Category Archives: Portofolio

BK From Home: Focus on Indonesian B-Movie

Bioskop Kampus yang dilakukan pada tanggal 5 September lalu mengangkat tema B-Movie. Tema ini dipilih karena dilihatnya sebuah potensi dari film kelas B dimana B-Movie ini memiliki peminat dan komunitasnya sendiri. Selain itu, B-Movie belum dikenal secara luas sehingga diharapkan dengan adanya BK From Home: Focus on Indonesian B-Movie masyarakat dapat lebih sadar akan keberadaan B-Movie itu sendiri.  

Dikarenakan masih tidak memungkinkannya dilakukan pemutaran secara offline, maka pemutaran kali ini masih menggunakan sistem daring. Masih sama seperti Bioskop Kampus sebelumnya (Bioskop Kampus from Home: Amidst the Pandemic), Bioskop Kampus kali ini masih menggunakan platform youtube. Jika kemarin menggunakan playlist youtube, kali ini Bioskop Kampus menggunakan fitur live streaming youtube sehingga dapat lebih terasa suasana “nonton bareng”-nya. Selain itu, dengan digunakannya live stream maka reaksi penonton pada saat pemutaran dapat langsung dirasakan. Pemutaran film sendiri hanya bisa diakses oleh penonton yang memiliki link. Live streaming youtube dimulai sejak pukul 19.30-20.15 dan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama sineas. 

Pada pemutaran bioskop kampus kali ini, dipilih 4 film B-movie. Tiap film memiliki keunikannya tersendiri, baik secara visual maupun temanya, seperti “Neon City Files” dengan kesan cyberpunk dan warna neonnya; “Darah Untuk Anakku” yang memiliki tema mistis berbalut religi; “Pendekar Cyborg” dengan visual retro; serta “Azabku Azabmu” dengan darah dan unsur spiritualnya.

Selain melalui platform google meet, diskusi bersama sineas juga disiarkan melalui live stream di youtube channel LFM ITB. Diskusi ini dipimpin oleh moderator, jika penonton memiliki pertanyaan maka dituliskan di kolom komentar dan akan dibacakan oleh moderator. Diskusi sendiri berfokus pada topik mengenai B-Movie itu sendiri. Menurut para sineas, B-Movie merupakan film yang diproduksi secara low budget atau bahkan no budget at all. Diskusi kali ini berlangsung meriah, penonton aktif bertanya di kolom komentar ditambah lagi dengan antusiasme dari para sineas yang membuat suasana diskusi menjadi lebih seru.

Walaupun dilaksanakan secara online dan tidak bisa bertatap muka secara langsung, BK From Home: Focus on Indonesian B-Movie berlangsung secara lancar dan meriah. Penonton dan sineas pun aktif berpartisipasi dalam pemutaran  dan diskusi. Harapannya, dengan pemutaran BK kali ini penonton dapat lebih sadar akan film kelas B yang ada di Indonesia.

Ditulis oleh Ratih Purnama Dewi (Kru ’19)

Bincang Ria!: Strategi Pemasaran Pameran Online

Menanggapi situasi dunia yang mengharuskan semua orang menerapkan social distancing, telah hadir beragam pameran yang dilakukan secara online. Sama halnya dalam pameran secara offline, dibutuhkan strategi yang tepat agar tujuan dari ekshibisi yang dilakukan dapat tersampaikan. Bincang Ria kali ini mengupas tentang hal tersebut bersama Bagas Mahardika dari Pameran TPB FSRD ITB 2019 “Bula Fabula” dan Nadhif Adristia dari Pameran Tugas Akhir IMA-G ITB “Epilogue”. 

BULA FABULA

Bula Fabula merupakan pameran yang diadakan oleh TPB FRD ITB angkatan 2019. Pameran ini menggarap konsep game based untuk pamerannya. Pengunjung akan diminta untuk menemukan jalur menuju pameran per program studi yang ada pada FSRD ITB beserta mahasiswa 2019 yang menjadi bagian dari prodi tersebut melalui fitur yang tersedia pada instagram seperti tagging dan hashtag yang berada di akun Bula Fabula.  Berikut merupakan strategi serta tips and trick yang diberikan oleh Bagas Mahardika selaku ketua pelaksanadari Bula Fabula

  • Visual and Concept
  1. Search for something unique, never seen before.
  2. Look for a BUNCH of references for your works.
  3. If you feel like improving something that already existed, try on what makes it new!
  4. Appealing Color Palette is a must!
  5. Have a visual guide!  

