Pameran Peringatan 1 Tahun Tamansari Melawan

Di pertengahan bulan Juli 2018, terdapat suasana berbeda di Kawasan Tamansari. Para warga dan kawan-kawan solidaritas berkolaborasi bersama dalam rangka merayakan satu tahun perjuangan Tamansari Melawan di reruntuhan bangunan sisa penggusuran RW 11. Tempat yang sudah rata dengan tanah itu selama tiga hari dari 13 Juli 2018 hingga 15 Juli 2018 dihiasi dengan berbagai lampu warna-warni, senandung lagu, juga karya-karya dari warga dan komunitas.

Acara yang mereka selenggarakan itu merupakan sebuah bentuk protes. Bukan sekadar bentuk protes yang biasa, karena mereka menyuarakan perasaan mereka lewat seni dalam berbagai bentuk; pameran fotografi, live music, dan live mural. Acara ini juga merupakan sebuah inisiasi dalam rangka menghidupkan kembali ruang publik, juga ajang bagi para masyarakat untuk menyalurkan kreativitasnya.

Karena diselenggarakan pada sisa reruntuhan bangunan, maka pameran fotografi ini disajikan dalam bentuk yang cukup unik. Alih-alih ditata dengan alur dan urutan yang tersusun rapi, tidak ada urutan yang dipatok untuk melihat foto-foto tersebut, sehingga pengunjung bisa bebas memulai perjalanan mereka menjelajahi kisah Tamansari dari sisi mana saja. Media yang digunakan untuk menyajikan foto-foto yang dipamerkan pun cukup sederhana. Foto-foto tersebut hanya ditempel pada dinding-dinding rumah yang masih tersisa, juga ditempel pada sebuah papan kayu sederhana. Kesederhanaan itu pula yang turut mendukung suasana pada pameran ini.

Potret 16 keluarga yang berjuang melawan penggusuran merupakan salah satu objek pameran. Mereka berpose layaknya di studio foto, hanya saja dengan latar belakang reruntuhan bangunan yang telah dihancurkan oleh pemerintah. Potret keluarga tersebut seolah-olah memperingati kita, bahwa mereka sudah puluhan tahun tinggal di Tamansari, namun kini tempat yang penuh memori tersebut telah rata dengan tanah.

Selain potret 16 keluarga tersebut, ada juga karya-karya lain yang ditampilkan. Contohnya, karya street photography di Kota Bandung, dan juga karya ilustrasi. Siapapun boleh memasukkan karya mereka untuk dipamerkan dalam pameran ini.

Live music yang disenandungkan juga menambah kesyahduan pada sore hari itu. Live mural yang dilakukan juga turut menyalurkan perasaan korban penggusuran Tamansari melalui goresan kuas pada dinding bangunan yang masih tersisa.

Peringatan Hari Lahir Satu Tahun Tamansari Melawan ini menunjukkan kepada kita bahwa begitu banyak lapisan masyarakat yang memiliki cara berbeda dalam memandang berbagai masalah yang ada. Bahwa lewat karya juga bisa berbicara. Bahwa masih banyak masyarakat yang ingin tulus membantu dan peduli kepada sesama. Juga menunjukkan kepada kita bahwa meski dalam kesederhanaan, kita juga tetap bisa berekspresi untuk menuangkanperasaan.

Oleh: Febrina Rahmi

Kolaborasi Film Dokumenter : 5 Desa

Di bulan Mei silam, saya berkesempatan untuk datang ke pemutaran proyek film 5 Desa. Pemutaran ini memutarkan film-film dokumenter hasil proyek kolaborasi antara Goethe-Institut Indonesia, HFBK Hamburg, In-Docs, dan FIB UI. Proyek film 5 Desa/Pulau itu sendiri adalah sebuah proyek film dokumenter yang mengajak 5 sineas masing-masing dari Indonesia dan Jerman untuk ‘exchange’ ke daerah pedesaan di negara satunya. Kali ini saya datang ke pemutaran film 5 Desa yang adalah bagiannya lima sineas Indonesia membuat dokumenter di desa-desa Jerman. Film-film yang diputar beserta sineasnya adalah Der Grenzgänger (Andrianus Oetjoe), Neutrale Strasse (Bani Nasution), Bavarian Fragments (Rahung Nasution), Hantu Mekanis (Tunggul Banjaransari), dan Maja’s Boat (Wahyu Utami Wati).

