All posts by admin.itb

Ganesha Exhibition Programme: Kausarupa

Pameran tahunan LFM kembali lagi, yaitu Ganesha Exhibition Programme, yang tahun ini berjudul “Kausarupa” yang berasal dari kata “kausa” dan “rupa”. “Kausa” berarti sebab dari suatu kejadian, sedangkan “rupa” adalah tampak luar seseorang. Gabungan kata tersebut memiliki makna yang sejalan dengan tema GEP tahun ini, yaitu semua elemen yang menjadikan manusia sebagai dirinya sekarang. Archetype adalah elemen-elemen pembentuk pribadi seseorang dan tema GEP kali ini diangkat dari empat major elemennya, yaitu Persona, Shadow, Anima/Animus, dan Self. Persona, topeng yang selalu kita pakai di setiap interaksi publik yang menunjukkan seseorang yang ingin kita tiru akan tetapi bukan kita sebenarnya, Shadow, kualitas-kualitas inferior yang kita sembunyikan dan bendung agar tidak terlihat oleh siapapun kecuali diri kita sendiri, Anima/Animus, kedua sisi di koin yang sama dengan anima menggambarkan sisi maskulin di wanita dan animus yang menggambarkan sisi feminim di pria, dan terakhir, Self, penyatuan dari alam tidak sadar dan sadar, harmonisasi dari segala aspek yang kita perlihatkan dan sembunyikan. 

 

GEP tahun ini dilaksanakan selama enam hari pada tanggal 8-13 November 2021. Sama dengan tahun lalu, berbeda dengan biasanya, GEP tahun ini dilaksanakan secara online dengan menggunakan web sebagai wadah menampilkan karya-karya kru.Dengan menggunakan website https://kausarupa.com/ sebagai wadahnya, tidak hanya menampilkan karya fotografi, videografi, dan kineklub, GEP tahun ini juga mengadakan talkshow dengan judul “Learn Every Aspect of Yourself” yang dibawaan oleh Shafira Fawzia pada hari pertamanya. Dilanjutkan dengan nonton dan ngobrolin karya pada hari kedua sampai kelima, GEP Kausarupa ditutup dengan talkshow dengan judul “Accepting Yourself” oleh Hilda Soedjito. Pameran ini dikunjungi oleh mahasiswa ITB, komunitas fotografi, videografi, dan kineklub, dan masyarakat umum sekitar. Kami tunggu di GEP tahun selanjutnya!

Raw Exhibition: Open Art and Cinema

Disclaimer: seluruh review ini merupakan pendapat pribadi penulis

Pameran memiliki banyak jenis dan bentuk, tergantung dari tujuan diadakannya pameran tersebut. Secara umum, pameran menjadi proses terakhir dalam proses panjang berkarya. Karya yang sudah sempurna, dipamerkan dalam suatu pameran sebagai bentuk publikasi dan apresiasi. Namun, pameran Open Art and Cinema justru menjadi proses awal bagi para seniman dalam membuat karya.

Pameran Open Art and Cinema yang berlokasi di Orbital Dago, Bandung pada tanggal 17-20 Oktober 2021 ini merupakan sebuah bentuk presentasi publik ini menampilkan karya-karya akhir yang interaktif dan yang masih dalam proses dan desain (Raw Exhibition) yang mengangkat tiga tema besar yaitu “Abstrak, Heritage, dan Lingkungan Hidup”. Pameran ini dirintis oleh mahasiswa Film dan TV Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung bersama Uniwersytet Artystyczny im Magdaleny Abakanowicz w Poznaniu (UAP)  di Polandia. Mahasiswa dari kedua negara mendiskusikan berbagai kemungkinan topik kerja kolaboratif secara online. Hasil dari kegiatan ini akan dipamerkan secara langsung di dua negara.

