Category Archives: Portofolio

Ganesha Exhibition Programme: Kausarupa

Pameran tahunan LFM kembali lagi, yaitu Ganesha Exhibition Programme, yang tahun ini berjudul “Kausarupa” yang berasal dari kata “kausa” dan “rupa”. “Kausa” berarti sebab dari suatu kejadian, sedangkan “rupa” adalah tampak luar seseorang. Gabungan kata tersebut memiliki makna yang sejalan dengan tema GEP tahun ini, yaitu semua elemen yang menjadikan manusia sebagai dirinya sekarang. Archetype adalah elemen-elemen pembentuk pribadi seseorang dan tema GEP kali ini diangkat dari empat major elemennya, yaitu Persona, Shadow, Anima/Animus, dan Self. Persona, topeng yang selalu kita pakai di setiap interaksi publik yang menunjukkan seseorang yang ingin kita tiru akan tetapi bukan kita sebenarnya, Shadow, kualitas-kualitas inferior yang kita sembunyikan dan bendung agar tidak terlihat oleh siapapun kecuali diri kita sendiri, Anima/Animus, kedua sisi di koin yang sama dengan anima menggambarkan sisi maskulin di wanita dan animus yang menggambarkan sisi feminim di pria, dan terakhir, Self, penyatuan dari alam tidak sadar dan sadar, harmonisasi dari segala aspek yang kita perlihatkan dan sembunyikan. 

 

GEP tahun ini dilaksanakan selama enam hari pada tanggal 8-13 November 2021. Sama dengan tahun lalu, berbeda dengan biasanya, GEP tahun ini dilaksanakan secara online dengan menggunakan web sebagai wadah menampilkan karya-karya kru.Dengan menggunakan website https://kausarupa.com/ sebagai wadahnya, tidak hanya menampilkan karya fotografi, videografi, dan kineklub, GEP tahun ini juga mengadakan talkshow dengan judul “Learn Every Aspect of Yourself” yang dibawaan oleh Shafira Fawzia pada hari pertamanya. Dilanjutkan dengan nonton dan ngobrolin karya pada hari kedua sampai kelima, GEP Kausarupa ditutup dengan talkshow dengan judul “Accepting Yourself” oleh Hilda Soedjito. Pameran ini dikunjungi oleh mahasiswa ITB, komunitas fotografi, videografi, dan kineklub, dan masyarakat umum sekitar. Kami tunggu di GEP tahun selanjutnya!

Pertunjukan Challenge #1

Pertunjukan Challenge kali ini mengangkat topik menyajikan karya dalam media website selaras dengan selesainya kelas internal pertunjukan untuk memaksimalkan UI/UX dalam website pameran.

Para kru akan disediakan karya dari Dinding Karya #5, When A Once Upon A Time Ends atau karya kru sendiri. Dengan menggunakan WIX sebagai platform utama, kru dibebaskan untuk berkreasi di dalamnya dengan wajib menyertakan homepage dan page isi karya. Nah, dengan mempertimbangkan layout karya dan seberapa interaktifnya pameran, berikut adalah karya pemenang Pertunjukan Challenge kali ini serta karya partisipan lain yang enggak kalah kerennya:

https://dasabrasdia.wixsite.com/ptjknchallenge


https://natashatiovanny.wixsite.com/pchallenge


https://avitomridjo.wixsite.com/my-site


https://rizqamiranda.wixsite.com/waouate

BK from Home : Daybreak

Daybreak (n): the time in the morning when daylight first appears. Daybreak secara harfiah adalah momen ketika langit malam yang gelap mulai menyambut terangnya matahari pagi. Layaknya langit, kehidupan pun tak selalu terang benderang, ada kalanya kita dilanda gelap gulita. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini yang menyebabkan kekacauan sosio-ekonomi secara masif, ditambah quarter life crisis yang kian menjadi-jadi, serta dinamika kehidupan personal yang tak luput dari isu keluarga, dan pertemanan. Memang betul sekarang bukanlah waktu yang baik untuk berbagai hal, namun janganlah tenggelam, bila waktunya tiba, life will take a turn for the better, just like daybreak. Yang kita perlukan ialah secercah harapan.

