Masaraya 2018

Bandung kembali diwarnai oleh sentuhan seni yang kali ini datang dari Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Bandung! Acara yang dipersembahkan oleh mahasiswa DKV ITB ini merupakan acara dua tahunan yang mengambil tema yang berbeda-beda tiap tahunnya. Dan kali ini, tema yang diangkat adalah Utopia dan dinamakan dengan Masaraya. Masaraya ini diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut yaitu pada tanggal 9-11 Februari 2018 dan bertempat di Gedung Gas Negara. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp5000,00, kita dapat menikmati sensasi kota dalam kota.

Ngomongin pameran, tentunya pasti penasaran banget tentang bagaimana cara pameran itu mengekspresikan/mempertunjukkan karya-karya yang ada. Masaraya ini membagi pameran menjadi beberapa bagian tetapi tetap satu alur, dimana tiap bagiannya ini mewakili bagian-bagian dari Utopia. Bagian-bagian tersebut adalah Ruang Efisiensi (Teknologi), Ruang Nurani (Spiritual), Ruang Bineka (Budaya), Ruang Lestari (Ekologi), dan Ruang Serasi (Sosial). Hal unik dari pameran ini adalah cara penyampaian karya yang sangat interaktif yang membuat pengunjung tidak hanya menikmati karya dengan melihat, tetapi juga melibatkan indera telinga dan gerak tubuh, yaitu seperti memainkan display-display yang ada di Masaraya ini. Cara seperti ini menjadi sangat menarik karena pameran biasanya hanya melibatkan indera mata dalam berinteraksi yang terkadang membuat para pengunjung tidak mendapatkan pesan dari tema yang dibawa di pameran itu sendiri. Pensuasanaan di tiap ruangannya pun juga cukup unik! Perbedaan lighting di tiap ruangannya membuat para pengunjung dapat merasakan tiap tema yang dibawa di ruangan-ruangan yang ada di Masaraya. Pemilihan tempat pameran Masaraya ini juga cukup menarik karena lokasi Gedung Gas Negara yang berada di Jalan Braga juga mendukung konsep utopia itu sendiri karena lokasinya yang di tengah kota dan dekat dengan masyarakat kota.

Ruang transisi antara dunia utopia (display pameran) dengan akhir dari perjalanan di Pameran Masaraya

Setelah kita tau bagaimana Masaraya mengekspresikan karya-karya yang ada, konten dan wahana yang ada di Masaraya juga gak kalah menarik! Pada opening ceremony Masaraya 2018, ada Video Mapping yang ketika itu dapat disaksikan lewat akun instagram @masaraya2018 dan tentunya, wahana-wahana menarik di keseharian acara seperti board game, dimana pengunjung bisa bermain di tengah-tengah hiruk pikuknya Masaraya. Selain itu, banyak spot-spot menarik yang pastinya membuat para pengunjung ingin mengabadikan display-display yang ada di Masaraya. Nah, Berbicara tentang spot foto, di Masaraya juga ada spot Photobooth yang berbeda dengan photobooth lainnya, karena jika pada umumnya Photobooth hanya sebatas background dengan pernak pernik untuk digunakan di tubuh, Photobooth Masaraya melibatkan hampir satu ruangan penuh sebagai spot berfoto dan juga memainkan lighting berwarna ungu yang membuat amazed para pengunjung yang datang.

Walau tetap berfokus pada acara intinya yaitu pameran, Masaraya juga menyelenggarakan berbagai kegiatan menarik seperti talkshow dan workshop. Pada hari kedua, para pengunjung disuguhkan dengan dua talkshow yang sangat menarik dengan membawa tema Future Graphic Design dan topik kedua yaitu Art x Design. Di hari terakhir, para pengunjung diajak untuk bereksperimen dengan mengikuti workshop: Marbling on Pouch yang dipandu oleh teman-teman dari TERIKAT (Himpunan Mahasiswa Kriya ITB) dan tentunya tetap diramaikan dengan talkshow dengan topik-topik yang berbeda di tiap sesi yaitu: Advanced Design, Behind The Projects, Kreavi Talks: Optimizing Digital Media for Creators, dan tentunya bagi para pengunjung yang penasaran dibalik layar Masaraya, ada bincang bincang mengenai grand desain Masaraya yang disebut dengan “Bincang……. Bincang”.

