EVERYTHING IN BETWEEN: THE EXHIBITION

“Did you ever cycle from The Netherlands to Indonesia?
No, not yet?
Awesome!
Because we did that for you.”

TENTANG EVERYTHING IN BETWEEN

Everything in Between adalah cerita perjalanan Marlies dan Diego, pasangan petualang yang b`ersepeda dari Belanda ke Indonesia selama sebelas bulan –wah, hampir satu tahun! Berawal dari kecintaan mereka bersepeda, mereka berhasil melintasi 23 negara, melintasi sejauh 12.000 kilometer.

Mungkin akan timbul banyak pertanyaan-pertanyaan seperti: Kok bisa ya? Atau Kenapa mereka mau melakukan itu? Selain karena mencintai hobi mereka, mereka memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada kita semua. Nama ‘Everything in Between’ sendiri timbul dari cerita selama di perjalanan dari Belanda ke Indonesia, yang tentu banyak pelajaran yang didapat dari perjalanan mereka dan ingin disampaikan ke kita semua.

For people, animals and trees’ menjadi tagline mereka, dan menjadi tiga isu utama yang mereka bawakan. Dengan adanya perjalanan ini, mereka bertemu banyak orang dari berbagai negara dan dengan berbagai bahasa, namun mereka tetap saling membantu satu sama lain. Orang-orang tersebut bahkan me-welcome mereka untuk singgah sebentar di rumahnya, dibuatkan makanan dan minuman, dan pada akhirnya mereka saling bercerita tentang hidupnya.

Bermalam di tenda di tempat yang tidak diketahui juga tidak kalah serunya untuk mereka. Bangun ditengah-tengah sekumpulan binatang menjadi suatu cerita yang menarik untuk mereka. Belajar untuk hidup di alam, menghargai apa yang ada di sekitar, dan tidak mengganggu keberlangsungan hidup hewan-hewan tersebut, begitu pula hewan-hewan tersebut juga tidak terganggu dengan keberadaan mereka.

Bersepeda juga mengusung isu lingkungan, dimana tidak ada emisi karbon yang dikeluarkan selama perjalanan ini. Perjalanan yang eco-friendly menjadi isu yang ingin mereka sampaikan, bahwa sebetulnya kita bisa, kok, mencintai lingkungan, bahkan berawal dari hobi sekalipun.

Tiga isu utama ini membuat ktia sadar akan sebetulnya apa peran manusia yang sesungguhnya, Bahwa berbuat baik kepada sesama manusia, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, dan pada akhirnya berbuat baik kepada alam. Everything in Between juga berhasil membuat kita sadar bahwa di dunia ini juga dipenuhi banyak orang baik yang peduli akan apa yang kita lakukan, walaupun berasal dari negara yang berbeda dan berbicara bahasa yang berbeda. Everything in Between mengajarkan kita untuk menjadi ‘manusia’.

TENTANG PAMERAN
Pameran Everything in Between bertempat di Kopi Kalyan, Barito, Jakarta Selatan. Bertempat di lantai dua dari Kopi Kalyan, pameran ini dapat terbilang tidak terlalu besar dan digarap secara sederhana. Pameran ini cukup ramai saat kami kunjungi (24 Maret 2019), dipenuhi dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari anak kecil, mahasiswa, orang tua, dan beberapa public figure. Diego dan Marlies pun juga turut hadir di pameran ini, terbuka untuk diskusi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung.

Memasuki pameran ini, pengunjung disuguhi logo Everything in Between dan kata pengantar. Instalasinya dibuat dari kardus, salah satu material yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.

Selanjutnya, terdapat pameran foto yang instalasinya dibuat dari pagar besi wiremesh dan ada juga yang langsung ditempel di dinding. Foto-foto yang dipamerkan menampilkan foto mereka sedang bersepeda, foto panorama alam, serta foto-foto human interest dari berbagai negara. Di sini, terdapat beberapa caption foto yang menurut saya cukup menyentil, baik foto yang terkait dengan alam maupun foto yang menggambarkan mereka yang sedang dilanda homesick.

