Teater IMAX Keong Mas

Pernahkah Anda menonton film dengan layar raksasa berukuran 21,5 meter x 29,3 meter? Apabila belum, maka Anda harus mencobanya di Teater IMAX Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah. Gedung teater yang diresmikan pada tanggal 20 april 1984 ini dibangun atas prakarsa serta gagasan Almarhumah Ibu Hj. Tien Soeharto dan merupakan teater IMAX pertama di Indonesia.

Sebagian besar siswa Indonesia pernah masuk Teater Keong Emas saat berdarma wisata bersama sekolah. Film yang ditayangkan biasanya menonjolkan keanekaragaman budaya Indonesia. Selain film keanekaragaman Indonesia, berapa film box office dunia juga pernah ditayangkan. Namun, tidak sembarang film bisa di tanyangkan di teater Keong Emas . Menonton film di teater ini, sama halnya seperti anda menonton di bioskop biasa, hanya saja kursinya didesain membuat kita menegadah, karena layarnya tidak berbentuk persegi empat datar seperti bioskop biasa, melainkan berbentuk lingkaran cembung karena layarnya adalah tempurung dari gedung Keong Mas itu sendiri. Penonton serasa ikut berada di dalamnya dan ikut pula berperan sebagai pemain yang didukung dengan gambar full HD 4K yang semuanya terasa nyata seperti film 3D. Dengan layar berukuran 21,5 meter x 29,3 meter dan proyektor dengan teknologi IMAX EXPERIENCE 70 mm yang biasa digunakan untuk pemutaran film action seperti Harry potter, Spiderman, dan Transformers yang membuat penonton akan lebih merasakan ketegangannya. IMAX sendiri merupakan singkatan dari Image Maximum, sebuah proyeksi film yang memiliki kemampuan menampilkan gambar dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar dari film konvensional lainnya. Dalam hal suara, berbagai sarana dan panil penyerap suara (akustik) ditempatkan secara strategis pada lokasi tertentu di sekitar teater, sehingga diperoleh pantulan suara yang jelas dan sempurna.

Selain kualitas proyektor yang lebih bagus dan audio yang mendukung, kehadiran panggung multifungsi memungkinkan Teater Keong Mas memanfaatkan fungsi lain dari sebuah gedung teater bagi masyarakat atau pihak swasta, di antaranya yaitu sebagai tempat peluncuran produk, iklan, kegiatan komunitas, acara keagamaan, wisuda, gathering, hingga sosialisasi program.

 

Namun sayangnya masih terdapat kekurangan yang sebenarnya bisa diatasi seperti bangunan yang terkesan kuno dan kurang terawat, film-film yang temanya itu itu saja dan jadwal pemutaran yang tidak sama setiap hari membuat pengunjung kurang tertarik dengan pemutaran film di teater IMAX Keong Emas ini. Dengan kualitas media audiovisual yang melebihi kualitas bioskop pada umumnya, penulis menilai bahwa tidak ada ruginya anda menonton disini juga penulis berharap semoga kualitas pelayanannya dapat ditingkatkan dan film-film yang diputar dapat lebih menarik pengunjung.

Penulis: Muhammad Faizin Fitriansyah Musa

Bioskop Kampus: Kurasi Jaman

Pemutaran Bioskop Kampus dari waktu ke waktu selalu bereksperimen mengenai berbagai macam hal berbeda dalam memberikan pengalaman pemutarannya. Tak kalah dengan yang sebelumnya, Bioskop Kampus yang diadakan pada tanggal 4 Oktober 2019 kali ini berkolaborasi dengan ITB Insight dalam memberikan pengalaman yang unik untuk para penonton setia. Dengan tajuk Bioskop Kampus “Kurasi Jaman”, pemutaran film-film pendek ini mengharapkan penonton untuk terbawa ke dalam suasana perkembangan zaman yang hadir di peradaban manusia; baik masa lampau ataupun masa depan.

Pemutaran film pada Bioskop Kampus “Kurasi Jaman” merupakan pemutaran yang mengangkat isu seleksi zaman-zaman peradaban manusia akibat pengaruh teknologi.  Terdapat lima film yang diputarkan dan dibagi dalam dua sesi pemutaran. Lima film yang dimulai pada pukul 19.00 tersebut adalah Dino oleh XX, Laki-Laki Virtual oleh XX, Oldies Buddies oleh XX, Beta_test oleh XX, Lazy Susan oleh XX, dan Djakarta 00 oleh XX. Selain pemutaran, terdapat pula pembagian hadiah bagi yang dapat menjawab pertanyaan kuis dan sesi diskusi di akhir pemutaran.