Pada bulan Agustus ini, Bioskop Kampus menyelenggarakan sebuah program pemutaran yang bertajuk “BK from Home : Daybreak” dengan taglineEvery Cloud Has Its Silver Lining” yang mengangkat tema tentang optimisme dan harapan yang kerap ditemui di dalam kehidupan setiap orang. Pemutaran kali ini, BK bekerja sama dengan streaming platform Genflix sebagai wadah pemutaran. “BK from Home : Daybreak” memutarkan sembilan filmfilim pendek karya sineas Indonesia yang dibagi menjadi dua sesi, yaitu pada 7 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB dan 8 Agustus 2021 pukul 16.00 WIB. Tidak hanya pemutaran, terdapat juga sesi diskusi bersama sepuluh sineas yang diselenggarakan setelah pemutaran sesi kedua, yaitu pada 8 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB melalui platform Zoom.

Di hari pertama, 7 Agustus 2021, diadakan pemutaran sesi pertama. Pemutaran dibuka oleh Shana Dianra dan Timotius Elvin selaku presenter untuk “BK from Home : Daybreak”. Pada pemutaran ini diputarkan film We karya Aco Tenriyagelli, Masih Ada Natal Malam Ini karya Raihan Pratama Mauladi, Presence of Mind karya M. Danindra SP, Wajah Perempuan dan Masa Lalunya karya Alan Beka, dan Jakarta Subuh karya Syahreza Fahlevi. Sempat terjadi kesalahan teknis pada saat pemutaran film terakhir sehingga film Jakarta Subuh diputar kembali di pemutaran sesi berikutnya.

Di hari kedua, 8 Agustus 2021, diadakan pemutaran sesi kedua dan sesi diskusi bersama sineas – sineas. Sama seperti hari pertama, pemutaran dibuka oleh Shana Dianra dan Timotius Elvin.  Pada pemutaran sesi ini, diputarkan Mimpi Mayla karya Aaliyah Salsabila, Blame Tale karya Farrel R. Asalas, Lama Tak Kembali karya Andhika Godwin, Lasagna  karya Adi Victory, dan Jakarta Subuh karya Syahreza Fahlevi. Pada sesi ini, sempat terjadi kesalahan teknis juga. Akan tetapi, dilakukan pemutaran ulang pada film yang mengalami kesalahan teknis dan pemutaran kembali berjalan dengan baik.

Pada malam harinya di hari kedua, diadakan sesi diskusi di platform Zoom yang dipandu oleh Timotius Elvin selaku MC sekaligus moderator untuk sesi diskusi program pemutaran “BK from Home : Daybreak”. Sineas – sineas yang hadir ada Aco Tenriyagelli sebagai sutradara film We, Raihan Pratama Mauladi sebagai sutradara film Masih Ada Natal Malam Ini,  M. Danindra SP sebagai sutradara film Presence of Mind, Indra Prawiranegara sebagai sutradara film Wajah Perempuan dengan Masa Lalunya, Syahreza Fahlevi sebagai sutradara film Jakarta Subuh, Aaliyah Salsabila sebagai sutradara film  Mimpi Mayla, Farrel R. Asalas sebagai sutradara film Blame Tale, Andhika Godwin sebagai sutradara film Lama Tak Kembali, Adi Victory sebagai sutradara film Lasagna, dan Daniel Victory sebagai produser film Lasagna. Sesi diskusi berlangsung selama 95 menit dan berjalan dengan cukup baik. Partisipan yang hadir cukup antusias untuk bertanya mengenai proses pembuatan film – film yang telah ditayangkan, mulai dari makna tersirat yang ada di film, teknis saat syuting, persiapan sebelum melakukan syuting, dan masih banyak lagi.

