakan pameran foto hasil rangkaian lokakarya visual dari kolaborasi antara WRI Indonesia dan Arkademy Project di 4 kota: Pekanbaru, Palembang, Manokwari, dan Jakarta dengan tema Tentang Tanah yang menjelajahi relasi manusia dengan tanah. Sekilas tentang lokakarya fotografi ini, bertujuan untuk menangkap kisah – kisah yang menggali lebih dalam makna dari interaksi manusia dengan lahan, tentang hubungan manusia dengan tanah, sekaligus memahami berbagai kompleksitas yang menyertainya. Dari lokakarya ini terpilihlah 14 cerita yang diangkat tentang keberagaman perspektif terhadap lahan serta pentingnya tanah dan lahan bagi kehidupan manusia.

Mengunjungi pameran ini memberikan pengalaman yang amat dekat dengan keseharian saya sebagai mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota. Selama ini saya hanya memahami isu-isu terkait lahan berupa data dan angka dari materi-materi kuliah dan berita. Tidak hanya saya sebagai mahasiswa namun masyarakat awam lain merasa jauh akan isu lahan, dibuktikan dengan anggukan seragam dari pengunjung pameran yang hadir ketika Mba Rara memberikan pernyataan bahwa seringkali kita kurang memahami isu lahan yang terjadi di sekitar kita. Padahal kebutuhan akan lahan semakin bertambah namun luaasan lahan tidak akan bertambah. Kita sendiri sebagai manusia masih hidup dan beraktivitas di atas lahan dan sangat tergantung padanya.

Saya berkesempatan untuk mengunjungi pameran ini dan mengikuti exhibition tour yang dipandu langsung oleh mentor-mentor Arkademy Project yaitu Rara Sekar, Ben Laksana, Yoppi Pieter, dan Kurniadi Widodo. Dalam tur pameran ini para pengunjung dibawa berkeliling melihat karya terpilih dari enam tema: eksploitasi, lanskap baru, kerentanan, lahan dan kematian, siasat, dan harapan dan berkesempatan untuk bertanya berdialog langsung dengan fotografer terkait. Karya fotografi di masing-masing tema pameran ini memunculkan narasi visual yang begitu kuat. Di pameran ini fotografi hadir sebagai bahasa penyampaian alternatif untuk menjembatani isu-isu lahan ke publik yang lebih luas. This exhibition goes beyond the news and lecturer. Data dan statistik berubah menjadi emosi. Kompleksitas wacana besar diselami melalui narasi-narasi kecil yang dialami banyak orang.

Narasi karya-karya fotografi di pameran ini juga didukung dengan teknis pameran yang baik. Ruang pameran luas dan memiliki rangka dinding melingkar yang dimanfaatkan dengan adanya instalasi yang dibuat mengikuti bentuk dinding. Setiap tema dibedakan dengan warna panel yang berbeda. Pemilihan ukuran foto serta frame yang digunakan juga sangat diperhatikan mengikuti narasi yang dibawa pada karya fotografi terkait. Di salah satu karya pada tema kerentanan tidak memiliki frame melainkan dipasang dengan cara dipaku, dengan memakunya karya foto akan rentan untung lepas, sejalan dengan tema kerentanan. Karya foto lain di tema siasat menarasikan kehidupan warga sebuah rumah susun di Jakarta yang tetap dapat bertahan hidup dan beraktivitas di lahan yang sangat sempit. Instalasi untuk karya ini merekonstruksikan salah satu sudut rumah. Foto-foto dipajang dengan frame yang beraneka warna dan jenis frame. Terdapat pula sapu dan pajangan cermin beserta sisir yang menggantung di cermin. Layouting foto juga dibuat sangat menarik. Ada karya foto yang dipasang sejajar karena ternyata memiliki kesamaan horizon. Atau foto – foto yang dipasang sejajar sehingga menghasilkan sebuah konstruksi visual baru. Hal menarik lain dari pameran ini adalah tidak semua karya foto yang dipamerkan adalah hasil karya fotografer professional. Banyak karya yang dihasilkan oleh warga sekitar yang bisa dibilang masih awam dengan fotografi. Dan baru memulai hands on fotografi dan berkarya foto saat mengikuti workshop ini.

Sejujurnya mengunjungi pameran foto ini membuat saya berefleksi tentang apa yang saya pelajari selama kuliah dan relevansinya terhadap masyarakat terdampak. Ada aspek-aspek sosial yang luput tatkala selama ini lahan hanya diibaratkan sebagai entitas yang hanya memiliki nilai jual beli. Pameran ini juga sangat membuka pandangan tentang permasalahan lahan yang tidak hanya melulu tentang penggusuran dan relokasi lahan. Harapannya para pengunjung pameran bisa mulai membicarakan permasalahan lahan dalam dialog-dialog lanjutan dan semakin mampu memaknai relasi manusia dengan tanah dan dinamika yang menyertainya.