Saat pertama memasuki pameran, Anda akan disuguhi Program Guide yang dapat diakses melalui QR code dan disambut oleh masing-masing seniman yang akan menceritakan karyanya.  Layout disusun dengan ruang yang ada dengan 8 instalasi karya yg memiliki tempat masing masing. Pengunjung dapat berinteraksi melalui karya-karya interaktif yang disajikan seperti menuliskan surat untuk masa depan, curhatan ide dan respon terhadap karya seniman, menggambar pada objek yang disediakan, dan bentuk interaksi-interaksi lainnya sesuai dengan karya yang ditampilkan. Dengan adanya karya-karya seperti ini para pengunjung dapat melihat, merasakan, dan meluapkan emosi yang sama dengan apa yang dicurahkan oleh para pengkarya. Pengunjung dapat teredukasi dengan ragam bentuk seni pada pameran ini. Peran seniman yang turut hadir menceritakan karyanya sendiri menjadi poin unggul dimana pengunjung dapat berdiskusi dan mengapresiasi secara langsung. Selain pameran, kegiatan Live Performance dan screening film juga menjadi kegiatan yang tidak boleh dilewatkan mengingat tidak ada reka ulang.

Open Art and Cinema telah berhasil menyampaikan intensi para seniman dengan baik dan interaktif. pameran ini bukanlah hanya sekedar hasil kreasi dari para artis, tetapi juga melibatkan interaksi, emosi, dan energi dari penikmat seni untuk menyempurnakan mahakaryanya. Pameran ini menginspirasi saya untuk mengeksplorasi lebih jauh bentuk, jenis, dan tujuan pameran dihadirkan.

Pertunjukan Challenge #1

Pertunjukan Challenge kali ini mengangkat topik menyajikan karya dalam media website selaras dengan selesainya kelas internal pertunjukan untuk memaksimalkan UI/UX dalam website pameran.

Para kru akan disediakan karya dari Dinding Karya #5, When A Once Upon A Time Ends atau karya kru sendiri. Dengan menggunakan WIX sebagai platform utama, kru dibebaskan untuk berkreasi di dalamnya dengan wajib menyertakan homepage dan page isi karya. Nah, dengan mempertimbangkan layout karya dan seberapa interaktifnya pameran, berikut adalah karya pemenang Pertunjukan Challenge kali ini serta karya partisipan lain yang enggak kalah kerennya:

https://dasabrasdia.wixsite.com/ptjknchallenge


https://natashatiovanny.wixsite.com/pchallenge


https://avitomridjo.wixsite.com/my-site


https://rizqamiranda.wixsite.com/waouate

Stories in Light: Four Modern Photographers in Singapore

Di zaman yang sudah canggih ini, teknologi dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia salah satunya untuk mengedukasi. Pengetahuan bisa didapatkan dimana dan darimana saya selama ada akses internet. . Selain itu, orang-orang semakin sering untuk mengeksplorasi berbagai macam hal yang tidak bisa diwujudkan secara nyata ke dalam bentuk online. Salah satunya adalah Pameran Stories in Light. Di pameran ini, kita akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan mengenai fotografi secara daring.

Pameran Stories in Light: Four Modern Photographers in Singapore diselenggarakan oleh National Gallery Singapore pada bulan September 2021 melalui laman website https://storiesinlight.nationalgallery.sg/. Selain memamerkan beberapa karya foto dari empat fotografer Singapura, National Gallery Singapore ingin kita dapat melihat perkembangan Singapura dari sisi fotografi.

Saat mengakses pameran tersebut, Anda akan disuguhi sebuah visual dari ruangan pameran dan juga audio berbahasa Inggris dari seorang wanita yang berperan sebagai tour guidenya. Hal pertama yang saya pikirkan adalah pameran ini sederhana, alias tidak banyak interaksi yang ada untuk pengunjungnya. Namun, konsep sederhana ini menurut saya adalah poin plus dari pameran Stories in Light karena menjadi terfokus untuk menyampaikan tujuan dari pameran tersebut dibantu dengan audio yang ada. Sederhana namun tidak melupakan detail-detail yang ada, seperti memainkan bayangan dan cahaya dari berbagai sudut untuk menambah kesan realistis. Selain itu, perpaduan warna yang ada pada pameran tersebut juga tidak membosankan walaupun hanya menggunakan beberapa warna saja. Penyelenggara juga membuat seakan-akan kita berada di ruangan pameran tersebut dengan mengatur jarak pandang pengunjung terhadap karya-karyanya.