Masaraya 2018, overall menjadi pameran favorit saya karena caranya dalam menonjolkan dan menyampaikan karya-karyanya sangat unik dan berhasil membuat saya untuk dapat merasakan sensasi kota dalam kota.

Oleh: Aristina Marzaningrum

Bioskop Kampus: Realitas

Bioskop Kampus Realitas ini diadakan pada tanggal 2 Juni 2017. Acara ini berisi kurang lebih sama dengan Bioskop Kampus lainnya, yaitu pemutaran film. Bioskop Kampus kali ini mengangkat tema realitas, maka itu kami menyajikan beberapa film pendek yang dapat mengajak masyarakat membuka mata terhadap berbagai isu di sekitar kita.

Film yang ditampilkan ada tiga jumlahnya, diantaranya adalah Harta Karung karya dari Miftachul Rahman, Sa.sar Interaksional karya dari Nanda Arya Syahputra, dan Angka jadi Suara produksi dari Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP).

Film-film tersebut masing-masing mengangkat suatu isu penting. Harta Karung mengangkat kisah pemulung sampah yang biasa mulung di TPA Putri Cempo terancam ekonominya karena rencana pembangunan sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di sana. Lalu ada juga film Sa.sar Interaksional yang mengangkat kisah kehidupan sehari-hari di sebuah panti rehabilitasi cacat mental. Dan terakhir ada film Angka jadi Suara yang mengangkat realita gelap yang berada di lingkungan kerja para buruh pabrik.

Seperti biasanya Bioskop Kampus tidak hanya memutarkan film saja di dalamnya, namun juga mengajak penonton untuk berdiskusi mengenai film yang baru ditonton bersama para pembuatnya. Namun ada juga yang berbeda di Bioskop Kampus kali ini, yaitu diadakan di bulan suci Ramadhan, pemutaran film ini pun dijadikan pengisi waktu sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Penonton biasanya disediakan popcorn gratis oleh Bioskop Kampus, namun kali ini penonton disediakan ta’jil dan gorengan gratis untuk berbuka. Dan akhirnya seluruh penonton berbuka puasa di dalam venue pemutaran saat adhan maghrib berkumandang. Saat waktunya berbuka puasa kebetulan bertepatan dengan sesi diskusi dengan para pembuat film. Jadi penonton pun mendengarkan diskusi sembari melahap sajian buka puasa yang disediakan.

Bioskop Kampus selalu menyajikan hal yang menarik untuk para penontonnya, mulai dari pemutaran film-film dengan tema menarik, kesempatan berbincang dengan para pembuat film, dan juga disediakan kudapan gratis. Jadi, ayo ke Bioskop Kampus selanjutnya!

Oleh: Sharifa Salma

Bioskop Kampus: Montase

Bioskop Kampus kali ini bertepatan dengan Open House Unit sehingga target utamanya adalah mahasiswa baru. Bioskop Kampus ini bertemakan harmoni karena menggambarkan mahasiswa yang penuh dengan keberagaman namun tetap harmonis. Bioskop Kampus yang dinamakan Montase ini memiliki tiga program. Program pertama bernama Mosaik yang menggambarkan perbedaan fisik dan menayangkan dua film. Program kedua yang menayangkan 3 buah film dinamakan  Kolase, menggambarkan perbedaan dalam beragama. Program terakhir yang membahas mengenai isu perbedaan status sosial dinamakan Dimensi.

Bioskop Kampus ini berbeda dengan bioskop kampus biasanya yang diadakan pada malam hari. BK Montase dimulai dari 10.30-16.00 dengan satu jam istirahat disetiap programnya. Pensuasanaan Ruang 9009 dapat terlihat dari tempat ticketing. Open gate program pertama yaitu, Mosaik memainkan film yang berjudul “Bermula dari A” dan “Gendut”. Saat open gate penonton sudah mulai mengantri untuk memesan tiket dan tempat duduk seperti dalam bioskop. Lima belas menit sebelum pemutaran dimulai, ruangan sudah mulai terlihat ramai. Pada pukul 11.00, pemutaran film pertama pun dimulai. Setelah pemutaran selesai, terdapat acara diskusi yang membahas mengenai keterbatasan fisik.