BK From Home: Focus on Indonesian B-Movie

Bioskop Kampus yang dilakukan pada tanggal 5 September lalu mengangkat tema B-Movie. Tema ini dipilih karena dilihatnya sebuah potensi dari film kelas B dimana B-Movie ini memiliki peminat dan komunitasnya sendiri. Selain itu, B-Movie belum dikenal secara luas sehingga diharapkan dengan adanya BK From Home: Focus on Indonesian B-Movie masyarakat dapat lebih sadar akan keberadaan B-Movie itu sendiri.  

Dikarenakan masih tidak memungkinkannya dilakukan pemutaran secara offline, maka pemutaran kali ini masih menggunakan sistem daring. Masih sama seperti Bioskop Kampus sebelumnya (Bioskop Kampus from Home: Amidst the Pandemic), Bioskop Kampus kali ini masih menggunakan platform youtube. Jika kemarin menggunakan playlist youtube, kali ini Bioskop Kampus menggunakan fitur live streaming youtube sehingga dapat lebih terasa suasana “nonton bareng”-nya. Selain itu, dengan digunakannya live stream maka reaksi penonton pada saat pemutaran dapat langsung dirasakan. Pemutaran film sendiri hanya bisa diakses oleh penonton yang memiliki link. Live streaming youtube dimulai sejak pukul 19.30-20.15 dan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama sineas. 

Pada pemutaran bioskop kampus kali ini, dipilih 4 film B-movie. Tiap film memiliki keunikannya tersendiri, baik secara visual maupun temanya, seperti “Neon City Files” dengan kesan cyberpunk dan warna neonnya; “Darah Untuk Anakku” yang memiliki tema mistis berbalut religi; “Pendekar Cyborg” dengan visual retro; serta “Azabku Azabmu” dengan darah dan unsur spiritualnya.

Selain melalui platform google meet, diskusi bersama sineas juga disiarkan melalui live stream di youtube channel LFM ITB. Diskusi ini dipimpin oleh moderator, jika penonton memiliki pertanyaan maka dituliskan di kolom komentar dan akan dibacakan oleh moderator. Diskusi sendiri berfokus pada topik mengenai B-Movie itu sendiri. Menurut para sineas, B-Movie merupakan film yang diproduksi secara low budget atau bahkan no budget at all. Diskusi kali ini berlangsung meriah, penonton aktif bertanya di kolom komentar ditambah lagi dengan antusiasme dari para sineas yang membuat suasana diskusi menjadi lebih seru.

Walaupun dilaksanakan secara online dan tidak bisa bertatap muka secara langsung, BK From Home: Focus on Indonesian B-Movie berlangsung secara lancar dan meriah. Penonton dan sineas pun aktif berpartisipasi dalam pemutaran  dan diskusi. Harapannya, dengan pemutaran BK kali ini penonton dapat lebih sadar akan film kelas B yang ada di Indonesia.

Ditulis oleh Ratih Purnama Dewi (Kru ’19)

Bincang Ria!: Strategi Pemasaran Pameran Online

Menanggapi situasi dunia yang mengharuskan semua orang menerapkan social distancing, telah hadir beragam pameran yang dilakukan secara online. Sama halnya dalam pameran secara offline, dibutuhkan strategi yang tepat agar tujuan dari ekshibisi yang dilakukan dapat tersampaikan. Bincang Ria kali ini mengupas tentang hal tersebut bersama Bagas Mahardika dari Pameran TPB FSRD ITB 2019 “Bula Fabula” dan Nadhif Adristia dari Pameran Tugas Akhir IMA-G ITB “Epilogue”. 

