Sony World Photography Awards

Di tengah ramainya suasana di Tokyo pada bulan Juni lalu, perusahaan alat elektronik bermerek Sony mengadakan pameran fotografi berjudul “Sony World Photography Awards 2019”. Pameran ini diadakan di Ginza Sony Park, Ginza, Kota Tokyo pada tanggal 1 Juni sampai dengan tanggal 23 Juni 2019. Lokasi pameran yang strategis dan berada di daerah Ginza pun sangat mendukung keberjalanan acara ini karena Ginza merupakan salah satu pusat keramaian di Kota Tokyo. Menariknya, ruangan pameran berada di basement sebuah taman publik sehingga membuat para wisatawan dan masyarakat Tokyo penasaran dengan pameran ini.

   

Source: https://www.ginzasonypark.jp/e/program/014/
Source:https://www.ginzasonypark.jp/e/program/014/   

Pada pameran ini, Sony menampilkan beberapa karya fotografi yang berhasil memenangi award dari submisi terbuka yang diadakan sebelumnya. Submisi yang diadakan Sony ini merupakan salah satu kompetisi fotografi yang terbesar di dunia. Karya-karya yang masuk ke submisi berasal dari fotografer-fotografer berbagai penjuru dunia. Menurut deskripsi pameran , submisi yang masuk berjumlah 326.997 karya dan pada akhirnya dipilih 250 karya untuk dipamerkan. Karya yang berhasil terpilih selanjutnya dibagi menjadi beberapa kategori tema foto, mulai dari fotografi arsitektur, landscape, motion, culture, portrait, travel, dan lainnya.

Credit: David Salvatori, Italy, Shortlist, Open, Natural World & Wildlife, 2019 Sony World Photography Awards
Credit: Daniel Portch, United Kingdom, Shortlist, Open, Architecture (Open competition), 2019 Sony World Photography Awards

Pameran ini memakai 3 lantai basement untuk mendisplay karya-karyanya karena foto yang dipamerkan sangat banyak. Saat masuk ke tempat pameran, pengunjung dapat bebas melihat karya tanpa berurutan karena karya yang dipamerkan dibagi sesuai temanya masing-masing. Karya pun dipajang dengan segmentasi 1 tema foto di 1 panel kayu sehingga foto-foto dengan tema seragam didisplay di 1 panel kayu yang sama. Foto yang dipajang juga memiliki variasi ukuran yang berbeda. Karya yang memenangkan juara 1 memiliki ukuran yang paling besar dibandingkan juara yang lainnya. Beberapa karya juga ada yang didisplay khusus tanpa menggunakan segmentasi 1 tema di 1 panelkayu, seperti misalnya untuk karya dengan tema photo series sehingga setiap 1 photo series dipajang di 1 panel kayu yang sama. Instalasi yang dipakai untuk mendisplay karyanya pun cukup sederhana dan juga memudahkan pengunjung untuk menikmati foto dan juga membaca deskripsinya.

 

Hal yang paling menarik dari pameran ini adalah profesionalitas dari para kurator dan juga para pembuat karya; terlihat dari tingginya kualitas dari foto-foto yang dipamerkan dan juga deskripsi tiap fotonya. Hal ini tentu sangat penting sebab kompetisi yang diadakan pun merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Mungkin, hal ini adalah poin yang harus dicontoh pada setiap penyelenggaraan pameran, yaitu dengan menunjukkan profesionalisme dalam mengadakan pameran, terutama dari segi kurator dan juga pembuat karyanya dalam proses kurasi, pembuatan karya, dan juga eksekusi finishing dari karyanya.

Penulis: Fakhrell Saqfan Izzan

How to: Menulis Review

Dalam penulisan review atau ulasan, terdapat bagian-bagian yang memenuhi penulisan ulasan itu sendiri. Adapun bagian tersebut meliputi:

Judul

Dalam penulisan judul ulasan, penulis dibebaskan untuk menulis judul ulasan dengan kreatifitas sendiri ataupun semudah menuliskan kembali nama acara/pameran.

Pembukaan (Bridging)

Pembukaan atau bridging bisa berisikan pernyataan/kutipan/hal unik yang ditemukan di pameran/ciri khas.
Contoh: Tidak banyak orang peduli dengan lingkungan, sampai mata kita sendiri ditampar oleh pameran Laut Kita.

Bagian 1 (Pengenalan)

Bagian ini menceritakan pengenalan mengenai pameran/pemutaran/festival. Dapat berisikan nama acara, waktu dan tempat, jenis acara, dan pihak penyelenggara.
Contoh: Pameran fotografi “Atmosphere” yang berlokasi di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 13 sampai 24 desember adalah sebuah pameran bertema olahraga yang menampilkan ekspresi dan suasana baik dari individu maupun kelompok dalam lingkup olahraga, bahkan beberapa rekam foto terlihat kepedihan dari potret dunia olahraga namun ada pula rekam kebahagiaan dan haru.

