Category Archives: Review

DUWOW : Kolaborasi di Tengah Pandemi

Pandemi tidak menghambat komunitas seni untuk melakukan kolaborasi. Hal ini dibuktikan dengan terciptanya kolaborasi antara dua kelompok seni. Pameran seni rupa “DuWow” digelar pada tanggal 1-25 Agustus 2020 di Jogja Gallery, Yogyakarta. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara dua kelompok seni “Tenggara” dan “Liquid Color”. Pameran yang dilaksanakan saat new normal ini juga turut menandai Jogja Bergerak Kembali dengan bentuk kegiatan seni rupa. 

Pada pelaksanaan yang berlangsung saat pandemi ini, lokasi yang luas dan penggunaan partisi yang minim membuat terciptanya ruang yang cukup luas sehingga mendukung menerapkan social distancing. Hal ini juga membuat pameran hanya memiliki 1 alur sehingga meminimalisir pengunjung untuk melewatkan suatu karya. Alur dan panduan informasi  diinfokan melalui sosial media @jogja_gallery ini sangat membantu untuk mengetahui kondisi di venue. Ditambah, adanya batas maksimum jumlah orang per sesi yang ditentukan panitia membuat pameran ini nyaman untuk dikunjungi. 

Instagram : @jogja_gallery

Pameran “DuWOW”  mencoba mempertemukan dan menyorot perkembangan, kecenderungan, dan karakter kedua komunitas dalam persilangan representasi kontekstual. Melalui karya-karya yang dipamerkan, kolaborasi ini mencoba untuk menunjukkan persilangan antara berbagai konteks masalah dan manifestasi nilai-nilai estetika. Karya-karya yang disajikan berupa karya lukis dan karya instalasi. Banyak dari karya yang dipamerkan menggunakan media akrilik dalam kanvas. Tidak hanya karya lukisan, tetapi juga terdapat instalasi-instalasi yang tersebar di beberapa titik. Beberapa instalasi diletakkan sesuai dengan alur yang tersedia, namun terdapat beberapa yang diletakkan di tengah ruangan. Baiknya, instalasi diletakkan sesuai dengan alur sehingga pengunjung dapat menikmati semua karya tanpa terlewat.

Seperti salah satu karya instalasi oleh Luddy Astaghis dengan judul “Sangkar Biru.” Karya ini menggambarkan representasi boneka yang berada dalam lampion merefleksikan kondisi manusia di tengah pandemi yang terkurung di suatu tempat. Karya dengan media plastik, mika, kertas, lakban, dan cat ini merupakan salah satu bentuk keresahan masyarakat yang diramu menjadi suatu karya.

Ia juga membuat karya dengan judul “Kita Ikuti Alurnya”, karya dengan media akrilik diatas papan ini memberikan pesan-pesan untuk kita yang sedang ditempa pandemi dengan permainan warna yang diciptakan. 

Tidak hanya keresahan akan pandemi, beberapa karya juga ‘berbicara’ mengenai keresahan sosial yang terjadi, salah satunya adalah keresahan terhadap media sosial. Karya “Panen Hari Ini” oleh Saftari menjadi salah satu contohnya. Karya ini merupakan suara atas keresahan mengenai kebebasan berbicara di media sosial yang semakin memprihatinkan.

Melalui karya yang dipamerkan, para penikmat seni dan pengunjung dapat merasakan dan melihat suatu keresahan-keresahan seniman mengenai permasalahan sosial dari sudut pandang dan simbol yang berbeda. Bagi saya, mengunjungi pameran merupakan salah satu hal yang menarik dan menenangkan. Menarik karena dibuat penasaran akan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah karya. Menenangkan karena estetika yang diciptakan dapat memanjakan mata dengan santun.

Penulis : Shintia Nurulita H A

Sinapsis

Rasa penasaran yang semakin tergugah untuk mulai menikmati karya seni. Karya yang membuat terus berpikir dan mendalami setiap keresahan yang selama ini dirasakan namun tak dapat diungkapkan.

Pameran “SINAPSIS” adalah pameran virtual karya empat seniman yaitu Reza Amalia,Zaizafun Alya G., Andina F. Zahra dan Gevanny F. Putri , dengan medium karya berupa seni instalasi yang interaktif, dan performatif. Keempat seniman ini menuangkan perasaan suntuk atas keadaan dirinya dan keadaan sekitar melalui pameran ini. Para seniman membahas relasi antara individu dan elemen-elemen sosial seperti literatur, media, percakapan sehari-hari, pikiran yang biasanya tidak terungkapkan, dan kejenuhan yang termanifestasi karena keadaan itu sendiri. Di pameran ini pengunjung dibuat untuk berpikir , mengungkap dan bertanya-tanya serta dapat ikut berpartisipasi dalam karya-karya yang dipamerkan.

Pameran “SINAPSIS”  ini awalnya direncanakan sebagai pameran yang berbentuk instalasi. Akan tetapi adanya wabah COVID-19 membuat para seniman sangat kecewa tidak dapat menunjukkan  karyanya. Hal ini  tidak menghentikan mereka. Dengan berbekal kreativitas, keempat seniman itu mengubah rencananya menjadi menggunakan media web yang sekarang hasilnya dapat dinikmati tanpa kehilangan esensi dari sebuah pameran. Pada pameran ini terdapat 3 bagian yang dapat dikunjungi yaitu artworks , visual journey, dan artist talk.