 

  • Pre-event, event
  1. Make a flow on each event or day(s). So you can decide whether the event should require mass engagement or not.
  2. Make people question your project (Propaganda).
  3. Build a hype towards your brand/exhibition/event.
  4. Always upload/post something on High Traffic Hours

  

  • Publication and relation 
  1. Search for relevant Media/Partners to build engagement and discoveries.
  2. If possible, make a collaboration with Influencers/relevant institutions as a Pre-Event or Post-Event.
  3. Create an Interactive Publications (Make people want to share your events too)
  4. Propaganda can really be a boost for early game if you can make it interesting.  

“Jadikan Key Performance Indicator (KPI) sebagai salah satu acuan dalam mencapai target audience acara yang akan dilaksanakan. Jika targetnya adalah kisaran umur sekian, kira-kira desain apa yang cocok untuk memikat mereka?

Berikan sesuatu yang menarik perhatian dan membuat para pengunjung memutuskan untuk mengikuti akun acara tersebut, dan selalu berikan konten berkelanjutan yang menarik namun juga relevan.”

EPILOGUE  

Epilogue merupakan Pameran Tugas Akhir Program Studi Arsitektur ITB oleh IMA-Gunadharma. Epilogue biasanya diadakan di Galeri Arsitektur secara fisik dan 3 kali dalam setahun yaitu April, Juli, dan Oktober. Namun, dikarenakan adanya pandemi, Epilogue kali ini diadakan secara online.

Epilogue kali ini menggarap tema fase/siklus. Fase/siklus merupakan bagian penting dalam hal arsitektur. Sebuah proses desain tidaklah lepas dari suatu pengembangan ide/konsep/tema yang kemudian hari akan membuahkan suatu hasil akhir, lalu kembali lagi ke titik awal. Lantas, menjadi sebuah siklus.

Konsep ini dinilai mampu membawa nilai PAMTA (Pameran Tugas Akhir) dalam hal proses pengembangan suatu ide, yang kemudian dapat menjadi inspirasi bagi audiens. Nilai yang ingin diangkat pada pameran ini ialah proses, pengembangan, interaktif, inspiratif, serta eksploratif.

  • Desain Pameran
  1. Menuangkan pengalaman tiga dimensi ke ranah dua dimensi
  2. Desain yang efektif dan efisien dalam menyampaikan seluruh informasi
  3. Appealing untuk semua kalangan:

a. Interface user-friendly

b. Penambahan grafis visualisasi

c. Estetika

4. Membentuk identitas akan pameran itu sendiri/ BRANDING

 

  • Strategi Marketing

1.Publikasi Rutin:

a. Mengunggah minimal 1 post & snapgram setiap hari saat sudah H-10 ekshibisi

b. Mengunggah minimal 1 post setiap hari setelah ekshibisi dimulai

a. Pra-ekshibisi:

Membuat cuplikan konten, membiasakan pengunjung dengan interface, membuat countdown

b. Ekshibisi Utama:

Mempublikasikan konten-konten utama, mengevaluasi potensi konten untuk dieksplorasi, me-maintain momentum

c. Penutup Acara:

Membuat pengunjung kembali ke ekshibisi, menambahkan konten eksploratif, mengadakan acara dengan media partner

3. Kerja sama media partner tepat sasaran

4. Audience engagement

5. Peer-to-peer marketing 

6. PUBLIKASI -> gimmick

a. Filter instagram

b. Konten komedik

c. Playlist musik

d. Cuplikan/ Sneak Peek

e. Challenges

f. Twibbon

Ditulis oleh: Kirana Pavita

Bioskop Kampus from Home: Amidst the Pandemic

Kini virus corona telah menyebar begitu cepat hampir ke seluruh dunia. Hal ini menuntut pemerintah untuk melakukan kampanye work from home, sehingga seluruh masyarakat tidak dapat beraktivitas seperti biasa. Kondisi buruk tersebut sangat mempengaruhi berbagai hal, termasuk dunia perfilman. Adanya kewajiban perilaku social distancing membuat proses penggarapan film terhambat. Tetapi bagi beberapa penggiat film, situasi ini justru digunakan sebagai ajang untuk menghasilkan karya dengan metode baru.