Bagian 2

  • Tuliskan impresi/pemikiran mengenai pameran (apa yang dirasakan, layout, flow)
  • Interaksi ruang pameran (proporsi, center of attraction, eye catching, accessible, blind spot), bisa dijelaskan dengan foto yang menjelaskan ‘what’
  • Materi pamer bagaimana (interaktif, komunikatif, rekreatif)
  • Pandangan secara keseluruhan pada acara (jika ada boleh tambahkan acara pelengkap; talkshow, workshop, diskusi)

Contoh: Dalam pameran ini juga diadakan beberapa diskusi salah satunya adalah diskusi “Melihat Indonesia Melalui Olahraga“. Pada pameran yang sekaligus acara peluncuran buku Atmosphere tersebut terlihat beberapa karya fotografi menggunakan teknik Panning, Available Light dan Freeze. Dengan adanya karya-karya seperti ini para penikmat seni dan masyarakat dapat melihat dan merasakan bagaimana suasana dan emosi yang dirasakan oleh para pelaku olahraga pada bidangnya masing-masing, kita penikmat seni juga semakin teredukasi dengan ragam jenis teknik dan karya fotografi yang disajikan pada pameran ini.

Bagian 3

Kesimpulan tentang pameran, bisa dijelaskan dengan foto yang berkaitan unsur 5w1h.

Tulisan oleh Safira Ramadhani
Diedit oleh Aulia Fadlillah P.

Dasar Pengelolaan Festival

Festival Film sangat banyak dan beragam pula hadir dalam masyarakat. Pada dasarnya festival film terdiri atas dua kata yaitu festival dan film. Festival berarti perayaan dan film berarti gambar yang bergerak. Ketika digabung festival film berarti sebuah perayaan film-film yang dibuat dalam film tersebut.

Hal terpenting dari sebuah festival film adalah sebelumnya HARUS MEMILIKI OTORITAS!

Otoritas ini muncul dari faktor-faktor seperti:

  1. Pengetahuan yang meliputi riset, pendataan, jaringan, pendalaman paham tentang isu
  2. Latar belakang aktivitas yang digagas
  3. Konsistensi yang meliputi bukti fokus, ketetapan, serta tidak kontradiktif dengan apa yang dikerjakan terkait langsung atau tidak
  4. Keberlanjutan yang harus memiliki visi jangka panjang dengan roadmap yang terbaca jelas
  5. Pengembangan yang merupakan eksperimen untuk menghasilkan inovasi dalam kegiatan yang akan dibuat

Setelah punya OTORITAS maka harus tau arah gerak festival akan bergerak kemana. Pada dasarnya festival ini memiliki 2 fungsi general, yaitu:

  1. Sosial Pendidikan

Hal yang dimaksud adalah arah gerak festival ini mau disuguhkan kepada masyarakat. Contoh: Purbalingga Film Festival (Sehingga sineas dan komunitas akan disingkirkan terlebih dahulu dan difokuskan kepada masyarakat)

  1. Estetika

Hal yang dimaksud adalah bagaimana membuat citra dan bagaimana mengemas film agar lebih menarik (eksplorasi) atau dapat pula berupa penghargaan seperti FFI.

Dari dua fungsi tersebut dapat dirumuskan arah gerak festival dan dari konsep berikut dapat dilangsungkan proses-proses selanjutnya untuk dapatmewujudkan MIMPI FESTIVAL.

Secara sistem, terdapat roadmap program. Roadmap program ini adalah pemetaan dan pendataan kebutuhan. Dimulai dari menjabarkan visi dan misi festival lalu aplikasi program. Dari adanya aplikasi program ini barulah dapat dijabarkan keestimasi biaya, kebutuhan teknis, kebutuhan tempat, dan hal-hal teknis lainnya.

Sangat penting untuk menjabarkan konsep festival ini, Cara berpikir konsep festival ini meliputi:

  1. Hal apa yang mau dibicarakan? (Pokok isu/persoalan yang memerlukan riset dan pendataan)
  2. Kepada siapa festival ini berbicara? (Audiens sehingga dapat ditentukan jenis media yang dibutuhkan)
  3. Dengan cara apa festival ini berbicara? (Program dan Pelaku sehingga dapat ditentukan jenis medium yang dibutuhkan)
  4. Apa hasil yang diharapkan? (Visi dan Misi yang pada akhir festival haruslah dilakukan evaluasi dan mentoring)

Hal yang perlu diingat dalam membuat festival ini adalah perumpamaannya, seperti “SawahOrganik”. Maksudnya adalah kita akan berkala akan memanen dari festival ini, misalnya kalau sawah akan ditanam padi, akan memanen, dijaga dan dirawat, diberi pupuk dan diberi  air dan ketika akan memanen akan kita tanam lagi. Jika kita memakai bahan kimia dan eksploitasi tanahnya besar-besaran tanahnya akan susah untuk dipakai lagi tetapi hasilnya akan besar-besaran dan untungnya besar. Sama seperti festival film. Kita bisa membuat suatu festival yang besar dan menggemparkan tapi akankah langgeng nantinya? Jika kita hanya memberi dampak sekali saja akan sayang sekali dan efek/dampaknya akan lebih baik jika dirawat berkala atau dipikirkan sejauhmungkin (berjangka panjang)

Catatan oleh Aristina Marzaningrum dan Mikhail Kevin A.