BULA FABULA

Bula Fabula merupakan pameran yang diadakan oleh TPB FRD ITB angkatan 2019. Pameran ini menggarap konsep game based untuk pamerannya. Pengunjung akan diminta untuk menemukan jalur menuju pameran per program studi yang ada pada FSRD ITB beserta mahasiswa 2019 yang menjadi bagian dari prodi tersebut melalui fitur yang tersedia pada instagram seperti tagging dan hashtag yang berada di akun Bula Fabula.  Berikut merupakan strategi serta tips and trick yang diberikan oleh Bagas Mahardika selaku ketua pelaksanadari Bula Fabula

  • Visual and Concept
  1. Search for something unique, never seen before.
  2. Look for a BUNCH of references for your works.
  3. If you feel like improving something that already existed, try on what makes it new!
  4. Appealing Color Palette is a must!
  5. Have a visual guide!  

 

  • Pre-event, event
  1. Make a flow on each event or day(s). So you can decide whether the event should require mass engagement or not.
  2. Make people question your project (Propaganda).
  3. Build a hype towards your brand/exhibition/event.
  4. Always upload/post something on High Traffic Hours

  

  • Publication and relation 
  1. Search for relevant Media/Partners to build engagement and discoveries.
  2. If possible, make a collaboration with Influencers/relevant institutions as a Pre-Event or Post-Event.
  3. Create an Interactive Publications (Make people want to share your events too)
  4. Propaganda can really be a boost for early game if you can make it interesting.  

“Jadikan Key Performance Indicator (KPI) sebagai salah satu acuan dalam mencapai target audience acara yang akan dilaksanakan. Jika targetnya adalah kisaran umur sekian, kira-kira desain apa yang cocok untuk memikat mereka?

Berikan sesuatu yang menarik perhatian dan membuat para pengunjung memutuskan untuk mengikuti akun acara tersebut, dan selalu berikan konten berkelanjutan yang menarik namun juga relevan.”

EPILOGUE  

Epilogue merupakan Pameran Tugas Akhir Program Studi Arsitektur ITB oleh IMA-Gunadharma. Epilogue biasanya diadakan di Galeri Arsitektur secara fisik dan 3 kali dalam setahun yaitu April, Juli, dan Oktober. Namun, dikarenakan adanya pandemi, Epilogue kali ini diadakan secara online.

Epilogue kali ini menggarap tema fase/siklus. Fase/siklus merupakan bagian penting dalam hal arsitektur. Sebuah proses desain tidaklah lepas dari suatu pengembangan ide/konsep/tema yang kemudian hari akan membuahkan suatu hasil akhir, lalu kembali lagi ke titik awal. Lantas, menjadi sebuah siklus.

Konsep ini dinilai mampu membawa nilai PAMTA (Pameran Tugas Akhir) dalam hal proses pengembangan suatu ide, yang kemudian dapat menjadi inspirasi bagi audiens. Nilai yang ingin diangkat pada pameran ini ialah proses, pengembangan, interaktif, inspiratif, serta eksploratif.

  • Desain Pameran
  1. Menuangkan pengalaman tiga dimensi ke ranah dua dimensi
  2. Desain yang efektif dan efisien dalam menyampaikan seluruh informasi
  3. Appealing untuk semua kalangan:

a. Interface user-friendly

b. Penambahan grafis visualisasi

c. Estetika

4. Membentuk identitas akan pameran itu sendiri/ BRANDING

 

  • Strategi Marketing

1.Publikasi Rutin:

a. Mengunggah minimal 1 post & snapgram setiap hari saat sudah H-10 ekshibisi

b. Mengunggah minimal 1 post setiap hari setelah ekshibisi dimulai

a. Pra-ekshibisi:

Membuat cuplikan konten, membiasakan pengunjung dengan interface, membuat countdown

b. Ekshibisi Utama:

Mempublikasikan konten-konten utama, mengevaluasi potensi konten untuk dieksplorasi, me-maintain momentum

c. Penutup Acara:

Membuat pengunjung kembali ke ekshibisi, menambahkan konten eksploratif, mengadakan acara dengan media partner

