Bioskop Kampus: Mesin Waktu

Bioskop Kampus Keliling tahun ini mengangkat tema masa kecil – atau biasa disebut childhood. Maka dari itu, nama yang dipilih untuk BK kali ini adalah Bioskop Kampus Mesin Waktu, dengan tujuan agar penonton dapat merasakan kembali keceriaan dan nostalgia masa kecil. BK Mesin Waktu dilaksanakan pada Jumat, 2 Februari 2018 bertempat di Lapangan CC Timur. Namun, dikarenakan cuaca yang kurang mendukung, pemutaran akhirnya dipindahkan ke Runag 9009.

Antrian masuk Bioskop Kampus: Mesin Waktu. Dokumentasi oleh Dokumentasi Sosial LFM ITB

Suasana sebelum pemutaran film dimulai. Dokumentasi oleh Dokumentasi Sosial LFM ITB

Film-film yang ditampilkan di BK Mesin Waktu merupakan film-film alternatif bertema masa kecil yang telah dikurasi oleh tim programmer BK bersama dengan Kru LFM ITB. Terdapat 8 film yang ditampilkan di BK Mesin Waktu yang dibagi menjadi 3 program, diantaranya Joshua, Ucing Sumput, Mak Cepluk, Sore Hari, Silang, The Flower and The Bee, Mayday! Mayday! These Insects Are Hard To Find, dan Astronot. Penonton yang hadir lebih awal bisa menyaksikan film-film tersebut sambil menikmati gulali, makanan ringan khas anak-anak yang kini jarang ditemui.

Suasana Bioskop Kampus: Mesin Waktu. Dokumentasi oleh Dokumentasi Sosial LFM ITB

Suasana Bioskop Kampus: Mesin Waktu. Dokumentasi oleh Dokumentasi Sosial LFM ITB

Setelah pemutaran film selesai, diadakan sesi talkshow dengan 2 narasumber yaitu Astri, seorang mahasiswi psikologi dan Afif Syahtrian, sineas dari salah satu film yang ditampilkan di BK Mesin Waktu, yaitu Ucing Sumput. Setelah melaksanakan talkshow, diadakan sesi kuis berhadiah merchandise official Bioskop Kampus. Penasaran dengan tema BK selanjutnya? Jangan lupa datang ke Bioskop Kampus berikutnya!
Diskusi setelah pemutaran film di Bioskop Kampus: Mesin Waktu. Dokumentasi oleh Dokumentasi Sosial LFM ITB

Dinding Karya: Portaiture

Dinding Karya kedua yang bertemakan “portraiture” memamerkan 20 karya foto tunggal dari kru LFM. Dinding Karya 2 mulai dipamerkan sejak tanggal 6 November 2018. Tema “portraiture” dipilih untuk mengeksplorasi narasi-narasi yang diberikan kru LFM ITB dalam menceritakan entitas karakter/diri/persona dari manusia yang diambil sebagai objek. Walaupun objek yang diambil cenderung “itu-itu saja” yaitu muka atau bagian dari manusia yang lainnya, pembuatan foto potret terasa sangat berbeda pada tiap karya, dan hal itu pula yang membuat tema “portraiture” jadi menarik.

Dinding Karya: Street Photography

Dinding Karya pertama yang bertemakan “street photography” memamerkan 20 karya dari 20 kru LFM ITB. Tema street photography dipilih berdasarkan pengamatan kegemaran kru LFM ITB untuk “hunting”, dan kegiatan tersebut mempunyai kecenderungan untuk dilakukan di ruang publik. Hal tersebut menjurus ke “genre” yang cukup spesifik yaitu “street photography”. Oleh karena itu, bidang fotografi berusaha memberikan cerminan kekaryaan kru LFM ITB dalam memproduksi karya fotografi di ruang publik.

Pembukaan perdana Dinding Karya. Dokumentasi oleh Dokumentasi Sosial LFM ITB

Omah

Omah adalah kegiatan yang bertujuan untuk merayakan karya buku foto, sebagai salahsatu bagian dari kekaryaan dalam Fotografi LFM ITB.

Omah membuka selebar lebarnya pintu bagi kru LFM maupun pihak eksternal, penikmat foto atau orang awam sekalipun terhadap papun mengenai buku foto, yang mempunyai posisi penting dbagi kru LFM, terutama dalam bidang Fotografi.

Omah diselenggarakan selama tiga hari dan akan memamerkan koleksi pustaka fotografi LFM ITB, karya buku foto kru LFM ITB, dan akan membuka kegiatan presentasi karya buku foto kru LFM ITB.