Pengunjung dapat mendekat apabila ingin melihat karya yang membuatnya tertarik layaknya berada pada pameran yang nyata/offline. Dari segi UI/UX, pameran ini menerapkan salah satu prinsip UI/UX, yaitu tidak membiarkan fitur audio ter-play secara otomatis. Pengunjung dapat leluasa untuk menyalakan atau mematikan fitur tersebut sehingga memberikan kenyamanan tersendiri. Susunan fotografer dan karyanya pun disusun sedemikian rupa agar pengunjung memahami perkembangan dari fotografi serta pemandangan maupun suasana Singapura dari waktu ke waktu.

Namun, ada yang sedikit mengganggu saya selama mengunjungi pameran Stories in Light ini. Pada bagian catatan kuratorial, Anda akan merasakan bagian tersebut zoom-in dan zoom-out secara perlahan. Mungkin hal ini minor bagi sebagian orang, akan tetapi fokus untuk memahami kalimat menjadi hilang dan seakan-akan mengalami motion sickness.

Menurut saya, pameran Stories in Light: Four Modern Photographers in Singapore sangat mengedukasi pengunjungnya dari segi proses berkarya fotografi dengan memanfaatkan objek yang ada di sekitar maupun teknik yang digunakan oleh keempat fotografer pada pameran tersebut. Selain itu, tujuan dari pameran ini tersampaikan dengan jelas karena dieksekusi dengan rapih dan terstruktur. Pameran Stories in Light: Four Modern Photographers in Singapore menjadi salah satu pameran yang sangat sayang untuk dilewatkan selama masa pandemi ini versi saya. 👍

-Rifasya Ayuna (kru’19)

BK from Home : Daybreak

Daybreak (n): the time in the morning when daylight first appears. Daybreak secara harfiah adalah momen ketika langit malam yang gelap mulai menyambut terangnya matahari pagi. Layaknya langit, kehidupan pun tak selalu terang benderang, ada kalanya kita dilanda gelap gulita. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini yang menyebabkan kekacauan sosio-ekonomi secara masif, ditambah quarter life crisis yang kian menjadi-jadi, serta dinamika kehidupan personal yang tak luput dari isu keluarga, dan pertemanan. Memang betul sekarang bukanlah waktu yang baik untuk berbagai hal, namun janganlah tenggelam, bila waktunya tiba, life will take a turn for the better, just like daybreak. Yang kita perlukan ialah secercah harapan.

Pada bulan Agustus ini, Bioskop Kampus menyelenggarakan sebuah program pemutaran yang bertajuk “BK from Home : Daybreak” dengan taglineEvery Cloud Has Its Silver Lining” yang mengangkat tema tentang optimisme dan harapan yang kerap ditemui di dalam kehidupan setiap orang. Pemutaran kali ini, BK bekerja sama dengan streaming platform Genflix sebagai wadah pemutaran. “BK from Home : Daybreak” memutarkan sembilan filmfilim pendek karya sineas Indonesia yang dibagi menjadi dua sesi, yaitu pada 7 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB dan 8 Agustus 2021 pukul 16.00 WIB. Tidak hanya pemutaran, terdapat juga sesi diskusi bersama sepuluh sineas yang diselenggarakan setelah pemutaran sesi kedua, yaitu pada 8 Agustus 2021 pukul 19.00 WIB melalui platform Zoom.

Di hari pertama, 7 Agustus 2021, diadakan pemutaran sesi pertama. Pemutaran dibuka oleh Shana Dianra dan Timotius Elvin selaku presenter untuk “BK from Home : Daybreak”. Pada pemutaran ini diputarkan film We karya Aco Tenriyagelli, Masih Ada Natal Malam Ini karya Raihan Pratama Mauladi, Presence of Mind karya M. Danindra SP, Wajah Perempuan dan Masa Lalunya karya Alan Beka, dan Jakarta Subuh karya Syahreza Fahlevi. Sempat terjadi kesalahan teknis pada saat pemutaran film terakhir sehingga film Jakarta Subuh diputar kembali di pemutaran sesi berikutnya.