Merasa Muram
Serbia
Sulit bagi kami untuk merindukan rumah kami, zona nyaman kami, untuk waktu yang lama. Setiap hari diisi dengan tempat baru, orang baru, kebiasan baru. Tapi terkadang kami bisa merasakan sedikit rasa rumah ketika kami bisa tinggal di rumah seseorang. Dan itu adalah perasaan yang menyenangkan, karena hal tersebut memberikan kami ilusi bahwa kami cocok berada disitu. Bahkan jika sementara.

Sayangnya, Kamu Tidak Harus Takut
Indonesia
Kami suka sebuah plang tanda di kaki gunung api aktif tertinggi di Asia Tenggara. “Jangan ambil apapun, kecuali foto. Jangan membunuh apapun, kecuali waktu. Jangan meninggalkan apapun, kecuali rasa hormat.” Dan mengapa kamu tidak harus takut saat berkemah disini? Karena meskipun daerah ini merupakan habitat alami Harimau Sumatra, cukup sulit menemui mereka di habitat alami mereka saat ini. Spesies langka ini lebih takut kepada manusia daripada sebaliknya.

Selanjutnya, terdapat instalasi akan gambaran bagaimana mereka bermalam di tenda selama mereka bersepeda

.“Iya, kami benar-benar menggunakan tenda ini”
Karena banyak yang bertanya
Ini adalah kamar tidur kami setahun belakangan. Mungkin kamu berpikir, romantis sekali untuk tidur bersama di tenda ini, tapi sebenarnya sebagian besar waktu rasanya panas, lembap, dan bau. Dan agak terlalu kecil. Sekarang kamu hanya bisa melihat matras dan tas tidur kami di dalam, tapi dalam kehidupan nyata kami juga harus meletakkan hampir semua tas kami di dalam tenda. (…)

Di samping instalasi tenda, terdapat peta dunia yang menunjukkan rute mereka saat bersepeda, diikuti dengan foto-foto yang juga ditempel di peta tersebut. Di samping dinding ini juga terdapat foto-foto dan narasi dari hasil donasi yang telah terkumpul, untuk mereka serahkan ke beberapa lembaga.

Barang-barang yang selalu mereka bawa saat bersepeda juga turut dipamerkan. Mulai dari kompas, water filter, alat masak, sarung tangan, sunblock, serta gantungan kunci dengan foto orang tersayang.

Pameran Everything in Between ini sebelumnya tidak terlintas dari pikiran Diego dan Marlies. Namun dengan dukungan dari keluarga dan teman-teman terdekat, mereka akhirnya turut membuat pameran ini dan juga berbagi cerita serta menyampaikan pesan kepada para pengunjung. Mereka menyajikannya secara jujur, menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan dan menunjukkan apa yang sebenarnya mereka lakukan. Pameran ini juga kembali kepada slogan mereka, ‘for people, animals and trees’.

Pameran ini cukup insightful dan membuka mata akan kehidupan. Namun hal yang disayangkan adalah flow pameran yang sempat tersendat beberapa kali karena terlalu ramainya pengunjung pada satu tempat yang cukup kecil.

Memang saat kita lihat pameran Everything in Between ini, hanya terdapat foto-foto serta berbagai instalasi. Namun, Everything in Between berhasil membuat pameran ini tidak berhenti sampai disini, namun turut “dipamerkan” lewat podcast, music video, serta cerita mereka yang terdapat di berbagai platform. Pameran ini hanya menjadi salah satu wadah mereka untuk berbagi ke masyarakat. Untuk mendengarkan cerita mereka lebih lanjut, kita dapat mendengar cerita mereka di:

Semoga kita juga dapat turut menginspirasi masyarakat dan turut mencintai lingkungan, serta berbuat baik kepada sesama manusia, hewan, dan tumbuhan!

