Category Archives: Pertunjukan

Kita Belajar: Branding oleh Shofiya Qurratu A’yunin

Definisi branding menurut Shofiya Qurrotu A’yunin adalah sesuatu yang abstrak dan emosional, isinya bisa memori dan ekspektasi, atau bisa disebut story yang dijadikan satu kesatuan. Bukan hanya soal grafis dan kata-kata saja, tapi bisa se abstrak itu dan semua aspek juga termasuk branding.

 

Apa pentingnya branding? Untuk membedakan kita dengan yang lain dan membuat impresi yang kuat.

 

Menceritakan sebuah cerita dimulai dengan:

  1. Who (communicator)
  2. Says what (massage)
  3. In which channel (medium)
  4. To whom (audience)
  5. With what effect (impact/feedback)

 

Tapi perlu diingat cerita tidak untuk semua orang, karena orang punya kepentingannya masing-masing. Oleh karena itu kita harus mengerti siapa target audience kita. Dengan mengerti target audience kita dan menggali insight dari mereka seperti :

what do they like

what do they want,

Apa kebiasaan mereka?

Apa interest mereka?

Ketika mencari target audience jangan terlalu general, usahakan spesifik dengan dikontekskan sesuai kasus masing-masing.

Kita Belajar: Merancang, Melaksanakan, dan Mengabadikan Pameran Fotografi oleh Farraz Akbar

Menurut Farraz Akbar, terdapat 4 kuadran dalam melihat sebuah foto :

  1. Visual
  2. Teknis
  3. Konteks fotografi
  4. Konteks non fotografi

 

Visual

Sesuatu yang nampak. Literasi visual berarti seberapa banyak kita terpapar dan bisa paham dari apa yang ada di visual tersebut.

 

Teknis

Bagaimana foto ini diambil. Alat yang dipakai dan juga tidak kalah pentingnya yaitu orang yang memotret juga kapan dan tempat pengambilan foto, tone foto juga pun penting.

 

Konteks fotografi

Apa yang mau diangkat dari foto tersebut: sudut pandang dan perspektif yang bagaimana, siapa yang ada di foto tersebut, kegiatan yang dilakukan orang tersebut.

 

Konteks non fotografi

Apa yang mau diangkat di luar fotografinya, kaya gimana atau apa sebenarnya isu yang diangkat dari foto tersebut, apa yang mau di highlight dari foto tersebut

 

Kurasi dan kuasa

Kurasi adalah tentang menyeleksi, secara tidak langsung kita pasti lebih prefer ke karya satu daripada yang lain. Dan alasan apa yang membuat kita memilih hal tersebut dibandingkan yang lainnya. Ketika membaca karya alangkah baiknya menganalisis dari segi luarnya. Kenapa karya ini terjadi, background nya seperti apa, pakai analisis kontekstual.

Menurut Farraz Akbar, terdapat Tips and Trick dalam merancang, melaksanakan, dan mengabadikan pameran fotografi:

  1. Ubah asumsi jadi pertanyaan. Contoh: asumsi umum bahwa plastic itu berbahaya buat kehidupan manusia tetapi ketika ingin berbicara plastik lewat karya, coba convert jadi pertanyaan apa iya plastik se ber bahaya itu?
  2. Telusuri antara relasi dan konten foto dengan konteksnya . dari pembacaan visual foto ini apa dan bisa digali apanya.
  3. Operasional Pameran
  4. Eye level jadi pake rule of , jadi berapa meter karya ini harus dipasang, peletakkan karya yaitu di dinding atau di bawah, nakal adalah sangat boleh dalam merancang apapun. Jika ingin memerhatikan aspek pragmatis, bagaimana caranya orang bisa menikmati karyanya. Letak dan flow karyanya bagaimana
  5. Memainkan aspek-aspek yang memainkan sense manusia adalah sangat penting misalnya seperti pensuasanaan, music, dekorasi, dan lainnya.
  6. Satu poin penting dari pameran : pameran harus mengganggu dalam hal positif, harus punya intensi yang pengen dia tunjukan dan harus ada idea yang pengen dia sampein. Salah satu hal yg pengen ditunjukin adalah dengan mengganggu dan nunjukin kepadatannya dia kepada pembaca dengan nunjukin eye levelnya yang mengganggu juga.