Ganesha Film Festival 2018

Di tahun 2018, Ganesha Film Festival sudah memasuki tahun penyelenggaraannya yang keenam. Total 1854 pengunjung hadir pada seluruh rangkaian acara Ganesha Film Festival 2018 dengan rincian 1334 pengunjung menghadiri rangkaian pemutaran utama dan 540 pengunjung pada rangkaian pemutaran Sinema Keliling. Rangkaian pemutaran utama dilaksanakan di dua tempat, yaitu Kampus ITB dan Bandung Creative Hub. Sementara Sinema Keliling dilaksanakan di empat tempat, yaitu Dago Elos, Tamansari, Kampus ITB, dan Alun-Alun Cicendo.
Jendela merupakan sebuah entitas yang kami rasa cocok untuk mengamplifikasi semangat yang coba kami bawa pada penyelenggaraan Ganesha Film Fetival yang keenam ini, yaitu menjadi sebuah entitas yang dapat “menjembatani” film-film dari Luar Bandung ke penonton Bandung dan begitupula sebaliknya. Serta, kami juga ingin menunjukkan bahwa film pun memiliki potensi untuk menjadi sebuah jendela : media yang dapat menawarkan sebuah keluasan pandang bagi para penontonnya. Ganesha Film Festival 2018 dibuka dengan pemutaran dari tiga film, yakni Kabar Hari Ini (Maudy Gabrielle), On The Origin Of Fear (Bayu Prihantoro Filemon), Munysera (Ali Bayanudin Kilbaren).
Pada penyelenggaraannya yang keenam, Ganesha Film Festival 2018 memiliki lima program pemutaran dan tiga program non-pemutaran. Berikut adalah penjelasan singkat untuk masing-masing program pemutaran:
a. Sinema Keliling
Sinema Keliling merupakan program yang diinisiasi dalam rangka mendekatkan film pendek dengan masyarakat Bandung. Tahun ini, Sinema Keliling diadakan di empat tempat, yaitu Dago Elos, Tamansari, Kampus ITB, dan Alun-Alun Cicendo. Kami mengadakan pemutaran dalam format layar tancap ke tempat-tempat tersebut. Sinema Keliling diselenggarakan pada tanggal 6 Januari 2018 di Dago Elos, tanggal 19 Januari 2018 di Tamansari, 26 Januari 2018 di Kampus ITB, dan 24 Februari di Alun-Alun Cicendo. Total 540 pengunjung hadir pada seluruh rangkaian acara sinema keliling ini.

b. Kompetisi
Program Kompetisi merupakan program yang memiliki tujuan untuk mengapresiasi film-film yang kami, tim kurator, rasa memiliki pencapaian sinematik yang menarik untuk “disuarakan”. Film-film yang terpilih pada program kompetisi akan dinominasikan untuk memperoleh penghargaan Gajah Emas dan Gajah Pinilih. Gajah Emas merupakan penghargaan untuk film terbaik pada Ganesha Film Festival 2018. Sementara Gajah Pinilih merupakan penghargaan yang diberikan oleh perwakilan dari komunitas film di Kota Bandung.
c. Bandung Nu Aing!
Bandung Nu Aing! adalah program pemutaran khusus untuk film-film karya sineas Bandung. Adapun sineas Bandung yang kami maksud disini adalah sineas yang mengalami proses kekaryaannya di Bandung. Sehingga, tidak harus orang Bandung asli untuk bisa dianggap sebagai sineas Bandung. Bandung Nu Aing! Tidak mencoba untuk menjadi tolak ukur pencapaian sinema fiksi pendek Bandung dalam dua tahun terakhir, melainkan untuk sekadar menambah ruang putar bagi film-film Bandung yang kami rasa penting untuk dipertontonkan kepada spektrum penonton yang lebih luas.

