Category Archives: Pertunjukan

How to: Menulis Review

Dalam penulisan review atau ulasan, terdapat bagian-bagian yang memenuhi penulisan ulasan itu sendiri. Adapun bagian tersebut meliputi:

Judul

Dalam penulisan judul ulasan, penulis dibebaskan untuk menulis judul ulasan dengan kreatifitas sendiri ataupun semudah menuliskan kembali nama acara/pameran.

Pembukaan (Bridging)

Pembukaan atau bridging bisa berisikan pernyataan/kutipan/hal unik yang ditemukan di pameran/ciri khas.
Contoh: Tidak banyak orang peduli dengan lingkungan, sampai mata kita sendiri ditampar oleh pameran Laut Kita.

Bagian 1 (Pengenalan)

Bagian ini menceritakan pengenalan mengenai pameran/pemutaran/festival. Dapat berisikan nama acara, waktu dan tempat, jenis acara, dan pihak penyelenggara.
Contoh: Pameran fotografi “Atmosphere” yang berlokasi di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 13 sampai 24 desember adalah sebuah pameran bertema olahraga yang menampilkan ekspresi dan suasana baik dari individu maupun kelompok dalam lingkup olahraga, bahkan beberapa rekam foto terlihat kepedihan dari potret dunia olahraga namun ada pula rekam kebahagiaan dan haru.

Bagian 2

  • Tuliskan impresi/pemikiran mengenai pameran (apa yang dirasakan, layout, flow)
  • Interaksi ruang pameran (proporsi, center of attraction, eye catching, accessible, blind spot), bisa dijelaskan dengan foto yang menjelaskan ‘what’
  • Materi pamer bagaimana (interaktif, komunikatif, rekreatif)
  • Pandangan secara keseluruhan pada acara (jika ada boleh tambahkan acara pelengkap; talkshow, workshop, diskusi)

Contoh: Dalam pameran ini juga diadakan beberapa diskusi salah satunya adalah diskusi “Melihat Indonesia Melalui Olahraga“. Pada pameran yang sekaligus acara peluncuran buku Atmosphere tersebut terlihat beberapa karya fotografi menggunakan teknik Panning, Available Light dan Freeze. Dengan adanya karya-karya seperti ini para penikmat seni dan masyarakat dapat melihat dan merasakan bagaimana suasana dan emosi yang dirasakan oleh para pelaku olahraga pada bidangnya masing-masing, kita penikmat seni juga semakin teredukasi dengan ragam jenis teknik dan karya fotografi yang disajikan pada pameran ini.

Bagian 3

Kesimpulan tentang pameran, bisa dijelaskan dengan foto yang berkaitan unsur 5w1h.

Tulisan oleh Safira Ramadhani
Diedit oleh Aulia Fadlillah P.

Dasar Pengelolaan Festival

Festival Film sangat banyak dan beragam pula hadir dalam masyarakat. Pada dasarnya festival film terdiri atas dua kata yaitu festival dan film. Festival berarti perayaan dan film berarti gambar yang bergerak. Ketika digabung festival film berarti sebuah perayaan film-film yang dibuat dalam film tersebut.

Hal terpenting dari sebuah festival film adalah sebelumnya HARUS MEMILIKI OTORITAS!

Otoritas ini muncul dari faktor-faktor seperti:

  1. Pengetahuan yang meliputi riset, pendataan, jaringan, pendalaman paham tentang isu
  2. Latar belakang aktivitas yang digagas
  3. Konsistensi yang meliputi bukti fokus, ketetapan, serta tidak kontradiktif dengan apa yang dikerjakan terkait langsung atau tidak
  4. Keberlanjutan yang harus memiliki visi jangka panjang dengan roadmap yang terbaca jelas
  5. Pengembangan yang merupakan eksperimen untuk menghasilkan inovasi dalam kegiatan yang akan dibuat

Setelah punya OTORITAS maka harus tau arah gerak festival akan bergerak kemana. Pada dasarnya festival ini memiliki 2 fungsi general, yaitu:

  1. Sosial Pendidikan

Hal yang dimaksud adalah arah gerak festival ini mau disuguhkan kepada masyarakat. Contoh: Purbalingga Film Festival (Sehingga sineas dan komunitas akan disingkirkan terlebih dahulu dan difokuskan kepada masyarakat)

  1. Estetika

Hal yang dimaksud adalah bagaimana membuat citra dan bagaimana mengemas film agar lebih menarik (eksplorasi) atau dapat pula berupa penghargaan seperti FFI.

Dari dua fungsi tersebut dapat dirumuskan arah gerak festival dan dari konsep berikut dapat dilangsungkan proses-proses selanjutnya untuk dapatmewujudkan MIMPI FESTIVAL.