Di hari kedua, 8 Agustus 2021, diadakan pemutaran sesi kedua dan sesi diskusi bersama sineas – sineas. Sama seperti hari pertama, pemutaran dibuka oleh Shana Dianra dan Timotius Elvin.  Pada pemutaran sesi ini, diputarkan Mimpi Mayla karya Aaliyah Salsabila, Blame Tale karya Farrel R. Asalas, Lama Tak Kembali karya Andhika Godwin, Lasagna  karya Adi Victory, dan Jakarta Subuh karya Syahreza Fahlevi. Pada sesi ini, sempat terjadi kesalahan teknis juga. Akan tetapi, dilakukan pemutaran ulang pada film yang mengalami kesalahan teknis dan pemutaran kembali berjalan dengan baik.

Pada malam harinya di hari kedua, diadakan sesi diskusi di platform Zoom yang dipandu oleh Timotius Elvin selaku MC sekaligus moderator untuk sesi diskusi program pemutaran “BK from Home : Daybreak”. Sineas – sineas yang hadir ada Aco Tenriyagelli sebagai sutradara film We, Raihan Pratama Mauladi sebagai sutradara film Masih Ada Natal Malam Ini,  M. Danindra SP sebagai sutradara film Presence of Mind, Indra Prawiranegara sebagai sutradara film Wajah Perempuan dengan Masa Lalunya, Syahreza Fahlevi sebagai sutradara film Jakarta Subuh, Aaliyah Salsabila sebagai sutradara film  Mimpi Mayla, Farrel R. Asalas sebagai sutradara film Blame Tale, Andhika Godwin sebagai sutradara film Lama Tak Kembali, Adi Victory sebagai sutradara film Lasagna, dan Daniel Victory sebagai produser film Lasagna. Sesi diskusi berlangsung selama 95 menit dan berjalan dengan cukup baik. Partisipan yang hadir cukup antusias untuk bertanya mengenai proses pembuatan film – film yang telah ditayangkan, mulai dari makna tersirat yang ada di film, teknis saat syuting, persiapan sebelum melakukan syuting, dan masih banyak lagi.

Mengoptimalkan Potensi Ekshibisi Visual Melalui Konsep Desain UI/UX, oleh Joshua Atmaja

Pengertian UI/UX
UI atau User Interface adalah proses designer membuat sebuah antarmuka pada software atau device yang terkomputerisasi (contoh : apple watch, ipod, ipod touch, walkman, dll), berfokus terhadap tampilan dan bentukan gayanya. UX atau User Experience adalah proses dimana sebuah tim membuat produk yang menyediakan meaningful and relevant experiences kepada penggunanya.

UI bisa dibilang sebuah botolnya atau bentuk tampilannya, sementara UX adalah pengalaman/hal yang dirasakan oleh penggunanya

Dapat disimpulkan, kalau UI dan UX merupakan satu hal yang berbeda, namun UI/UX adalah satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan.

UX design scopenya sangat besar

Warna kuning : Interaction design,
Warna coklat : Experience design

Desain interaksi adalah adanya komunikasi dua arah antar pengguna dan aplikasinya; harus dipikirkan secara benar2 kepada usernya. Contoh design interaksi : masukin pin nih ke ATM, kalau apliaksi/ATM tsb menjawab input yang diberikan maka itulah interaksi.
User Experience tidak hanya tampilan aja. Ada banyak hal, seperti digunakan untuk membuat sebuah pengalaman pengguna, bisa dengan membuat penggunanya mengeluarkan emosinya.

“T-Shaped Person” digunakan oleh UX designer!
UX designer dapat menguasai berbagai jenis hal (variety of skills), tetapi harus punya hal yang didalaminya (skill depth).

Misal : Ada seseorang yang handal dalam mempresentasikan makanan agar keliatan cantik. Di sisi lain, ada orang yang handal dalam membuat makanan enak. Percuma dong kalo kita bagus dalam mempresentasikannya tapi tidak enak.

Design Thinking
Design Thinking dibutuhkan dalam merancang UI/UX.
Kenapa harus design thinking? karena dalam menjalankan perancangan sampai menjadi sebuah produk ini tidak selamanya lurus, pasti bolak balik kembali lagi alias non-linear process.