Penulis:  Irvi Syauqi Selendra

Bercerita Lewat Pameran

Pembicara: Mahardika Yudhadari Forum Lenteng

Senin, 20 Mei 2019, Ruang 9009

Dalam pembuatan suatu pameran dibutuhkan tiga komponen utama, yaitu kurator, seniman, dan organizer. Ketiga komponen itu harus berjalan beriringan, adapun mereka memiliki tugas masing-masing yang sangat krusial dalam pembentukan sebuah pameran. Singkatnya, seniman sebagai penyedia karya, kurator sebagai penyeleksi karya, dan organizer sebagai penyelenggara dan mengatur acara berlangsung.

Workshop kali ini membahas lebih dalam lagi tentang cara kerja kuratorial, yang mempunyai peran untuk menjembatani karya/gagasan seniman terhadap publik. Adapun kerja kurator sebagai berikut:

  • Mencaridana untuk seniman berkarya
  • Mengolah ruang presentasi (ruang pameran)
  • Memikirkan bentuk display
  • Publikasi

Adapula seorang kurator bekerja melalui suatu gagasan, lalu melihat karya apa yang dapat ditampilkan sesuai gagasan kurator tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kurator dapat bekerja dari suatu karya yang sudah ada lalu berangkat kegagasan yang ingin disampaikan, biasanya ini disebut open call. Biasanya kerja kurator diawali dengan melihat referensi-referensi yang ada seperti mengunjungi pameran-pameran atau senimannya lalu baru mendapatkan sebuah gagasan dan memutuskan untuk memamerkan karya yang kira-kira cocok dengan gagasan yang sudah dibentuk.

Pola kerja sebuah pameran dapat berangkat dari proyek seni, wacana apa yang relevan/dibutuhkan. Dalam membuat pameran juga dibutuhkan pola kerja pemikirannya, berikut kriteria untuk menyelenggarakan pameran:

  • Gagasan
  • Konteks, isu sospol, seni
  • Bentuk-bentuk produk karya
  • Pemilihan lokasi
  • Fisik/virtual (orang lebih berpikir pameran di dunia maya daripada ruang fisik, virtual lebih murah, namun yang jadi masalah tidak ada keterlibatan badan untuk mengalami pameran, kecuali hologram, VR)
  • Target audiens (semua usia, remaja, orangtua, disabilitas: dipikirkan bagaimana kebutuhan audiensnya, untuk orangtua misal butuh huruf baca yang besar)
  • Jadwal persiapan(pameran, pasca pameran)
  • Program publik (diskusi, turkurator, symposium, seminar)
  • Opening
  • Publikasi (katalog)

Referensi pameran:

  • Expanded Cinema

  • The House of Natural Fiber: Intelligent Bacteria Project (SC)

Tentang Laut Kita

Ada apa dengan Laut Kita?

Sejauh Mata Memandang. Sungguh menarik bukan, untuk sebuah nama clothing line? Label tekstil yang berdiri di bawah naungan Chitra Subyakto dan Arya Dipa ini sudah berdiri sejak tahun 2014. Berawal dari keprihatinan Chitra akan kain tradisional yang masih dipandang sebelah mata oleh anak muda, hingga terbesitlah ide untuk membuat kain dengan motif modern yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Indonesia. Karena cintanya terhadap Indonesia, isu mengenai limbah sampah plastik yang mencemari laut-laut Indonesia pun membawanya pada “Laut Kita”.