Bagian artworks berisikan karya-karya dari 4 seniman di atas. Karya pertama yang saya lihat adalah Peranti karya Reza Amalia. Peranti disajikan dengan dua cara yang berbeda. Pertama dengan gambar tiga dimensi yang dapat membuat orang bertanya-tanya. Bagian ini bagi saya memiliki banyak arti di dalamnya yang selama ini tidak pernah diungkapkan dalam perasaan kita. Gambar tiga dimensi ini berupa kain yang bertuliskan kalimat dan terdapat lukisan didalamnya. Untuk menikmati karyanya dan melihat lebih detail bagaimana tulisan dan lukisannya diberikan fitur zoom yang nantinya membawa ke display gambar yang berbeda. Fitur zoom ini berbeda dengan zoom pada umumnya. Saat mengklik zoom otomatis scroll ke bagian bawah tiap karyanya. Di dalam karya ini juga dilengkapi suara-suara yang mendukung karyanya. Suara ini membuat karya nya lebih real, membuat bertanya – tanya, dan terasa misterius. Setelah itu ada kolom submit “Apa yang ada di benakmu saat atau setelah melihat, mendengar, dan merasakan visualisasi Peranti ?”. Dengan disediakannya kolom ini seniman bisa mengetahui apakah pengunjung bisa mengetahui apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh seniman itu sendiri, dan apakah pesan yang tersirat juga dapat diketahui oleh pengunjung. 

“Sebuah karya yang mengangkat bagaimana manusia yang selalu mengkomposisikan kata-kata, tidak hanya sebatas menggambarkan siapa dirinya, melainkan ada sesuatu di balik semua itu”

Cara untuk menikmati Peranti yang kedua, Rompyok, berbentuk buku yang berisikan kata kata dan gambar yang membuat kita terus bertanya-tanya. Menurut saya dengan cara pertama,karya tiga dimensi, lebih menarik daripada rompyo karena di karya tiga dimensi saya bisa lebih merasakan feel nya dengan tambahan musik atau suara yang mendukung dan  berbagai  display yang berbeda membuat lebih menarik. Sedangkan di Rompyok ini hanya disajikan dengan buku yang berisi kata kata dan gambar yang membuat saya cukup jenuh untuk menikmatinya sampai halaman terakhir.

Karya selanjutnya adalah Tea Party karya Zaizafun Alya G. yang disajikan dengan banyak sekali kejutan yang tidak pernah terbayangkan dan mengajak kita untuk berpetualang di dalam instalasi karyanya. Untuk melihat semua karya nya banyak sekali klik dan scroll yang membuat lelah dan lumayan jenuh, tetapi di sisi lain kita juga diajak berpetualang sehingga karya ini terkesan seru. Alya mengungkit unsur humanisme dan kesadaran individualisme sifat manusia yang dikelilingi oleh budaya, perilaku, dan tradisi. Di bagian akhir karya ini ada beberapa tea pot yang saat dilewati didalamnya ada kalimat, bagi saya itu bisa membuat saya lebih paham dengan karya nya.

Selanjutnya, ada karya Andina F. Zahra yang membahas masalah feminisme dan perempuan dijelaskan dengan cara interaktif . Karyanya ini membuat pengunjung merasa ada pada bagian karya nya. Walaupun lebih dominan tulisan di dalamnya, tetapi  Andina membuat kalimat dengan sangat ringkas dan sangat interaktif yang dapat membuat pengunjung bisa ada pada bagian karyanya. Karya ini juga disajikan dalam bentuk podcast yang disertai dengan transcript dalam bahasa inggris.

Terakhir, karya Gevanny F. Putri dengan cat akrilik diatas kanvas menunjukan usaha yang akhirnya menghasilkan suatu hal yang indah. Karyanya di jelaskan dengan banyak sudut pandang yang berbeda. Karya milik Gevanny ini merupakan usaha yang ditunjukkan melalui banyak persepsi dan membuat saya dapat mengetahui sebenarnya dibalik usaha ada banyak yang dipikirkan dan tidak mudah untuk mencapai hasil yang indah tanpa usaha. 

Setelah karya-karya seniman pada bagian ada bagian Artworks, ada bagian Artist Talk yang disajikan untuk pengunjung yang ingin mendengar lebih dalam tentang pameran melalui Spotify, Soundcloud, dan Youtube. Di pameran ini juga pengunjung diberi kesempatan untuk bertanya tentang karya-karya di SINAPSIS melalui laman submit.

Selanjutnya pada bagian Visual Journey, mereka menceritakan bagaimana proses membuat Artwork dari plan awan instalasi offline hingga adanya wabah yang mengharuskan mereka merevisi semua ke plan pameran virtual.

Salah satu karya Gevanny F.Putri 

“Puzzle adalah gambaran bagaimana cara pikir sang seniman bekerja – selalu ingin menyempurnakan”

Salah satu bentuk usaha untuk kembali berkarya dan kilas balik setiap percobaan yang tertulis di  Visual Journey menunjukkan bahwa dengan usaha kita bisa mendapatkan hasil yang indah dan dapat dinikmati.

Menghasilkan suatu karya yang bisa membuat penikmat merasa ada di bagian karya itu tidaklah mudah, membuat berpikir dan bertanya akan suatu karya bukan lah hal mudah. Apalagi dengan keadaan yang benar benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Keempat seniman ini berhasil membuat pengunjung berpikir, bertanya, dan menjadi bagian dari karya nya dengan usaha dan kreativitas.

Ditulis oleh Maria Evelyn

EPILOGUE: Fase/Siklus

Pameran online menjadi suatu tren baru bagi penggiat karya seni di masa pandemi yang melanda saat ini. Berbagai cara kreatif dibuat melalui berbagai media digital yang ada. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan akan ruang pameran tidak dapat tergantikan. Di satu sisi, eksplorasi media digital menghasilkan berbagai pengalaman baru bagi penikmat karya seni  yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Salah satu buktinya ialah pameran EPILOGUE : Fase / Siklus. 

