Bandung Independent Film Festival 2017

Bandung Independent Film Festival atau yang biasa disingkat BIFF merupakan festival film tahunan yang diselenggarakan oleh KMTF ISBI. BIFF menampilkan film-film Indie yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia, film-film tersebut kemudian digolongkan dalam program-program tertentu dan pada akhirnya akan ada Awarding Night yang memberikan penghargaan kepada film-film terbaik dalam kategori yang berbeda-beda.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, BIFF 2017 ini diselenggarakan di BE Mall yang terletak pada Jalan Naripan. Pemilihan tempat sangat berpengaruh dalam penyelenggaraan acara tersebut, karena ketika saya menghadiri screening film BIFF pada tanggal 5 Desember 2017, di tempat yang sama dan pada saat yang bersamaan terdapat sebuah acara yang mengeluarkan suara bising yang sangat mengganggu konsentrasi penonton. Dikarenakan hal tersebut, penonton akan gagal dalam memahami film-film yang diputar. Alangkah baiknya dalam pemilihan tempat dicari tahu juga acara-acara yang dapat menghambat keberlangsungan acara, apabila tetap menggunakan tempat tersebut, diusahakan agar membuat tempat tersebut kedap suara dari suara-suara luar agar penonton lebih nyaman dalam menikmati film-film yang disajikan.

Dari segi acara saya tidak dapat berkomentar terlalu banyak karena saya hanya menghadiri 2 sesi dari 8 sesi yang tersedia, yaitu sesi “Kepekaan” yang menampilkan Pitulasan, Batas Petak Umpet, dan Bertahan Diatas Perubahan, dan sesi “Kuasa” yang menampilkan Bunga Harum Tak Pernah Mekar, Pangreh, dan Kemae Daeng Imang. Kedua sesi tersebut sangatlah menarik karena film-film tersebut memiliki makna yang tersirat yang ternyata berkaitan dengan tema yang disajikan. Namun sangat disayangkan film Pitulasan, yang menggunakan bahasa daerah tidak menggunakan subtitle, sehingga hanya sebagian penonton yang dapat memahami karya tersebut. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian syarat-syarat ketika submisi film sedang dilaksanakan.

Dari segi teknis banyak yang patut diapresiasi dan diperbaiki. Saya sangat mengapresiasi penggunaan proyektor yang canggih sehingga warna yang ditampilkan terlihat jelas, namun dikarenakan ruang pemutaran yang tidak sepenuhnya gelap, warna-warna tersebut kurang maksimal. Audio dari film-film yang diputarkan juga pada beberapa film harus diperhatikan karena dialog yang ditampilkan jadi tidak terdengar. Sebaiknya setiap film memiliki pengaturan audio yang berbeda-beda agar pesan yang disampaikan dalam tiap film dapat tersampaikan.

Keseluruhan acara BIFF ini kurang memuaskan, karena masih banyak kekurangan di segi lokasi, acara, dan teknis. Lokasi dalam pemutaran harus diperhatikan karena sangat menunjang kenyamanan dari penonton, begitu pula acara dan teknis. Semoga dalam keberjalanannya BIFF dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan kali ini agar menjadi lebih baik.

Oleh: Ihsan Nurfajri

Arkipel: Penal Colony

 

 

Tahun ini merupakan tahun kelima Arkipel Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival memilih tema “Penal Colony”. Tema “Penal Colony” dari festival ini mendapat  pengaruhnya dari cerita pendek karya Franz Kafka yang berjudul In The Penal Colony. Pemilihan tema ini merupakan usaha Arkipel untuk menemukan cara film dalam mengemas pembahasaan mengenai tema “aturan”, “keteraturan”, “aparatus”, “para terhukum”, dan persoalan “kolonial / kolonialisasi / kolonialisme”  dalam konteks sosial, politik, dan budaya.