Oleh: Gabriella Mayang Larasati (Kru LFM ITB 2016)

Sony World Photography Awards

Di tengah ramainya suasana di Tokyo pada bulan Juni lalu, perusahaan alat elektronik bermerek Sony mengadakan pameran fotografi berjudul “Sony World Photography Awards 2019”. Pameran ini diadakan di Ginza Sony Park, Ginza, Kota Tokyo pada tanggal 1 Juni sampai dengan tanggal 23 Juni 2019. Lokasi pameran yang strategis dan berada di daerah Ginza pun sangat mendukung keberjalanan acara ini karena Ginza merupakan salah satu pusat keramaian di Kota Tokyo. Menariknya, ruangan pameran berada di basement sebuah taman publik sehingga membuat para wisatawan dan masyarakat Tokyo penasaran dengan pameran ini.

   

Source: https://www.ginzasonypark.jp/e/program/014/
Source:https://www.ginzasonypark.jp/e/program/014/   

Pada pameran ini, Sony menampilkan beberapa karya fotografi yang berhasil memenangi award dari submisi terbuka yang diadakan sebelumnya. Submisi yang diadakan Sony ini merupakan salah satu kompetisi fotografi yang terbesar di dunia. Karya-karya yang masuk ke submisi berasal dari fotografer-fotografer berbagai penjuru dunia. Menurut deskripsi pameran , submisi yang masuk berjumlah 326.997 karya dan pada akhirnya dipilih 250 karya untuk dipamerkan. Karya yang berhasil terpilih selanjutnya dibagi menjadi beberapa kategori tema foto, mulai dari fotografi arsitektur, landscape, motion, culture, portrait, travel, dan lainnya.

Credit: David Salvatori, Italy, Shortlist, Open, Natural World & Wildlife, 2019 Sony World Photography Awards
Credit: Daniel Portch, United Kingdom, Shortlist, Open, Architecture (Open competition), 2019 Sony World Photography Awards

Pameran ini memakai 3 lantai basement untuk mendisplay karya-karyanya karena foto yang dipamerkan sangat banyak. Saat masuk ke tempat pameran, pengunjung dapat bebas melihat karya tanpa berurutan karena karya yang dipamerkan dibagi sesuai temanya masing-masing. Karya pun dipajang dengan segmentasi 1 tema foto di 1 panel kayu sehingga foto-foto dengan tema seragam didisplay di 1 panel kayu yang sama. Foto yang dipajang juga memiliki variasi ukuran yang berbeda. Karya yang memenangkan juara 1 memiliki ukuran yang paling besar dibandingkan juara yang lainnya. Beberapa karya juga ada yang didisplay khusus tanpa menggunakan segmentasi 1 tema di 1 panelkayu, seperti misalnya untuk karya dengan tema photo series sehingga setiap 1 photo series dipajang di 1 panel kayu yang sama. Instalasi yang dipakai untuk mendisplay karyanya pun cukup sederhana dan juga memudahkan pengunjung untuk menikmati foto dan juga membaca deskripsinya.

 

Hal yang paling menarik dari pameran ini adalah profesionalitas dari para kurator dan juga para pembuat karya; terlihat dari tingginya kualitas dari foto-foto yang dipamerkan dan juga deskripsi tiap fotonya. Hal ini tentu sangat penting sebab kompetisi yang diadakan pun merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Mungkin, hal ini adalah poin yang harus dicontoh pada setiap penyelenggaraan pameran, yaitu dengan menunjukkan profesionalisme dalam mengadakan pameran, terutama dari segi kurator dan juga pembuat karyanya dalam proses kurasi, pembuatan karya, dan juga eksekusi finishing dari karyanya.

Penulis: Fakhrell Saqfan Izzan

Earth Manual Project

Bencana kapan datang saja tanpa memandang siapa dia. Tentu dalam mengatasi atau menghadapi hal tersebut perlu tindakan yang tepat sehingga kita tidak selamanya larut dalam kesedihan. Earth Manual Project, sebuah pameran tentang bagaimana menghadapi bencana yang diedukasikan untuk masyarakat Jepang. Kini pamerannya sudah berada di negara yang sering terjadi bencana seperti Indonesia, Thailand, dan Filipina.Pameran ini bertempat di Dia.Lo.Gue, Kemang dengan mengusung tema “Disaster and Design: For Saving Lives” yang berarti acara ini memamerkan berbagai rancangan kreatif untuk menyelamatkan diri yang bisa diterapkan masyarakat ketika terjadi bencana. Dari tanggal 2-26 Mei 2019, sepertinya pameran ini tidak sepi pengunjung. Apresiasi besar untuk Design and Creative Center Kobe karena telah menyelenggarakan pameran edukatif!