EPILOGUE : Fase / Siklus adalah pameran Tugas Akhir mahasiswa sarjana jurusan Arsitektur ITB yang dipersembahkan oleh Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadarma ITB (IMA-G ITB). Diadakan mulai tanggal 8 juni hingga 8 juli 2020 di laman situs www.epilogueitb.com. Pameran yang mengangkat tema fase/siklus ini menampilkan foto gambar sketsa-sketsa tangan, beragam hasil rendering dan visualisasi 3D, serta foto-foto wisudawan di akhir perjalanan studi di ITB yang seolah mengisahkan bahwa dalam setiap desain arsitektur yang dibuat, terdapat proses panjang dalam perjalanan studi seorang arsitek. 

EPILOGUE merangkai pameran dalam 3 fase. Fase Satu:Benih mengisahkan awal perjalanan desain/arsitek yang berawal dari gagasan lalu ditorehkan dengan pensil di atas kertas. Pada fase ini kita dibawa mengikuti alur sebuah proses yang diibaratkan tumbuhan bermula dari benih. Kata demi kata, kemudian foto-foto sketsa awal yang dapat dipindah, diputar, ditumpuk seakan mengajak pengunjung bermain dengan foto-foto diatas meja. Kemudian diakhiri dengan cuplikan video bentuk pameran dalam bentuk 3D. 

 

Fase Dua:Mekar menampilkan hasil akhir sebuah desain yang siap diuji atau dinilai. Puisi dan karya persembahan wisudawan ditampilkan dan diakhiri kembali dengan cuplikan video lanjutan. Karya-karya yang ditampilkan dapat dipilih lalu terbuka laman baru tentang karya tersebut. Namun dengan adanya fitur ini, pengunjung dapat dengan mudah melewatkan karya yang ditampilkan. 

Fase Tiga:Siklus mereka ulang jejak saat-saat terakhir menyelesaikan pendidikan melalui foto-foto yang menjadi saksi bisu perjalanan studi yang telah mereka tempuh. Foto-foto seakan menceritakan arti siklus yang berbeda-beda bagi setiap orang. Pengunjung juga diajak untuk menceritakan arti siklusnya masing-masing menggunakan kolom yang disajikan. Fase ini diakhiri dengan video kelanjutan dari fase sebelumnya.

 Tampilan laman web terkesan minimalis dan modern dengan layar hitam dan putih membuat saya terfokus pada gambar dan tulisan-tulisan yang disajikan. Kalimat kalimat muncul dengan jeda sesaat ketika memasuki halaman web membuat saya seakan-akan dituntun untuk mengikuti kalimat demi kalimat. Penggunaan bahasa Indonesia yang puitis tetapi mudah dipahami ditambah interaksi lewat foto-foto dan animasi membuat pesan yang ingin disampaikan diterima oleh pengunjung. Dengan penyampaian materi pameran yang mudah dipahami, pameran ini berhasil membuat saya memahami proses perjalanan desain dan lebih mengapresiasi karya arsitektur.

Tak hanya lewat penampilan laman web, EPILOGUE juga memberikan 2 mode ekstensi tambahan, yaitu The Prologue dan The Extended Space. Bila diibaratkan suatu naskah atau kisah, The Prologue merupakan bagian pengantar atau kilas balik dari kisah fase dan siklus yang terdapat dari pameran ini.

Kemudian The Extended Space adalah mode tambahan  yang memberikan anda pengalaman ruang visual 3D seakan-akan anda berada di ruangan pameran. Mode ini merupakan gabungan dari cuplikan-cuplikan video yang ditampilkan di akhir setiap fase. Anda akan dibawa menelusuri ruangan pameran yang sudah didesain khusus melewati kolam lalu memasuki terowongan bawah tanah. Menelusuri ruangan sembari melihat tulisan, dan karya-karya yang sama dengan yang terdapat pada laman web. Kemudian berjalan di bawah bulan purnama hingga menemukan jalan buntu di tengah kolam menghadap ke arah bulan yang mengisyaratkan bahwa perjalanan virtual anda telah berakhir disini. Saya sendiri merasa lebih tertarik dengan mode The Extended Space dibandingkan dengan mode laman web biasa karena gambaran ruang virtual ini memberikan kesan “ruang” lebih yang membuat saya seperti sedang berada di sebuah pameran fisik.

Tak hanya tampilan visual, EPILOGUE juga menghadirkan playlist musik yang dapat diputar lewat aplikasi Spotify berjudul MONOLOGUE. Memang tak lengkap rasanya apabila sebuah pameran tidak diiringi musik yang sesuai. Sebuah perpaduan yang pas apabila anda mengunjungi pameran ini seraya mendengarkan lagu-lagu pilihan yang semakin meningkatkan vibe pameran dan bagi anda yang hanya ingin fokus pada isi pameran dapat memilih untuk tidak memutar musik. Tentunya pilihan ini tidak ada dalam pameran fisik. 

 EPILOGUE juga menghadirkan filter Instagram yang dapat di unduh pada aplikasi Instagram. Filter menarik ini seakan-akan menjadi ‘buah tangan’ yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Sebuah langkah inovatif yang mungkin tidak terpikirkan pada pameran fisik dan secara tidak langsung menjadi publikasi yang kreatif/out of the box

 Secara keseluruhan, pameran ini sangat menarik secara visual ataupun dari segi materi, dan mudah diakses di mana saja dan kapan saja. Fitur-fitur tambahan seperti playlist musik, filter Instagram, dan The Extended Space juga menambah pengalaman berinteraksi dengan ruang pameran. Dengan tema dan pesan yang dibawa juga mengajarkan kita untuk lebih mengapresiasi proses. Pameran ini juga membuktikan bahwa pameran online tidak kalah menarik dari pameran fisik dan memiliki banyak inovasi baru yang sebelumnya tidak terdapat di pameran fisik.