Design Thinking dimulai dari :
1. Empathize
– Dimulai dengan riset kepada user/pengunjung (apakah mahasiswa, dekan, dll). Kita juga dapat memposisikan diri menjadi user
– Bisa dimulai dengan kata “kenapa”, kenapa mau dateng ke pameran kita?, kenapa gini, kenapa gitu
– Setelah riset, kita akan menemukan masalah utamanya lalu bisa dilanjut ke define
2. Define
menemukan/meran- cang konsep yang dihasilkan dari empathize
3. Ideate
menambahkan ide-ide pada konsep yang telah dibuat sebelumnya
4. Prototype
Mendesign hasil jadi, tetapi bukan barang jadi. Kenapa? Karena harus testing terlebih dahulu
5. Test
Perlu dilakukan test kepada user, menemukan hal yang bisa di improve dan kenyamanan bagi penggunanya

Dengan Design Thinking, bisa aja mundur ke step sebelumnya karena ga sesuai dengan penggunanya. Jadi, perlu riset lagi atau kembali step lain (define, ideate, dll) sampai ketemu hasil terbaik. Design thinking adalah framework yang bisa menciptakan sebuah produk untuk lebih baik lagi kepada usernya. Capeknya jadi UX designer adalah harus bener-bener “user based/user sentrik”

Tidak hanya terhadap user,

Kita harus menemukan titik tengah antara :
1. desirability (pengguna, pengunjungnya),
2. feasibility (teknologinya, pameran ini mau ditampilin dimana? app sendiri atau domain web aja? karena pasti beda),
3. viabilitinya (inget organisasi kita gimana, mau dibawa kemana?)
Dengan ini, kita menemukan solusi yang tepat biar user menemukan branding kita sebagai LFM (eksis), tapi ngga mengganggu ke pemakaian usernya.

Design Thinking ngga akan berhenti karena kita akan menemukan hal-hal yang baru dan kembali lagi ke stepnya tadi (testing, empathize, dll lagi). Goals-nya adalah mencari titik tengah dari feasibility, desirability, & viability. Saat Design Thinking selesai, berarti kita udah stop membuat produknya.

1. Mulai dari kenapa

“Kenapa harus virtual exhibition? Kenapa nggak yang lain?”
Kalo bisa yaudah.
Kalau gabisa harus apa?

Semua pertanyaan empathize harus dimulai dari kata ‘kenapa’, baru bisa dilanjut pertanyaan lain. Dengan kenapa, kita akan mendapatkan alasan yang tepat dari suatu permasalahan dan akhirnya bisa menjadi inovasi dan solusi untuk produk kita

Mulai dari ‘kenapa’ merupakan salah satu implementasi dari framework UX, yaitu five whys. Contoh :Kenapa gasuka? Karena ribet –> Ribet kenapa? Gabagus –> Gabagus kenapa? –> dan seterusnya.

2. Lakukan riset!
– Jangan sotoy alias sok tau
– Benchmarking penting, tapi jangan lupa riset karena gabisa juga diterapin secara keseluruhannya

3. Ga jago gambar, ga masalah
Nggak jago gambar bisa jadi peluang juga loh untuk jadi UX designer

4. Ingat! Kita mendesign untuk user, bukan untuk kita
Kita bukan usernya, kita designernya

5. Computer tools cuma kepake 5% di dalam proses
– Apapun softwarenya ga begitu penting, itu masalah belakangan
– Apa yang penting? Yang paling penting adalah skill communication, problem solving, design thinking-nya.

6. Mulai dari user, selalu berakhir untuk user
Kalau usernya masih kurang suka, cari design lain

7. Desain UX itu ada lo-fi, med-fi, dan hi-fi. Boleh lansung hi-fi, tapi kalau ada perubahan, effortnya jauh lebih besar
– Lo-fi : tombol2 disebelah mana
– Hi-fi : udah ngasih warna dan lebih detail. Kalau ada revisi effortnya besar, tapi boleh aja. Inget effortnya lebih besar!

Tips and Trick Membuat Virtual Exhibition
Mau bikin pameran online?
Nih ada beberapa saran dari Kak Joshua, simak yuk!

