OUR CINEMA NIGHT

Di musim wisuda kali ini, kami berkesempatan untuk hadir ke pemutaran tugas akhir prodi film dan televisi dari ISBI. Suatu hal yang refreshing bagi kami yang mayoritas anak teknik. Pemutaran “Our Cinema Night” ini berlangsung selama dua hari, yaitu tanggal 12-13 Juli 2018 dan dibagi menjadi empat sesi. Hal pertama yang menarik dari pemutaran ini itu publikasi dan posternya, dan kesmpatan nonton TA mahasiswa lain tentunya.

Lokasi pemutarannya di gedung kesenian sunan amru yang berada di kampus ISBI sendiri yang relatif mudah dijangkau, dan parkir pun tersedia untuk kendaraan bermotor. Ketika masuk, kami disambut dengan display poster-poster film yang diberi lighting di belakangnya layaknya display di bioskop serta photobooth dengan lighting lucu. Dekorasi tidak lebih dari itu, tapi dinilai cukup untuk pensuasanaan pemutaran TA. Masuk ke ruang auditorium, kami dibebaskan memilih kursi terkecuali beberapa row ke depan yang dikhususkan untuk dosen serta cast dan crew film. Senangnya nonton di auditorium karena kerasa seperti bioskop beneran, dengan layar besar dan proyektor serta sound system keren, tapi sayangnya beberapa kursi rusak karena memang gedungnya sudah tua.

Film-film yang kami tonton adalah “Lawahara” dan “Lentera Senja.” “Lawahara” merupakan dokumenter tentang nilai dan proses pembuatan lawar yang merupakan sejenis makanan istimewa di Bali. Menariknya, sang pembuat film membuat film ini karena menyukai tema tentang lawar yang dibuat dari babi. “Lentera Senja” adalah feature film tentang seorang laki-laki penderita scizophrenia dan hubungannya dengan anaknya dan masyarakat.

Yang disayangkan dari pemutaran ini adalah kurangnya informasi tentang teknis pemutaran. Kami datang ke venue dan kami kira akan nonton 4 film sesi itu, tapi ternyata cuma 2. Jadi rundownnya kurang dikomunikasikan kembali di tempat acaranya berlangsung dan acaranya terkesan sangat informal karena tidak adanya sesi diskusi untuk film-film yang diputar. Tapi kembali lagi ke tujuan acara ini, yang saya tangkap adalah untuk mengapresiasi karya karya wisudawan dalam lingkungan kehangatan dan kekeluargaan ISBI.

Oleh : Azahra Nuralika

 

HUMACHINE : Kehidupan Seperti Mesin

Pameran Fotografi Tugas Akhir berjudul “Humachine” yang diselenggarakan di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung menampilkan karya fotografi tentang perumpamaan kehidupan manusia pekerja keras yang sama seperti mesin. Pameran Tugas Akhir ini diselenggarakan pada 23-24 Mei 2018 dari pukul 10.00 – 17.00, adapun pameran ini resmi dibuka pada Selasa, 22 Mei 2018. Pameran Tugas Akhir ini dilaksanakan untuk memenuhi Ujian Akhir Semester mahasiswa jurusan Televisi dan Film ISBI Bandung.  Acara ini memamerkan karya dari Citra Febriani Guntari, Mohamad Rivana, dan Siti Dalilah.

Pameran “Humachine” ini mengangkat fenomena tentang kehidupan pekerja yang bekerja sebagai mesin, dapat dilihat dari karya-karya fotografi yang memperlihatkan kehidupan pekerja keras yang tak kenal lelah. Pameran ini diselenggarakan di sebuah ruangan bertembok putih dengan displaybingkai-bingkai hitam yang menggantung mengelilingi ruangan tersebut, di tengah ruangan terdapat dua buah meja displayyang memamerkan rangkuman acara tersebut dan di depan ruangan terdapat banner bertuliskan maksud dari penyelenggaraan pameran itu. Pencahayaan pada karya juga sudah cukup baik, semua karya sudah tersorot dengan jelas.

Secara keseluruhan pameran ini memiliki konsep yang menarik dengan mencoba mengangkat fenomena manusia yang diumpamakan menjadi mesin, namun secara displaykarya mungkin sedikit terlihat monoton, namun flow acara tidak ada kendala.

Oleh : Serena Megaleonid

SINGAPORE ART SCENE : NOW

Karya seni Indonesia menurut “Singapura” (baca: pemerhati seni, penyuka seni, atau kolektor di Singapura) memiliki gaya yang Post-colonialism, violent, politik, dan eksotis. Sementara itu, Singapura tidak memiliki identitas budaya yang khas dan kuat. Nilai seni dari sejarah Singapura pun semakin luntur karena tidak dipertahankannya bangunan-bangunan bersejarah demi mencapai gelar first world country.

Berikut merupakan beberapa contoh seniman dari Singapura.

Josef Ng : “Brother Cane”, 1994, performance.

Josef Ng (kiri) dan artikel terkenal mengenai performancenya pada tahun 1994 berjudul“The Brother Cane” (Photo:Pearl Lam Galleries/Ben Loong)

Karya ini merupakan bentuk protes Josef Ng terhadap kurangnya sorotan media terhadap operasi anti-gaydi Tanjong Rhu. Penampilan yang dilakukan Josef Ng diantaranya yaitu mencambuk tahu yang diletakkan dibawah tinta merah menggunak
an rotan. Setelah penampilan ini disorot media, Josef Ng harus mendekam di penjara dan dilarang untuk melakukan art performance. Selain itu, The National Arts Council juga mengumumkan aturan

no-fundinguntuk unscripted art performance.

