Arkipel: Penal Colony

 

 

Tahun ini merupakan tahun kelima Arkipel Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival memilih tema “Penal Colony”. Tema “Penal Colony” dari festival ini mendapat  pengaruhnya dari cerita pendek karya Franz Kafka yang berjudul In The Penal Colony. Pemilihan tema ini merupakan usaha Arkipel untuk menemukan cara film dalam mengemas pembahasaan mengenai tema “aturan”, “keteraturan”, “aparatus”, “para terhukum”, dan persoalan “kolonial / kolonialisasi / kolonialisme”  dalam konteks sosial, politik, dan budaya.

 

Pada Arkipel kali ini, saya hanya berkesempatan hadir dalam diskusi panel yang diadakan pada tanggal 18-19 Agustus 2017 dan bertempat di Goethe Haus, Goethe Institut Jakarta. Sebagai orang awam yang baru “berkenalan” dengan dunia perfilman, mata saya seakan-akan dibuka oleh tiap topik diskusi panel yang dilaksanakan. Dalam dua hari diskusi panel, ada lima panel yang dilaksanakan. Topik diskusi panel yang diselenggarakan adalah sebagai berikut :

 

  1. Panel 1 : Anonimitas, Amatirisme, dan Habitus Gambar Bergerak.
  2. Panel 2 : Kurasi Filem sebagai Prawarsa Geopolitik
  3. Panel 3 : Platform Kolektif film sebagai Agenda Katalis
  4. Panel 4 : Sinema sebagai Cultural Interface : Konteks Asia
  5. Panel 5 : Filem yang termediasi : [Kon]teks[tur] dan Renungannya

Kemudian

Awalnya, saya sempat kaget melihat topik-topik diskusi panelnya karenakesan yang muncul  ketika saya membaca rangkaian topiknya adalah “betapa sulit dan jauhnya topik ini, mungkin bagasi pengetahuan saya belum mampu untuk menjelajah topik-topik ini.” Akan tetapi, ketika mengikuti diskusi panel, yang saya rasakan justru sebaliknya. Lewat diskusi-diskusi panel ini, bagasi pengetahuan saya makin terisi dan memungkinkan saya untuk menjelajah lebih jauh kedalam topik-topik yang bahkan belum pernah terlintas dipikiran saya sebelumnya.

 

Posisi Arkipel sebagai festival film Internasional saya rasa merupakan salah satu faktor pendorong diskusi dengan topik-topik yang luas dan mendalam seperti ini. Luasnya dapat kita lihat dari koneks yang ditawarkan oleh setiap diskusi panel, sedangkan dalamnya diskusi didorong dengan pengisi diskusi panel yang sudah berpengalaman dan sangat baik dalam menyampaikan materinya. Hal lainnya yang patut diapresiasi adalah tersedianya alat penerjemah ke Bahasa Indonesia ataupun Bahasa inggris yang tentunya sangat membantu peserta dalam memahami topik yang dibahas.

 

Hal lain yang perlu diapresiasi jug aadalah kesediaan pihak Arkipel untuk menanggung tiket dan akomodasi dari wakil komunitas yang mereka undang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, hingga daerah timur Indonesia seperti Ambon. Tentunya dengan melakukan hal ini, Arkipel memberikan pernyataan bahwa Arkipel bukanlah sebuah festival film yang sulit dijangkau meskipun berskala internasional.

 

Rasanya, menilai Arkipel : Penal Colony (atau acara apapun) menjadi sulit ketika tidak mengikuti seluruh rangkaian acaranya. Akan tetapi, jika menilai dari diskusi panelnya, Arkipel berhasil membawa saya menjelajahi topik-topik dunia sinema yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Hal ini membuat saya menjadi tidak sabra akan hal apa yang ingin dibawa oleh Forum Lenteng (penyelenggara Arkipel) dalam festival Arkipel yang akan mereka adakan tahun depan!

 

 

 

 

Arkipel memiliki beberapa program yang diselenggarakan pada festival kali ini. Program pertama adalah program kompetisi internasional.  Sebagai festival yang memiliki target internasional, program ini nampaknya menjadi aparatus dari Arkipel untuk membaca isu terkini dalam konteks lokal maupun global yang berkaitan dengan tema yang diusung oleh arkipel. Selain program kompetisi internasional, arkipel juga mengundang empat kurator ( Zbynêk Baladrian dari Ceko, George Clark dari Inggris, Akbar Yumni dan Afrian Purnama dari Indonesia) untuk mengkurasi program sesuai dengan tema penal colony. Bahkan,  menurut katalog Arkipel, beberapa program juga dipengaruhi oleh karya Franz Kafka.

Oleh: Fausto Axel Evans K.

 

Related Posts