Sesi diskusi yang dipimpin moderator memiliki topik pembahasan mengenai tema dan film-film itu sendiri; tentang perkembangan peradaban manusia dalam hal teknologi. Dua pembicara yang diundang adalah Thoriq sebagai film-enthusiast dan El sebagai representatif dari ITB Insight 2019. Isu yang dibahas begitu seru karena berkaitan dengan tingkah laku kita sendiri dan sejarah penggunaan teknologi di sekitar kita yang ternyata sangat berpengaruh.

Pensuasanaan “Kurasi Jaman” itu pun dibangun dengan penambahan instalasi futuristik yang memberikan kesan modern; seperti lorong LED dan piano tiles saat memasuki ruang 9009, hologram 3D di tengah ruang pemutaran dan tentunya klip pembuka ala-ala perjalanan waktu saat pemutaran dimulai. Hal-hal tersebulah yang membuat Bioskop Kampus kali ini berbeda dengan biasanya; tidak hanya film-filmnya namun juga instalasi yang mendukung tema tersebut. Kolaborasi BK x ITB Insight 2019 merupakan pre-event dari pameran ITB Insight 2019 yang di adakan pada tanggal 24 November 2019. Pameran ITB Insight 2019 itu sendiri merupakan pameran hasil karya mahasiswa jurusan Teknik Fisika yang berkaitan, tentunya lagi, teknologi futuristik.

Penulis: Aulia Fadlillah Puteri Solikhan

Mencoba ScreenX

Bioskop atau movie cinema adalah sebuah industri yang menaungi pemutaran film atau motion picture. Industri ini terus menerus bergerak seiring dengan kemajuan teknologi. Berawal pada tahun 1895 di Paris, bioskop pertama hadir dengan memutarkan film bisu hitam putih. Seiring berjalannya waktu, inovasi yang terjadi pada bioskop semakin beragam, dimulai dari bioskop yang tadinya hanya memutarkan 1 flm saja (1 layar) hingga tersedia banyak layar (Cineplex) seperti yang sering kita jumpai. Tak hanya dari segi jumlah layar, teknologi pada film tersebut pun semakin mumpuni dari tahun ke tahun. Diawali dengan film bisu hitam putih, disusul oleh film berwarna -yang memiliki suara- dengan kualitas teknis yang terus menerus membaik. Dipenuhi rasa ingin terus berkembang, inovasi tidak berhenti sampai di situ. Kini, bahkan jenis layarpun sangatlah beragam. Layar bioskop yang berukuran hingga 30,78 x 13,11 meter, layar yang menggunakan Samsung Cinema LED, dsb. Tak hanya itu, kini telah tersedia bioskop dengan beragam watching experience. Jenis bioskop drive in mungkin pernah digandrungi pada zamannya, tapi di abad 21 ini, banyak hal yang dulunya hanyalah khayalan sudah berubah menjadi kenyataan. Mau nonton secara 3 dimensi? bisa. Mau nonton serasa ada semburan angin dan ikut bergerak di dalam film? Bisa dicoba jenis bioskop 4DX. Mau meraskan berada di dalam film? Sudah tersedia bioskop dengan layar 270⁰ yang lebih dikenal dengan nama ScreenX.

Menelisik lebih jauh mengenai ScreenX, jenis layar seperti ini sudah hadir di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Di Indonesia sendiri baru terdapat satu bioskop yang menyediakan teknologi ScreenX yaitu CGV Grand Indonesia. Teknologi yang digunakan dalam ScreenX sebenarnya bisa dibilang menyerupai teknologi yang digunakan bioskop pada umumnya, yaitu menggunakan proyektor yang menembakkan sinar ke dinding/layar,hanya saja terdapat 2 tambahan layar di samping layar utama dan di atasnya terdapat proyektor yang menembakaan sinar ke arah layar di seberangnya. Dengan demikian, ScreenX jelas memberikan watching experience yang baru dan segar bagi para pengunjungnya karena dapat membuat seolah-olah penonton berada di tempat kejadian sesuai adegan dalam film yang mereka tonton. Dengan hadirnya tiga layar, penonton dapat melihat perspektif yang lebih luas terhadap keadaan di dalam film yang ditonton.