d. Horizon
Horizon merupakan program khusus untuk memutarkan film-film Indonesia yang ikut berkompetisi di festival-festival ternama di Luar Negeri. Tidak ada maksud kami untuk larut dalam puja-puji kepada festival-festival tersebut. Kami hanya ingin film-film tersebut juga turut ditonton dan diapresiasi oleh penonton di Indonesia.
e. A Look On
Program ini merupakan program tematik dari penyelenggaraan Ganesha Film Festival 2018. Program ini diinisiasi untuk mengimani makna Jendela menurut pemahaman para juru programnya. Program ini terbagi menjadi 5 sub-program, yaitu :
A Look On : Distinct Romantic Movies
A Look On : Jestful Society
A Look On : Erectus Disfunction
A Look On : Becoming Human
A Look On : Behind Closed Doors
Sementara untuk program non-pemutaran terdiri dari Kelas Rontofu (with Bahasinema), Kelas! (with Jason Iskandar), dan Malam Temu Komunitas. Kelas Rontofu merupakan kelas kritik dan kajian film yang diadakan atas kolaborasi dengan komunitas Bahasinema. Sementara Kelas! (with Jason Iskandar) adalah kelas dasar penyutradaraan dengan pemateri Jason Iskandar. Malam temu komunitas dihadiri oleh 25 komunitas film. Pada malam temu komunitas ini, terdapat 7 komunitas yang mempresentasikan tentang kegiatan komunitas mereka, yaitu UMN Gate, Kineklub FISIP UNS (Pesta Film Solo), Solo Documentary Film Festival, Side Stream Film, Klub Film Anak Grafika (Klub FIAGRA) FT UGM, Forum Film Telkom.


Oleh: Tim Ganesha Film Festival 2018

Movie Night!

Pada tanggal 14 Agustus 2018, tepatnya di Northwood cafe yang letaknya tidak cukup jauh dari UPI, aku dateng ke pemutaran film yang diselenggarakan oleh Satu Layar UPI bernama Movie Night!. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan kepada khalayak umum tentang dunia film alternatif dan juga menjadi cara Satu Layar UPI untuk berkenalan dan bercengkrama dengan komunitas film yang ada di Bandung.

Venue Northwood cukup sempit. Namun, disediakannya tempat duduk yang cukup banyak membuat para penonton bisa nyaman menikmati film yang diputar. Posisi Northwood Café yang berada di pinggir jalan membuat berisiknya jalanan cukup mengusik telinga sehingga membuat para penonton kehilangan fokusnya. Untungnya, speaker yang digunakan cukup besar, sehingga bisa mengcover bisingnya jalanan.

Tema yang diangkat dalam acara ini adalah “Hubungan antar Manusia”. tema ini diwakili oleh 6 film yaitu The Old Same Feel oleh Farrel Lukman, If I Fell oleh Sri Buan Mantinu, What’s Wrong With My Film oleh Roberto Rosendy, Galus Aryanti oleh Robi Nurdiansyah dan Senandung Kala Itu oleh Rayhan Renaldi. Setelah menonton semua filmnya, sesi tanya jawab/sharing dengan para movie maker membuat suasana cukup interaktif dengan para penonton. Dimulai dari cerita dibalik film, lalu apa saja kesulitannya. Cerita apa saja yang menarik saat pembuatan film, pesan apa yang ingin disampaikan oleh sineas, dan masih ada lagi.

Diadakannya acara ini membuat Satu Layar UPI jadi ajang yang baik untuk para komunitas bertemu . Memang, ada beberapa yang perlu dipertimbangkan kembali agar perngalaman menonton tidak terganggu oleh faktor lain. Patut diapresiasi karena acara tanya jawab/sharing nya berlangsung hangat dan penuh tawa.

Oleh: Ruziqu Tajri

Bioskop Kampus: Ngumbara

Bioskop Kampus kembali turut serta memeriahkan Open House Unit, Acara tahunan yang bertujuan mengenalkan berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, begitu pula dengan Bioskop Kampus yang memiliki tujuan tidak jauh berbeda yaitu mengenalkan pemutaran alternatif kepada massa baru Institut Teknologi Bandung. Bioskop Kampus kali ini diadakan pada tanggal 25 Agustus 2018 dengan menawarkan 2 kali jadwal pemutaran dengan jumlah total lebih dari 200 penonton.

Hadir dengan judul acara Bioskop Kampus ‘Ngumbara’, Bioskop Kampus kali ini memiliki maksud untuk mengenalkan kota Bandung kepada para mahasiswa baru yang sebagian besar berasal dari luar bandung, maka tentu saja film-film yang diputarkan merupakan film-film yang menggambarkan suasana alam,sosial, dan ‘perasaan’ yang didapat di kota Bandung.

Bioskop Kampus ‘Ngumbara’ memutarkan 6 judul film pendek yaitu “Batas Petak Umpet” karya Wiwid septiyardi, “Ilang” karya Regiansyah, “Shareloc Homeless” karya Muhammad Afif, “The Meet” karya Guidho Geofandi, “Satu Sisi” karya Fasya Amasani, dan “Pileuleuyan” karya Razny Muhammad, dan satu opening video berjudul “Eye on Bandung” karya Thoriq, Tosca, Bene, dan Aldy. Tetapi lebih dulu diputarkan video aftermovie OSKM ITB 2018 pada awal pemutaran, yang mana juga merupakan pemutaran pertama video tersebut. Tidak hanya itu penonton juga disuguhi popcorn gratis dan lorong menuju tempat pemutaran yang dihias dengan nuansa kota Bandung. Dalam rangka pensuasanaan pula, dibagikan 100 postcard gratis yang berisikan foto-foto karya kru Liga Film Mahasiswa yang berlatarkan kota Bandung.