Pertama kali masuk ke area pameran, pengunjung langsung disajikan barang-barang yang dapat digunakan pasca bencana seperti terigu. Lalu ada buku-buku yang digantung. Bukunya bukan sembarang buku, buku tersebut merupakan guide yang harus dilakukan setelah bencana menyerang. Tidak hanya digantung, buku tersebut di letakkan di dalam lemari kaca dan kondisi bukunya di buka sehingga pengunjung mengetahui apa isi masing-masing buku.

 
Pameran ini diputar lagu santai bervolume kecil agar pengunjung masih bisa menyerap pesan yang disampaikan oleh Earth Manual Project. Yang unik dari pameran ini yaitu semua surface dilapisi oleh kardus tebal sebagai pertanda bahwa ketika Jepang dilanda bencana, semua barang bisa dijadikan untuk tempat berlindung contoh kardus itu tadi.

Selain etalase, pengunjung dapat menonton cuplikan video yang tidak jauh dari menanggulangi bencana ala Jepang. Selain ruang pemutaran, pameran ini juga menampilkan maket lanskap kondisi perkotaan setelah bencana. Pameran ini sangat menarik untuk dihadiri. Walaupun ukuran tulisan sebagai keterangan tambahan kecil, hal itu tidak menjadi masalah karena bagaimanapun objek yang ditampilkan sudah cukup menjelaskan.


Pameran Earth Manual Project patut diacungi jempol karena berhasil menyampaikan pesan bahwa sebuah bencana bukanlah akhir dari segalanya. Bencana tetap harus kita hadapi namun bukanlah alasan kreativitas kita mati karenanya. Negara Jepang mempunyai cara mereka untuk menanggulangi bencana, tertuang dari buku-buku dan video yang ditampilkan.

Indonesia, sebagai negara yang rawan bencana, sepertinya harus meniru tindakan yang dilakukan Jepang dalam menanggulangi bencana, terutama untuk masyarakatnya karena akan sangat efektif untuk bisa pulih ke kondisi normal setelah porak poranda menyelimuti.

Penulis: Frida Caturima

Cahaya

Semakin menjamurnya instalasi seni yang unik dan menarik di berbagai titik di ibu kota memberi ruang bagi para penikmat seni untuk mendapatkan inspirasi atau sekedar cuci mata. Salah satunya dapat ditemukan di Senayan City Mall Level 1. Collaborative Experience Space bertajuk CAHAYA ini menyuguhkan instalasi-instalasi futuristik dan inspiratif yang layak untuk dikunjungi. Dibuka untuk umum, pameran yang diselenggarakan hingga 25 Mei 2019 ini menghadirkan kolaborasi fotografi, lighting technology, desain interior, juga untaian kristal Swarovski nan ciamik. Ide-ide tersebut pun tidak luput dari tangan-tangan kreatif para lintas profesional: Axioo Photography, Infico Interior Indonesia, V2 Indonesia, Royal Design, dan Yogie Pratama.

Mengulas lebih dalam, pameran yang mengangkat tema cahaya ini terdiri atas beberapa sub-ruangan yang terisi dengan instalasi yang berbeda. Semua ornamen ditata sedemikian rupa, ditambah lagi kristal-kristal Swarovski berbagai rupa dan warna menambah kesan mewah pameran ini. Salah satu instalasi yang paling menarik perhatian saya adalah “Hutan Cahaya“. Hutan futuristik yang memanfaatkan teknologi fiber optic berhasil membuat pengunjung seolah berada di ruang antariksa dengan gemerlap cahaya warna-warni nan indah.

Tak kalah menarik, ada pula suatu dark room yang konsepnya diadaptasi dari cetak foto analog. Ruangan ini diisi dengan berbagai macam fotografi, mulai dari portrait hingga street photography dengan layouting memenuhi setiap sisi ruangan. Warna hitam yang mendominasi pun membuat instalasi ini terasa begitu berbeda dengan yang lainnya. Sungguh indah untuk diabadikan atau sekedar dinikmati saja.

