Pamer! Arsip

Pamer! Arsip merupakan pameran fotografi yang diinisiasi oleh Bidang Pertunjukan dalam rangka menelusuri perjalanan pergerakan kemahasiswaan di Insititut Teknologi Bandung.
Dengan sedikit sejarah yang dapat kami gali dari arsip-arsip ini, kami ingin menunjukkan proses dan semangat pergerakan berkemahasiswaan di ITB sejak dahulu hingga sekarang. Kami ingin mengajak kita semua sebagai mahasiswa untuk bersama menjadi bagian dari semangat pergerakan ini, untuk bersama berusaha menemukan cara yang tepat untuk bergerak dengan ragam asa satu tujuan.

Pameran ini dikurasi oleh Indira Anjanique (Kru 2018), Shofie (Kru 2018), Nadya Safitri (Kru 2018), Kirana Pavita (Kru 2018), Kurnia Rizky (Kru 2018), Asiya Mufida Yumna (Kru 2018), Monica Mayrene Kurniawan (Kru 2018), dan Juniar chandra Ananda (Kru 2017).

Pamer! Arsip diselenggarakan pada 24 Agustus 2019 (Saat OHU ITB 2019) di daerah Plazawidya ITB dan dilanjutkan di Taman LFM ITB dari tanggal 26 Agustus 2019 dan dilanjutkan sampai 30 Agustus 2019.

Penulis: Ajani Raushanfikra

Bincang Ria: Ruang

Berbicara ruang bersama Fadjar Kurnia dari Masaraya dan Nugraha Sulaiman Irsyad dari Omah.

“Menurut kalian, apa sih definisi dari ruang?”
tanya Nugraha Sulaiman Irsyad, atau yang biasa disapa Raga.

Pertanyaan dari Raga tersebut sekaligus membuka diskusi kali ini, hamparan tikar di taman LFM serta suasana sore hari yang sejuk ikut menemani kami dalam diskusi sore itu, namun satu yang janggal, rasa bingung saat dipaparkan kalimat tersebut membuat kami diam dan saling bertatap satu-sama-lain.

Usut punya usut, menurut KBBI, ruang memiliki definisi: sela-sela antara dua (deret) tiang atau sela-sela antara empat tiang (di bawah kolong rumah): yang berarti keberadaan ruang ini sendiri merupakan naungan yang berada di antara satu/lebih benda.

Terlepas dari definisi ruang menurut KBBI. di sini Raga, Fadjar Kurnia, dan Kru Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM ITB) ingin berdiskusi mengenai bagaimana eksibitor (dalam diskusi ini membahas mengenai pameran Omah dan Masaraya) memaksimalkan Ruang untuk kebutuhan eksibisi mereka masing-masing dan bagaimana proses konsepsi tujuan eksibisi dapat diterjemahkan dalam Ruang yang mereka miliki sehingga dapat dinikmati dan dirasakan tujuan dan tema dari pameran tersebut.

Terdapat perbedaan definisi Ruang dari Raga maupun Fadjar. Menurut Raga, ruang memiliki 2 kata kunci yaitu manusia dan benda pamer itu sendiri. Bagaimana ketika eksibitor mempunyai Ruang dan bagaimana ketika eksibitor mempunyai Benda Pamer sebagai konten yang akhirnya dapat dinikmati oleh orang-orang sebagai konten dari kedua hal tersebut. Contohnya saja seperti Ganesha Exhibition Programme (GEP) tahun 2018, kenapa ia harus diselenggarakan di ruang ‘Urbane’ dengan model ruangan yang seperti itu, ditempat yang tidak ber AC, dan menyesuaikan ruang di ‘urbane’? Karena intinya adalah manusia dan benda pamer itu sendiri.

Seperti konsep dari Omah yang mempunyai latar belakang ingin mengangkat sebuah karya sebagai bagian dari aktivitas keseharian, Raga melihat bahwa LFM terbagi atas 2 ruang (selasar lfm yang mana dinaungi oleh atap dan ruang terbuka hijau atau taman LFM yang terdapat beberapa tumbuhan dan bebatuan). Raga ingin agar kedua Ruang ini dapat diintervensi dengan karya (yang isinya berupa pameran) sehingga dapat berkesinambungan dengan keseharian. Bekerjasama dengan divisi karya dari IMA-G (Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma) mereka menciptakan sebuah pameran buku foto yang instalasinya terbuat dari krat botol berwarna merah yang menyilang dengan tujuan agar orang yang datang mudah untuk menikmati pameran tersebut dan bagaimana layout tersebut membuat aktivitas menikmati karya menjadi reasonable dan impactul.

“Sebenarnya semua tergantung tujuan dan konsep dari setiap pameran, untuk Omah sendiri dirasa hanya terdapat 2 variabel yang terlibat yaitu manusia dan karya itu sendiri” tutup Raga di akhir sesi.

Berbeda dengan Masaraya, pameran ini tercipta karena berangkat dari permasalahan yang ada di masyarakat akan minimnya pandangan terhadap jurusan DKV atau Desain Komunikasi Visual. Fadjar dan tim masaraya ingin mengangkat permasalahan yang ada di masyarakat ini dengan menunjukan bahwa ruang lingkup DKV lebih dari sekedar menyablon kaos saja menurut masyarakat. Membawa konsep utopia dengan tujuan ingin menunjukan bahwa DKV ‘luar biasa’ secara konsep, acara, dan visual. acara ini diselenggarakan pada 9-11 Februari 2019.

