Earth Manual Project

Bencana kapan datang saja tanpa memandang siapa dia. Tentu dalam mengatasi atau menghadapi hal tersebut perlu tindakan yang tepat sehingga kita tidak selamanya larut dalam kesedihan. Earth Manual Project, sebuah pameran tentang bagaimana menghadapi bencana yang diedukasikan untuk masyarakat Jepang. Kini pamerannya sudah berada di negara yang sering terjadi bencana seperti Indonesia, Thailand, dan Filipina.Pameran ini bertempat di Dia.Lo.Gue, Kemang dengan mengusung tema “Disaster and Design: For Saving Lives” yang berarti acara ini memamerkan berbagai rancangan kreatif untuk menyelamatkan diri yang bisa diterapkan masyarakat ketika terjadi bencana. Dari tanggal 2-26 Mei 2019, sepertinya pameran ini tidak sepi pengunjung. Apresiasi besar untuk Design and Creative Center Kobe karena telah menyelenggarakan pameran edukatif!

Pertama kali masuk ke area pameran, pengunjung langsung disajikan barang-barang yang dapat digunakan pasca bencana seperti terigu. Lalu ada buku-buku yang digantung. Bukunya bukan sembarang buku, buku tersebut merupakan guide yang harus dilakukan setelah bencana menyerang. Tidak hanya digantung, buku tersebut di letakkan di dalam lemari kaca dan kondisi bukunya di buka sehingga pengunjung mengetahui apa isi masing-masing buku.

 
Pameran ini diputar lagu santai bervolume kecil agar pengunjung masih bisa menyerap pesan yang disampaikan oleh Earth Manual Project. Yang unik dari pameran ini yaitu semua surface dilapisi oleh kardus tebal sebagai pertanda bahwa ketika Jepang dilanda bencana, semua barang bisa dijadikan untuk tempat berlindung contoh kardus itu tadi.

Selain etalase, pengunjung dapat menonton cuplikan video yang tidak jauh dari menanggulangi bencana ala Jepang. Selain ruang pemutaran, pameran ini juga menampilkan maket lanskap kondisi perkotaan setelah bencana. Pameran ini sangat menarik untuk dihadiri. Walaupun ukuran tulisan sebagai keterangan tambahan kecil, hal itu tidak menjadi masalah karena bagaimanapun objek yang ditampilkan sudah cukup menjelaskan.


Pameran Earth Manual Project patut diacungi jempol karena berhasil menyampaikan pesan bahwa sebuah bencana bukanlah akhir dari segalanya. Bencana tetap harus kita hadapi namun bukanlah alasan kreativitas kita mati karenanya. Negara Jepang mempunyai cara mereka untuk menanggulangi bencana, tertuang dari buku-buku dan video yang ditampilkan.

Indonesia, sebagai negara yang rawan bencana, sepertinya harus meniru tindakan yang dilakukan Jepang dalam menanggulangi bencana, terutama untuk masyarakatnya karena akan sangat efektif untuk bisa pulih ke kondisi normal setelah porak poranda menyelimuti.

Penulis: Frida Caturima

Bioskop Kampus: Lepas

Tahun ini adalah tahun pertama pelaksanaan Bioskop Kampus di ITB Jatinangor. Acara yang diselenggarakan tanggal 28 November 2018 tersebut bertemakan kebebasan dalam menjalani hidup. Tema ini diambil dari suasana di Kampus ITB Jatinangor yang cenderung sepi dan jauh berbeda dari Kampus Ganesha. Walaupun begitu sebenarnya sepi bukanlah sesuatu yang harus dijadikan alasan untuk tidak berkembang. Maka lewat BK Lepas ini penonton diajak untuk menilai apakah keadaan yang ada di Jatinangor merupakan peluang atau penghambat untuk terus mengembangkan diri, sehingga diharapkan ke depannya mereka akan lebih bersemangat dalam keadaan apapun. Bioskop kampus kali ini berlokasi di aula GKU 2 lantai 3, Kampus ITB Jatinangor. Film yang diputar pada bioskop kali ini adalah Montage of Edelweiss, Rock ‘n Roll, Pingitan, Pendekar Kesepian, dan Neng Kene Aku Ngenteni Koe.

BK Lepas tidak hanya dihadiri mahasiswa kampus ITB Jatinangor, melainkan juga berbagai mahasiwa yang ada di Jatinangor seperti mahasiswa UNPAD, IKOPIN, maupun lainnya. Ruangan bioskop kampus didesain seperti bioskop pada umumnya dengan susunan seat bertingkat dan jalur evakuasi di kanan, kiri serta tengah layer seat. Tempat duduk penonton didesain lesehan dan jarak antar seat cukup lebar sehingga selama pemutaran, penonton dapat leluasa bergerak dan menikmati pemutaran dengan nyaman. Setiap penonton yang datang pertama-tama mengisi form dan mendapatkan popcorn serta BK Loyalty card di meja registrasi. Kemudian penonton memasuki ruangan Bioskop Kampus dan mengisi seat yang ada. Di awal acara ada pengenalan dari MC mengenai BK Lepas lalu dilanjutkan dengan pemutaran pertama. Setelah itu dilakukan sesi tanya jawab dan pemberian merch BK kepada penonton terpilih. Dilanjutkan lagi dengan pemutaran kedua dan ditutup dengan diskusi Bersama. Pembicara yang didatangkan untuk BK Lepas adalah kepala dinas multi kampus KM ITB. Tema yang diangkat pada diskusi berkaitan dengan tema BK lepas yaitu seputar lingkungan di Jatinangor dan film-film yang telah diputarkan. Selanjutnya dilakukan sesi tanya jawab dan penyerahan sertifikat kepada para pembicara.