Berbekal rasa ingin tahu akan ScreenX ini, saya pun tergerak untuk mencobanya tanpa mempermasalahkan film yang saya tonton. Bad Boys for Life (2020) yang notabene bukanlah film yang “laku” untuk ditonton dalam ScreenX adalah film yang tersedia saat itu. Datang dengan ekspektasi yang tinggi, saya merasa cukup terkejut saat melihat layar samping yang wujudnya terlihat seperti dinding biasa berwarna putih. Seiring film berjalan, kedua layar di sisi tersebut pun akhirnya digunakan dan menunjukkan kehebatannya. Film yang ditonton terasa lebih megah karena luasnya pandangan yang diberikan. Akan tetapi, dibalik sebuah ciptaan pastilah ada kekurangannya. Begitu pula dengan ScreenX ini. ScreenX yang menjanjikan sensasi berada di dalam film dengan cara menonton 270⁰ tidak sepenuhnya terasa benar karena layar yang digunakan tidaklah mumpuni untuk membuat efek di dalam film serealistis itu. Masih terdapat jarak antar layar sehingga gambar tidak terasa menyatu dan juga dikarenakan layar yang tidak melengkung membuat pandangan terasa terbatas dan sulit untuk memperhatikan gambar pada layar di kiri & kanan. Jenis film yang diputar menggunakan layar ScreenX pun seharusnya tidak sembarangan. Scene yang cocok untuk menggunakan ScreenX adalah scene yang mengambil gambar dengan teknik long shot karena akan lebih terasa efek berada di dalam filmnya. Tentunya, dalam pengambilan gambar untuk sebuah film berbagai jenis teknik ikut andil di dalamnya. Maka dari itu, dalam penggunaan ScreenX pun tidak semua film dapat memaksimalkan ketiga layarnya secara terus menerus sepanjang film.

Image result for screenx
Sumber: id.bookmyshow.com

Penulis: Kiara Qinthara

Bioskop Kampus: Metamorfosa

Sudah sekian tahun ITB mengadakan Open House Unit—wahana mahasiswa untuk berkenalan dengan unit kegiatan mahasiswa yang tersebar di kampus—dan sudah sekian tahun pula Liga Film Mahasiswa mengadakan Bioskop Kampus edisi OHU pada tanggal yang berdekatan, dimana pada pemutaran kali ini diadakan seminggu setelah acara OHU agar seluruh massa kampus dapat sama-sama menikmatinya. Bioskop Kampus OHU istimewa karena selalu ada penonton baru yang datang, yaitu mahasiswa angkatan termuda di ITB. Bagi mahasiswa baru (dan mungkin tak hanya bagi mereka saja), kehidupan kampus dingiangi pertanyaan yang belum terjawab: setelah semua ini akan jadi apa aku kelak? Tanya yang akan mengonsumsi kaum muda hingga mereka bisa menemukan jati diri mereka.

Pemutaran film pada Bioskop Kampus “Metamorfosa” berangkat dari persoalan itu. Lima film yang terpilih—Kosan Magnet, 1 Liter, Ve, Lembar Jawaban Kita, dan Carnivale—dibagi dalam tiga sesi pemutaran. MC Tsaniya M dan Ramadida P memulai acara pukul 18.45, dan 15 menit kemudian pemutaran dimulai. Dalam setiap jeda sesi, ada pembagian doorprize berupa merchandise BK kepada dua penonton beruntung. Selesai pemutaran, sesi diskusi pun dimulai.

Ada tiga pembicara yang diundang, yaitu Frida Caturima selaku sutradara film Ve, Abdalah Gifar Abisena sebagai penulis naskah film Lembar Jawaban Kita, dan Ibrahim Fadhil sebagai Ketua Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM) ITB 2019. Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Rasyid A ini, salah satu poin yang menarik adalah cara masing-masing pembicara memaknai jati diri. Bagi Mas Abisena, jati diri ditentukan oleh yang kita hasilkan, karya kita; ia menganalogikan diri sebagai pohon, dengan akar yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing ikut-ikutan orang dan jenis pohon yang baru ketahuan dari buah yang dihasilkan (re: karya). Sementara bagi Frida, jati diri mungkin butuh waktu lama untuk ditemukan, namun itu bukanlah suatu masalah. Ibra sendiri menekankan pentingnya eksplorasi dan keluar dari zona nyaman agar kenal jati diri.

Selesai diskusi, Salwa R sebagai pemimpin produksi BK OHU menyerahkan sertifikat pada pembicara sambil foto bersama. Kemudian acara dilanjutkan pada dengan sesi kuis mengenai film-film yang ditampilkan.

Penulis: Chris Aji