Pesta Film Solo #7

Festival film yang diselenggarakan oleh Kineklub UNS ini kembali digelar untuk yang ketujuh kalinya. Berlokasi di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Pesta Film Solo tahun ini memiliki tema besar yakni Ruang Kaca dengan tagline nya, Refleksi Akan Persepsi.

PFS tahun ini berlangsung selama 3 hari yakni mulai dari tanggal 11 Mei hingga 13 Mei 2017. Pada setiap harinya, PFS memiliki tema film dan diskusi yang berbeda-beda. Hari pertama memiliki tema Suka Suka Saku. Lalu, pada hari kedua memiliki tema Suka Suka Aku. Sementara, pada hari ketiga memiliki tema Focus On.

Hari pertama PFS dibuka oleh pemutaran film dokumenter yang kemudian diikuti oleh pemutaran film utama yakni Cinta Brontosaurus karya Fajar Nugros. Diskusi bertemakan Suka Suka Saku pada hari pertama, dihadiri langsung oleh sang sutradara Cinta Brontosaurus yaitu Fajar Nugros.

Pada awal hari kedua masih dibuka oleh pemutaran film pendek fiksi karya dari komunitas-komunitas film di Indonesia, yang kemudian pada malam harinya diisi oleh pemutaran film Salawaku oleh Pritagita Arianegara. Diskusi pada hari ini bertemakan Suka Suka Aku, yang turut mengundang Pritagita Arianegara langsung serta Adrian Jonathan, yakni pendiri Cinema Poetica. Sesuai dengan tema Suka Suka Aku, diskusi ini lebih membahas mengenai film idealis serta posisi film idealis di kancah perfilman Indonesia. Diskusi ini berjalan sangat menarik, dimulai dari pembahasan mengenai perfilman saat ini hingga harapan untuk perfilman Indonesia ke depannya.

Di hari ketiga tidak kalah seru karena PFS dibuka oleh pemutaran film-film pendek karya Wregas Bhanutedja, yang terkenal dengan film Prenjak –nya yang mendunia hingga Cannes Film Festival. Tidak hanya film Prenjak, film Lemantun juga sukses untuk mencuri hati para penonton. Setelah pemutaran film-film pendek Wregas Bhanutedja, diadakan diskusi film bersama Rosa Wineggar, aktris dalam film Prenjak, serta Henricus Pria. Pada malam hari, diisi oleh pemutaran film hUSh karya Djenar Maesa Ayu. Seperti biasanya, kali ini setelah pemutaran, diadakan diskusi film dengan tema Focus On, yang dihadiri oleh Djenar Maesa Ayu dan Ken Lume. Lalu, dengan berakhirnya diskusi Focus On, berakhir pula kemeriahan Pesta Film Solo ketujuh ini.

Untuk beberapa pemutaran seperti film-film utama dan kumpulan film pendek karya Wregas Bhanutedja, para penonton harus merogoh kocek dari 10rb-15rb rupiah. Tetapi tidak usah khawatir karena pada pemutaran lainnya, penonton bisa menikmati film-filmnya secara gratis.

Tidak hanya menampilkan film, Pesta Film Solo kali ini juga dilengkapi dengan beberapa booth makanan dan minuman untuk mengisi perut para penontonnya. Booth ini pun dibuat semenarik mungkin dengan berbahan utama bamboo.

Salah satu kelebihan PFS ini adalah lokasinya yang strategis. Tempat pemutaran dan penginapan untuk para komunitas sangatlah berdekatan, cukup berjalan kaki untuk sampai ke tempat pemutaran dari penginapan. Setiap malam, setalah semua rangkaian pemutaran selesai, diadakanlah malam komunitas. Diskusi malam komunitas pun bisa dilaksanakan di sebuah joglo di tengah-tengah penginapan. Ini sangat memudahkan para komunitas-komunitas yang hadir ke PFS #7.

Selain pengalaman yang didapat selama berjalannya acara, para pengunjung bisa membeli beberapa merchandise dari acara ini untuk kenang-kenangan. Mereka menyediakan kaos dan totebag dengan logo dan judul PFS #7.

Secara keseluruhan acara, Pesta Film Solo #7 ini dapat dikatakan sudah baik. Film-film diputar sesuai jadwal yang seharusnya, serta kerapihan dan ketertiban penonton didalam ruang pemutaran sangat terjaga. Film-film yang diputarkan juga sangat beragam dan masing-masing memiliki jalan cerita yang khas, yang membuat para penonton tidak cepat bosan. Dengan beragamnya genre film yang ditawarkan, emosi penonton seperti sengaja dibuat naik turun. Sebagai contoh, pemutaran film Wandu yang menyentuh, yang kemudian langsung dilanjutkan dengan pemutaran film Singsot yang notabenenya merupakan film horor yang  memiliki banyak elemen kejutan. Tentu saja, kami tidak akan menduga hal ini sebelumnya. Hal ini menarik untuk membuat penonton bertanya-tanya, genre film apalagi yang akan disajikan setelah ini.