Ditulis oleh M Faizin Fitriansyah M

Pameran Ellipsis

Sebuah karya, dalam bentuk apapun itu pasti memiliki tujuan dan makna tersendiri namun satu hal yang sama adalah setiap pembuat karya/seniman pasti ingin karyanya menceritakan atau menyampaikan sesuatu kepada penikmatnya. Pameran “Ellipsis” memiliki tujuan sebagai media untuk mengeksplor pribadi masing-masing desainer dalam merefleksikan hasil kontemplasi personal menjadi suatu karya dengan tentunya gaya khas dalam setiap aspeknya. Kontemplasi dipilih sebagi tema karena kaitannya dengan hal sehari-hari yang dilakukan manusia. Kontemplasi menjadi dorongan untuk berkarya yang bersifat lebih eksploratif dan mencerminkan identitas desainer sebagai pembuat karya. Jauh dari kebisingan kota, experimental exhibition ini hadir di Galeri Yuliansyah Akbar serta diselenggarakan pada tanggal 1-2 Februari 2020. Dibuka untuk umum dan gartis, pameran ini diwujudkan oleh Mahasiswa DKV ITB.

Sebagai seorang awam yang jauh dari kata seni, mengunjungi pameran ini memberikan pengalamn yang cukup menggugah serta menyenangkan. Seni nampaknya bagi segelintir orang seperti saya, cukup sulit dipahami dan karena betapa sulitnya, banyak orang malah jadi bosan. Para pembuat karya dalam pameran ini betul-betul berusaha agar karya bisa seinteraktif mungkin dan sebisa mungkin melibatkan penikmatnya, yaitu pengunjung. Meski, memang beberapa karya tetap sulit dipahami maknanya tapi setiap karya memiliki daya tariknya masing-masing. Tak sedikit pengunjung yang bertahan pada satu karya dalam waktu yang cukup lama. Cara penyampaiannya tak monoton sama sekali. Contohnya, sebuah karya yang dibalut dalam sebuah kuis atraktif berjudul “The Most Accurate Personality Test Ever”. Belum lagi, karya “Lay Down Look Up” yang hanya bisa dilihat bila kita membaringkan tubuh kita di atas kasur yang telah disediakan.

Lebih dari pada penyampaian dan kemasan yang menarik, para desainer tak lupa menyampaikan kisahnya, hasil eksplorasi dari kontemplasi mereka. Setiap karya pada akhirnya memberikan kesan yang betul-betul berbeda dan dapat tersalurkan. Setiap komponen yang ada di dalam karya pun sebisa mungkin dapat memaksimalkan proses penyampaian pesan sang desainer seperti penambahan audio dan lighting. Di setiap karya pun tersedia QR Code yang menjelaskan latar belakang pembuatan karya tersebut.

Salah satu instalasi menarik nan menyentuh berjudul “The Indestructible Feeling of Being Destructible” adalah sebuah instalasi tentang insekuritas diri yang menggabungkan media digital projection, audio serta teknik refleksi cermin. Awalnya, instalasi ini terlihat cukup sederhana namun ternyata video yang diproyeksikan ke layar adalah hasil pantulan dari dua cermin. Cermin tersebut tak semata-mata menjadi alat untuk menambahkan kesan ‘rumit’, malah menjadi salah satu elemen dari karya ini untuk mengartikulasikan pesan sang desainer.

Penempatan atau layouting juga sesuai dengan karya. Karya yang lebih butuh pencahayaan yang tinggi berada pada lantai atas sedangkan karya yang lmembutuhkan pencahayaan yang minim serta high level of intimacy berada di lantai bawah.

Mengunjungi pameran ini adalah betul sebuah pengalaman yang lagi-lagi menggungah dan menyenangkan. Dalam ruang yang minim, pameran ini dapat menyuguhkan atraksi-atraksi yang serat rasa. Terlebih lagi, pameran ini memberikan banyak insight akan pameran yang atraktif dan penuh makna

Pameran Retrospektif Xu Bing: Thought and Method

Seni rupa kontemporer tampaknya akan selalu menjadi perbincangan hangat di khalayak ramai. Semakin maraknya instalasi seni di kota-kota besar di Indonesia sungguh menarik perhatian para perupa seni atau bahkan masyarakat awam. Museum Macan menjadi salah satu medium bagi para seniman nasional dan internasional untuk mempresentasikan karya mereka pada audiens global.

 

Setelah sukses menarik massa pada Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow, Museum Macan kembali hadir dengan karya perupa mancanegara kenamaan asal Tiongkok, Xu Bing. Pameran retrospektif bertajuk “Thought and Method” ini menampilkan lebih dari 60 karya dan proyek penting yang dibuat selama empat dekade.

 

Berbicara tentang seni rupa kontemporer di kancah Asia, sosok Xu Bing sangat menonjol karena pendekatan khas dalam karyanya. Pria kelahiran Chongqing tersebut mengawali kariernya dengan mengeksplorasi dimensi budaya, bahasa, dan sistem pengetahuan tradisional. Hal ini merupakan pondasi perjalanan Bing menjadi perupa. Sesuai dengan tema yang dibawakannya, ekshibisi ini memang menampilkan perjalanan karier dan metode serta motivasi di balik kacamata Bing.