Pada kesempatan kali ini, Bioskop Kampus LFM ITB ingin menjadi wadah distribusi film-film alternatif yang diproduksi selama masa pandemi dengan mengadakan pemutaran BK from Home : Amidst the Pandemic. Pemutaran film diadakan secara online melalui platform youtube playlist agar penonton fleksibel dengan durasi yang lebih banyak, dibuka tanggal 18 Juli 2020 dan ditutup pada keesokan harinya. Bersamaan dengan ditutupnya akses film, tanggal 19 Juli 2020 dilakukan diskusi melalui platform google meet bersama sineas-sineas yang filmnya telah diputarkan. Penonton melontarkan pertanyaan untuk para sineas pada kolom chat google meet dan sesi diskusi ini juga ditampilkan secara live di youtube.

Terdapat enam film yang ditampilkan pada pemutaran kali ini. Tiga film diantaranya membawakan kisah yang relatable terhadap penonton dengan memakai latar belakang Covid-19, yaitu Is It Over Yet?, Lockdown, dan The Virtual Life, sedangkan tiga film lainnya, yaitu Complexion of Live/Dead, Last Night Affairs, dan Casting Call At R mengangkat tema yang berbeda. Alur cerita kompleks dengan teknik pengambilan gambar variatif yang digunakan memberi penyampaian sederhana sekaligus insight baru secara artistik kepada penonton.

Selama ini bioskop kampus diadakan di 9009, karena ingin mempertahankan nilai sejarahnya. Selain itu, feel “nonton bareng” dan diskusi juga lebih terasa berkat ramainya pengunjung. Bioskop Kampus kali ini memang sangat berbeda. Namun, dapat terlihat bahwa pemutaran online memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang untuk turut menyaksikan pemutaran Bioskop Kampus, terutama untuk orang – orang yang berada diluar kawasan Bandung. Sesi diskusi pun dapat berjalan seperti biasa meskipun melalui media yang berbeda. Dapat kita tarik suatu hal dari pemutaran online yang dilakukan pada masa pandemi ini, yaitu segala keterbatasan adalah tantangan yang bisa diubah menjadi sebuah gagasan. Oleh karena itu, dunia perfilman ini diharapkan masih bisa berkembang walau dengan cara yang berbeda. 

Ditulis oleh Lulu Nur Latifa

Wall Of Pertunjukan

Wall! of Pertunjukan merupakan dinding yang terdapat pada bagian belakang sekretariat LFM ITB. W!OP ini merupakan ruang eksibisi yang dimiliki oleh LFM ITB dan dimanfaatkan oleh Bidang Pertunjukan sebagai sarana latihan kru dalam membuat pameran dengan mengadakan challenge.

W!oP pertama diselenggarakan dengan tema “OSKM dari Tahun ke Tahun”.  Yaitu menampilkan foto-foto dokumentasi sosial mengenai OSKM ITB yang dimiliki oleh LFM ITB. W!OP kali ini dilayout oleh Bryan Hafidz Abdulaziz TK’18. Dalam layout foto bryan ini, Bryan membandingkan kedua momen yang terlihat memiliki gestur atau acara yang sama namun berbeda tahun.

W!oP kedua ini menampilkan seri foto pemenang “Tantangan Liburan” dari Bidang Fotografi. Dalam challenge W!oP ini Bidang Pertunjukan menginginkan kru untuk dapat menata letak foto dan mengeksplorasi cara menampilkan karya di W!oP dengan menyediakan lampu sorot, lampu tumblr, dan Media Bahan (Kertas Foto/Kertas Kalkir/Kain), yang kemudian dimenangkan oleh Monica Mayrene Kurniawan (Kru 2018). Monica melakukan eksplorasi media menggunakan kertas kalkir yang diberikan lampu di dalam kotaknya sehingga memberikan efek bercahaya dari dalam.