Mei ini, saya berkesempatan mengunjungi pameran yang diselenggarakan Sejauh Mata Memandang yang bertajuk “Laut Kita”. Pameran yang mengusung tema sampah plastik ini diselenggarakan di Plaza Indonesia, Level 2 Utara dari 22 April – 16 Juni 2019. Semakin maraknya berita kerugian karena sampah plastik pun menjadi tuntutan tersendiri bagi sang penyelenggara untuk mencoba menyadarkan masyarakat betapa bahayanya sampah plastik. Mulai dari sampah botol plastik hingga sampah plastik ‘kresek’ dapat ditemukan dalam setiap segmen pada pameran tersebut. Tak hanya kumpulan sampah plastik yang dipamerkan, ada pula video, audio, dan karya-karya fotografi dari berbagai sumber. Pengunjung pun terlihat sangat antusias dengan memposting di Instagram, tak lupa diramaikan dengan tagar sejauhmanakamupeduli.

Memasuki entrance gate, pengunjung disambut oleh rumbai-rumbai botol plastik yang diremukkan dan diikatkan pada kain putih panjang. Ditambah pencahayaan putih dan pemanis bunga-bunga dari kain khas Sejauh Mata Memandang yang membuatnya semakin apik untuk diabadikan atau untuk sekedar dilihat saja. Masuk lebih jauh, pengunjung akan disambut beberapa karya fotografi bertema laut dan sebuah video dengan Putri Marino di dalamnya, dan tentunya, masih bertema laut kita. Foto-foto dipajang di dinding namun diselingi dengan kanvas kosong dengan layout yang rapi dan spasi yang cukup untuk setiap foto. Tak lupa dicantumkan fotografer pada setiap fotonya. Salah satu yang menangkap perhatian saya adalah tone biru yang dihasilkan dari keseluruhan foto-foto tersebut. Sangat cantik dan menenangkan.

Tibalah pada segmen ruangan yang cukup menarik mata maupun hati saya, yaitu, dimana botol-botol bekas yang disatukan dan diikat lalu ditumpuk sehingga menutupi dinding, pencahayaannya pun dibuat gelap biru tua seperti di laut dalam dan ditambah riak-riak air dari proyektor. Ada pula sampah-sampah yang dikumpulkan di dalam box-box yang ditumpuk untuk menyambut pengunjung ketika memasuki segmen tersebut. Instalasi yang dinamakan “Polusi Plastik” ini, juga menyajikan beberapa fakta penting yang diketik di atas karton, ditambah lagi dengan audio yang diputar, pengunjung akan merasa seolah-olah ditampar dengan keadaan laut kita sekarang ini.

Segmen-segmen lainnya pun tidak kalah menarik dan powerful seperti pada segmen-segmen sebelumnya. Isinya pun masih tetap tentang plastik-plastik yang tidak sadar kita gunakan dan berakhir di laut, menjadi ancaman bagi seluruh makhluk hidup.

“Laut Kita” sukses membuat pengunjung terpukau dan takjub. Berhasil mengumpulkan sedikit dari limpahan limbah ini adalah sebuah prestasi yang dapat dicontoh oleh segala kaum, dari yang muda hingga yang tua. Tidak perlu turun langsung, siapapun dapat menjaga kelestarian laut kita, dimulai dari hal kecil seperti membawa tas belanja sendiri atau mengurangi penggunaan sedotan plastik. Karena sekecil apapun langkah yang diambil, dapat membawa perubahan yang besar.

Oleh: Nadya Safitri

Pameran 50 Jahre Goethe-Institut Bandung

Sudah 50 tahun Goethe-Institut Bandung berdiri dan sudah 50 tahun pula institut ini menjadi saksi sejarah. Tanggal 23 Maret 2019 yang lalu, dalam merayakan ulangtahunnya yang ke-50, Goethe menyelenggarakan 50 Jahre Goethe-Institut Bandung. Acara ini berlangsung dari sore hingga malam hari di Goethe-Institut di Jl. R.E.Martadinata dan dimeriahkan beberapa mata acara. Dalam acara tersebut terdapat 2 pameran terpisah yang diselenggarakan oleh Vincent Rumahloine, Indonesian Photography Archive Bandung, dan Goethe itu sendiri. Ada pula Art Performance oleh Tisna Sanjaya,mural oleh Mata Merah Comix dan music performance oleh Bandung Phillharmonic dan Goodnight Electric.