Ada dark room dengan nuansa hitamnya, ada pula instalasi “Listen with Your Eyes“ yang khas dengan nuansa putih. Nuansa menenangkan ini dilengkapi dengan elemen musik yang sangat cocok bagi pengunjung yang ingin menjernihkan pikiran.

Tak ketinggalan desain baju oleh desainer ternama, Yogie Pratama, bertajuk “Imaginaire” yang dilengkapi dengan lantai dansa yang akan menyala jika para pengunjung menapakkan kaki dan headset untuk dicoba para pengunjung. Dibuat seunik mungkin dengan konsep gemerlap tahun 80-an, karya ini berhasil membuat tiap pengunjung serasa berada di dunianya sendiri.

Salah satu instalasi yang paling sederhana yaitu “The Vow“. Tidak memakai banyak teknologi, tetapi berhasil mencuri perhatian pengunjung untuk membaca tulisan-tulisan pada setiap kainnya.

Mengangkat tema cahaya, kolaborasi para profesional ini berhasil menampilkan makna cahaya yang akan membawa harapan sebab cahaya sekecil apapun dapat menerangi kegelapan. Bagaimana setiap instalasi menceritakan kisahnya masing-masing, tetapi juga secara bersamaan mengaitkan satu sama lain dengan intimasi yang dalam.

Penulis: Nadya Safitri

EVERYTHING IN BETWEEN: THE EXHIBITION

“Did you ever cycle from The Netherlands to Indonesia?
No, not yet?
Awesome!
Because we did that for you.”

TENTANG EVERYTHING IN BETWEEN

Everything in Between adalah cerita perjalanan Marlies dan Diego, pasangan petualang yang b`ersepeda dari Belanda ke Indonesia selama sebelas bulan –wah, hampir satu tahun! Berawal dari kecintaan mereka bersepeda, mereka berhasil melintasi 23 negara, melintasi sejauh 12.000 kilometer.

Mungkin akan timbul banyak pertanyaan-pertanyaan seperti: Kok bisa ya? Atau Kenapa mereka mau melakukan itu? Selain karena mencintai hobi mereka, mereka memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada kita semua. Nama ‘Everything in Between’ sendiri timbul dari cerita selama di perjalanan dari Belanda ke Indonesia, yang tentu banyak pelajaran yang didapat dari perjalanan mereka dan ingin disampaikan ke kita semua.

For people, animals and trees’ menjadi tagline mereka, dan menjadi tiga isu utama yang mereka bawakan. Dengan adanya perjalanan ini, mereka bertemu banyak orang dari berbagai negara dan dengan berbagai bahasa, namun mereka tetap saling membantu satu sama lain. Orang-orang tersebut bahkan me-welcome mereka untuk singgah sebentar di rumahnya, dibuatkan makanan dan minuman, dan pada akhirnya mereka saling bercerita tentang hidupnya.

Bermalam di tenda di tempat yang tidak diketahui juga tidak kalah serunya untuk mereka. Bangun ditengah-tengah sekumpulan binatang menjadi suatu cerita yang menarik untuk mereka. Belajar untuk hidup di alam, menghargai apa yang ada di sekitar, dan tidak mengganggu keberlangsungan hidup hewan-hewan tersebut, begitu pula hewan-hewan tersebut juga tidak terganggu dengan keberadaan mereka.

Bersepeda juga mengusung isu lingkungan, dimana tidak ada emisi karbon yang dikeluarkan selama perjalanan ini. Perjalanan yang eco-friendly menjadi isu yang ingin mereka sampaikan, bahwa sebetulnya kita bisa, kok, mencintai lingkungan, bahkan berawal dari hobi sekalipun.

Tiga isu utama ini membuat ktia sadar akan sebetulnya apa peran manusia yang sesungguhnya, Bahwa berbuat baik kepada sesama manusia, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, dan pada akhirnya berbuat baik kepada alam. Everything in Between juga berhasil membuat kita sadar bahwa di dunia ini juga dipenuhi banyak orang baik yang peduli akan apa yang kita lakukan, walaupun berasal dari negara yang berbeda dan berbicara bahasa yang berbeda. Everything in Between mengajarkan kita untuk menjadi ‘manusia’.

TENTANG PAMERAN
Pameran Everything in Between bertempat di Kopi Kalyan, Barito, Jakarta Selatan. Bertempat di lantai dua dari Kopi Kalyan, pameran ini dapat terbilang tidak terlalu besar dan digarap secara sederhana. Pameran ini cukup ramai saat kami kunjungi (24 Maret 2019), dipenuhi dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari anak kecil, mahasiswa, orang tua, dan beberapa public figure. Diego dan Marlies pun juga turut hadir di pameran ini, terbuka untuk diskusi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung.