 

Karya-karya yang mencakup beragam medium, termasuk film, instalasi, seni grafis, dan materi arsip membuat ekshibisi ini salah satu yang sayang untuk dilewatkan. Dari puluhan karyanya, saya mengambil contoh-contoh fenomenal yang berhasil menyita perhatian audiens melalui metode-metode yang spektakular.

 

Karya pertama ini salah satu yang tidak akan pernah bosan dibicarakan. Instalasi “Book from the Sky” (1987-1991) yang dibentuk dari gulungan kertas berisi aksara Tionghoa yang seakan menjuntai turun dari langit ini seperti menyihir siapapun yang melihatnya. Uniknya lagi, jika dilihat lebih dekat, aksara Tionghoa ini tidak memiliki makna yang memang bertujuan untuk menantang sistem pengetahuan umum. Dipandang dari foto saja cantik dan megah sekali, bagaimana berhadapan langsung? Jatuh cinta saya pada pandangan pertama dengan setiap detil yang disajikan, terlebih lagi aksara-aksara ini murni buatan Bing yang semakin menunjukkan kecerdasannya dalam menuangkan ekspresinya dalam berkarya.

 

Nah, ini dia yang tak kalah menarik dan wajib dicicipi. ‘Perkawinan’ aksara Tionghoa dan bahasa Inggris menghasilkan karya berbasis pembelajaran di kelas, “Square Word Calligraphy” (1994-2019). Siapapun —saya jamin—akan betah berlama-lama di dalamnya. Tecermin dari suasana kelas yang begitu tenang dan damai, dilengkapi dengan visual secara keseluruhan yang tidak kalah cantiknya. Bergerak lebih dalam, teknik melukis aksara ‘Tionghoa’ yang diajarkan juga sangat mendasar sehingga pemula pun akan merasa lebih mudah ‘belajar’. Ada-ada saja memang metode yang diperkenalkan Bing ini. Bermula dari kebutaannya terhadap bahasa Inggris ketika pertama kali datang ke New York, membuat Ia melahirkan ide cemerlang untuk mempermudah masyarakat Tionghoa atau bahkan mancanegara untuk mahir bahasa global tersebut.

Tidak berhenti diperbincangkan, apa sih ledakan ide yang Bing lagi-lagi ciptakan? Pernahkah kamu memikirkan rokok sebagai seni? Seni macam apa yang dapat terbentuk dari rokok? Pada umumnya, rokok dianggap buruk dan seni dianggap baik, tetapi, manusia membutuhkan keduanya. Begitu Bing menanggapi pewarta di Museum Macan yang menanyainya. Dengan menyatukan keduanya, kita akan menciptakan kekuatan yang baru. Maka, lahirlah karya yang unik, “Honor and Splendor” (2004). Karya yang tergabung dalam seri Tobacco Project ini memang terdiri dari 660.000 batang rokok. Keunikannya tidak berhenti disitu! Jika diperhatikan dengan seksama, deretan rokok tersebut membentuk loreng harimau berwarna emas putih. Karya ini sukses membuat pengunjung terpukau, mengingat materialnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Jika sebelumnya terdapat instalasi “Book from the Sky” (1987-1991), maka Bing pun punya “Book from the Ground” (2003-kini). Dengan mengumpulkan simbol-simbol yang Ia ambil dari ruang publik dan menulis dengan tanda-tanda ini, Bing berhasil menyalurkan keresahan orang-orang dengan keterbatasan bahasa untuk berkomunikasi. Dengan demikian, para pembaca, terlepas dari latar belakang pendidikan atau budaya, dapat membacanya sehingga tidak perlu melewati proses translasi. Tidak kalah pentingnya, instalasi berbasis studio ini mengajarkan siklus berproses yang tidak akan pernah berakhir. Belajar tentang bahasa emoji, hal yang paling saya sukai adalah bagaimana Bing mengenalkan metode yang sangat memudahkan saya—juga orang lain—dalam berkomunikasi singkat maupun panjang, dan tentunya dengan penyampaian yang menarik.

 

 

Sejak 2015, klip dari kamera pengawas di Tiongkok dapat diakses bebas oleh masyarakat. Bing menggabungkan cuplikan-cuplikan video tersebut dari berbagai tempat dan sudut yang pada akhirnya melahirkan “Dragonfly Eyes” (2017). Tidak adanya agen manusia yang mengoperasikannya membuat hal-hal di luar nalar banyak terekam. Tidak jarang privasi pun ikut masuk bersamanya. Lewat ini, Bing berhasil menyatukan fragmen-fragmen video tidak berkorelasi ini menjadi cerita utuh yang menggambarkan realitas kehidupan manusia. Sepertinya, Bing bermaksud menyampaikan pesan “Hati-hati di Dunia Nyata”.

 

 

Pameran yang digarap oleh perupa Tiongkok ini rupanya mendapat apresiasi tidak terduga dari para audiens, khususnya di Museum Macan. Selain karena karya-karyanya yang sangat relevan dengan kehidupan manusia, pameran ini cocok untuk yang ingin belajar atau sekedar refreshing. Lewat pameran ini, Bing berhasil membuat rekam jejak fenomenal dari setiap gagasan-gagasan kreatifnya yang disuguhkan dalam sebuah pameran tanpa adanya batasan yang menjembatani antara audiens dan karya-karyanya.

Ditulis oleh Nadya Safitri

Teater IMAX Keong Mas

Pernahkah Anda menonton film dengan layar raksasa berukuran 21,5 meter x 29,3 meter? Apabila belum, maka Anda harus mencobanya di Teater IMAX Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah. Gedung teater yang diresmikan pada tanggal 20 april 1984 ini dibangun atas prakarsa serta gagasan Almarhumah Ibu Hj. Tien Soeharto dan merupakan teater IMAX pertama di Indonesia.