Kita Belajar: Konsepsi oleh Ayya Permatasari

Apa yang kamu dapatkan setelah mengunjungi beberapa pameran?

Apakah dari pameran yang kamu kunjungi kamu merasa bahwa acara tersebut recommended?

Apakah acara tersebut worth it?

Kesan apa yang kalian dapatkan?

Apakah ada rasa bingung ketika pameran tersebut tidak ada penjelasannya?

Pemahaman apa yang kamu dapatkan dari pameran tersebut?

Sekarang, jika kalian menempatkan diri sebagai pembuat pameran tersebut pikirkan apakah ada yang merekomendasikan pameran ini?

Apakah banyak yang datang?

 

Menurut Ayya Permatasari, dalam membuat acara ada beberapa formula yang digunakan, contohnya : 5W1H, SWOT. Kali ini, beliau menggunakan formula : wouldn’t have, couldn’t have, dan shouldn’t have.  Formula ini dapat digunakan jika kita menggunakan referensi dari pameran lain untuk diaplikasikan dalam pameran kita sendiri. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

 

Wouldn’t have

Kita tidak tahu ketika karya itu baik/buruk ketika kita tidak memiliki referensi. Jika kita mempunyai referensi, referensi tersebut bisa diimplementasi untuk membuat pameran selanjutnya. Di wouldn’t have ini referensi diperlukan untuk membuat konsep yang mengacu pada referensi kalian. Ada hal baru yang kalian lihat dapat cocok untuk pameran kalian.

 

Couldn’t have

Saat telah mengunjungi beberapa acara pameran dan membandingkannya dengan yang lain. Kita dapat menggunakan perbandingan dan kritik tersebut menjadi sebuah acuan untuk membuat konsep acara pameran kalian sendiri agar lebih bagus daripada sebelumnya.

 

Shouldn’t have

Kemudian, apa yang harus kalian lakukan jika kalian adalah penyelenggara pameran tersebut? (yang kalian kunjungi). Apa yang akan kalian ubah? Apa yang akan kalian buat berbeda? Mengapa demikian? Gunakan referensi, kritik, dan perbandingan tersebut sebagai acuan untuk membuat acara pameran yang kalian kunjungi dapat menjadi lebih baik dan berbeda dari sebelumnya.

 

Pameran itu ada media yang ingin disampaikan ke orang-orang. Yang membedakan pameran satu dengan yang lain adalah bagaimana pameran tersebut dieksekusi dengan baik. Mengkonsep dapat dimulai dari beberapa acara yang sudah pernah kalian datangi. Kalian bandingkan satu dengan yang lain dan cari tau dasarnya. Baru kalian formulasikan lagi harusnya seperti apa. Karena ketika sudah dibandingkan kalian jadi tau seharusnya pameran itu dapat seperti apa.

Dasar dalam mengkonsep adalah :

  1. Konteks
  2. Referensi
  3. Viral
  4. Modal

Dalam menyelenggarakan pameran gali lagi sebenarnya apa modal yang dimiliki. Misalnya, kalian kuat diuang nya. Manfaatkan uang tersebut, jangan hanya bikin acara yang nanggung. Ada yang punya modal tempat, manfaatkan tempat tersebut dan eksplor lagi. Kuatkan tentang konteks dan gali lebih dalam acara kalian diselenggarakan di bulan apa, coba gali ada event apa di bulan tersebut. Karena itu bisa jadi basis varian dalam membuat acara dan dapat lebih memerhatikan sekitar kita.