Secara sistem, terdapat roadmap program. Roadmap program ini adalah pemetaan dan pendataan kebutuhan. Dimulai dari menjabarkan visi dan misi festival lalu aplikasi program. Dari adanya aplikasi program ini barulah dapat dijabarkan keestimasi biaya, kebutuhan teknis, kebutuhan tempat, dan hal-hal teknis lainnya.

Sangat penting untuk menjabarkan konsep festival ini, Cara berpikir konsep festival ini meliputi:

  1. Hal apa yang mau dibicarakan? (Pokok isu/persoalan yang memerlukan riset dan pendataan)
  2. Kepada siapa festival ini berbicara? (Audiens sehingga dapat ditentukan jenis media yang dibutuhkan)
  3. Dengan cara apa festival ini berbicara? (Program dan Pelaku sehingga dapat ditentukan jenis medium yang dibutuhkan)
  4. Apa hasil yang diharapkan? (Visi dan Misi yang pada akhir festival haruslah dilakukan evaluasi dan mentoring)

Hal yang perlu diingat dalam membuat festival ini adalah perumpamaannya, seperti “SawahOrganik”. Maksudnya adalah kita akan berkala akan memanen dari festival ini, misalnya kalau sawah akan ditanam padi, akan memanen, dijaga dan dirawat, diberi pupuk dan diberi  air dan ketika akan memanen akan kita tanam lagi. Jika kita memakai bahan kimia dan eksploitasi tanahnya besar-besaran tanahnya akan susah untuk dipakai lagi tetapi hasilnya akan besar-besaran dan untungnya besar. Sama seperti festival film. Kita bisa membuat suatu festival yang besar dan menggemparkan tapi akankah langgeng nantinya? Jika kita hanya memberi dampak sekali saja akan sayang sekali dan efek/dampaknya akan lebih baik jika dirawat berkala atau dipikirkan sejauhmungkin (berjangka panjang)

Catatan oleh Aristina Marzaningrum dan Mikhail Kevin A.

Bercerita Lewat Pameran

Pembicara: Mahardika Yudhadari Forum Lenteng

Senin, 20 Mei 2019, Ruang 9009

Dalam pembuatan suatu pameran dibutuhkan tiga komponen utama, yaitu kurator, seniman, dan organizer. Ketiga komponen itu harus berjalan beriringan, adapun mereka memiliki tugas masing-masing yang sangat krusial dalam pembentukan sebuah pameran. Singkatnya, seniman sebagai penyedia karya, kurator sebagai penyeleksi karya, dan organizer sebagai penyelenggara dan mengatur acara berlangsung.

Workshop kali ini membahas lebih dalam lagi tentang cara kerja kuratorial, yang mempunyai peran untuk menjembatani karya/gagasan seniman terhadap publik. Adapun kerja kurator sebagai berikut:

  • Mencaridana untuk seniman berkarya
  • Mengolah ruang presentasi (ruang pameran)
  • Memikirkan bentuk display
  • Publikasi

Adapula seorang kurator bekerja melalui suatu gagasan, lalu melihat karya apa yang dapat ditampilkan sesuai gagasan kurator tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kurator dapat bekerja dari suatu karya yang sudah ada lalu berangkat kegagasan yang ingin disampaikan, biasanya ini disebut open call. Biasanya kerja kurator diawali dengan melihat referensi-referensi yang ada seperti mengunjungi pameran-pameran atau senimannya lalu baru mendapatkan sebuah gagasan dan memutuskan untuk memamerkan karya yang kira-kira cocok dengan gagasan yang sudah dibentuk.

Pola kerja sebuah pameran dapat berangkat dari proyek seni, wacana apa yang relevan/dibutuhkan. Dalam membuat pameran juga dibutuhkan pola kerja pemikirannya, berikut kriteria untuk menyelenggarakan pameran:

  • Gagasan
  • Konteks, isu sospol, seni
  • Bentuk-bentuk produk karya
  • Pemilihan lokasi
  • Fisik/virtual (orang lebih berpikir pameran di dunia maya daripada ruang fisik, virtual lebih murah, namun yang jadi masalah tidak ada keterlibatan badan untuk mengalami pameran, kecuali hologram, VR)
  • Target audiens (semua usia, remaja, orangtua, disabilitas: dipikirkan bagaimana kebutuhan audiensnya, untuk orangtua misal butuh huruf baca yang besar)
  • Jadwal persiapan(pameran, pasca pameran)
  • Program publik (diskusi, turkurator, symposium, seminar)
  • Opening
  • Publikasi (katalog)

Referensi pameran:

  • Expanded Cinema

  • The House of Natural Fiber: Intelligent Bacteria Project (SC)