Tak dilupakan pula khasnya Bioskop Kampus, yaitu diadakannya diskusi terbuka dengan narasumber dari sineas-sineas pembuat film di akhir setiap sesi. Diskusi tersebut mencurahkan wawasan lebih kepada para penonton Bioskop Kampus akan latar belakang film-film yang diputar pada Bioskop Kampus kali ini, dan juga mengenai perfilman di Bandung secara umum. Selain itu, juga ada kuis berhadiah yang diadakan sebelum sesi diskusi dimulai. Pertanyaan yang ditanyakan terkait film yang diputar di sesi tersebut dan penonton yang berhasil menjawab dengan benar mendapatkan hadiah dari panitia Bioskop Kampus.

Bioskop Kampus: Maya

Menanggapi penggunaan teknologi yang sudah mengakar di masyarakat, Bioskop Kampus kembali sebagai Bioskop Kampus: Maya. Pemutaran yang diadakan pada hari Sabtu tanggal 19 Mei 2018 ini, bertujuan untuk menyampaikan berbagai konsekuensi yang seseorang dapat hadapi ketika menjerumuskan dirinya ke dalam dunia maya atau biasa dikenal media sosial.

Ada yang berbeda pada publikasi untuk acara pemutaran Bioskop Kampus: Maya. Yaitu, publikasi melalui snapgram dengan cara tap-tap. Publikasi melalui cara ini dilakukan agar mendapatkan perhatian dari pengguna instagram untuk datang ke acara Bioskop Kampus: Maya.

Setelah melalui proses kurasi, terdapat 5 film yang diputar di Bioskop Kampus: Maya. Film yang pertama diputar adalah Power Off karya Maudy Gabrielle. Selanjutnya, Aku Kudu Piye, Tweeps? Karya Luhki Herwanayogi. Disambung dengan Lonely Planet karya Candra Aditya. Lalu disambung flm yang menceritakan kekejaman dunia maya bersamaan dengan penyebaraan informasi yang tidak terfiler, satu-satunya film di pemutaran ini yang berasal dari luar negeri, Out of Hands karya Lin ShrJie. Terakhir, program ditutup dengan Carnivale karya Candra Aditya, yang menggambarkan kekuatan media sosial dalam mengontrol masyarakat salah satunya dalam dunia politik.

Setelah seluruh film diputar, takjil dibagikan sembari mempersiapkan sesi diskusi. Sesi diskusi dipandu oleh Muhammad Iqbal Juristian dari LFM ITB sebagai moderator. Sesi diskusi ini dihadiri oleh Maudy Gabrielle selaku sutradara Power Off dan Candra Aditya selaku sutradara Lonely Planet dan Carnivale.

Pesan-pesan dari kedua sutradara menutup sesi diskusi, yang juga merupakan penutup pemutaran Bioskop Kampus : Maya. Melalui pemutaran film beserta diskusinya, Bioskop Kampus: Maya telah memberikan pandangannya terhadap media sosial, membuat masyarakat menjadi semakin tersadar akan konsekuensi yang akan dihadapi ketika terjerumus di dunia maya. Sekaligus juga, memberikan motivasi kepada para sineas untuk lebih semangat berkarya, seperti kedua sutradara sampaikan, membuat film tidak mungkin langsung bagus, untuk membuat film yang bagus haruslah belajar dan membuat film terus menerus, hingga akhirnya puas.

