Wall Of Pertunjukan

Wall! of Pertunjukan merupakan dinding yang terdapat pada bagian belakang sekretariat LFM ITB. W!OP ini merupakan ruang eksibisi yang dimiliki oleh LFM ITB dan dimanfaatkan oleh Bidang Pertunjukan sebagai sarana latihan kru dalam membuat pameran dengan mengadakan challenge.

W!oP pertama diselenggarakan dengan tema “OSKM dari Tahun ke Tahun”.  Yaitu menampilkan foto-foto dokumentasi sosial mengenai OSKM ITB yang dimiliki oleh LFM ITB. W!OP kali ini dilayout oleh Bryan Hafidz Abdulaziz TK’18. Dalam layout foto bryan ini, Bryan membandingkan kedua momen yang terlihat memiliki gestur atau acara yang sama namun berbeda tahun.

W!oP kedua ini menampilkan seri foto pemenang “Tantangan Liburan” dari Bidang Fotografi. Dalam challenge W!oP ini Bidang Pertunjukan menginginkan kru untuk dapat menata letak foto dan mengeksplorasi cara menampilkan karya di W!oP dengan menyediakan lampu sorot, lampu tumblr, dan Media Bahan (Kertas Foto/Kertas Kalkir/Kain), yang kemudian dimenangkan oleh Monica Mayrene Kurniawan (Kru 2018). Monica melakukan eksplorasi media menggunakan kertas kalkir yang diberikan lampu di dalam kotaknya sehingga memberikan efek bercahaya dari dalam.

Wall! Of Pertunjukan yang ketiga bekerjasama dengan Bidang Kineklub LFM ITB untuk memamerkan karya review film yang dimiliki oleh Kru LFM ITB. Karya kineklub yang ditampilkan adalah berupa video yang dinamakan dengan Vine (Video Kine), Podcast, dan Tulisan. Ketiga karya tersebut dapat diakses di media-media yang dimiliki oleh Kineklub LFM ITB. Challenge W!oP ini dilaksanakan pada bulan November 2020 dan direalisasikan pada Desember 2020. W!OP kali ini diikuti dan dilayout oleh: Indira Anjanique (Kru 2018), Kirana Pavita (Kru 2018), dan Ajani Raushanfikra (Kru 2018). Ketiganya memadukan ide masing-masing yang memiliki kata kunci interaktif.  Dalam W!OP ini layouter menginginkan adanya interaksi dengan dinding W!OP dengan adanya bubble wrap yang ditempelkan sebagai interaksi dengan pengunjung dan sticker yang disediakan untuk dapat ditempelkan ke dinding W!OP.

Wall! Of Pertunjukan yang keempat bekerjasama dengan Manajerial Bioskop Kampus untuk memamerkan atau menjadi pengantar pameran dan pemutaran yang diadakan oleh Bioskop Kampus dengan tema 16 mm. Dalam W!OP kali ini dipamerkan dokumentasi pelaksanaan BK terdahulu yang dibuat interaktif. Konsep yang dipilih dalam W!OP ini adalah konsep penyatuan dan penggeseran yang dilakukan oleh Hafiza Alifia Putri (Kru 2019), Clara Adam Sugiharto (Kru 2019), dan Meidiana Setiani Zulri (Kru 2019). 

Wall! Of Pertunjukan yang ke-5 bekerjasama dengan Bidang Videografi LFM ITB untuk memamerkan karya videografi dalam rangka menyemarakkan karya videografi spesial milik kruba. W!OP kali ini memiliki kata kunci konsep yaitu “Mengintip Karya Videografi”. W!OP kali ini dimenangkan oleh Tim Dilham (Kru ‘19), Adeline Alika (Kru ‘19), dan Zulafa Azmi (Kru ‘19). Konsep tim tersebut adalah dengan melubangkan papan WOP sebagai intepretasi dari challenge yaitu mengintip langsung karya berupa poster film tersebut yang dipadankan dengan sinopsis masing-masing film.