Kita Belajar: Dasar Pameran oleh Eljihadi Alfin

Definisi pameran menurut Eljihadi Alfin adalah penyajian, yaitu menyajikan produk maupun karya seni. Tujuannya yaitu agar karya yang kalian sajikan dapat dipamerkan dan diapresiasi oleh masyarakat umum. Pameran juga merupakan sarana untuk mengenalkan produk kalian, oleh karena itu pameran selalu mendapatkan perhatian dari masyarakat umum untuk dikunjungi. Dalam membuat sebuah pameran dibutuhkan konsep, relasi, dan kolaborasi. Terdapat beberapa klasifikasi pameran. Pameran berdasarkan tujuan yaitu:

  1. Pameran konvensi / akademik
  2. Pameran dagang
  3. Pameran konsumen

 

Pameran berdasarkan tampilannya :

  1. Private indoor
  2. Public indoor
  3. Indoor trade
  4. Joint trade and public exhibition
  5. Outdoor
  6. Travelling
  7. Portable
  8. In store
  9. Permanent
  10. Conference
  11. Windowx

 

Terdapat 5 unsur penting yang harus ada dalam menyelenggarakan pameran :

  1. Pengunjung
  2. Karya
  3. Tempat
  4. Penyelenggara (artistan bisa merangkap menjadi penyelenggara)
  5. Peralatan

 

Dalam menampilkan karya terdapat 3 jenis cara untuk memamerkan yaitu :

  1. Wall display
  2. Island display
  3. Digital display

 

Faktor yang membuat sebuah pameran menarik :

  1. Karya. Yaitu karya apa dan siapa yang memiliki karya tersebut. Pengunjung yang datang ke pameran bisa untuk mengagumi karya siapa dan juga karya apa yang dipajang
  2. Rangkaian acara
  3. Tempat. Faktor tempat adalah penting dalam membuat sebuah pameran menarik, misalnya tempatnya unik, dekat, historis (dapat mengubah perspektif orang sebelum dan sesudah tempat tersebut terdapat acara)
  4. Penyelenggara

 

3 hal yang membuat pameran kalian dilirik oleh orang :

  1. Membangun narasi. Narasi yang kuat membuat jalan cerita pameran tersebut menarik untuk dikunjungi orang. Akan tetapi, menurut Eljihadi Alfin, setiap pameran tidak harus memiliki narasi. Narasi adalah media untuk memudahkan pengunjung untuk dapat mengerti pameran yang diselenggarakan. Karena tujuan dari pameran adalah untuk mengapresiasi karya dan memamerkannya ke masyarakat. Agar pameran yang dibuat tersampaikan ke masyarakat, narasi dibutuhkan untuk memberikan batasan akan karya pameran kalian dan dapat menggiringnya ke masyarakat.

 

  1. Kolaborasi. Kolaborasi terhadap semua pihak yang ikut membantu terselenggaranya pameran, juga bersama pihak yang kalian beri exposure lebih dan bisa membantu secara finansial.
  2. Publikasi. Memungkinkan orang di luar venue kalian dapat melihat pameran kalian.

 

How to: Menulis Review

Dalam penulisan review atau ulasan, terdapat bagian-bagian yang memenuhi penulisan ulasan itu sendiri. Adapun bagian tersebut meliputi:

Judul

Dalam penulisan judul ulasan, penulis dibebaskan untuk menulis judul ulasan dengan kreatifitas sendiri ataupun semudah menuliskan kembali nama acara/pameran.

Pembukaan (Bridging)

Pembukaan atau bridging bisa berisikan pernyataan/kutipan/hal unik yang ditemukan di pameran/ciri khas.
Contoh: Tidak banyak orang peduli dengan lingkungan, sampai mata kita sendiri ditampar oleh pameran Laut Kita.

Bagian 1 (Pengenalan)

Bagian ini menceritakan pengenalan mengenai pameran/pemutaran/festival. Dapat berisikan nama acara, waktu dan tempat, jenis acara, dan pihak penyelenggara.
Contoh: Pameran fotografi “Atmosphere” yang berlokasi di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 13 sampai 24 desember adalah sebuah pameran bertema olahraga yang menampilkan ekspresi dan suasana baik dari individu maupun kelompok dalam lingkup olahraga, bahkan beberapa rekam foto terlihat kepedihan dari potret dunia olahraga namun ada pula rekam kebahagiaan dan haru.