1. Ngga usah paksa user untuk log-in atau masukin data diri di awal pameran
Kesel ga sih kalau mau ngecek harga di Tokopedia, tapi harus log-in dulu?
Nah, sama halnya mau ke pameran tapi harus registrasi dulu di awal-awal. Kecuali : menuliskan nama panggilan, seperti ”halo kak, …” untuk menambah kesan “interaksinya” dan kalau ada hadiah tertentu yang butuh data diri dari pengunjungnya

2. Autoplay video itu haram hukumnya
Jangan play video secara otomatis karena bisa mengganggu user. Coba beri kebebasan sama penggunanya, mau liat atau ngga videonya

3. Ngga perlu pakai background music yang keras. Kalau masih mau pakai, kasih user kontrol supaya bisa ngecilin/gedein volumenya


Ini menjawab 1 dari 10 tips and trick yang bisa diterapkan untuk virtual exhibition.
Ini menjawab nomor 3, untuk kasih user control dan kebebasan

4. Selalu sedain “peta”, supaya user nggak nyasar
Ga mungkin kan dalam pameran offline untuk balik lagi ke pintu masuk buat liat petanya?
Maka dari itu,
Selalu sediain peta di banyak tempat, supaya saat pindah ke mana-mana ngga perlu masuk ketempat yang sama dulu, langsung ke tempat yang ingin dituju

Dari home mau kemana? -> karya 1 -> ada video 1,2,3, dll -> pas ke video 6 mau ke karya foto -> dan seterusnya

5. Mobile first!
Sebenarnya nggak memaksa untuk membuat versi mobile. Namun kalau membuat versi mobile-nya dulu akan lebih enak untuk bikin desktopnya karena pindah dari design yang kecil (mobile) ke besar (desktop). Selain itu, lebih banyak pengguna hp dari laptop

Mobile-First design : kalau buat dari mobile dulu lalu ke desktop. Kelebihannya adalah lebih enak karena pindah dari design lebih kecil ke besar
Responsif design : kalau buat dari desktopnya dulu lalu ke mobile

6. Kalau pameran kurang afdol untuk dibuka di HP, kasih peringatan ke user untuk buka di desktop.
Kasih tau user kalau buka pamerannya di desktop akan dapat full experiencenya.
Bisa dengan kata-kata kaya gini nih :
“Yuk pindah ke laptop untuk dapetin full experience nya!”
Perlu diperhatikan juga :
Pemilihan katanya antara “yuk pindah ke laptop untuk dapetin full experiencenya!”, daripada dengan kalimat yang bikin user harus mikir, misal “jangan buka di hp!”

Woka Voka

Pandemik saat ini mengharuskan setiap individu untuk beradaptasi akan sekitar. Kegiatan yang banyak dilakukan dibalik layar dan teknologi menjadikan alternatif dalam berkarya salah satunya adalah pameran online. Sudah banyak para pegiat seni yang membuat pameran nya menjadi pameran online dikala ini. Begitu pula dengan mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB) FSRD 2020, mereka merupakan angkatan pertama di FSRD ITB yang memulai perjalanannya di perguruan tinggi tanpa bertemu langsung. Dibatasi oleh jarak dan waktu, TPB FSRD 2020 tetap memanfaatkan sebaik mungkin kreativitas mereka melalui kegiatan-kegiatan adaptif yang dipindahkan ke dalam dunia maya.

Pameran Woka Voka merupakan sebuah aksi angkatan berupa kampanye sosial untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni. Woka Voka diadakan pada tanggal 10 hingga 30 Juni 2021 dilaman situs https://wokavoka.com/ dan juga instagram @wokavoka. Pameran ini menampilkan foto hasil karya gambaran dari mahasiswa TPB FSRD 2020 selama 2 semester kemarin.