Pameran Ellipsis

Sebuah karya, dalam bentuk apapun itu pasti memiliki tujuan dan makna tersendiri namun satu hal yang sama adalah setiap pembuat karya/seniman pasti ingin karyanya menceritakan atau menyampaikan sesuatu kepada penikmatnya. Pameran “Ellipsis” memiliki tujuan sebagai media untuk mengeksplor pribadi masing-masing desainer dalam merefleksikan hasil kontemplasi personal menjadi suatu karya dengan tentunya gaya khas dalam setiap aspeknya. Kontemplasi dipilih sebagi tema karena kaitannya dengan hal sehari-hari yang dilakukan manusia. Kontemplasi menjadi dorongan untuk berkarya yang bersifat lebih eksploratif dan mencerminkan identitas desainer sebagai pembuat karya. Jauh dari kebisingan kota, experimental exhibition ini hadir di Galeri Yuliansyah Akbar serta diselenggarakan pada tanggal 1-2 Februari 2020. Dibuka untuk umum dan gartis, pameran ini diwujudkan oleh Mahasiswa DKV ITB.

Sebagai seorang awam yang jauh dari kata seni, mengunjungi pameran ini memberikan pengalamn yang cukup menggugah serta menyenangkan. Seni nampaknya bagi segelintir orang seperti saya, cukup sulit dipahami dan karena betapa sulitnya, banyak orang malah jadi bosan. Para pembuat karya dalam pameran ini betul-betul berusaha agar karya bisa seinteraktif mungkin dan sebisa mungkin melibatkan penikmatnya, yaitu pengunjung. Meski, memang beberapa karya tetap sulit dipahami maknanya tapi setiap karya memiliki daya tariknya masing-masing. Tak sedikit pengunjung yang bertahan pada satu karya dalam waktu yang cukup lama. Cara penyampaiannya tak monoton sama sekali. Contohnya, sebuah karya yang dibalut dalam sebuah kuis atraktif berjudul “The Most Accurate Personality Test Ever”. Belum lagi, karya “Lay Down Look Up” yang hanya bisa dilihat bila kita membaringkan tubuh kita di atas kasur yang telah disediakan.

Lebih dari pada penyampaian dan kemasan yang menarik, para desainer tak lupa menyampaikan kisahnya, hasil eksplorasi dari kontemplasi mereka. Setiap karya pada akhirnya memberikan kesan yang betul-betul berbeda dan dapat tersalurkan. Setiap komponen yang ada di dalam karya pun sebisa mungkin dapat memaksimalkan proses penyampaian pesan sang desainer seperti penambahan audio dan lighting. Di setiap karya pun tersedia QR Code yang menjelaskan latar belakang pembuatan karya tersebut.

Salah satu instalasi menarik nan menyentuh berjudul “The Indestructible Feeling of Being Destructible” adalah sebuah instalasi tentang insekuritas diri yang menggabungkan media digital projection, audio serta teknik refleksi cermin. Awalnya, instalasi ini terlihat cukup sederhana namun ternyata video yang diproyeksikan ke layar adalah hasil pantulan dari dua cermin. Cermin tersebut tak semata-mata menjadi alat untuk menambahkan kesan ‘rumit’, malah menjadi salah satu elemen dari karya ini untuk mengartikulasikan pesan sang desainer.

Penempatan atau layouting juga sesuai dengan karya. Karya yang lebih butuh pencahayaan yang tinggi berada pada lantai atas sedangkan karya yang lmembutuhkan pencahayaan yang minim serta high level of intimacy berada di lantai bawah.

Mengunjungi pameran ini adalah betul sebuah pengalaman yang lagi-lagi menggungah dan menyenangkan. Dalam ruang yang minim, pameran ini dapat menyuguhkan atraksi-atraksi yang serat rasa. Terlebih lagi, pameran ini memberikan banyak insight akan pameran yang atraktif dan penuh makna

Ganesha Exhibition Programme: Ragam Rasam

Liga Film Mahasiswa ITB adalah sebuah unit kegiatan mahasiswa berbasis pendidikan dan organisasi komunitas independen. LFM ITB berfokus pada empat bidang, yaitu Fotografi, Videografi, Kineklub, dan Pertunjukan.

Masing-masing bidang dibentuk sebagai wadah bagi kru untuk berkarya. Untuk mengapresiasi karya yang terlah dihasilkan oleh kru LFM ITB, Bidang Pertunjukan hadir sebagai wadah yang dapat mengadakan kegiatan pameran karya untuk menampilkan karya fotografi, videografi, dan kineklub.

Ganesha Exhibition Programme (GEP) adalah salah satu program kerja yang dinaungi oleh Bidang Pertunjukan. GEP pertama kali dilaksanakan pada tahun 2010 dan kemudian menjadi program kerja rutin LFM ITB pada setiap tahunnya.