3. Kerja sama media partner tepat sasaran

4. Audience engagement

5. Peer-to-peer marketing 

6. PUBLIKASI -> gimmick

a. Filter instagram

b. Konten komedik

c. Playlist musik

d. Cuplikan/ Sneak Peek

e. Challenges

f. Twibbon

Ditulis oleh: Kirana Pavita

Bioskop Kampus from Home: Amidst the Pandemic

Kini virus corona telah menyebar begitu cepat hampir ke seluruh dunia. Hal ini menuntut pemerintah untuk melakukan kampanye work from home, sehingga seluruh masyarakat tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Kondisi buruk tersebut sangat mempengaruhi berbagai hal, termasuk dunia perfilman. Adanya kewajiban perilaku social distancing membuat proses penggarapan film terhambat. Tetapi bagi beberapa penggiat film, situasi ini justru digunakan sebagai ajang untuk menghasilkan karya dengan metode baru.

Pada kesempatan kali ini, Bioskop Kampus LFM ITB ingin menjadi wadah distribusi film-film alternatif yang diproduksi selama masa pandemi dengan mengadakan pemutaran BK from Home : Amidst the Pandemic. Pemutaran film diadakan secara online melalui platform youtube playlist agar penonton fleksibel dengan durasi yang lebih banyak, dibuka tanggal 18 Juli 2020 dan ditutup pada keesokan harinya. Bersamaan dengan ditutupnya akses film, tanggal 19 Juli 2020 dilakukan diskusi melalui platform google meet bersama sineas-sineas yang filmnya telah diputarkan. Penonton melontarkan pertanyaan untuk para sineas pada kolom chat google meet dan sesi diskusi ini juga ditampilkan secara live di youtube.

Terdapat enam film yang ditampilkan pada pemutaran kali ini. Tiga film diantaranya membawakan kisah yang relatable terhadap penonton dengan memakai latar belakang Covid-19, yaitu Is It Over Yet?, Lockdown, dan The Virtual Life, sedangkan tiga film lainnya, yaitu Complexion of Live/Dead, Last Night Affairs, dan Casting Call At R mengangkat tema yang berbeda. Alur cerita kompleks dengan teknik pengambilan gambar variatif yang digunakan memberi penyampaian sederhana sekaligus insight baru secara artistik kepada penonton.

Selama ini bioskop kampus diadakan di 9009, karena ingin mempertahankan nilai sejarahnya. Selain itu, feel “nonton bareng” dan diskusi juga lebih terasa berkat ramainya pengunjung. Bioskop Kampus kali ini memang sangat berbeda. Namun, dapat terlihat bahwa pemutaran online memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang untuk turut menyaksikan pemutaran Bioskop Kampus, terutama untuk orang – orang yang berada diluar kawasan Bandung. Sesi diskusi pun dapat berjalan seperti biasa meskipun melalui media yang berbeda. Dapat kita tarik suatu hal dari pemutaran online yang dilakukan pada masa pandemi ini, yaitu segala keterbatasan adalah tantangan yang bisa diubah menjadi sebuah gagasan. Oleh karena itu, dunia perfilman ini diharapkan masih bisa berkembang walau dengan cara yang berbeda. 

Ditulis oleh Lulu Nur Latifa

Wall Of Pertunjukan

Wall! of Pertunjukan merupakan dinding yang terdapat pada bagian belakang sekretariat LFM ITB. W!OP ini merupakan ruang eksibisi yang dimiliki oleh LFM ITB dan dimanfaatkan oleh Bidang Pertunjukan sebagai sarana latihan kru dalam membuat pameran dengan mengadakan challenge.

W!oP pertama diselenggarakan dengan tema “OSKM dari Tahun ke Tahun”.  Yaitu menampilkan foto-foto dokumentasi sosial mengenai OSKM ITB yang dimiliki oleh LFM ITB. W!OP kali ini dilayout oleh Bryan Hafidz Abdulaziz TK’18. Dalam layout foto bryan ini, Bryan membandingkan kedua momen yang terlihat memiliki gestur atau acara yang sama namun berbeda tahun.