Wall! Of Pertunjukan yang ketiga bekerjasama dengan Bidang Kineklub LFM ITB untuk memamerkan karya review film yang dimiliki oleh Kru LFM ITB. Karya kineklub yang ditampilkan adalah berupa video yang dinamakan dengan Vine (Video Kine), Podcast, dan Tulisan. Ketiga karya tersebut dapat diakses di media-media yang dimiliki oleh Kineklub LFM ITB. Challenge W!oP ini dilaksanakan pada bulan November 2020 dan direalisasikan pada Desember 2020. W!OP kali ini diikuti dan dilayout oleh: Indira Anjanique (Kru 2018), Kirana Pavita (Kru 2018), dan Ajani Raushanfikra (Kru 2018). Ketiganya memadukan ide masing-masing yang memiliki kata kunci interaktif.  Dalam W!OP ini layouter menginginkan adanya interaksi dengan dinding W!OP dengan adanya bubble wrap yang ditempelkan sebagai interaksi dengan pengunjung dan sticker yang disediakan untuk dapat ditempelkan ke dinding W!OP.

Wall! Of Pertunjukan yang keempat bekerjasama dengan Manajerial Bioskop Kampus untuk memamerkan atau menjadi pengantar pameran dan pemutaran yang diadakan oleh Bioskop Kampus dengan tema 16 mm. Dalam W!OP kali ini dipamerkan dokumentasi pelaksanaan BK terdahulu yang dibuat interaktif. Konsep yang dipilih dalam W!OP ini adalah konsep penyatuan dan penggeseran yang dilakukan oleh Hafiza Alifia Putri (Kru 2019), Clara Adam Sugiharto (Kru 2019), dan Meidiana Setiani Zulri (Kru 2019). 

Wall! Of Pertunjukan yang ke-5 bekerjasama dengan Bidang Videografi LFM ITB untuk memamerkan karya videografi dalam rangka menyemarakkan karya videografi spesial milik kruba. W!OP kali ini memiliki kata kunci konsep yaitu “Mengintip Karya Videografi”. W!OP kali ini dimenangkan oleh Tim Dilham (Kru ‘19), Adeline Alika (Kru ‘19), dan Zulafa Azmi (Kru ‘19). Konsep tim tersebut adalah dengan melubangkan papan WOP sebagai intepretasi dari challenge yaitu mengintip langsung karya berupa poster film tersebut yang dipadankan dengan sinopsis masing-masing film.

Ganesha Exhibition Programme: Ragam Rasam

Liga Film Mahasiswa ITB adalah sebuah unit kegiatan mahasiswa berbasis pendidikan dan organisasi komunitas independen. LFM ITB berfokus pada empat bidang, yaitu Fotografi, Videografi, Kineklub, dan Pertunjukan.

Masing-masing bidang dibentuk sebagai wadah bagi kru untuk berkarya. Untuk mengapresiasi karya yang terlah dihasilkan oleh kru LFM ITB, Bidang Pertunjukan hadir sebagai wadah yang dapat mengadakan kegiatan pameran karya untuk menampilkan karya fotografi, videografi, dan kineklub.

Ganesha Exhibition Programme (GEP) adalah salah satu program kerja yang dinaungi oleh Bidang Pertunjukan. GEP pertama kali dilaksanakan pada tahun 2010 dan kemudian menjadi program kerja rutin LFM ITB pada setiap tahunnya.

GEP dapat berfungsi sebagai wadah utnuk berkarya secara eksploratif bagi kru LFM ITB, menjadi sarana untuk mengapresiasi karya kru dalam bentuk pameran, srta dapat memberi pesan yang perlu disampaikan kepada masyarakat luar.

GEP menampilkan karya kru LFM ITB pda bidang Fotografi, Videografi, dan kineklub setelah proses submisi dan kurasi. Pada November 2019, GEP hadir dengan tema besar yang diangkat yaitu kultur / budaya, dimana kita ingin memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia, serta perubahan dan perbedaan yang terdapat pada budaya kita sekarang. Pesan yang ingin disampaikan adalah pesan persatuan, melalui media kekaryaan fotografi, videografi, dan kineklub. Aspek yang ditinjau dapat meliputi aspek agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, bangunan, dan karya seni.

Indonesia memiliki budaya yang berlimpah. Keragaman budaya telah menjadi identitas bangsa Indonesia. Indonesia dibangun di atas banyaknya budaya, agama, bahasa, etnis, dan suku bangsa. Di era globalisasi, mulai terjadi penetrasi budaya asing yang masuk ke Indonesia sehingga melunturkan budaya lokal dan munculnya budaya baru yang terbentuk dari proses akulturasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga budaya Indonesia. Langkah awal untuk menjaga budaya adalah dengan mengenal budaya indonesia itu sendiri yang kemudian bisa kita jaga dan lestarikan. 