GEP dapat berfungsi sebagai wadah utnuk berkarya secara eksploratif bagi kru LFM ITB, menjadi sarana untuk mengapresiasi karya kru dalam bentuk pameran, srta dapat memberi pesan yang perlu disampaikan kepada masyarakat luar.

GEP menampilkan karya kru LFM ITB pda bidang Fotografi, Videografi, dan kineklub setelah proses submisi dan kurasi. Pada November 2019, GEP hadir dengan tema besar yang diangkat yaitu kultur / budaya, dimana kita ingin memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia, serta perubahan dan perbedaan yang terdapat pada budaya kita sekarang. Pesan yang ingin disampaikan adalah pesan persatuan, melalui media kekaryaan fotografi, videografi, dan kineklub. Aspek yang ditinjau dapat meliputi aspek agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, bangunan, dan karya seni.

Indonesia memiliki budaya yang berlimpah. Keragaman budaya telah menjadi identitas bangsa Indonesia. Indonesia dibangun di atas banyaknya budaya, agama, bahasa, etnis, dan suku bangsa. Di era globalisasi, mulai terjadi penetrasi budaya asing yang masuk ke Indonesia sehingga melunturkan budaya lokal dan munculnya budaya baru yang terbentuk dari proses akulturasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga budaya Indonesia. Langkah awal untuk menjaga budaya adalah dengan mengenal budaya indonesia itu sendiri yang kemudian bisa kita jaga dan lestarikan. 

Ada dua poin penting yang menjadi dasar dari tema “Kultur Indonesia” yaitu kultur dan Identitas. Kultur sendiri memiliki arti suatu cara perkembangan gaya hidup yang dimiliki bersama oleh sekelompok masyarakat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sedangkan identitas adalah sebuah karakter yang melekat pada kebudayaan, sehingga bisa dibedakan budaya satu dengan lainya. Aspek yang ingin ditinjau dalam proses kekaryaan GEP didasarkan dari 7 unsur budaya dalam ilmu etnofotografi, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, sistem sosial atau kemasyarakatan, sistem peralatan dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Sedangkan untuk identitas, SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) diguanakan sebagai dasar identitas suatu budaya.

Pameran Retrospektif Xu Bing: Thought and Method

Seni rupa kontemporer tampaknya akan selalu menjadi perbincangan hangat di khalayak ramai. Semakin maraknya instalasi seni di kota-kota besar di Indonesia sungguh menarik perhatian para perupa seni atau bahkan masyarakat awam. Museum Macan menjadi salah satu medium bagi para seniman nasional dan internasional untuk mempresentasikan karya mereka pada audiens global.

 

Setelah sukses menarik massa pada Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow, Museum Macan kembali hadir dengan karya perupa mancanegara kenamaan asal Tiongkok, Xu Bing. Pameran retrospektif bertajuk “Thought and Method” ini menampilkan lebih dari 60 karya dan proyek penting yang dibuat selama empat dekade.

 

Berbicara tentang seni rupa kontemporer di kancah Asia, sosok Xu Bing sangat menonjol karena pendekatan khas dalam karyanya. Pria kelahiran Chongqing tersebut mengawali kariernya dengan mengeksplorasi dimensi budaya, bahasa, dan sistem pengetahuan tradisional. Hal ini merupakan pondasi perjalanan Bing menjadi perupa. Sesuai dengan tema yang dibawakannya, ekshibisi ini memang menampilkan perjalanan karier dan metode serta motivasi di balik kacamata Bing.

 

Karya-karya yang mencakup beragam medium, termasuk film, instalasi, seni grafis, dan materi arsip membuat ekshibisi ini salah satu yang sayang untuk dilewatkan. Dari puluhan karyanya, saya mengambil contoh-contoh fenomenal yang berhasil menyita perhatian audiens melalui metode-metode yang spektakular.

 

Karya pertama ini salah satu yang tidak akan pernah bosan dibicarakan. Instalasi “Book from the Sky” (1987-1991) yang dibentuk dari gulungan kertas berisi aksara Tionghoa yang seakan menjuntai turun dari langit ini seperti menyihir siapapun yang melihatnya. Uniknya lagi, jika dilihat lebih dekat, aksara Tionghoa ini tidak memiliki makna yang memang bertujuan untuk menantang sistem pengetahuan umum. Dipandang dari foto saja cantik dan megah sekali, bagaimana berhadapan langsung? Jatuh cinta saya pada pandangan pertama dengan setiap detil yang disajikan, terlebih lagi aksara-aksara ini murni buatan Bing yang semakin menunjukkan kecerdasannya dalam menuangkan ekspresinya dalam berkarya.