W!oP kedua ini menampilkan seri foto pemenang “Tantangan Liburan” dari Bidang Fotografi. Dalam challenge W!oP ini Bidang Pertunjukan menginginkan kru untuk dapat menata letak foto dan mengeksplorasi cara menampilkan karya di W!oP dengan menyediakan lampu sorot, lampu tumblr, dan Media Bahan (Kertas Foto/Kertas Kalkir/Kain), yang kemudian dimenangkan oleh Monica Mayrene Kurniawan (Kru 2018). Monica melakukan eksplorasi media menggunakan kertas kalkir yang diberikan lampu di dalam kotaknya sehingga memberikan efek bercahaya dari dalam.

Wall! Of Pertunjukan yang ketiga bekerjasama dengan Bidang Kineklub LFM ITB untuk memamerkan karya review film yang dimiliki oleh Kru LFM ITB. Karya kineklub yang ditampilkan adalah berupa video yang dinamakan dengan Vine (Video Kine), Podcast, dan Tulisan. Ketiga karya tersebut dapat diakses di media-media yang dimiliki oleh Kineklub LFM ITB. Challenge W!oP ini dilaksanakan pada bulan November 2020 dan direalisasikan pada Desember 2020. W!OP kali ini diikuti dan dilayout oleh: Indira Anjanique (Kru 2018), Kirana Pavita (Kru 2018), dan Ajani Raushanfikra (Kru 2018). Ketiganya memadukan ide masing-masing yang memiliki kata kunci interaktif.  Dalam W!OP ini layouter menginginkan adanya interaksi dengan dinding W!OP dengan adanya bubble wrap yang ditempelkan sebagai interaksi dengan pengunjung dan sticker yang disediakan untuk dapat ditempelkan ke dinding W!OP.

Wall! Of Pertunjukan yang keempat bekerjasama dengan Manajerial Bioskop Kampus untuk memamerkan atau menjadi pengantar pameran dan pemutaran yang diadakan oleh Bioskop Kampus dengan tema 16 mm. Dalam W!OP kali ini dipamerkan dokumentasi pelaksanaan BK terdahulu yang dibuat interaktif. Konsep yang dipilih dalam W!OP ini adalah konsep penyatuan dan penggeseran yang dilakukan oleh Hafiza Alifia Putri (Kru 2019), Clara Adam Sugiharto (Kru 2019), dan Meidiana Setiani Zulri (Kru 2019). 

Wall! Of Pertunjukan yang ke-5 bekerjasama dengan Bidang Videografi LFM ITB untuk memamerkan karya videografi dalam rangka menyemarakkan karya videografi spesial milik kruba. W!OP kali ini memiliki kata kunci konsep yaitu “Mengintip Karya Videografi”. W!OP kali ini dimenangkan oleh Tim Dilham (Kru ‘19), Adeline Alika (Kru ‘19), dan Zulafa Azmi (Kru ‘19). Konsep tim tersebut adalah dengan melubangkan papan WOP sebagai intepretasi dari challenge yaitu mengintip langsung karya berupa poster film tersebut yang dipadankan dengan sinopsis masing-masing film.

Ganesha Exhibition Programme: Ragam Rasam

Liga Film Mahasiswa ITB adalah sebuah unit kegiatan mahasiswa berbasis pendidikan dan organisasi komunitas independen. LFM ITB berfokus pada empat bidang, yaitu Fotografi, Videografi, Kineklub, dan Pertunjukan.

Masing-masing bidang dibentuk sebagai wadah bagi kru untuk berkarya. Untuk mengapresiasi karya yang terlah dihasilkan oleh kru LFM ITB, Bidang Pertunjukan hadir sebagai wadah yang dapat mengadakan kegiatan pameran karya untuk menampilkan karya fotografi, videografi, dan kineklub.

Ganesha Exhibition Programme (GEP) adalah salah satu program kerja yang dinaungi oleh Bidang Pertunjukan. GEP pertama kali dilaksanakan pada tahun 2010 dan kemudian menjadi program kerja rutin LFM ITB pada setiap tahunnya.