Ada dua poin penting yang menjadi dasar dari tema “Kultur Indonesia” yaitu kultur dan Identitas. Kultur sendiri memiliki arti suatu cara perkembangan gaya hidup yang dimiliki bersama oleh sekelompok masyarakat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sedangkan identitas adalah sebuah karakter yang melekat pada kebudayaan, sehingga bisa dibedakan budaya satu dengan lainya. Aspek yang ingin ditinjau dalam proses kekaryaan GEP didasarkan dari 7 unsur budaya dalam ilmu etnofotografi, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, sistem sosial atau kemasyarakatan, sistem peralatan dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Sedangkan untuk identitas, SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) diguanakan sebagai dasar identitas suatu budaya.

Bioskop Kampus: Kurasi Jaman

Pemutaran Bioskop Kampus dari waktu ke waktu selalu bereksperimen mengenai berbagai macam hal berbeda dalam memberikan pengalaman pemutarannya. Tak kalah dengan yang sebelumnya, Bioskop Kampus yang diadakan pada tanggal 4 Oktober 2019 kali ini berkolaborasi dengan ITB Insight dalam memberikan pengalaman yang unik untuk para penonton setia. Dengan tajuk Bioskop Kampus “Kurasi Jaman”, pemutaran film-film pendek ini mengharapkan penonton untuk terbawa ke dalam suasana perkembangan zaman yang hadir di peradaban manusia; baik masa lampau ataupun masa depan.

Pemutaran film pada Bioskop Kampus “Kurasi Jaman” merupakan pemutaran yang mengangkat isu seleksi zaman-zaman peradaban manusia akibat pengaruh teknologi.  Terdapat lima film yang diputarkan dan dibagi dalam dua sesi pemutaran. Lima film yang dimulai pada pukul 19.00 tersebut adalah Dino oleh XX, Laki-Laki Virtual oleh XX, Oldies Buddies oleh XX, Beta_test oleh XX, Lazy Susan oleh XX, dan Djakarta 00 oleh XX. Selain pemutaran, terdapat pula pembagian hadiah bagi yang dapat menjawab pertanyaan kuis dan sesi diskusi di akhir pemutaran.

Sesi diskusi yang dipimpin moderator memiliki topik pembahasan mengenai tema dan film-film itu sendiri; tentang perkembangan peradaban manusia dalam hal teknologi. Dua pembicara yang diundang adalah Thoriq sebagai film-enthusiast dan El sebagai representatif dari ITB Insight 2019. Isu yang dibahas begitu seru karena berkaitan dengan tingkah laku kita sendiri dan sejarah penggunaan teknologi di sekitar kita yang ternyata sangat berpengaruh.

Pensuasanaan “Kurasi Jaman” itu pun dibangun dengan penambahan instalasi futuristik yang memberikan kesan modern; seperti lorong LED dan piano tiles saat memasuki ruang 9009, hologram 3D di tengah ruang pemutaran dan tentunya klip pembuka ala-ala perjalanan waktu saat pemutaran dimulai. Hal-hal tersebulah yang membuat Bioskop Kampus kali ini berbeda dengan biasanya; tidak hanya film-filmnya namun juga instalasi yang mendukung tema tersebut. Kolaborasi BK x ITB Insight 2019 merupakan pre-event dari pameran ITB Insight 2019 yang di adakan pada tanggal 24 November 2019. Pameran ITB Insight 2019 itu sendiri merupakan pameran hasil karya mahasiswa jurusan Teknik Fisika yang berkaitan, tentunya lagi, teknologi futuristik.

Penulis: Aulia Fadlillah Puteri Solikhan

Bioskop Kampus: Metamorfosa

Sudah sekian tahun ITB mengadakan Open House Unit—wahana mahasiswa untuk berkenalan dengan unit kegiatan mahasiswa yang tersebar di kampus—dan sudah sekian tahun pula Liga Film Mahasiswa mengadakan Bioskop Kampus edisi OHU pada tanggal yang berdekatan, dimana pada pemutaran kali ini diadakan seminggu setelah acara OHU agar seluruh massa kampus dapat sama-sama menikmatinya. Bioskop Kampus OHU istimewa karena selalu ada penonton baru yang datang, yaitu mahasiswa angkatan termuda di ITB. Bagi mahasiswa baru (dan mungkin tak hanya bagi mereka saja), kehidupan kampus dingiangi pertanyaan yang belum terjawab: setelah semua ini akan jadi apa aku kelak? Tanya yang akan mengonsumsi kaum muda hingga mereka bisa menemukan jati diri mereka.

