Omah #2: Work in Progress

 

Omah adalah kegiatan yang bertujuan untuk merayakan karya buku foto, sebagai salahsatu bagian dari kekaryaan dalam Fotografi LFM ITB. Setelah Omah pertama yang diadakan pada bulan Oktober 2018, bidang Fotografi LFM ITB kembali melaksanakan Omah pada bulan Februari 2019.

Pada Omah kedua, terdapat dua jenis konten pameran yang diekshibisikan : “Omah : Work In Progress” dan Lapak Buku Foto.

Omah : Work In Progress adalah pameran karya proyek foto kru LFM yang dikerjakan selama periode 2018-2019. Pada Omah : Work In Progress, karya tidak dipamerkan dalam output akhir karya melainkan dalam penjelasan-penjelasan proses berkarya yang disusun sendiri oleh kru LFM yang membuat. Sementara “Lapak Buku Foto” adalah pameran buku foto koleksi pustaka fotografi LFM yang dikurasi serta diulas secara singkat oleh kru baru 2018.

Dinding Karya: Hitam Putih

Dinding Karya 4 yang bertemakan “Hitam Putih” memamerkan 20 karya foto tunggal, spesial didedikasikan untuk kru baru 2018. Antusiasme dari kru baru 2018 sangat tinggi, sehingga proses kurasi berjalan sangat menyenangkan sekaligus alot karena jumlah banyak foto yang masuk serta keproaktifan dalam berpendapat dan mengulik kuratorial dari Dinding Karya 4

 

Celeng

Kerangka Program :

  1. Framing yang menarik dari film untuk di-program-kan

(Hal yang, menurut kalian, menarik untuk disuarakan dari filmnya. Jawab dalam bentuk poin saja. Hal ini tidak melulu tentang konteks; karena sebuah program juga dapat bersuara tentang konten dan konsep)

  1. Kerangka argumen program

(Uraian singkat tentang framing program. Akan baik kalau ada argumen tentang latar belakang, tujuan, dan alasan pemilihan film )

  1. Keterangan Tambahan

(Target penonton, arahan topik diskusi*, venue*, gimmick*, perkiraan durasi, susunan film  etc)

  1. Target penonton
  2. Perkiraan rincian durasi program
  3. Bahasan topik diskusi (jika ada, kalo gaada sesi diskusi, kasih alasannya!)

 

  1. Film(-Film) Pelengkap

(konseptual aja, gaperlu nyebut judul. Tapi kalo udah tau judul yg spesifik, ya bole. Urutin sesuai jadwal putarnya ya!)

Elegi Pelosok Negeri

“Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri”. Pepatah inilah yang akan terlintas pertama kali di pikiran pengunjung ketika memasuki pameran ini. Elegi Pelosok Negeri adalah nama dari pameran nan elok ini. Pameran Elegi Pelosok negeri ini diadakan oleh Pelita Muda ITB bertempat di 107 Garage Room, Ciumbeleuit pada tanggal 14 – 16 September 2018. Pameran ini bertujuan untuk berbagi cerita serta pengalaman tentang segala perjalanan dan kegiatan yang Pelita Muda laukan. Untuk mendorong pemuda agar lebih mengenal negerinya sendiri dan memiliki kesadaran akan potensi negerinya sendiri. Dengan harapan agar para pemuda mendapat gambaran tentang apa yang bisa dilakukan untuk negeri kita tercinta.

Di awal pintu masuk pengunjung akan melihat timeline-roadmap tentang  segenap kegiatan yang telah dilakukan Pelita Muda selama setahun dari 2017 hingga 2018. Sebelah kiri pintu masuk, kita akan disambut oleh foto foto portraiture penduduk desa Sukaluyu dengan berbagai aktivitas penduduknya. Foto foto dipajang di dinding dengan frame hitam dan putih berselang seling dengan layout yang rapi dan spasi yang cukup lebar antar foto. Foto disertai dengan caption berisi kata – kata oleh subjek yang ada di dalam foto tersebut. Melihatnya seakan-akan kita merasakan langsung kegiatan dan tuturan langsung dari tokoh yang ada di foto foto tersebut.

Selain foto juga terdapat poster dan majalah berisi cerita tentang desa Sukaluyu dan juga terdapat coretan karya anak anak desa setempat yang menjadikan ruang kecil tersebut seakan – akan bercerita secara langsung suasana yang ada di desa tersebut.

Beralih ke lantai dua kita disambut dengan portret hitam putih anak anak pedesaan dengan pose mereka masing masing sembari tersenyum, ditampilkan dengan digantung di atap tangga menuju lantai dua. Di lantai dua pengunjung akan disuguhkan dengan foto foto dan skema perjalanan warga pelita muda ke berbagai penjuru Indonesia. Menariknya lagi ruangan ini dipenuhi dengan kerajinan tangan dan juga peralatan peralatan yang digunakan oleh masyarakat desa yang dikunjungi untuk mencari nafkah sehari – hari. Dinding dinding dipenuhi dengan foto – foto suasana berbagai desa di pelosok Indonesia.

Salah satu segmen ruangan yang menarik perhatian pertama kali adalah peta pulau jawa yang diberi benang yang saling berhubungan satu sama lain disertai foto – foto yang menggambarkan suasana berbagai desa. Pengunjung akan merasa seolah – olah ikut mengikuti serangkaian perjalanan yang di tempuh oleh tim pelita muda dalam ekspedisi mereka ke berbagai tempat di pelosok pulau jawa. Berbagai cerita menarik juga disampaikan oleh guider tim pelita muda yang ramah kepada pengunjung sehingga pengunjung dapat memahami alur perjalanan mereka secara runtut.

Pada segmen yang lainnya terdapat peta Indonesia dengan goresan garis garis ke berbagai penjuru dan juga poster yang berisikan penjelasan tentangnya. Di sini pengunjung dibawa lebih jauh lagi mengenal negerinya, tidak hanya di pulau jawa saja.

Pameran ini sukses membuat pengunjung takjub dan terkesima memandangi keelokan negeri, negeri kita Indonesia, begitu banyaknya potensi yang ada di sekitar kita. Bahwa negeri kita, Indonesia tercinta, butuh pemuda pemuda yang luhur untuk turun ke masyarakat dan mengembangkan potensi yang ada. Karna tanpa adanya penggerak perubahan, potensi hanyalah potensi semata.

 

Oleh

Naufal Akhthariyan