Memasuki pameran ini, pengunjung disuguhi logo Everything in Between dan kata pengantar. Instalasinya dibuat dari kardus, salah satu material yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.

Selanjutnya, terdapat pameran foto yang instalasinya dibuat dari pagar besi wiremesh dan ada juga yang langsung ditempel di dinding. Foto-foto yang dipamerkan menampilkan foto mereka sedang bersepeda, foto panorama alam, serta foto-foto human interest dari berbagai negara. Di sini, terdapat beberapa caption foto yang menurut saya cukup menyentil, baik foto yang terkait dengan alam maupun foto yang menggambarkan mereka yang sedang dilanda homesick.

Merasa Muram
Serbia
Sulit bagi kami untuk merindukan rumah kami, zona nyaman kami, untuk waktu yang lama. Setiap hari diisi dengan tempat baru, orang baru, kebiasan baru. Tapi terkadang kami bisa merasakan sedikit rasa rumah ketika kami bisa tinggal di rumah seseorang. Dan itu adalah perasaan yang menyenangkan, karena hal tersebut memberikan kami ilusi bahwa kami cocok berada disitu. Bahkan jika sementara.

Sayangnya, Kamu Tidak Harus Takut
Indonesia
Kami suka sebuah plang tanda di kaki gunung api aktif tertinggi di Asia Tenggara. “Jangan ambil apapun, kecuali foto. Jangan membunuh apapun, kecuali waktu. Jangan meninggalkan apapun, kecuali rasa hormat.” Dan mengapa kamu tidak harus takut saat berkemah disini? Karena meskipun daerah ini merupakan habitat alami Harimau Sumatra, cukup sulit menemui mereka di habitat alami mereka saat ini. Spesies langka ini lebih takut kepada manusia daripada sebaliknya.

Selanjutnya, terdapat instalasi akan gambaran bagaimana mereka bermalam di tenda selama mereka bersepeda

.“Iya, kami benar-benar menggunakan tenda ini”
Karena banyak yang bertanya
Ini adalah kamar tidur kami setahun belakangan. Mungkin kamu berpikir, romantis sekali untuk tidur bersama di tenda ini, tapi sebenarnya sebagian besar waktu rasanya panas, lembap, dan bau. Dan agak terlalu kecil. Sekarang kamu hanya bisa melihat matras dan tas tidur kami di dalam, tapi dalam kehidupan nyata kami juga harus meletakkan hampir semua tas kami di dalam tenda. (…)

Di samping instalasi tenda, terdapat peta dunia yang menunjukkan rute mereka saat bersepeda, diikuti dengan foto-foto yang juga ditempel di peta tersebut. Di samping dinding ini juga terdapat foto-foto dan narasi dari hasil donasi yang telah terkumpul, untuk mereka serahkan ke beberapa lembaga.

Barang-barang yang selalu mereka bawa saat bersepeda juga turut dipamerkan. Mulai dari kompas, water filter, alat masak, sarung tangan, sunblock, serta gantungan kunci dengan foto orang tersayang.

Pameran Everything in Between ini sebelumnya tidak terlintas dari pikiran Diego dan Marlies. Namun dengan dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat, mereka akhirnya turut membuat pameran ini dan juga berbagi cerita serta menyampaikan pesan kepada para pengunjung. Mereka menyajikannya secara jujur, menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan dan menunjukkan apa yang sebenarnya mereka lakukan. Pameran ini juga kembali kepada slogan mereka, ‘for people, animals and trees’.

Pameran ini cukup insightful dan membuka mata akan kehidupan. Namun hal yang disayangkan adalah flow pameran yang sempat tersendat beberapa kali karena terlalu ramainya pengunjung pada satu tempat yang cukup kecil.

Memang saat kita lihat pameran Everything in Between ini, hanya terdapat foto-foto serta berbagai instalasi. Namun, Everything in Between berhasil membuat pameran ini tidak berhenti sampai disini, namun turut “dipamerkan” lewat podcast, music video, serta cerita mereka yang terdapat di berbagai platform. Pameran ini hanya menjadi salah satu wadah mereka untuk berbagi ke masyarakat. Untuk mendengarkan cerita mereka lebih lanjut, kita dapat mendengar cerita mereka di:

Semoga kita juga dapat turut menginspirasi masyarakat dan turut mencintai lingkungan, serta berbuat baik kepada sesama manusia, hewan, dan tumbuhan!

Penulis:  Irvi Syauqi Selendra