Sebagian besar siswa Indonesia pernah masuk Teater Keong Emas saat berdarma wisata bersama sekolah. Film yang ditayangkan biasanya menonjolkan keanekaragaman budaya Indonesia. Selain film keanekaragaman Indonesia, berapa film box office dunia juga pernah ditayangkan. Namun, tidak sembarang film bisa di tanyangkan di teater Keong Emas . Menonton film di teater ini, sama halnya seperti anda menonton di bioskop biasa, hanya saja kursinya didesain membuat kita menegadah, karena layarnya tidak berbentuk persegi empat datar seperti bioskop biasa, melainkan berbentuk lingkaran cembung karena layarnya adalah tempurung dari gedung Keong Mas itu sendiri. Penonton serasa ikut berada di dalamnya dan ikut pula berperan sebagai pemain yang didukung dengan gambar full HD 4K yang semuanya terasa nyata seperti film 3D. Dengan layar berukuran 21,5 meter x 29,3 meter dan proyektor dengan teknologi IMAX EXPERIENCE 70 mm yang biasa digunakan untuk pemutaran film action seperti Harry potter, Spiderman, dan Transformers yang membuat penonton akan lebih merasakan ketegangannya. IMAX sendiri merupakan singkatan dari Image Maximum, sebuah proyeksi film yang memiliki kemampuan menampilkan gambar dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar dari film konvensional lainnya. Dalam hal suara, berbagai sarana dan panil penyerap suara (akustik) ditempatkan secara strategis pada lokasi tertentu di sekitar teater, sehingga diperoleh pantulan suara yang jelas dan sempurna.

Selain kualitas proyektor yang lebih bagus dan audio yang mendukung, kehadiran panggung multifungsi memungkinkan Teater Keong Mas memanfaatkan fungsi lain dari sebuah gedung teater bagi masyarakat atau pihak swasta, di antaranya yaitu sebagai tempat peluncuran produk, iklan, kegiatan komunitas, acara keagamaan, wisuda, gathering, hingga sosialisasi program.

 

Namun sayangnya masih terdapat kekurangan yang sebenarnya bisa diatasi seperti bangunan yang terkesan kuno dan kurang terawat, film-film yang temanya itu itu saja dan jadwal pemutaran yang tidak sama setiap hari membuat pengunjung kurang tertarik dengan pemutaran film di teater IMAX Keong Emas ini. Dengan kualitas media audiovisual yang melebihi kualitas bioskop pada umumnya, penulis menilai bahwa tidak ada ruginya anda menonton disini juga penulis berharap semoga kualitas pelayanannya dapat ditingkatkan dan film-film yang diputar dapat lebih menarik pengunjung.

Penulis: Muhammad Faizin Fitriansyah Musa

Mencoba ScreenX

Bioskop atau movie cinema adalah sebuah industri yang menaungi pemutaran film atau motion picture. Industri ini terus menerus bergerak seiring dengan kemajuan teknologi. Berawal pada tahun 1895 di Paris, bioskop pertama hadir dengan memutarkan film bisu hitam putih. Seiring berjalannya waktu, inovasi yang terjadi pada bioskop semakin beragam, dimulai dari bioskop yang tadinya hanya memutarkan 1 flm saja (1 layar) hingga tersedia banyak layar (Cineplex) seperti yang sering kita jumpai. Tak hanya dari segi jumlah layar, teknologi pada film tersebut pun semakin mumpuni dari tahun ke tahun. Diawali dengan film bisu hitam putih, disusul oleh film berwarna -yang memiliki suara- dengan kualitas teknis yang terus menerus membaik. Dipenuhi rasa ingin terus berkembang, inovasi tidak berhenti sampai di situ. Kini, bahkan jenis layarpun sangatlah beragam. Layar bioskop yang berukuran hingga 30,78 x 13,11 meter, layar yang menggunakan Samsung Cinema LED, dsb. Tak hanya itu, kini telah tersedia bioskop dengan beragam watching experience. Jenis bioskop drive in mungkin pernah digandrungi pada zamannya, tapi di abad 21 ini, banyak hal yang dulunya hanyalah khayalan sudah berubah menjadi kenyataan. Mau nonton secara 3 dimensi? bisa. Mau nonton serasa ada semburan angin dan ikut bergerak di dalam film? Bisa dicoba jenis bioskop 4DX. Mau meraskan berada di dalam film? Sudah tersedia bioskop dengan layar 270⁰ yang lebih dikenal dengan nama ScreenX.

Menelisik lebih jauh mengenai ScreenX, jenis layar seperti ini sudah hadir di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Di Indonesia sendiri baru terdapat satu bioskop yang menyediakan teknologi ScreenX yaitu CGV Grand Indonesia. Teknologi yang digunakan dalam ScreenX sebenarnya bisa dibilang menyerupai teknologi yang digunakan bioskop pada umumnya, yaitu menggunakan proyektor yang menembakkan sinar ke dinding/layar,hanya saja terdapat 2 tambahan layar di samping layar utama dan di atasnya terdapat proyektor yang menembakaan sinar ke arah layar di seberangnya. Dengan demikian, ScreenX jelas memberikan watching experience yang baru dan segar bagi para pengunjungnya karena dapat membuat seolah-olah penonton berada di tempat kejadian sesuai adegan dalam film yang mereka tonton. Dengan hadirnya tiga layar, penonton dapat melihat perspektif yang lebih luas terhadap keadaan di dalam film yang ditonton.