Open gate pemutaran Program Kolase dimulai dari pukul 12.30. Pada pemutaran kedua, jumlah penonton membludak dikarenakan film-film yang ditayangkan membahas perbedaan agama yang topik tersebut sedang hangatnya dibicarakan masyarakat. Penempatan waktu yang sesuai dengan waktu istirahat pun merupakan nilai tambah. Selesai pemutaran, seperti biasa terdapat diskusi film dan kuis yang berhadiahkan voucher Ayamayaman. Setelah itu, terdapat pemutaran program ketiga yaitu, Program Dimensi yang memainkan film yang berjudul “Kok Kemana” dan “Lady Caddy”. Mata acara selanjutnya pun tidak jauh dengan program-program sebelumnya. Secara keseluruhan, acara berjalan sesuai timeline dan pengunjung yang hadir merasa puas terhadap teknis dan acara yang diadakan.

Ingin merasakan keseruannya?

Yuk, datang ke Bioskop Kampus selanjutnya!

Oleh: Riyadita Hanna

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2017

W O W, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) hadir kembali lho!. Kali ini, JAFF yang telah diselenggarakan selama 12 tahun mengusung tema “Fluidity” yang bermakna fleksiblitas sinema dalam berhadapan dengan bebagai macam cabang seni. JAFF 2017 diselenggarakan dari tanggal 1 hingga 8 Desember 2017 di empat tempat yang berbeda, yaitu, Taman Budaya Yogyakarta,  CGV Cinemas, Cinema XXI, dan Tebing Breksi. JAFF 2017 menyuguhkan beberapa program menarik dan terbaik yang pastinya memanjakan para sineas dan penikmat film di Indonesia. Beberapa program diantaranya adalah Asian Feature, Light Of Asia, JAFF – Indonesian Screen Award, Asian Docs, Asian Perspectives,  Focus on Joko Anwar dan Open Air Cinema. Namun pada tahun ini, JAFF menghadirkan sebuah program baru, yaitu JOGJA Future Project.

Opening Jogja-NETPAC Asian Film Festival digelar di Taman Budaya Yogyakarta dan dibuka dengan sebuah one shot movie, Nyai karya Garin Nugroho. Pada saat acara pembukaan terdapat 2 tempat pemutaran, yaitu di auditorium dan di halaman Taman Budaya Yogyakarta. Dikarenakan kapasitas auditorium Taman Budaya Yogyakarta tidak dapat menampung semua penonton. Sebagian penonton yang tidak dapat masuk ke dalam auditorium dapat menyaksikan opening Jogja-NETPAC Asian Film Festival di halaman Taman Budaya Yogyakarta.. Namun, fasilitas berupa kursi yang disediakan di bagian luar Taman Budaya Yogyakarta kurang memadai dan mencukupi pengunjung yang berada di luar, sehingga banyak pengunjung yang menonton sambil berdiri hingga duduk di bawah. Namun, hal tersebut tidak menjadi halangan bagi para pengunjung untuk tetap menonton film, belum lagi panitia JAFF 2017 menyediakan beberapa stand makanan khas jogja yang dapat dinikmati secara GRATIS. Pada saat opening Jogja-NETPAC Asian Film Festival, banyak film maker keren yang hadir lho dan hal tersebut menjadi suatu kesempatan yang baik bagi para penonton khususnya penikmat film untuk sekedar menyapa, berbincang, dan berfoto bersama.

Pada hari pertama pemutaran film, saya memilih untuk menonton program JAFF – Indonesian Screen Awards yang memutarkan film pendek The Nameless Boy karya Diego Mahameru dan film panjang Aisyah Biarkan Kami Bersaudara karya Herwin Novianto. Sehabis pemutaran film, alangkah senangnya saya dan penonton lain karena kami mendapatkan kesempatan untuk bertanya kepada para film maker terkait alur cerita, proses pembuatan, dan lain sebagainya. Namun, kebanyakan penonton tidak dapat ikut serta di sesi tanya jawab secara full dikarenakan mereka harus mengejar jadwal pemutaran selanjutnya yang berada di lokasi yang berbeda. Jarak dari satu tempat pemutaran ke tempat pemutaran lainnya dapat dikatakan cukup jauh, sehingga bagi penonton yang memiliki jadwal pemutaran di tempat yang berbeda harus terburu-buru dan pada akhirnya mereka tidak dapat mengikuti sesi tanya jawab. Oh ya, untuk harga tiketnya sangatlah terjangkau, yaitu 15 ribu rupiah.