GEP dapat berfungsi sebagai wadah utnuk berkarya secara eksploratif bagi kru LFM ITB, menjadi sarana untuk mengapresiasi karya kru dalam bentuk pameran, srta dapat memberi pesan yang perlu disampaikan kepada masyarakat luar.

GEP menampilkan karya kru LFM ITB pda bidang Fotografi, Videografi, dan kineklub setelah proses submisi dan kurasi. Pada November 2019, GEP hadir dengan tema besar yang diangkat yaitu kultur / budaya, dimana kita ingin memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia, serta perubahan dan perbedaan yang terdapat pada budaya kita sekarang. Pesan yang ingin disampaikan adalah pesan persatuan, melalui media kekaryaan fotografi, videografi, dan kineklub. Aspek yang ditinjau dapat meliputi aspek agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, bangunan, dan karya seni.

Indonesia memiliki budaya yang berlimpah. Keragaman budaya telah menjadi identitas bangsa Indonesia. Indonesia dibangun di atas banyaknya budaya, agama, bahasa, etnis, dan suku bangsa. Di era globalisasi, mulai terjadi penetrasi budaya asing yang masuk ke Indonesia sehingga melunturkan budaya lokal dan munculnya budaya baru yang terbentuk dari proses akulturasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga budaya Indonesia. Langkah awal untuk menjaga budaya adalah dengan mengenal budaya indonesia itu sendiri yang kemudian bisa kita jaga dan lestarikan. 

Ada dua poin penting yang menjadi dasar dari tema “Kultur Indonesia” yaitu kultur dan Identitas. Kultur sendiri memiliki arti suatu cara perkembangan gaya hidup yang dimiliki bersama oleh sekelompok masyarakat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sedangkan identitas adalah sebuah karakter yang melekat pada kebudayaan, sehingga bisa dibedakan budaya satu dengan lainya. Aspek yang ingin ditinjau dalam proses kekaryaan GEP didasarkan dari 7 unsur budaya dalam ilmu etnofotografi, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, sistem sosial atau kemasyarakatan, sistem peralatan dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Sedangkan untuk identitas, SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) diguanakan sebagai dasar identitas suatu budaya.

Bioskop Kampus: Kurasi Jaman

Pemutaran Bioskop Kampus dari waktu ke waktu selalu bereksperimen mengenai berbagai macam hal berbeda dalam memberikan pengalaman pemutarannya. Tak kalah dengan yang sebelumnya, Bioskop Kampus yang diadakan pada tanggal 4 Oktober 2019 kali ini berkolaborasi dengan ITB Insight dalam memberikan pengalaman yang unik untuk para penonton setia. Dengan tajuk Bioskop Kampus “Kurasi Jaman”, pemutaran film-film pendek ini mengharapkan penonton untuk terbawa ke dalam suasana perkembangan zaman yang hadir di peradaban manusia; baik masa lampau ataupun masa depan.

Pemutaran film pada Bioskop Kampus “Kurasi Jaman” merupakan pemutaran yang mengangkat isu seleksi zaman-zaman peradaban manusia akibat pengaruh teknologi.  Terdapat lima film yang diputarkan dan dibagi dalam dua sesi pemutaran. Lima film yang dimulai pada pukul 19.00 tersebut adalah Dino oleh XX, Laki-Laki Virtual oleh XX, Oldies Buddies oleh XX, Beta_test oleh XX, Lazy Susan oleh XX, dan Djakarta 00 oleh XX. Selain pemutaran, terdapat pula pembagian hadiah bagi yang dapat menjawab pertanyaan kuis dan sesi diskusi di akhir pemutaran.