Pemutaran proyek film 5 Desa ini dihadirkan oleh Garage Cinema x Bahasinema dengan mengundang dua sineas yaitu Bani Nasution dan Wahyu Utami Wati yang mengambil tempat di 107 Garage Room, Ciumbuleuit. Venue-nya sendiri bertempat di lantai kedua dari pintu masuk. Sebelumnya, saya sudah pernah datang ke venue ini untuk mendatangi pemutaran lain. Kesan yang saya tangkap kurang bagus dengan venue-nya karena kurang luas ruangannya dan juga akses keluar masuknya.  Tapi, plus nya berasa banget suasana nyaman dan homey hasil dari beanbag-beanbag yang ada.  Baiknya lagi, pada pemutaran ini penonton yang datang gak terlalu banyak, mungkin karena adanya entrance fee. Jadi penempatan duduk dan lainnya lebih gampang dan juga suasananya tetap terjaga kondusif walaupun sempat terpotong waktu buka puasa.

Sesi tanya-jawabnya pun menarik dan berjalan lancer. Dari sana saya jadi tahu gimana sih struggle-nya para sineas ini dalam membuat film dokumenter disana. Sedasar bahasa pun mereka sudah berbeda. Ternyata, selama proses pembuatan mereka didampingi sama satu mahasiswa dari Jerman yang berlaku seperti translator untuk para sineas. Selain itu mereka juga harus beradaptasi dengan kultur baru. Dari sesi ini jadi tahu juga gimana proses pembuatan film mereka yang ternyata semua dikerjakan di Jerman. Mulai dari concepting sampai take, mereka pun terang-terangan bilang kalau yang sulit adalah mencari topiknya. Karena itu adalah tempat baru yang asing, sehingga mereka harus bisa mencari dan peka dengan cerita apa yang bisa diangkat. Dan itu semua dikerjakan dalam waktu kurang dari sebulan.

Hal yang menarik saya untuk datang ke pemutaran ini adalah konsep dari proyek ini. Dimana ada lima sineas dari Indonesia dan Jerman yang ‘pindah’ ke Negara satunya dan membuat dokumenter disana. Tempat yang didatangi pun adalah tempat yang jauh dari pusat kota dimana pada Jerman adalah desa-desa yang jauh dan Indonesia dalah pulau-pulau yang kecil. Menarik sekali bagi saya gimana kita bisa lihat perspektif para sineas dalam ngebawain cerita apa yang mereka lihat dan menyampaikannya kembali ke penonton dengan caranya masing-masing. Cerita yang diambil pun semuanya berbeda, tergantung apa yang menarik interest sineas itu. Selain itu, menarik pula approach sineas terhadap cerita yang diangkatnya ada yang berupa wawancara dengan tokoh setempat dan yang menjadikan dirinya sendiri sebagai tokoh.

Seberagamnya film-film tadi, masih ada ternyata kesamaan yang terlihat di tiap film. YA! Sama-sama di Jerman. Betul ini engga bercanda. Coba apa sih yang bisa bikin daerah-daerah yang jauh jadi punya kesamaan? Budaya. Sebetulnya gak kelima-limanya ngangkat budaya yang sama, tapi ada budaya atau kebiasaan yang sama yang diangkat di lebih dari satu film. Budaya atau kebiasaan orang-orang Jerman nya masih terlihat banget, yang “mungkin” adalah bagian dari budaya di daerah desa? Dimana arus modern dan kecanggihan belum bikin budaya bener-bener dilupain? Weh kurang mengerti sih, cuman sedikit pemikiran aja pas nonton ditambah ke-sotoy-an hehe.

Pemutaran ini sebenarnya berkesan untuk saya, memperkenalkan dokumenter yang berbeda dengan yang pernah saya lihat dan seperti apa dokumenter yang saya kira. Sayang sekali baru menonton satu sisi dari proyek 5 Desa/Pulau ini. Sebenarnya sangat-sangat penasaran dengan film-film dari 5 Pulau, semoga kedepannya bisa dibawakan pemutaran film nya!

Oleh : Alia