Bioskop Kampus: Aruna dan Lidahnya

Bioskop kampus datang kembali pada bulan februari kemarin dan tentunya membawa konsep yang baru dari bioskop kampus sebelumnya. Dilaksanakan pada 9 februari 2019, Bioskop kampus kali ini membawa penayangan berupa full feature film. Biasanya film yang ditayangkan adalah film-film pendek karya anak bangsa namun kali ini bioskop kampus membawakan atmosfir yang berbeda kepada para penonton. Film yang ditayangkan adalah “Aruna dan Lidahnya”, film layer lebar yang sempat masuk ke bioskop-bioskop besar, namun hanya dalam jangka waktu yang pendek.

 

Tim penyelenggaran Bioskop Kampus: Aruna dan Lidahnya ini membawakan pensuasanaan yang seunik mungkin dengan membawakan sensasi film “Aruna dan Lidahnya” kepada penonton. Dimulai dari color palette hingga konten publikasinya, penonton ingin untuk dibawa memasuki dan merasakan suasana dan sensasi dunia Aruna dan Lidahnya, tentunya sampai batas tertentu saja.

 

Mendapatkan film “Aruna dan Lidahnya”, membutuhkan suatu proses dan tidaklah mudah. Proses perizinan dari para pembuat film harus didapatkan untuk menghindari tuduhan copyright. Di awal ada beberapa film yang masuk ke dalam short list, namun ditentukan bahwa film “Aruna dan Lidahnya” lah yang menjadi tayangan utama bioskop kampus kali ini. Menurut saya, film ini adalah pilihan yang tepat bagi para penonton.

 

Adapula sesi diskusi diakhir pemutaran yang membahas mengenai potensi novel-novel diadaptasikan menjadi film layer lebar. Suatu sesi diskusi yang menarik, mengingat salah satu hal yang penting dari mengadaptasikan buku menjadi film adalah bagaimana membuat film tersebut tanpa banyak mengubah atau meninggalkan unsur-unsur utama dari buku tersebut. Sangat disayangkan sekali apabila sesi diskusi seperti ini disia-siakan.

 

Bioskop kampus kali ini membawakan sesuatu yang beda. Biasanya beda adalah agen dari perubahan dan perkembangan. Menurut saya ini adalah agen perubahan yang bagus bagi masa depan bioskop kampus, keep up the good work!.

Ganesha Exhibition Programme – Februari 2019

GEP GASTROSPECTIVE

“Melihat makanan lebih jauh, tak hanya berhenti di piring”

 

Ganesha Exhibition Progamme (GEP), sebuah ajang selebrasi dan apresiasi karya kru Liga Film Mahasiswa, hadir kembali dengan tema makanan dan tajuk “Gastrospective.” Gastrospective diambil dari kata gastro yaitu perut dan perspective atau sudut pandang. Judul ini memiliki makna untuk melihat makanan dari berbagai sudut pandang, lebih dari sekedar pereda rasa lapar dan sumber energi bagi makhluk hidup.

GEP GASTROSPECTIVE selain memamerkan karya fotografi, videografi, dan kineklub dari kru LFM, mengadakan juga talkshow, music gigs, dan pemutaran perdana film dokumenter LFM, “9009.” Acara ini diadakan pada 22-23 Februari 2019 di Galeri Yuliansyah Akbar, Bandung. Konsep acara dengan tema makanan ini adalah untuk menghadirkan pameran karya yang menyenangkan dan interaktif sehingga pengunjung yang datang dapat merasakan pengalaman yang menarik dan mengesankan di dalam pameran.

Begitu menginjakkan kaki ke dalam Galeri Yuliansyah Akbar yang terdiri dari lantai atas, lantai mezzanine, dan lantai bawah, pengunjung disuguhi dengan aneka kudapan dan karya di ‘meja makan’ di lantai paling atas. Sebuah meja panjang ditata selayaknya meja makan dengan photobook sebagai ganti makanan dan piring, dimana pengunjung dapat ‘menyantap’ karya-karya ini. Karya photo series dan single photo pun menghiasi dinding-dinding di seluruh galeri, dengan alur: sebelum dimakan – proses memasak – dan makanan itu sendiri. Beberapa karya fotografi juga ditampilkan dengan instalasi yang menarik.