Sesi diskusi yang dipimpin moderator memiliki topik pembahasan mengenai tema dan film-film itu sendiri; tentang perkembangan peradaban manusia dalam hal teknologi. Dua pembicara yang diundang adalah Thoriq sebagai film-enthusiast dan El sebagai representatif dari ITB Insight 2019. Isu yang dibahas begitu seru karena berkaitan dengan tingkah laku kita sendiri dan sejarah penggunaan teknologi di sekitar kita yang ternyata sangat berpengaruh.

Pensuasanaan “Kurasi Jaman” itu pun dibangun dengan penambahan instalasi futuristik yang memberikan kesan modern; seperti lorong LED dan piano tiles saat memasuki ruang 9009, hologram 3D di tengah ruang pemutaran dan tentunya klip pembuka ala-ala perjalanan waktu saat pemutaran dimulai. Hal-hal tersebulah yang membuat Bioskop Kampus kali ini berbeda dengan biasanya; tidak hanya film-filmnya namun juga instalasi yang mendukung tema tersebut. Kolaborasi BK x ITB Insight 2019 merupakan pre-event dari pameran ITB Insight 2019 yang di adakan pada tanggal 24 November 2019. Pameran ITB Insight 2019 itu sendiri merupakan pameran hasil karya mahasiswa jurusan Teknik Fisika yang berkaitan, tentunya lagi, teknologi futuristik.

Penulis: Aulia Fadlillah Puteri Solikhan

Bioskop Kampus: Metamorfosa

Sudah sekian tahun ITB mengadakan Open House Unit—wahana mahasiswa untuk berkenalan dengan unit kegiatan mahasiswa yang tersebar di kampus—dan sudah sekian tahun pula Liga Film Mahasiswa mengadakan Bioskop Kampus edisi OHU pada tanggal yang berdekatan, dimana pada pemutaran kali ini diadakan seminggu setelah acara OHU agar seluruh massa kampus dapat sama-sama menikmatinya. Bioskop Kampus OHU istimewa karena selalu ada penonton baru yang datang, yaitu mahasiswa angkatan termuda di ITB. Bagi mahasiswa baru (dan mungkin tak hanya bagi mereka saja), kehidupan kampus dingiangi pertanyaan yang belum terjawab: setelah semua ini akan jadi apa aku kelak? Tanya yang akan mengonsumsi kaum muda hingga mereka bisa menemukan jati diri mereka.

Pemutaran film pada Bioskop Kampus “Metamorfosa” berangkat dari persoalan itu. Lima film yang terpilih—Kosan Magnet, 1 Liter, Ve, Lembar Jawaban Kita, dan Carnivale—dibagi dalam tiga sesi pemutaran. MC Tsaniya M dan Ramadida P memulai acara pukul 18.45, dan 15 menit kemudian pemutaran dimulai. Dalam setiap jeda sesi, ada pembagian doorprize berupa merchandise BK kepada dua penonton beruntung. Selesai pemutaran, sesi diskusi pun dimulai.

Ada tiga pembicara yang diundang, yaitu Frida Caturima selaku sutradara film Ve, Abdalah Gifar Abisena sebagai penulis naskah film Lembar Jawaban Kita, dan Ibrahim Fadhil sebagai Ketua Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM) ITB 2019. Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Rasyid A ini, salah satu poin yang menarik adalah cara masing-masing pembicara memaknai jati diri. Bagi Mas Abisena, jati diri ditentukan oleh yang kita hasilkan, karya kita; ia menganalogikan diri sebagai pohon, dengan akar yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing ikut-ikutan orang dan jenis pohon yang baru ketahuan dari buah yang dihasilkan (re: karya). Sementara bagi Frida, jati diri mungkin butuh waktu lama untuk ditemukan, namun itu bukanlah suatu masalah. Ibra sendiri menekankan pentingnya eksplorasi dan keluar dari zona nyaman agar kenal jati diri.

Selesai diskusi, Salwa R sebagai pemimpin produksi BK OHU menyerahkan sertifikat pada pembicara sambil foto bersama. Kemudian acara dilanjutkan pada dengan sesi kuis mengenai film-film yang ditampilkan.

Penulis: Chris Aji