Berbekal rasa ingin tahu akan ScreenX ini, saya pun tergerak untuk mencobanya tanpa mempermasalahkan film yang saya tonton. Bad Boys for Life (2020) yang notabene bukanlah film yang “laku” untuk ditonton dalam ScreenX adalah film yang tersedia saat itu. Datang dengan ekspektasi yang tinggi, saya merasa cukup terkejut saat melihat layar samping yang wujudnya terlihat seperti dinding biasa berwarna putih. Seiring film berjalan, kedua layar di sisi tersebut pun akhirnya digunakan dan menunjukkan kehebatannya. Film yang ditonton terasa lebih megah karena luasnya pandangan yang diberikan. Akan tetapi, dibalik sebuah ciptaan pastilah ada kekurangannya. Begitu pula dengan ScreenX ini. ScreenX yang menjanjikan sensasi berada di dalam film dengan cara menonton 270⁰ tidak sepenuhnya terasa benar karena layar yang digunakan tidaklah mumpuni untuk membuat efek di dalam film serealistis itu. Masih terdapat jarak antar layar sehingga gambar tidak terasa menyatu dan juga dikarenakan layar yang tidak melengkung membuat pandangan terasa terbatas dan sulit untuk memperhatikan gambar pada layar di kiri & kanan. Jenis film yang diputar menggunakan layar ScreenX pun seharusnya tidak sembarangan. Scene yang cocok untuk menggunakan ScreenX adalah scene yang mengambil gambar dengan teknik long shot karena akan lebih terasa efek berada di dalam filmnya. Tentunya, dalam pengambilan gambar untuk sebuah film berbagai jenis teknik ikut andil di dalamnya. Maka dari itu, dalam penggunaan ScreenX pun tidak semua film dapat memaksimalkan ketiga layarnya secara terus menerus sepanjang film.

Image result for screenx
Sumber: id.bookmyshow.com

Penulis: Kiara Qinthara

Kita ke Pameran: PRIHAL oleh andramatin

Pameran yang menampilkan lebih dari 800 karya studio arsitektur bertajuk “PRIHAL: arsitektur andramatin” ini digagas oleh seorang arsitektur ternama kontemporer di Indonesia Isandra Matin Ahmad atau biasa disapa Andra Matin. Pameran ini bertempat di Galeri Nasional Indonesia dan memamerkan perjalanan karya-karya perancangan studio selama dua decade sejak tahun 1998. Penasaran dengan isinya? Yuk simak video Bersama Tsaniya dan Marza di bawah ini!

Pameran Foto: Kisah-Kisah Tanah Manusia

Pameran foto “Kisah-Kisah Tanah Manusia” merupakan pameran foto hasil rangkaian lokakarya visual dari kolaborasi antara WRI Indonesia dan Arkademy Project di 4 kota: Pekanbaru, Palembang, Manokwari, dan Jakarta dengan tema Tentang Tanah yang menjelajahi relasi manusia dengan tanah. Sekilas tentang lokakarya fotografi ini, bertujuan untuk menangkap kisah – kisah yang menggali lebih dalam makna dari interaksi manusia dengan lahan, tentang hubungan manusia dengan tanah, sekaligus memahami berbagai kompleksitas yang menyertainya. Dari lokakarya ini terpilihlah 14 cerita yang diangkat tentang keberagaman perspektif terhadap lahan serta pentingnya tanah dan lahan bagi kehidupan manusia.

Mengunjungi pameran ini memberikan pengalaman yang amat dekat dengan keseharian saya sebagai mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota. Selama ini saya hanya memahami isu-isu terkait lahan berupa data dan angka dari materi-materi kuliah dan berita. Tidak hanya saya sebagai mahasiswa namun masyarakat awam lain merasa jauh akan isu lahan, dibuktikan dengan anggukan seragam dari pengunjung pameran yang hadir ketika Mba Rara memberikan pernyataan bahwa seringkali kita kurang memahami isu lahan yang terjadi di sekitar kita. Padahal kebutuhan akan lahan semakin bertambah namun luaasan lahan tidak akan bertambah. Kita sendiri sebagai manusia masih hidup dan beraktivitas di atas lahan dan sangat tergantung padanya.

Saya berkesempatan untuk mengunjungi pameran ini dan mengikuti exhibition tour yang dipandu langsung oleh mentor-mentor Arkademy Project yaitu Rara Sekar, Ben Laksana, Yoppi Pieter, dan Kurniadi Widodo. Dalam tur pameran ini para pengunjung dibawa berkeliling melihat karya terpilih dari enam tema: eksploitasi, lanskap baru, kerentanan, lahan dan kematian, siasat, dan harapan dan berkesempatan untuk bertanya berdialog langsung dengan fotografer terkait. Karya fotografi di masing-masing tema pameran ini memunculkan narasi visual yang begitu kuat. Di pameran ini fotografi hadir sebagai bahasa penyampaian alternatif untuk menjembatani isu-isu lahan ke publik yang lebih luas. This exhibition goes beyond the news and lecturer. Data dan statistik berubah menjadi emosi. Kompleksitas wacana besar diselami melalui narasi-narasi kecil yang dialami banyak orang.