Pemutaran film pada Bioskop Kampus “Metamorfosa” berangkat dari persoalan itu. Lima film yang terpilih—Kosan Magnet, 1 Liter, Ve, Lembar Jawaban Kita, dan Carnivale—dibagi dalam tiga sesi pemutaran. MC Tsaniya M dan Ramadida P memulai acara pukul 18.45, dan 15 menit kemudian pemutaran dimulai. Dalam setiap jeda sesi, ada pembagian doorprize berupa merchandise BK kepada dua penonton beruntung. Selesai pemutaran, sesi diskusi pun dimulai.

Ada tiga pembicara yang diundang, yaitu Frida Caturima selaku sutradara film Ve, Abdalah Gifar Abisena sebagai penulis naskah film Lembar Jawaban Kita, dan Ibrahim Fadhil sebagai Ketua Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM) ITB 2019. Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Rasyid A ini, salah satu poin yang menarik adalah cara masing-masing pembicara memaknai jati diri. Bagi Mas Abisena, jati diri ditentukan oleh yang kita hasilkan, karya kita; ia menganalogikan diri sebagai pohon, dengan akar yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing ikut-ikutan orang dan jenis pohon yang baru ketahuan dari buah yang dihasilkan (re: karya). Sementara bagi Frida, jati diri mungkin butuh waktu lama untuk ditemukan, namun itu bukanlah suatu masalah. Ibra sendiri menekankan pentingnya eksplorasi dan keluar dari zona nyaman agar kenal jati diri.

Selesai diskusi, Salwa R sebagai pemimpin produksi BK OHU menyerahkan sertifikat pada pembicara sambil foto bersama. Kemudian acara dilanjutkan pada dengan sesi kuis mengenai film-film yang ditampilkan.

Penulis: Chris Aji

Pamer! Arsip

Pamer! Arsip merupakan pameran fotografi yang diinisiasi oleh Bidang Pertunjukan dalam rangka menelusuri perjalanan pergerakan kemahasiswaan di Insititut Teknologi Bandung.
Dengan sedikit sejarah yang dapat kami gali dari arsip-arsip ini, kami ingin menunjukkan proses dan semangat pergerakan berkemahasiswaan di ITB sejak dahulu hingga sekarang. Kami ingin mengajak kita semua sebagai mahasiswa untuk bersama menjadi bagian dari semangat pergerakan ini, untuk bersama berusaha menemukan cara yang tepat untuk bergerak dengan ragam asa satu tujuan.

Pameran ini dikurasi oleh Indira Anjanique (Kru 2018), Shofie (Kru 2018), Nadya Safitri (Kru 2018), Kirana Pavita (Kru 2018), Kurnia Rizky (Kru 2018), Asiya Mufida Yumna (Kru 2018), Monica Mayrene Kurniawan (Kru 2018), dan Juniar chandra Ananda (Kru 2017).

Pamer! Arsip diselenggarakan pada 24 Agustus 2019 (Saat OHU ITB 2019) di daerah Plazawidya ITB dan dilanjutkan di Taman LFM ITB dari tanggal 26 Agustus 2019 dan dilanjutkan sampai 30 Agustus 2019.

Penulis: Ajani Raushanfikra

Bincang Ria: Ruang

Berbicara ruang bersama Fadjar Kurnia dari Masaraya dan Nugraha Sulaiman Irsyad dari Omah.

“Menurut kalian, apa sih definisi dari ruang?”
tanya Nugraha Sulaiman Irsyad, atau yang biasa disapa Raga.

Pertanyaan dari Raga tersebut sekaligus membuka diskusi kali ini, hamparan tikar di taman LFM serta suasana sore hari yang sejuk ikut menemani kami dalam diskusi sore itu, namun satu yang janggal, rasa bingung saat dipaparkan kalimat tersebut membuat kami diam dan saling bertatap satu-sama-lain.