Menilik lebih lanjut mengenai pameran yang dilaksanakan, pameran pertama yang akan saya bahas berjudul Mini Museum. Pameran ini berisi arsip yang dimiliki oleh Goethe-Institute dan dikurasi oleh Vincent Rumahloine bekerjasama dengan Sanggar Seni Rupa Kontemporer. Penyelenggara pameran ini menekankan bagaimana ruang privat (Goethe) dapat dijadikan ruang terbuka untuk umum. Pameran ini diadakan di dalam sebuah ruangan kecil tertutup yang hanya bisa dilihat oleh 5 pengunjung dalam satu waktu. Ruangan dibuat gelap dan penerangan yang berupa lampu berwarna kuning hanya diberikan kepada karya yang disajikan sehingga seluruhh perhatian terfokus menuju karya tersebut. Cara karya disajikan berhasil membawa suasana hangat dan intim seolah-olah pengunjung mengalami kegiatan yang terjadi pada foto. Di dalam ruangan tersebut, ada 4 dinding yang berisi hal berbeda. Ketika memasuki ruang, mulai dari sisi pertama yang terdapat sebuah cetakan LJK yang dibuat pada zaman dahulu yang menunjukkan bahwa Goethe Institute sudah melewati berbagai masa,dimulai dari saat ujian masih berbasis kertas hingga berbasis komputer seperti sekarang. Beralih ke sisi kedua terdapat arsip yang berisi foto kegiatan di Goethe selama 50 tahun ke belakang. Menjadi menarik foto yang ditampilkan dengan dicetak ulang memakai template polaroid yang sebenarnya foto tersebut bukan merupakan hasil polaroid. Hal ini dilakukan karena kondisi arsip yang kurang baik dan ekshibitor mencoba untuk dapat mengikuti tren saat ini. Di sisi selanjutnya terdapat arsip yang disajikan dalam wadah (album foto) aslinya untuk mempertahankan orisinalitasnya. Setelah itu, di sisi paling akhir, ditampilkan slideshow yang berisi kumpulan foto ditemani alunan lagu dan disediakan satu buah kursi. Menjadi menarik, dengan diletakkan kursi di depan slide show tersebut, penonton seakan-akan diajak untuk benar-benar melihat Goethe tempo dulu.

Selain mini museum Goethe, terdapat pameran kedua yang merupakan pameran foto pula. Tanpa dicetak, pengunjung acara ulang tahun Goethe ini berhasil dibuat  penasaran dengan teknologi Augmented Reality yang digunakan untuk mendisplay foto-foto arsip Goethe. Pameran ini menggunakan sebuah aplikasi dan pengunjung dengan mudahnya memindai barcode yang tersebar pada saat pameran tersebut. Pameran Foto dengan menggunakan Augmented Reality ini masih berlangsung hingga tanggal 21 Desember 2019. Dan terakhir yang berada dalam perpustakaan goethe. Arsip yang ada dibungkus dalam sebuah kotak transparan dan  disajikan dengan cara digantung di sebuah sudut perpustakaan tersebut. Dengan bentukan yang seperti itu, seolah arsip yang dipamerkan sangat rapuh tetapi memiliki nilai yang sangat penting khususnya untuk Goethe sendiri. Tetapi sayangnya dengan penyajian seperti tersebut, pengunjung tidak dapat melihat arsip satu per satu.

Acara ini bisa dibilang sebagai cara yang unik dalam merayakan ulang tahun suatu institusi. Menyuguhkan berbagai acara di satu tempat memang bisa terkesan terlalu heboh sehingga setiap mata acara tidak mendapat perhatian yang sama besar. Akan tetapi, Goethe Institute berhasil membuat semua mata acara mendapat atensi yang sesuai proporsinya masing-masing dan menyebarkan 50 tahun perjalanannya kepada pengunjung.

Oleh: Kiara Qinthara