Secara keseluruhan, JAFF 2017 dapat dikatakan sudah baik dari segi program maupun konsep acara yang disuguhkan kepada para penikmat film karena JAFF 2017 memberikan kesempatan bagi para penikmat film untuk menonton film pendek maupun panjang yang keren dari negara-negara yang ada di Asia.

Oleh: Muhammad Habibi

Festival Seni 2017

 

Festival Seni 2017 berlangsung dari 23 September sampai 31 Desember menampilkan berbagai bentuk karya seni di Equilbrium. Karya seni yang ditampilkan beragam dan berasal dari 30 lebih seniman. Karya-karya yang ditampilkan berupa fotografi, film, seni lukis, dan banyak lainnya. Karya yang ditampilkan berganti setiap minggunya. Kali ini saya berkesempatan untuk menikmati karya : Light Photography oleh Barudak Urban Light Bandung,
Philosophy Art & Painting oleh Heidi Werner,
Contemporary Media Art oleh Wisli Sagara, dan
..

Tempat yang jauh dari bisingnya perkotaan menawarkan suasana sepi yang sangat mendukung untuk menikmati karya-karya seni yang ditampilkan. Ditambah udara yang sejuk dan banyaknya tempat duduk membuat pengunjung dapat beristirahat dan relaks selama menikmati waktu mereka disini. Waktu serasa berjalan sangat cepat ketika menyusuri karya-karya yang ditampilkan. Selain itu, instalasi karya yang digunakan juga sangat menguatkan maksud dari karya tersebut.

Saya juga sangat menghargai para guide. Dimulai dari saat pengunjung memasuki venue, mereka sangat ramah dan sabar membantu pengunjung untuk menikmati pameran ini. Mereka menyambut kedatangan pengunjung dan menceritakan / menjelaskan latar dari karya-karya seni yang ditampilkan dengan sangat baik. Selain itu, terdapat juga karya film yang diputarkan pada Festival Seni ini. Disini para guide juga patut diapresiasi kembali karena mereka tetap menjaga ketenangan dari para pengunjung selama pemutaran berlangsung.

Festival Seni 2017 berlangsung dari 23 September sampai 31 Desember menampilkan berbagai bentuk karya seni di Equilbrium. Karya seni yang ditampilkan beragam dan berasal dari 30 lebih seniman. Karya-karya yang ditampilkan berupa fotografi, film, seni lukis, dan banyak lainnya. Karya yang ditampilkan berganti setiap minggunya. Kali ini saya berkesempatan untuk menikmati karya : Light Photography oleh Barudak Urban Light Bandung,
Philosophy Art & Painting oleh Heidi Werner,
Contemporary Media Art oleh Wisli Sagara, dan
..

Tempat yang jauh dari bisingnya perkotaan menawarkan suasana sepi yang sangat mendukung untuk menikmati karya-karya seni yang ditampilkan. Ditambah udara yang sejuk dan banyaknya tempat duduk membuat pengunjung dapat beristirahat dan relaks selama menikmati waktu mereka disini. Waktu serasa berjalan sangat cepat ketika menyusuri karya-karya yang ditampilkan. Selain itu, instalasi karya yang digunakan juga sangat menguatkan maksud dari karya tersebut.

Saya juga sangat menghargai para guide. Dimulai dari saat pengunjung memasuki venue, mereka sangat ramah dan sabar membantu pengunjung untuk menikmati pameran ini. Mereka menyambut kedatangan pengunjung dan menceritakan / menjelaskan latar dari karya-karya seni yang ditampilkan dengan sangat baik. Selain itu, terdapat juga karya film yang diputarkan pada Festival Seni ini. Disini para guide juga patut diapresiasi kembali karena mereka tetap menjaga ketenangan dari para pengunjung selama pemutaran berlangsung.

Oleh: Ivan Wiryadi