Bioskop Kampus: Aruna dan Lidahnya

Bioskop kampus datang kembali pada bulan februari kemarin dan tentunya membawa konsep yang baru dari bioskop kampus sebelumnya. Dilaksanakan pada 9 februari 2019, Bioskop kampus kali ini membawa penayangan berupa full feature film. Biasanya film yang ditayangkan adalah film-film pendek karya anak bangsa namun kali ini bioskop kampus membawakan atmosfir yang berbeda kepada para penonton. Film yang ditayangkan adalah “Aruna dan Lidahnya”, film layer lebar yang sempat masuk ke bioskop-bioskop besar, namun hanya dalam jangka waktu yang pendek.

 

Tim penyelenggaran Bioskop Kampus: Aruna dan Lidahnya ini membawakan pensuasanaan yang seunik mungkin dengan membawakan sensasi film “Aruna dan Lidahnya” kepada penonton. Dimulai dari color palette hingga konten publikasinya, penonton ingin untuk dibawa memasuki dan merasakan suasana dan sensasi dunia Aruna dan Lidahnya, tentunya sampai batas tertentu saja.

 

Mendapatkan film “Aruna dan Lidahnya”, membutuhkan suatu proses dan tidaklah mudah. Proses perizinan dari para pembuat film harus didapatkan untuk menghindari tuduhan copyright. Di awal ada beberapa film yang masuk ke dalam short list, namun ditentukan bahwa film “Aruna dan Lidahnya” lah yang menjadi tayangan utama bioskop kampus kali ini. Menurut saya, film ini adalah pilihan yang tepat bagi para penonton.

 

Adapula sesi diskusi diakhir pemutaran yang membahas mengenai potensi novel-novel diadaptasikan menjadi film layer lebar. Suatu sesi diskusi yang menarik, mengingat salah satu hal yang penting dari mengadaptasikan buku menjadi film adalah bagaimana membuat film tersebut tanpa banyak mengubah atau meninggalkan unsur-unsur utama dari buku tersebut. Sangat disayangkan sekali apabila sesi diskusi seperti ini disia-siakan.

 

Bioskop kampus kali ini membawakan sesuatu yang beda. Biasanya beda adalah agen dari perubahan dan perkembangan. Menurut saya ini adalah agen perubahan yang bagus bagi masa depan bioskop kampus, keep up the good work!.

Related Posts