 

Pada Arkipel kali ini, saya hanya berkesempatan hadir dalam diskusi panel yang diadakan pada tanggal 18-19 Agustus 2017 dan bertempat di Goethe Haus, Goethe Institut Jakarta. Sebagai orang awam yang baru “berkenalan” dengan dunia perfilman, mata saya seakan-akan dibuka oleh tiap topik diskusi panel yang dilaksanakan. Dalam dua hari diskusi panel, ada lima panel yang dilaksanakan. Topik diskusi panel yang diselenggarakan adalah sebagai berikut :

 

  1. Panel 1 : Anonimitas, Amatirisme, dan Habitus Gambar Bergerak.
  2. Panel 2 : Kurasi Filem sebagai Prawarsa Geopolitik
  3. Panel 3 : Platform Kolektif film sebagai Agenda Katalis
  4. Panel 4 : Sinema sebagai Cultural Interface : Konteks Asia
  5. Panel 5 : Filem yang termediasi : [Kon]teks[tur] dan Renungannya

Kemudian

Awalnya, saya sempat kaget melihat topik-topik diskusi panelnya karenakesan yang muncul  ketika saya membaca rangkaian topiknya adalah “betapa sulit dan jauhnya topik ini, mungkin bagasi pengetahuan saya belum mampu untuk menjelajah topik-topik ini.” Akan tetapi, ketika mengikuti diskusi panel, yang saya rasakan justru sebaliknya. Lewat diskusi-diskusi panel ini, bagasi pengetahuan saya makin terisi dan memungkinkan saya untuk menjelajah lebih jauh kedalam topik-topik yang bahkan belum pernah terlintas dipikiran saya sebelumnya.

 

Posisi Arkipel sebagai festival film Internasional saya rasa merupakan salah satu faktor pendorong diskusi dengan topik-topik yang luas dan mendalam seperti ini. Luasnya dapat kita lihat dari koneks yang ditawarkan oleh setiap diskusi panel, sedangkan dalamnya diskusi didorong dengan pengisi diskusi panel yang sudah berpengalaman dan sangat baik dalam menyampaikan materinya. Hal lainnya yang patut diapresiasi adalah tersedianya alat penerjemah ke Bahasa Indonesia ataupun Bahasa inggris yang tentunya sangat membantu peserta dalam memahami topik yang dibahas.

 

Hal lain yang perlu diapresiasi jug aadalah kesediaan pihak Arkipel untuk menanggung tiket dan akomodasi dari wakil komunitas yang mereka undang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, hingga daerah timur Indonesia seperti Ambon. Tentunya dengan melakukan hal ini, Arkipel memberikan pernyataan bahwa Arkipel bukanlah sebuah festival film yang sulit dijangkau meskipun berskala internasional.

 

Rasanya, menilai Arkipel : Penal Colony (atau acara apapun) menjadi sulit ketika tidak mengikuti seluruh rangkaian acaranya. Akan tetapi, jika menilai dari diskusi panelnya, Arkipel berhasil membawa saya menjelajahi topik-topik dunia sinema yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Hal ini membuat saya menjadi tidak sabra akan hal apa yang ingin dibawa oleh Forum Lenteng (penyelenggara Arkipel) dalam festival Arkipel yang akan mereka adakan tahun depan!

 

 

 

 

Arkipel memiliki beberapa program yang diselenggarakan pada festival kali ini. Program pertama adalah program kompetisi internasional.  Sebagai festival yang memiliki target internasional, program ini nampaknya menjadi aparatus dari Arkipel untuk membaca isu terkini dalam konteks lokal maupun global yang berkaitan dengan tema yang diusung oleh arkipel. Selain program kompetisi internasional, arkipel juga mengundang empat kurator ( Zbynêk Baladrian dari Ceko, George Clark dari Inggris, Akbar Yumni dan Afrian Purnama dari Indonesia) untuk mengkurasi program sesuai dengan tema penal colony. Bahkan,  menurut katalog Arkipel, beberapa program juga dipengaruhi oleh karya Franz Kafka.

Oleh: Fausto Axel Evans K.