Woka Voka merangkai pameran dalam 5 bagian yang bersesuaian dengan 5 jurusan yang ada pada Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Setiap bagian digambarkan dengan bangunan yang terbagi menjadi 5 dengan setiap warna yang berbeda pada warna animasi bangunan yang melingkar. Salah satu bagian yang kami kunjungi pertama yaitu Ozzira yang merupakan bagian kumpulan karya dari mahasiswa Seni Rupa. Tampilan pertama ketika membuka bagian Ozzira ini terdapat 23 foto mahasiswa. Dari foto yang terpampang kita dapat mengeksplorasi karya seni berupa gambar bentuk, rupa dasar 2D, dan juga karya bebas dari mahasiswa tersebut.Tidak lupa dengan nuansa website yang sesuai dengan warna dasar dari bangunan masing-masing dari 5 bangunan jurusan. Untuk Ozzira sendiri warna yang digunakan adalah warna kuning. 

Bagian kedua yaitu Dyotte, yang menampilkan hasil karya dari mahasiswa Desain Interior. Dengan latar berwarna biru dan tampilan yang tidak jauh berbeda dengan Ozzira. Bagian lainnya yang kami kunjungi yaitu Edvata dari mahasiswa Desain Komunikasi Visual dengan latar background website pameran berwarna oranye, lalu Kirazzo dari mahasiswa Kriya dengan latar background berwarna gradasi ungu dan biru, yang terakhir ada Poddit dari Desain Produk dengan latar background berwarna hijau. Selain karya, ditiap bagian juga terdapat profile mahasiswa yang memuat foto dan media sosial mahasiswa tersebut. Hal menarik dimana dibagian bawah website terdapat kolom “post comment” yang dapat digunakan para pengunjung untuk meninggalkan komentar baik dari apresiasi hingga kritik saran.

Woka Voka memiliki website pameran dengan warna yang cukup modern dan beragam. Home page website dibuka dengan sound yang membuat kita seperti dalam dunia video game dengan background warna biru dan memperlihatkan desain bangunan tower. Hingga pada dasar tower terdapat tombol pop up “Enter The Exhibition” dibawah logo pameran ini. Tampilan bangunan yang menjadi pemisah untuk mengunjungi karya dari berbagai jurusan juga sangat menarik mata setiap pengunjung. 

Selain isi dari pameran ini, website juga menampilkan beragam rangkaian acara yang diadakan oleh Woka Voka, Yang pertama ada pre-event, berisikan rangkaian acara seperti propaganda di platform youtube, webinar dan workshop. Workshop dengan judul: Anything Can Be Anything, From Scratch to Hatch! bertujuan untuk memperoleh perspektif baru bahwa apapun dapat menjadi sebuah karya yang berharga hal ini diambil dari filosofi midas hand.Selain itu, adapun webinar dengan judul: Creative Thinking on Daily Basis yang bertujuan untuk memecahkan masalah sehari-hari dengan cara yang kreatif bersama dengan Bu Tita Larasati (Dosen Desain Produk ITB). Yang kedua yaitu, main event yang terdiri dari tiga events yang diadakan pada platform instagram lewat IGTV dan juga live instagram. Yang terakhir, terdapat post event yang berbentuk acara amal berjudul Charity : Kabayan, Karya Bantu Budaya Sawangan. Acara amal yang dilakukan pada rentang waktu 14-21 Juni 2021. Komunitas Taman Sawangan Ukulele merupakan komunitas belajar ukulele di daerah Sawangan, Depok. Taman. Pengumpulan dana dilakukan melalui donasi pada https://kitabisa.com/campaign/kabayan serta commission order melalui instagram @kaki__kanan.

Secara keseluruhan, Woka Voka merupakan sebuah rangkaian acara yang salah satunya adalah pameran karya mahasiswa TPB FSRD 2020. Acara ini bertujuan sebagai sarana kreativitas bagi mahasiswa meskipun terbatas oleh keadaan pandemik saat ini, mereka juga memberi dampak nyata dengan membuat acara amal yang tentunya berguna untuk keadaan seperti ini. Woka Voka memiliki daya ketertarikan yang kuat dari segi visual nya, bahkan akun instagram nya pun dapat membuat anda betah untuk berlama-lama scroll laman profile mereka. Pameran ini pun mudah diakses dimana saja dan dari berbagai jenis gadget tidak terbatas hanya melalui PC atau laptop saja. 

Penulis : Shakeela Wulandari (Kru 20) dan Zikrina Firdausyah (Kru 20)