Ruang yang dibawa pada Masaraya ini sangat berbeda dengan Omah. di sini, ruang tersebut dibagi berdasarkan tema yang mau diangkat yaitu ruang teknologi (efisiensi), ruang budaya (bhineka), ruang spiritual (nurani), ruang ekologi (lestari), dan ruang sosial (serasi) dengan tujuan ruang-ruang tersebut merupakan pilar-pilar kehidupan yang menaungi sehingga kehidupan ini dapat berjalan.

Nantinya, submisi karya pun harus berdasarkan brief dari tiap-tiap ruang tersebut agar hasil karya yang disubmit tidak melenceng dari tujuan pameran masaraya itu sendiri. Karena diadakan di Gedung Gas Negara, tiap dari ruang tersebut menyesuaikan ruangan yang ada di PGN. mulai dari layout, flow acara, positioning, hingga pensuasanaan. Dibantu oleh tim kurasi karya, Fadjar berkata bahwa untuk masaraya ini tim mereka berangkat dari ruangan yang ada terlebih dahulu kemudian karya yang ada disesuaikan oleh bentuk ruang tersebut. Berarti, dalam pameran masaraya ini terdapat lebihd dari 2 variabel yang berbeda untuk mendukung tujuan dan konsep dari masaraya. 

Kesimpulan

Dalam diskusi kali ini bersama Raga, Fadjar, serta Kru Liga Film Mahasiswa ITB ada sebuah topik yang cukup menarik mengenai ruang. Terdapat definisi yang berbeda dari Raga maupun Fadjar mengenai arti ruang itu sendiri, tetapi kesimpulan dari perbincangan sore ini menurut saya adalah tentang bagaimana tujuan dan konsep dari pameran itu mengarah pada jenis ruang ataupun variabel lain yang ingin diangkat dalam pameran tersebut.

Penulis: Safira Ramadhani

Barnum Circus #1

Konsep barnum circus yang pertama ini awalnya berangkat dari adanya foto yang terpilih dari fotografi challenge, fotonya berupa perjalanan penyu yang baru saja menetas (tukik) dari pantai menuju ke laut berjumlah 5 foto. Dari konten foto tersebut, dijabarkan hal-hal apa saja yang terkait dengan penyu kemudian diturunkan hingga menjadi konsep dasar dari instalasi untuk memamerkan karya foto tersebut. Dari beberapa ide yang ada akhirnya dipilih pantai sebagai konsep dasar instalasi yang akan dibuat. Alasan kenapa pantai dipilih karena sangat dekat dengan objek dan dapat mendukung cerita dari foto tersebut mengenai perjalanan penyu dari sarangnya (pasir pantai) hingga ke laut.

Inspirasi pembuatan instalasi ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bentuknya diadaptasi dari papan menu yang terdapat pada bagian belakang atas kasir makanan cepat saji (KFC, Mcd, Texas, dll). Selama mengantri untuk memesan makanan dari pengalaman pribadi, lebih mudah untuk memilih pesanan dari menu yang berada di bagian belakang atas kasir dari pada menu yang tercetak di lembar kertas. (tergantung orang) Dengan gambar dan tulisan yang jelas, komponen tersebut diterapkan pada instalasi penyu ini. Sehingga berpengaruh dengan ukuran foto yang dicetak.
Perwujudan dari instalasinya berbentuk persegi panjang dengan sisi depan yang cekung (1/8 lingkaran) berdimensi sekitar 240 cm x 60 cm yang diletakkan di sudut antara atap dengan kanopi diantara dua tiang dan menghadap ke selasar LFM. Alasan pemilihan tempat tersebut karena sudut tersebut mudah dilihat dan dilewati banyak orang, khususnya kru LFM apabila keluar dari ruang santai akan sangat mudah untuk dilihat. Selain itu, ditempatkan di atas karena ingin berfantasi untuk menikmati pantai dengan cara yang berbeda dari biasanya. Pada umumnya orang-orang melihat pantai ada dibawah, instalasi ini memberikan kenampakan pantai yang berbeda dengan penempatan yang ada di atas.

Dekorasi yang dibuat menggunakan konsep hyper-realistic dioramas, sehingga perwujudan alam pantai dibuat semirip mungkin dengan aslinya dan dapat dirasakan pantainya. Bahan-bahan yang digunakan beberapa diperoleh dari alam, seperti pasir pantai, cangkang telur, kerikil, ranting, dan serpihan kulit pohon. Untuk bagian laut, digunakan kertas yang dikerutkan, ditempel, dan dicat hingga tampak seperti lautan, kemudian dituangan lem transparan untuk mendapat efek air dan ombaknya. Lem transparan juga ditambahkan di cangkang telur dan sekitarnya sebagai bentuk dari lendir penyu yang baru lahir.


Komposisi foto diurutkan sesuai dengan perjalanan penyu dari pantai hingga laut. Foto dicetak dengan ukuran 12R agar mudah dilihat walaupun jaraknya jauh dan komposisinya juga seimbang dengan dekorasi yang ada, foto tidak kalah dominan dan tetap memiliki point of interest yang tinggi sebagai objek utama dibanding dekorasi yang berperan sebagai pendukung.

Penulis: Juniar Chandra Ananda