 

Nah, ini dia yang tak kalah menarik dan wajib dicicipi. ‘Perkawinan’ aksara Tionghoa dan bahasa Inggris menghasilkan karya berbasis pembelajaran di kelas, “Square Word Calligraphy” (1994-2019). Siapapun —saya jamin—akan betah berlama-lama di dalamnya. Tecermin dari suasana kelas yang begitu tenang dan damai, dilengkapi dengan visual secara keseluruhan yang tidak kalah cantiknya. Bergerak lebih dalam, teknik melukis aksara ‘Tionghoa’ yang diajarkan juga sangat mendasar sehingga pemula pun akan merasa lebih mudah ‘belajar’. Ada-ada saja memang metode yang diperkenalkan Bing ini. Bermula dari kebutaannya terhadap bahasa Inggris ketika pertama kali datang ke New York, membuat Ia melahirkan ide cemerlang untuk mempermudah masyarakat Tionghoa atau bahkan mancanegara untuk mahir bahasa global tersebut.

Tidak berhenti diperbincangkan, apa sih ledakan ide yang Bing lagi-lagi ciptakan? Pernahkah kamu memikirkan rokok sebagai seni? Seni macam apa yang dapat terbentuk dari rokok? Pada umumnya, rokok dianggap buruk dan seni dianggap baik, tetapi, manusia membutuhkan keduanya. Begitu Bing menanggapi pewarta di Museum Macan yang menanyainya. Dengan menyatukan keduanya, kita akan menciptakan kekuatan yang baru. Maka, lahirlah karya yang unik, “Honor and Splendor” (2004). Karya yang tergabung dalam seri Tobacco Project ini memang terdiri dari 660.000 batang rokok. Keunikannya tidak berhenti disitu! Jika diperhatikan dengan seksama, deretan rokok tersebut membentuk loreng harimau berwarna emas putih. Karya ini sukses membuat pengunjung terpukau, mengingat materialnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Jika sebelumnya terdapat instalasi “Book from the Sky” (1987-1991), maka Bing pun punya “Book from the Ground” (2003-kini). Dengan mengumpulkan simbol-simbol yang Ia ambil dari ruang publik dan menulis dengan tanda-tanda ini, Bing berhasil menyalurkan keresahan orang-orang dengan keterbatasan bahasa untuk berkomunikasi. Dengan demikian, para pembaca, terlepas dari latar belakang pendidikan atau budaya, dapat membacanya sehingga tidak perlu melewati proses translasi. Tidak kalah pentingnya, instalasi berbasis studio ini mengajarkan siklus berproses yang tidak akan pernah berakhir. Belajar tentang bahasa emoji, hal yang paling saya sukai adalah bagaimana Bing mengenalkan metode yang sangat memudahkan saya—juga orang lain—dalam berkomunikasi singkat maupun panjang, dan tentunya dengan penyampaian yang menarik.

 

 

Sejak 2015, klip dari kamera pengawas di Tiongkok dapat diakses bebas oleh masyarakat. Bing menggabungkan cuplikan-cuplikan video tersebut dari berbagai tempat dan sudut yang pada akhirnya melahirkan “Dragonfly Eyes” (2017). Tidak adanya agen manusia yang mengoperasikannya membuat hal-hal di luar nalar banyak terekam. Tidak jarang privasi pun ikut masuk bersamanya. Lewat ini, Bing berhasil menyatukan fragmen-fragmen video tidak berkorelasi ini menjadi cerita utuh yang menggambarkan realitas kehidupan manusia. Sepertinya, Bing bermaksud menyampaikan pesan “Hati-hati di Dunia Nyata”.

 

 

Pameran yang digarap oleh perupa Tiongkok ini rupanya mendapat apresiasi tidak terduga dari para audiens, khususnya di Museum Macan. Selain karena karya-karyanya yang sangat relevan dengan kehidupan manusia, pameran ini cocok untuk yang ingin belajar atau sekedar refreshing. Lewat pameran ini, Bing berhasil membuat rekam jejak fenomenal dari setiap gagasan-gagasan kreatifnya yang disuguhkan dalam sebuah pameran tanpa adanya batasan yang menjembatani antara audiens dan karya-karyanya.

Ditulis oleh Nadya Safitri