Usut punya usut, menurut KBBI, ruang memiliki definisi: sela-sela antara dua (deret) tiang atau sela-sela antara empat tiang (di bawah kolong rumah): yang berarti keberadaan ruang ini sendiri merupakan naungan yang berada di antara satu/lebih benda.

Terlepas dari definisi ruang menurut KBBI. di sini Raga, Fadjar Kurnia, dan Kru Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM ITB) ingin berdiskusi mengenai bagaimana eksibitor (dalam diskusi ini membahas mengenai pameran Omah dan Masaraya) memaksimalkan Ruang untuk kebutuhan eksibisi mereka masing-masing dan bagaimana proses konsepsi tujuan eksibisi dapat diterjemahkan dalam Ruang yang mereka miliki sehingga dapat dinikmati dan dirasakan tujuan dan tema dari pameran tersebut.

Terdapat perbedaan definisi Ruang dari Raga maupun Fadjar. Menurut Raga, ruang memiliki 2 kata kunci yaitu manusia dan benda pamer itu sendiri. Bagaimana ketika eksibitor mempunyai Ruang dan bagaimana ketika eksibitor mempunyai Benda Pamer sebagai konten yang akhirnya dapat dinikmati oleh orang-orang sebagai konten dari kedua hal tersebut. Contohnya saja seperti Ganesha Exhibition Programme (GEP) tahun 2018, kenapa ia harus diselenggarakan di ruang ‘Urbane’ dengan model ruangan yang seperti itu, ditempat yang tidak ber AC, dan menyesuaikan ruang di ‘urbane’? Karena intinya adalah manusia dan benda pamer itu sendiri.

Seperti konsep dari Omah yang mempunyai latar belakang ingin mengangkat sebuah karya sebagai bagian dari aktivitas keseharian, Raga melihat bahwa LFM terbagi atas 2 ruang (selasar lfm yang mana dinaungi oleh atap dan ruang terbuka hijau atau taman LFM yang terdapat beberapa tumbuhan dan bebatuan). Raga ingin agar kedua Ruang ini dapat diintervensi dengan karya (yang isinya berupa pameran) sehingga dapat berkesinambungan dengan keseharian. Bekerjasama dengan divisi karya dari IMA-G (Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma) mereka menciptakan sebuah pameran buku foto yang instalasinya terbuat dari krat botol berwarna merah yang menyilang dengan tujuan agar orang yang datang mudah untuk menikmati pameran tersebut dan bagaimana layout tersebut membuat aktivitas menikmati karya menjadi reasonable dan impactul.

“Sebenarnya semua tergantung tujuan dan konsep dari setiap pameran, untuk Omah sendiri dirasa hanya terdapat 2 variabel yang terlibat yaitu manusia dan karya itu sendiri” tutup Raga di akhir sesi.

Berbeda dengan Masaraya, pameran ini tercipta karena berangkat dari permasalahan yang ada di masyarakat akan minimnya pandangan terhadap jurusan DKV atau Desain Komunikasi Visual. Fadjar dan tim masaraya ingin mengangkat permasalahan yang ada di masyarakat ini dengan menunjukan bahwa ruang lingkup DKV lebih dari sekedar menyablon kaos saja menurut masyarakat. Membawa konsep utopia dengan tujuan ingin menunjukan bahwa DKV ‘luar biasa’ secara konsep, acara, dan visual. acara ini diselenggarakan pada 9-11 Februari 2019.

Ruang yang dibawa pada Masaraya ini sangat berbeda dengan Omah. di sini, ruang tersebut dibagi berdasarkan tema yang mau diangkat yaitu ruang teknologi (efisiensi), ruang budaya (bhineka), ruang spiritual (nurani), ruang ekologi (lestari), dan ruang sosial (serasi) dengan tujuan ruang-ruang tersebut merupakan pilar-pilar kehidupan yang menaungi sehingga kehidupan ini dapat berjalan.

Nantinya, submisi karya pun harus berdasarkan brief dari tiap-tiap ruang tersebut agar hasil karya yang disubmit tidak melenceng dari tujuan pameran masaraya itu sendiri. Karena diadakan di Gedung Gas Negara, tiap dari ruang tersebut menyesuaikan ruangan yang ada di PGN. mulai dari layout, flow acara, positioning, hingga pensuasanaan. Dibantu oleh tim kurasi karya, Fadjar berkata bahwa untuk masaraya ini tim mereka berangkat dari ruangan yang ada terlebih dahulu kemudian karya yang ada disesuaikan oleh bentuk ruang tersebut. Berarti, dalam pameran masaraya ini terdapat lebihd dari 2 variabel yang berbeda untuk mendukung tujuan dan konsep dari masaraya. 