Turun ke lantai mezzanine, karya-karya review film dari kineklub digantung dari langit-langit galeri dan ditempel di dinding. Terdapat juga kinecorner dengan beanbags yang nyaman untuk menonton karya vine atau video kine yang ditayangkan pada tablet dan laptop. Lantai bawah galeri disulap menjadi ruang pemutaran film dimana penonton dapat menyaksikan karya film pendek dari kru LFM sambil duduk dengan santai di beanbags. Di ruang pemutaran ini juga diadakan talkshow bersama Wisnu Surya Pratama, sutradara film pendek “Rock ‘N Roll,” mengenai filmnya dan unsur makanan di dalamnya.

Untuk meramaikan acara, GEP Gastrospective mengundang dua grup musik yaitu Gaussian Blue dan Rasukma. Music gigs diadakan di amphitheater Galeri Yuliansyah Akbar pada malam Jumat, 22 Februari. Penonton yang datang saat itu sangat ramai hingga memenuhi deretan tempat duduk amphitheater untuk menikmati penampilan mereka sambil menikmati berbagai jajanan dari food tenants.

Pada hari Sabtu, 23 Februari, terlihat wajah-wajah familiar alumni LFM menghadiri pemutaran pertama film dokumenter “9009” yang disutradarai oleh Zanetta Auriel, kru 2016. Pemutaran perdana ini diramaikan oleh kru dan alumni LFM yang sangat antusias mengenal sejarah LFM itu sendiri. Pemutaran ini bahkan dihadiri oleh ketua umum LFM pertama, Bapak Hanny S. Mudjihardjo.

GEP GASTROSPECTIVE sukses mengeksibisi karya kru-kru LFM dengan pembawaan yang menyenangkan dan meriah. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah turut meramaikan Ganesha Exhibition Programme kali ini!

 

Cahaya

Semakin menjamurnya instalasi seni yang unik dan menarik di berbagai titik di ibu kota memberi ruang bagi para penikmat seni untuk mendapatkan inspirasi atau sekedar cuci mata. Salah satunya dapat ditemukan di Senayan City Mall Level 1. Collaborative Experience Space bertajuk CAHAYA ini menyuguhkan instalasi-instalasi futuristik dan inspiratif yang layak untuk dikunjungi. Dibuka untuk umum, pameran yang diselenggarakan hingga 25 Mei 2019 ini menghadirkan kolaborasi fotografi, lighting technology, desain interior, juga untaian kristal Swarovski nan ciamik. Ide-ide tersebut pun tidak luput dari tangan-tangan kreatif para lintas profesional: Axioo Photography, Infico Interior Indonesia, V2 Indonesia, Royal Design, dan Yogie Pratama.

Mengulas lebih dalam, pameran yang mengangkat tema cahaya ini terdiri atas beberapa sub-ruangan yang terisi dengan instalasi yang berbeda. Semua ornamen ditata sedemikian rupa, ditambah lagi kristal-kristal Swarovski berbagai rupa dan warna menambah kesan mewah pameran ini. Salah satu instalasi yang paling menarik perhatian saya adalah “Hutan Cahaya“. Hutan futuristik yang memanfaatkan teknologi fiber optic berhasil membuat pengunjung seolah berada di ruang antariksa dengan gemerlap cahaya warna-warni nan indah.

Tak kalah menarik, ada pula suatu dark room yang konsepnya diadaptasi dari cetak foto analog. Ruangan ini diisi dengan berbagai macam fotografi, mulai dari portrait hingga street photography dengan layouting memenuhi setiap sisi ruangan. Warna hitam yang mendominasi pun membuat instalasi ini terasa begitu berbeda dengan yang lainnya. Sungguh indah untuk diabadikan atau sekedar dinikmati saja.

Ada dark room dengan nuansa hitamnya, ada pula instalasi “Listen with Your Eyes“ yang khas dengan nuansa putih. Nuansa menenangkan ini dilengkapi dengan elemen musik yang sangat cocok bagi pengunjung yang ingin menjernihkan pikiran.

Tak ketinggalan desain baju oleh desainer ternama, Yogie Pratama, bertajuk “Imaginaire” yang dilengkapi dengan lantai dansa yang akan menyala jika para pengunjung menapakkan kaki dan headset untuk dicoba para pengunjung. Dibuat seunik mungkin dengan konsep gemerlap tahun 80-an, karya ini berhasil membuat tiap pengunjung serasa berada di dunianya sendiri.

Salah satu instalasi yang paling sederhana yaitu “The Vow“. Tidak memakai banyak teknologi, tetapi berhasil mencuri perhatian pengunjung untuk membaca tulisan-tulisan pada setiap kainnya.

Mengangkat tema cahaya, kolaborasi para profesional ini berhasil menampilkan makna cahaya yang akan membawa harapan sebab cahaya sekecil apapun dapat menerangi kegelapan. Bagaimana setiap instalasi menceritakan kisahnya masing-masing, tetapi juga secara bersamaan mengaitkan satu sama lain dengan intimasi yang dalam.

Penulis: Nadya Safitri