Pameran Kultursinema #5: Gelora Purnaraga

Agustus lalu, saya berkesempatan untuk datang ke ARKIPEL – Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2018. ARKIPEL ini memiliki beberapa rangkaian acara yang salah satunya adalah pameran yang berjudul Gelora Purnaraga. Jika pemutaran dan diskusi dilakukan di Goethe Institute Jakarta, pameran ini diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki. Tema dari pameran ini tentunya masih berkesinambungan dengan bahasan atau tema yang dibawa oleh Arkipel itu sendiri, yaitu homoludens. Dalam pamerannya tahun ini, tim penyelenggara membawa bahasan mengenai Ganefo yang diselenggarakan di Indonesia tahun 1963. Keterkaitannya adalah tim penyelenggara mencoba melihat Ganefo ini dalam dua bagian yaitu tubuh-tubuh sosial dan gestur-gestur ragawi. Tubuh-tubuh sosial ini merupakan interaksi sosial yang terjadi dalam Ganefo, luar maupun dalam pertandingan. Sementara gestur-gestur ragawi adalah gestur-gestur jasmaniah olahragawan yang terjadi di dalam maupun luar pertandingan. Konten-konten yang disajikan dalam pameran ini merupakan hasil simpanan sejarah, baik diambil dari ANRI (Arsip Nasional RI) ataupun berbagai narasumber yang tim penyelenggara dapatkan.
Pameran ini terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu bagian depan, bagian tengah, dan lantai atas. Bagian depan ini merupakan main entrance dari pameran dan terdapat arsip dokumentasi Ganefo dari ANRI berupa video yang ditayangkan menggunakan proyektor dan ditampilkan langsung ke dinding. Ketika masuk ke dalam pemeran, pengunjung disuguhkan dengan foto yang mewakili cabang-cabang olahraga dengan media cetaknya adalah menggunakan kain. Di bagian depan ini pun terdapat bagian transisi berupa pilar-pilar kain yang menggambarkan kegiatan olahraga dari Ganefo itu sendiri.


Berpindah dari bagian depan melewati pilar-pilar tersebut, tim penyelenggara menggunakan pula kain putih sebagai sekat antar ruang. Jika di bagian depan hanya terdapat satu film dokumenter yang ditampilkan dengan ukuran besar, di ruang tengah ini video-video dokumenter ditampilkan secara acak dan dengan berbagai warna ke langit-langit ataupun dinding ruangan dengan menggunakan proyektor, serta terdapat monitor yang ditayangkan di lantai ruangan. Dengan pemakaian kain putih, bayangan-bayangan pengunjung yang terdapat di dalam ruangan tersebut menjadi terlihat yang merupakan efek dari penayangan secara acak dan penuh warna ini.

Berpindah ke lantai atas, di bagian atas tangga terdapat video dokumentasi pembangunan serta aktivitas-aktivitas warga seperti pembuatan mural di gang-gang rumah sebagai respon terhadap Asian Games 2018 yang ditayangkan menggunakan proyektor. Dengan kondisi ruangan bagian atas dan bagian tengah yang gelap dan hanya memanfaatkan penerangan lewat adanya pemakaian proyektor, banyak pengunjung memanfaatkan spot ini menjadi tempat untuk befoto ria.

Di bagian atas ruangan, terdapat tiga display benda yang cukup interaktif bagi pengunjung. Tidak hanya memainkan visual saja, pengunjung dibuat bermain dengan menggerakan benda-benda yang didisplay di ruangan ini yaitu seperti pemutar music yang salah satu dari ketiga lagunya ini adalah Hymne Ganefo.

Kalimat “Sejarah adalah tonggak bangsa” seringkali diucap apalagi dalam kelas Sejarah ketika kita menempuh sekolah formal. Lalu, kita mungkin dapat mengetahui sejarah tersebut jika kita membaca, mungkin karena tertarik atau mungkin karena tuntutan sekolah yang mengharuskan kita lulus dalam mata pelajaran tersebut. Media pembelajaran sejarah sangat perlu dieksplor, dan menurut saya salah satunya adalah dengan adanya wahana interaktif seperti pameran. Pameran Gelora Purnaraga ini menurut saya sukses dalam membuat pameran “sejarah” itu mengasyikkan dan interaktif. Dengan penggunaan proyektor-proyektor dan lampu yang ada dalam wahana sehingga pengunjung dapat bermain bayangan serta alat pemutar musik yang tidak hanya dapat didengar, tetapi dapat pengunjung mainkan cukup membuat para penikmat pameran tersebut puas. Pemakaian beragam warna dalam bagian tengah pun menurut saya dapat mengartikan bahwa dalam Ganefo ini sangat banyak warna, sangat banyak kontributor, sangat banyak lapisan masyarakat yang ikut serta dalam menyemarakkan Ganefo. Tidak hanya sukses dalam mengolah pameran “sejarah”, tim penyelenggara juga sukses mengolah display-display arsip ini menjadi eye-catchy. Adanya display foto-foto pembangunan Asian Games 2018 pun juga mengingatkan kita kembali bahwa Indonesia pun juga pernah menjadi tuan rumah Asian Games 1962 dan pernah menyelenggarakan Ganefo yang juga memiliki dampak pembangunan yang sangat besar, sama pula seperti Asian Games 2018 ini.

Oleh: Aristina Marzaningrum