Bagian 2

  • Tuliskan impresi/pemikiran mengenai pameran (apa yang dirasakan, layout, flow)
  • Interaksi ruang pameran (proporsi, center of attraction, eye catching, accessible, blind spot), bisa dijelaskan dengan foto yang menjelaskan ‘what’
  • Materi pamer bagaimana (interaktif, komunikatif, rekreatif)
  • Pandangan secara keseluruhan pada acara (jika ada boleh tambahkan acara pelengkap; talkshow, workshop, diskusi)

Contoh: Dalam pameran ini juga diadakan beberapa diskusi salah satunya adalah diskusi “Melihat Indonesia Melalui Olahraga“. Pada pameran yang sekaligus acara peluncuran buku Atmosphere tersebut terlihat beberapa karya fotografi menggunakan teknik Panning, Available Light dan Freeze. Dengan adanya karya-karya seperti ini para penikmat seni dan masyarakat dapat melihat dan merasakan bagaimana suasana dan emosi yang dirasakan oleh para pelaku olahraga pada bidangnya masing-masing, kita penikmat seni juga semakin teredukasi dengan ragam jenis teknik dan karya fotografi yang disajikan pada pameran ini.

Bagian 3

Kesimpulan tentang pameran, bisa dijelaskan dengan foto yang berkaitan unsur 5w1h.

Tulisan oleh Safira Ramadhani
Diedit oleh Aulia Fadlillah P.

Dasar Pengelolaan Festival

Festival Film sangat banyak dan beragam pula hadir dalam masyarakat. Pada dasarnya festival film terdiri atas dua kata yaitu festival dan film. Festival berarti perayaan dan film berarti gambar yang bergerak. Ketika digabung festival film berarti sebuah perayaan film-film yang dibuat dalam film tersebut.

Hal terpenting dari sebuah festival film adalah sebelumnya HARUS MEMILIKI OTORITAS!

Otoritas ini muncul dari faktor-faktor seperti:

  1. Pengetahuan yang meliputi riset, pendataan, jaringan, pendalaman paham tentang isu
  2. Latar belakang aktivitas yang digagas
  3. Konsistensi yang meliputi bukti fokus, ketetapan, serta tidak kontradiktif dengan apa yang dikerjakan terkait langsung atau tidak
  4. Keberlanjutan yang harus memiliki visi jangka panjang dengan roadmap yang terbaca jelas
  5. Pengembangan yang merupakan eksperimen untuk menghasilkan inovasi dalam kegiatan yang akan dibuat

Setelah punya OTORITAS maka harus tau arah gerak festival akan bergerak kemana. Pada dasarnya festival ini memiliki 2 fungsi general, yaitu:

  1. Sosial Pendidikan

Hal yang dimaksud adalah arah gerak festival ini mau disuguhkan kepada masyarakat. Contoh: Purbalingga Film Festival (Sehingga sineas dan komunitas akan disingkirkan terlebih dahulu dan difokuskan kepada masyarakat)

  1. Estetika

Hal yang dimaksud adalah bagaimana membuat citra dan bagaimana mengemas film agar lebih menarik (eksplorasi) atau dapat pula berupa penghargaan seperti FFI.

Dari dua fungsi tersebut dapat dirumuskan arah gerak festival dan dari konsep berikut dapat dilangsungkan proses-proses selanjutnya untuk dapatmewujudkan MIMPI FESTIVAL.

Secara sistem, terdapat roadmap program. Roadmap program ini adalah pemetaan dan pendataan kebutuhan. Dimulai dari menjabarkan visi dan misi festival lalu aplikasi program. Dari adanya aplikasi program ini barulah dapat dijabarkan keestimasi biaya, kebutuhan teknis, kebutuhan tempat, dan hal-hal teknis lainnya.