Oleh: Nabila Rahmatina dan Anggia Aryandita

ARTJOG 2017

ARTJ|OG hadir kembali sebagai salah satu festival seni rupa terbesar di Indonesia. ART|JOG 2017 merupakan acara tahunan ke sepuluh dari pameran karya seni kebanggaan Kota Yogyakarta ini. ART|JOG|10 diselenggarakan tanggal 19 Mei hingga 19 Juni 2017, dan buka pukul 10.00-21.00. Lokasinya di Jogja National Museum, Jalan Prof. Ki Amri Yahya No. 1, Yogyakarta. ART|JOG|10 menampilkan ratusan karya seniman dalam negeri dan mancanegara, seperti Agan Harahap, Arwin Hidayat, Agus Suwage, Meliantha Muliawan, Marcel Schwittlick, Usami Masahiro, Tompi dan masih banyak lagi.

 

Setiap tahun, ART|JOG mengusung tema yang unik. Tahun ini tema yang diangkat adalah ‘Changing Perspective.’ Banyak sekali hal-hal baru yang akan ditamplikan pada ART|JOG|10. Pastinya ini akan menjadi kejutan menarik bagi para pengunjung. ART|JOG|10 mengajak pengunjung untuk mampu melihat berbagai fenomena di dunia dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda, Harga Tiket Masuk ART|JOG|10 adalah Rp 50.000.

 

Apa aja, sih, program yang ada di ART|JOG|10?

  1. Exhibition

ART|JOG|10 memamerkan ratusan karya seniman yang dapat dinikmati pengunjung. Karya-karya disini dilengkapi dengan penjelasan singkat oleh para pembuatnya. Buat kamu yang suka foto-foto artsy untuk memperindah feeds Instagram, ART|JOG|10 cocok banget nih buat didatengin!

  1. Young Artist Award

Sejak tahun 2013, Young Artist Award hadir dan menjadi salah satu program utama ART|JOG. Kompetisi ini mensyaratkan seniman muda partisipan ART|JOG yang berusia di bawah 33 tahun sebagai pesertanya. Tahun ini karya terbaik menurut para dewan juri adalah:

  1. Random and Constant (Oblique), 2017, karya Bagus Pandega.
  2. Tubifex Landscape, 2017, karya Syaiful Aulia Garibaldi.
  3. Special Project

Sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa R.J. Katamsi di bidang seni dan pendidikan, ART|JOG bekerja sama dengan pematung Wahyu Santoso membuat patung R.J. Katamsi dan dipasang di halaman depan Jogja National Museum. R.J. Katamsi ialah sosok pendiri akademi seni pertama di Indonesia. Patung tersebut dibuat dengan material polyester resin dan perunggu setinggi 2,5 meter dan 1,5 kali ukuran asli.

  1. Curatorial Tour

Pengunjung akan diajak untuk mengelilingi ruang pamer seraya diberikan penjelasan mengenai konsep karya-karya yang ditampilkan dengan dipandu oleh tim kurator.

  1. Meet The Artist

Pengunjung dapat mengobrol secara langsung dengan seniman yang terlibat dalam ART|JOG. Sambil berkeliling lokasi pameran, pengunjung bisa berbagi inspirasi dan berdiskusi secara langsung dengan seniman favorit mereka

  1. Tour Sejarah Asri

Merupakan napak tilas perjalanan institusi seni pertama di Indonesia yaitu Akademi Seni Rupa Indonesia yang dahulunya menempati situs Jogja National Museum. Bersama seniman senior, Wardoyo Sugianto, peserta tur akan diajak mengeliling setiap sudut yang menjadi saksi bersejarah perkembangan seni Yogyakarta hingga pengaruhnya terhadap dinamika sosial budaya Indonesia.

  1. Daily Performance

Selain memamerkan karya seni rupa, ART|JOG juga menampilkan karya seni musik, seni pertunjukan, dan seni tari dalam tajuk Special Performance. Special Performance yang akan ditampilkan pada tahun ini, antara lain performance art oleh Melati Suryodharmo, pemutaran film “Setan Jawa” (A silent movie with live gamelan orchestra) karya Garin Nugroho (Sutradara) dan Rahayu Supanggah (Komposer), serta pertunjukan contemporary dance dari Bimo Wiwohatmo.

  1. Merchandise Project

Merupakan penjualan merchandise karya-karya seniman dan komunitas kreatif di Yogyakarta. ART|JOG|10 Merch Store terletak di luar gedung ekshibisi menuju pintu keluar ART|JOG|10.

 

Program-program di atas memiliki jadwal yang berbeda tiap harinya. Untuk mengetahui lebih lanjut, bisa dicek di akun Instagram @artjog.id. Akun ini mengupdate setiap rangkaian acara di ART|JOG|10 secara rutin. Jadi buat kamu yang gak mau ketinggalan acara-acara keren tersebut, bisa banget langsung difollow IGnya!

 

 

 

Secara keseluruhan, ART|JOG|10 telah berlangsung dengan baik. Lokasi yang strategis, publikasi yang ramai digencarkan, karya-karya yang selaras dengan tema, tempat yang bersih, dan penataan ruang yang menarik menjadi kelebihan dari pameran seni ini. Kelebihan yang paling membuat saya kagum adalah kesigapan panitia dalam menjaga karya-karya dalam pameran tersebut. Panitia selalu stand by di dekat karya yang dipamerkan dan memastikan pengunjung tidak menyentuh atau sampai merusak karya tersebut. Pengunjung dilarang untuk berfoto dengan pose yang berlebihan serta merekam karya dalam bentuk video, sebagai bentuk apresiasi terhadap karya-karya tersebut. Sebuah pengalaman menarik mengunjungi pameran karya seni dalam negeri yang berkelas internasional

Oleh: Najla Insyirah