Kesimpulan

Dalam diskusi kali ini bersama Raga, Fadjar, serta Kru Liga Film Mahasiswa ITB ada sebuah topik yang cukup menarik mengenai ruang. Terdapat definisi yang berbeda dari Raga maupun Fadjar mengenai arti ruang itu sendiri, tetapi kesimpulan dari perbincangan sore ini menurut saya adalah tentang bagaimana tujuan dan konsep dari pameran itu mengarah pada jenis ruang ataupun variabel lain yang ingin diangkat dalam pameran tersebut.

Penulis: Safira Ramadhani

Barnum Circus #1

Konsep barnum circus yang pertama ini awalnya berangkat dari adanya foto yang terpilih dari fotografi challenge, fotonya berupa perjalanan penyu yang baru saja menetas (tukik) dari pantai menuju ke laut berjumlah 5 foto. Dari konten foto tersebut, dijabarkan hal-hal apa saja yang terkait dengan penyu kemudian diturunkan hingga menjadi konsep dasar dari instalasi untuk memamerkan karya foto tersebut. Dari beberapa ide yang ada akhirnya dipilih pantai sebagai konsep dasar instalasi yang akan dibuat. Alasan kenapa pantai dipilih karena sangat dekat dengan objek dan dapat mendukung cerita dari foto tersebut mengenai perjalanan penyu dari sarangnya (pasir pantai) hingga ke laut.

Inspirasi pembuatan instalasi ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bentuknya diadaptasi dari papan menu yang terdapat pada bagian belakang atas kasir makanan cepat saji (KFC, Mcd, Texas, dll). Selama mengantri untuk memesan makanan dari pengalaman pribadi, lebih mudah untuk memilih pesanan dari menu yang berada di bagian belakang atas kasir dari pada menu yang tercetak di lembar kertas. (tergantung orang) Dengan gambar dan tulisan yang jelas, komponen tersebut diterapkan pada instalasi penyu ini. Sehingga berpengaruh dengan ukuran foto yang dicetak.
Perwujudan dari instalasinya berbentuk persegi panjang dengan sisi depan yang cekung (1/8 lingkaran) berdimensi sekitar 240 cm x 60 cm yang diletakkan di sudut antara atap dengan kanopi diantara dua tiang dan menghadap ke selasar LFM. Alasan pemilihan tempat tersebut karena sudut tersebut mudah dilihat dan dilewati banyak orang, khususnya kru LFM apabila keluar dari ruang santai akan sangat mudah untuk dilihat. Selain itu, ditempatkan di atas karena ingin berfantasi untuk menikmati pantai dengan cara yang berbeda dari biasanya. Pada umumnya orang-orang melihat pantai ada dibawah, instalasi ini memberikan kenampakan pantai yang berbeda dengan penempatan yang ada di atas.

Dekorasi yang dibuat menggunakan konsep hyper-realistic dioramas, sehingga perwujudan alam pantai dibuat semirip mungkin dengan aslinya dan dapat dirasakan pantainya. Bahan-bahan yang digunakan beberapa diperoleh dari alam, seperti pasir pantai, cangkang telur, kerikil, ranting, dan serpihan kulit pohon. Untuk bagian laut, digunakan kertas yang dikerutkan, ditempel, dan dicat hingga tampak seperti lautan, kemudian dituangan lem transparan untuk mendapat efek air dan ombaknya. Lem transparan juga ditambahkan di cangkang telur dan sekitarnya sebagai bentuk dari lendir penyu yang baru lahir.


Komposisi foto diurutkan sesuai dengan perjalanan penyu dari pantai hingga laut. Foto dicetak dengan ukuran 12R agar mudah dilihat walaupun jaraknya jauh dan komposisinya juga seimbang dengan dekorasi yang ada, foto tidak kalah dominan dan tetap memiliki point of interest yang tinggi sebagai objek utama dibanding dekorasi yang berperan sebagai pendukung.

Penulis: Juniar Chandra Ananda