Sangat penting untuk menjabarkan konsep festival ini, Cara berpikir konsep festival ini meliputi:

  1. Hal apa yang mau dibicarakan? (Pokok isu/persoalan yang memerlukan riset dan pendataan)
  2. Kepada siapa festival ini berbicara? (Audiens sehingga dapat ditentukan jenis media yang dibutuhkan)
  3. Dengan cara apa festival ini berbicara? (Program dan Pelaku sehingga dapat ditentukan jenis medium yang dibutuhkan)
  4. Apa hasil yang diharapkan? (Visi dan Misi yang pada akhir festival haruslah dilakukan evaluasi dan mentoring)

Hal yang perlu diingat dalam membuat festival ini adalah perumpamaannya, seperti “SawahOrganik”. Maksudnya adalah kita akan berkala akan memanen dari festival ini, misalnya kalau sawah akan ditanam padi, akan memanen, dijaga dan dirawat, diberi pupuk dan diberi  air dan ketika akan memanen akan kita tanam lagi. Jika kita memakai bahan kimia dan eksploitasi tanahnya besar-besaran tanahnya akan susah untuk dipakai lagi tetapi hasilnya akan besar-besaran dan untungnya besar. Sama seperti festival film. Kita bisa membuat suatu festival yang besar dan menggemparkan tapi akankah langgeng nantinya? Jika kita hanya memberi dampak sekali saja akan sayang sekali dan efek/dampaknya akan lebih baik jika dirawat berkala atau dipikirkan sejauhmungkin (berjangka panjang)

Catatan oleh Aristina Marzaningrum dan Mikhail Kevin A.

Bercerita Lewat Pameran

Pembicara: Mahardika Yudhadari Forum Lenteng

Senin, 20 Mei 2019, Ruang 9009

Dalam pembuatan suatu pameran dibutuhkan tiga komponen utama, yaitu kurator, seniman, dan organizer. Ketiga komponen itu harus berjalan beriringan, adapun mereka memiliki tugas masing-masing yang sangat krusial dalam pembentukan sebuah pameran. Singkatnya, seniman sebagai penyedia karya, kurator sebagai penyeleksi karya, dan organizer sebagai penyelenggara dan mengatur acara berlangsung.

Workshop kali ini membahas lebih dalam lagi tentang cara kerja kuratorial, yang mempunyai peran untuk menjembatani karya/gagasan seniman terhadap publik. Adapun kerja kurator sebagai berikut:

  • Mencaridana untuk seniman berkarya
  • Mengolah ruang presentasi (ruang pameran)
  • Memikirkan bentuk display
  • Publikasi

Adapula seorang kurator bekerja melalui suatu gagasan, lalu melihat karya apa yang dapat ditampilkan sesuai gagasan kurator tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kurator dapat bekerja dari suatu karya yang sudah ada lalu berangkat kegagasan yang ingin disampaikan, biasanya ini disebut open call. Biasanya kerja kurator diawali dengan melihat referensi-referensi yang ada seperti mengunjungi pameran-pameran atau senimannya lalu baru mendapatkan sebuah gagasan dan memutuskan untuk memamerkan karya yang kira-kira cocok dengan gagasan yang sudah dibentuk.

Pola kerja sebuah pameran dapat berangkat dari proyek seni, wacana apa yang relevan/dibutuhkan. Dalam membuat pameran juga dibutuhkan pola kerja pemikirannya, berikut kriteria untuk menyelenggarakan pameran:

  • Gagasan
  • Konteks, isu sospol, seni
  • Bentuk-bentuk produk karya
  • Pemilihan lokasi
  • Fisik/virtual (orang lebih berpikir pameran di dunia maya daripada ruang fisik, virtual lebih murah, namun yang jadi masalah tidak ada keterlibatan badan untuk mengalami pameran, kecuali hologram, VR)
  • Target audiens (semua usia, remaja, orangtua, disabilitas: dipikirkan bagaimana kebutuhan audiensnya, untuk orangtua misal butuh huruf baca yang besar)
  • Jadwal persiapan(pameran, pasca pameran)
  • Program publik (diskusi, turkurator, symposium, seminar)
  • Opening
  • Publikasi (katalog)

Referensi pameran:

  • Expanded Cinema

  • The House of Natural Fiber: Intelligent Bacteria Project (SC)