Narasi karya-karya fotografi di pameran ini juga didukung dengan teknis pameran yang baik. Ruang pameran luas dan memiliki rangka dinding melingkar yang dimanfaatkan dengan adanya instalasi yang dibuat mengikuti bentuk dinding. Setiap tema dibedakan dengan warna panel yang berbeda. Pemilihan ukuran foto serta frame yang digunakan juga sangat diperhatikan mengikuti narasi yang dibawa pada karya fotografi terkait. Di salah satu karya pada tema kerentanan tidak memiliki frame melainkan dipasang dengan cara dipaku, dengan memakunya karya foto akan rentan untung lepas, sejalan dengan tema kerentanan. Karya foto lain di tema siasat menarasikan kehidupan warga sebuah rumah susun di Jakarta yang tetap dapat bertahan hidup dan beraktivitas di lahan yang sangat sempit. Instalasi untuk karya ini merekonstruksikan salah satu sudut rumah. Foto-foto dipajang dengan frame yang beraneka warna dan jenis frame. Terdapat pula sapu dan pajangan cermin beserta sisir yang menggantung di cermin. Layouting foto juga dibuat sangat menarik. Ada karya foto yang dipasang sejajar karena ternyata memiliki kesamaan horizon. Atau foto – foto yang dipasang sejajar sehingga menghasilkan sebuah konstruksi visual baru. Hal menarik lain dari pameran ini adalah tidak semua karya foto yang dipamerkan adalah hasil karya fotografer professional. Banyak karya yang dihasilkan oleh warga sekitar yang bisa dibilang masih awam dengan fotografi. Dan baru memulai hands on fotografi dan berkarya foto saat mengikuti workshop ini.

Sejujurnya mengunjungi pameran foto ini membuat saya berefleksi tentang apa yang saya pelajari selama kuliah dan relevansinya terhadap masyarakat terdampak. Ada aspek-aspek sosial yang luput tatkala selama ini lahan hanya diibaratkan sebagai entitas yang hanya memiliki nilai jual beli. Pameran ini juga sangat membuka pandangan tentang permasalahan lahan yang tidak hanya melulu tentang penggusuran dan relokasi lahan. Harapannya para pengunjung pameran bisa mulai membicarakan permasalahan lahan dalam dialog-dialog lanjutan dan semakin mampu memaknai relasi manusia dengan tanah dan dinamika yang menyertainya.

Oleh: Gabriella Mayang Larasati (Kru LFM ITB 2016)

Sony World Photography Awards

Di tengah ramainya suasana di Tokyo pada bulan Juni lalu, perusahaan alat elektronik bermerek Sony mengadakan pameran fotografi berjudul “Sony World Photography Awards 2019”. Pameran ini diadakan di Ginza Sony Park, Ginza, Kota Tokyo pada tanggal 1 Juni sampai dengan tanggal 23 Juni 2019. Lokasi pameran yang strategis dan berada di daerah Ginza pun sangat mendukung keberjalanan acara ini karena Ginza merupakan salah satu pusat keramaian di Kota Tokyo. Menariknya, ruangan pameran berada di basement sebuah taman publik sehingga membuat para wisatawan dan masyarakat Tokyo penasaran dengan pameran ini.

   

Source: https://www.ginzasonypark.jp/e/program/014/
Source:https://www.ginzasonypark.jp/e/program/014/   

Pada pameran ini, Sony menampilkan beberapa karya fotografi yang berhasil memenangi award dari submisi terbuka yang diadakan sebelumnya. Submisi yang diadakan Sony ini merupakan salah satu kompetisi fotografi yang terbesar di dunia. Karya-karya yang masuk ke submisi berasal dari fotografer-fotografer berbagai penjuru dunia. Menurut deskripsi pameran , submisi yang masuk berjumlah 326.997 karya dan pada akhirnya dipilih 250 karya untuk dipamerkan. Karya yang berhasil terpilih selanjutnya dibagi menjadi beberapa kategori tema foto, mulai dari fotografi arsitektur, landscape, motion, culture, portrait, travel, dan lainnya.

Credit: David Salvatori, Italy, Shortlist, Open, Natural World & Wildlife, 2019 Sony World Photography Awards
Credit: Daniel Portch, United Kingdom, Shortlist, Open, Architecture (Open competition), 2019 Sony World Photography Awards

Pameran ini memakai 3 lantai basement untuk mendisplay karya-karyanya karena foto yang dipamerkan sangat banyak. Saat masuk ke tempat pameran, pengunjung dapat bebas melihat karya tanpa berurutan karena karya yang dipamerkan dibagi sesuai temanya masing-masing. Karya pun dipajang dengan segmentasi 1 tema foto di 1 panel kayu sehingga foto-foto dengan tema seragam didisplay di 1 panel kayu yang sama. Foto yang dipajang juga memiliki variasi ukuran yang berbeda. Karya yang memenangkan juara 1 memiliki ukuran yang paling besar dibandingkan juara yang lainnya. Beberapa karya juga ada yang didisplay khusus tanpa menggunakan segmentasi 1 tema di 1 panelkayu, seperti misalnya untuk karya dengan tema photo series sehingga setiap 1 photo series dipajang di 1 panel kayu yang sama. Instalasi yang dipakai untuk mendisplay karyanya pun cukup sederhana dan juga memudahkan pengunjung untuk menikmati foto dan juga membaca deskripsinya.

 

Hal yang paling menarik dari pameran ini adalah profesionalitas dari para kurator dan juga para pembuat karya; terlihat dari tingginya kualitas dari foto-foto yang dipamerkan dan juga deskripsi tiap fotonya. Hal ini tentu sangat penting sebab kompetisi yang diadakan pun merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Mungkin, hal ini adalah poin yang harus dicontoh pada setiap penyelenggaraan pameran, yaitu dengan menunjukkan profesionalisme dalam mengadakan pameran, terutama dari segi kurator dan juga pembuat karyanya dalam proses kurasi, pembuatan karya, dan juga eksekusi finishing dari karyanya.

Penulis: Fakhrell Saqfan Izzan