 

Seri foto dari video karya Ray Langenbach mengenai penampilan Josef Ng, Brother Cane (Photos:Ray Langenbach, Asia Art Archive)

Jason Wee : “Self Portrait (No More Tears Mr.Lee)”, 2009, shampoo bottle caps.

 

 

Lim Tzay-Chuen : “Mike”, 2005, digital print.

Karya ini merupakan karya yang dipamerkan Lim Tzay-Chuen pada 51stVenice Biennale pada tahun 2005. Sebenarnya, Lim Tzay-Chuen telah memberikan proposal kepada pemerintah Singapura untuk memindahkan seluruh Patung Merlion untuk dipamerkan pada acara tersebut. Namun, tentu saja proposal tersebut ditolak pemerintah, dan sebagai gantinya, Lim Tzay-Chuen memamerkan karya tersebut.

kk

Jeremy Sharma : “Terra Sensa series”, 2014, high density polystyrene foam.

Shubigi Rao : “A Tree of Lies”, 2014.

Dawn Ng : “Perfect Stranger”, 2018, Archival giclee, acid free, 320gsm

                               

                               

“Perfect Stranger” adalah koleksi 61 teks hasil dari percakapan Dawn Ng ketika mengandung anak pertamanya, dengan seorang psikolog anak. Psikolog asal Israel ini adalah seorang yang asing bagi Dawn Ng. Setiap hari selama setahun, psikolog tersebut akan menanyakan sebuah pertanyaan. Respon-respon dari Dawn Ng kemudian dikemas menjadi karya yang memadukan puisi, warna, dan desain yang indah ini. (sumber: http://www.dawn-ng.com/perfect-stranger/

 

4th Generation Artist :

Luke Heng : “After Asphodel”, 2017-2018, exhibition.

 

 

 

 

 

 

Fyerool Darma : “The Most Mild Mannered Man”, 2016, Plaster and marble, appropriated replica bust and plinths. “Moyang”, 2016, series.

Portrait No. 10 (The Boy Who Saved An Island In The Arms Of His Mother) (Of Moyang Series), 2016. Acrylic On Linen And Burned Wood, 78 X 64 X 5 Cm

Portrait No. 9 (Si Mata Pena) (Of Moyang Series), 2016. Acrylic On Linen And Charcoal Wood, 36 X 60 X 10 Cm

 

Instalasi “The Most Mild Mannered Men” terdiri dari dua individual yang berperan penting dalam demarkasi Singapura, yaitu Hussein Muazzam Shah dan Thomas Stamford Raffles. Kedua bust tersebut diletakkan berhadap-hadapan seakan-akan sedang berdialog, dengan jarak diantara mereka.

There are multiple layers of reading the work, despite the simplicity of the installation itself. To me, the bust, the plinths and the plaque with the names are markers of a dialogue. The nuances of this conversation were lost in its translation and recording. Complimentary – or in contrast – to the historiography of that narrative, the work was also to show the ambivalence of recording itself. It is a dialogue between stillness and interaction. The gap in between the two figures represents an interruption, which visitors traverses. That interruption is a metaphor for time, movements and progress.”- Fyerool (sumber: https://www.cobosocial.com/dossiers/interview-with-fyerool-darma/)

Sementara itu, series Moyang membahas mengenai sosok sejarah yang dilupakan.

In the literary world in Singapore they consider the period before colonialism as amnesia, because it was constructed that Singapore didn’t exist before that. Historians proved that before Raffles Singapore wasn’t a sleepy village, otherwise why the British would even bother coming all the way here? Singapore is a very small island and we have had so many neighbours that we were reliant on until today. Back then we had a whole connection with the Malay Kingdom, and these are the few aspects that we have failed to recognize because of our collective consciousness. There is to much alteration going on.

That is why it is important to look further to find artists like Raden Saleh. I feel a connection with these individuals based on the history of Malays. We are all island nomads and in what was called the Nusantara region. “ – Fyerool (sumber: https://www.cobosocial.com/dossiers/interview-with-fyerool-darma/)

Khairullah Rahim : “The Incredible Frolic”, 2018.

Divaagar : “The Soul Lounge”, 2018, installation of performance venue.

The Soul Lounge merupakan instalasi yang dibuat untuk kaum minoritas di Singapura, browndan queer. Instalasi ini hanya bisa dinikmati oleh kaum minoritas tersebut………

Norah Lea : “In Love”, 2017, photograph series.

Dari diskusi ini banyak banget informasi yang didapatkan. Bagusnya lagi, perspektif tersebut di dapet dari dua sisi yaitu kurator dan seniman. Belum lagi, emang gue buta sama persenian di Singapur jadi saat pulang dari sana banyak banget ilmu dan hal baru yang gue dapatkan! Selama keberjalanan acara, gue rasa cukup baik. Hal ini dikarenakan peserta diskusi yang dari jumlah tidak terlalu banyak dan saat presentasi banyak diberikan referensi-referensi. Ditambah lagi dengan bantuan Azi, Ayas dan kawan-kawan lainnya, gue berkesempatan untuk ngobrol lebih banyak dengan pembicaranya.

Oleh : Eca